Hijaubiru

Kamis, 06 Juni 2013

Copyright
Juni 06, 20130 Comments
Pasti mangkel banget ya, kalau ada orang lain yang majang karya kita tapi nggak bilang kalau kita yang bikin.  Mungkin itu alasan kenapa ada copyright atau hak cipta segala. 

Well....

Blog adalah suatu tempat di mana kita bisa curhat, cerita macam-macam. Wajar aja, kita yang ngatur kontennya. Biasanya, supaya yang mampir ke blog nggak bosan akan lautan kata, beberapa gambar akan ditampilkan si blogger. Gambar inilah yang sengaja saya jadikan masalah.

Saya sering menampilkan gambar di blog ini.

Ringkasnya gini aja:
mulai 14 Juli 2012, yaitu sejak postingan yang berjudul Speechless, setiap gambar yang nggak mencantumkan sumber berarti nggak saya copy-paste dari web lain. Dengan kata lain, jika nggak ada tulisan 'gambar diambil dari...' atau 'picture was taken from...' dan hal-hal semacam itu (baik di badan gambar maupun nggak), berarti itu jepretan saya atau dari dokumen pribadi saya.

Untuk postingan perjalanan, mayoritas adalah jepretan sendiri (atau jepretan teman), kecuali foto Daendels dan potret nasi gandul dalam posting Markas Keluarga: Rembang! 

Mohon maaf buat foto-foto orang lain yang pernah saya copas dan nggak saya cantumkan sumbernya sebelum 14 Juli 2012. Karena itu artinya, pembaca bisa saja berpikir itu adalah foto asli jepretan saya.

Oh ya, kalau mau ngelihat foto dalam ukuran lebih besar, klik aja fotonya.
Reading Time:
Uang, Ilmu, Iman
Juni 06, 20130 Comments
Nggak ada alasan khusus mengapa saya meletakkan 'uang' di depan dua kata lainnya atau 'iman' sebagai kata yang disebut terakhir. Semua semata-mata agar berima. Serius.

Saya baru saja membuka facebook dan ada seorang teman yang sedang membahas masalah UNAS. Tertarik, saya men-scroll halaman ke bawah dan menemukan komentar berikut:


Akhir-akhir ini, nilai UNAS memang menjadi sebuah perdebatan. Mulai yang kontra karena dianggap tidak valid mengingat keterlambatan penyelenggaraan di beberapa daerah dan tingginya tingkat ketidakjujuran (baca: njoki), hingga yang pro karena jika UNAS ditiadakan, tidak ada standar untuk mengukur kompetensi anak bangsa.

Jadi, nggak heran kalau ada yang berkomentar seperti di atas. Karena sudah banyak kasus siswa yang te-o-pe be-ge-te alias pintar banget yang nilainya kalah dengan siswa yang jauuuuh dibawahnya karena satu hal: curang.

Kembali pada komentar di atas. Saya merasa sedikit tergelitik.

Antara ilmu dan akhlak seharusnya berbanding lurus. Apa jadinya sebuah negara kalau orang-orangnya berakhlak baik, tapi di satu sisi bodoh semua. Apa jadinya pula kalau orangnya pintar semua, tapi seratus persen jahat? Hancur.

Lain lagi kalau orang-orangnya baik, pintar, tapi tidak berkecukupan. Sama saja. Dewasa ini, power cenderung lebih berpihak pada mereka yang berduit. Jadi Anda menyuruh kami berduit saja agar memiliki kuasa? Ya nggak begitu juga.

Kenapa kita nggak memilih memiliki ketiganya? Ketiganya toh seperti kartu domino, memiliki efek reaksi berantai. Kalau kita beriman, otomatis perbuatan kita jadi baik, menjadi seorang individu berakhlak mulia. Nah, kalau mengaku (dan benar-benar) beriman, kita nggak akan mengabaikan perintahNya kan? Salah satunya menuntut ilmu dan selalu berusaha. Kalau sudah begitu, insyaallah kita akan jadi orang pintar. Kalau sudah jadi orang yang berotak gemilang, nggak mungkin nggak ada yang ngelirik untuk dijadikan partner kerja. Saat sudah bekerja pun, kita akan masih selalu berusaha. Kenapa? Salah satu perintahNya kan supaya selalu berusaha tadi. Dunia adalah ladang, memetiknya di akhirat, bung! Kalau kita giat bekerja, bukan nggak mungkin posisi kita akan semakin naik. Ketika sudah mencapai posisi puncak, yang sering diidentikkan dengan penghasilan besar, kita akan kembali ke mata rantai pertama: iman. Harta yang kita dapatkan akan kita keluarkan di jalanNya.

Memang, nggak gampang meraih ketiganya. Untuk menjadi seorang yang beriman tentu aja banyak godaan setan. Untuk jadi orang yang pandai tentu aja ada rasa malas belajar dan merasa sudah kenyang ilmu. Untuk jadi orang yang berharta juga nggak gampang, ketidakjujuran mengintai dimana-mana.

Tapi saat ketiganya sudah berhasil diraih, bukan nggak mungkin kita bisa mengubah sistem, mengubah dunia.

Coba lihat siapa yang menguasai dunia saat ini. Microsoft, Apple, Coca Cola, McD, Garnier, dan masih banyak lainnya. Orang kaya semua kan? Dan mereka juga nggak bodoh (mohon dicatat: bodoh nggak sama dengan DO dari sekolah selama masih ada kehausan ilmu, mengingat ada pemilik salah satu perusahaan besar yang keluar dari Harvard). Kalau mereka bodoh, gimana bisa punya perusahaan begitu besar? Dan apa jadinya? Mereka menguasai dunia kan? Coba tanya, siapa yang nggak pernah makan fast food dari Amerika itu. Atau siapa yang nggak pernah mendengar software keluaran perusahan di atas.

Mereka memiliki keduanya: harta dan ilmu. Jadi, kenapa kita nggak mau mencontoh mereka? Dengan menambah satu komponen lagi, iman? Kenapa harus ditambah? Yah, hidup kita nggak mungkin cuma di dunia aja kan. Ada after-life setelah wafat. Hitung-hitung buat bekal akhirat.

"Saya nggak percaya ada after-life!"

Sebenarnya terserah mau percaya atau nggak. Tapi saya tetap merasa tiga hal di atas masih berhubungan. Misalnya aja gini: ada seorang CEO yang jelas seorang yang pandai dan berpenghasilan besar. Namun, sebagai manusia yang dikenal nggak punya rasa puas, dia masih merasa kurang. Bukan nggak mungkin, nantinya dia korupsi. Kalau sudah begitu, lama-lama perusahaannya bisa bangkrut. Untung-untung kalau cuma perusahaan yang kena imbasnya. Kalau dia ketahuan? Masuk penjaralah si CEO terpandang itu.

Pun kalau dia orang baik dan berotak cemerlang, namun hidup di bawah garis kemiskinan. Bukan nggak mungkin akhlaknya bisa berubah, mengingat faktor ekonomi merupakan faktor terbesar kriminalitas. Bagus kalau bisa bertahan. Namun bagaimana dengan istrinya? Anaknya? 

"Ah, yang penting kan beriman."

Iya. Benar. Tapi coba ingat, dalam beriman ada perintah berdakwah kan?  Berdakwah kepada siapa saja. Dan gimana mau mendakwahi orang-orang yang berada di gedung-gedung tinggi, jika mereka tak mau mendengarkan karena hanya satu faktor: tampilan. "Siapa lu, mau ngasih tahu gue? Lu nggak tahu, gue petinggi di sini. Lha, lu siapa?" Dewasa ini, image memang cukup penting.

Pun jika ia seorang yang berakhlak dan kaya, tapi bodoh. Namun hal ini hampir nggak mungkin. Untuk menjadi orang berakhlak ataupun kaya, minimal butuh ilmu.

Mengapa kita nggak jadi Abdurrahman bin Auf saja? Seorang yang halus budi pekertinya, akhlaknya tanpa cela, tapi juga sangat mapan? Mengapa kita harus memilih satu, dua, ketiga bisa memilih tiga?
Reading Time:
Travel In Love
Juni 06, 2013 2 Comments

Judul: Travel In Love
Penulis: Diego Christian
Penerbit: Noura Books
Tahun terbit: 2013
Tebal: 324 halaman
Ukuran: 13 x 19 cm

Gara-gara bersahabat dengan Jatayu, salah satu anak Mapala itu, Paras jadi mengenal perjalanan. Sekarang, perjalanan seakan sudah menjadi salah satu hobinya. Keliling Indonesia, menikmati tempat-tempat indah Zamrud Khatulistiwa, mulai yang paling tersohor sampai yang nyempil nggak ada di peta.

Tapi gara-gara perjalanan pula, Paras bertemu Kanta. Kanta, saudara kembar Kelana, yang dingin dan nggak bisa ditebak. Hingga perjalanan usai, hubungan mereka di kampus masih tetap baik-baik saja. Kanta memperlakukan Paras dengan baik, tapi tak pernah menyatakan perasaannya. Hal inilah yang membuat Paras bingung.

Paras memutuskan melupakan Kanta, melupakan hubungan tanpa status mereka. Dan salah satu cara melupakannya adalah dengan jalan-jalan, menemukan hal baru, memulai hidup baru tanpa Kanta. Ditemani Jatayu, yang juga ingin melupakan Kelana yang meninggal saat mendaki Semeru, Paras backpacking dari Jakarta sampai Lombok.

Tapi perjalanan tak semulus yang diharapkan. Di Karimunjawa, mereka malah bertemu Kanta. Di Karimunjawa, mereka bertemu Sean, pemuda asal Swiss yang penuh perhatian pada Paras. Sejak di Karimunjawa pula, Paras merasa wajah tersenyum Jatayu hanyalah topeng untuk menutupi hatinya yang lara. Semua memang terlihat baik-baik saja. Sampai ketika di Jogja, Jatayu menghilang semalaman. Di Solo, semua rencana Paras makin terlihat berantakan. Kanta dan Sean bergabung dengan mereka di guesthouse yang sama, keduanya makin memporakporandakan perasaan Paras.

Tapi semua itu belum seberapa ketimbang kejutan yang dilihat Paras di Bali, yang kembali memorakporandakan hatinya, bertanya-tanya apakah Kanta memang lebih baik daripada  Sean dan apakah persahabatannya dengan Jatayu bisa dilanjutkan.

Tapi semua cerita pasti memiliki akhir. Dan ‘sebuah akhir itu’ sudah menanti Paras di Lombok, menjawab semua pertanyaannya.

----------------------------------

Buku yang ditulis Diego Christian ini memang tidak ber-setting di satu tempat aja. Ada cerita-cerita dalam perjalanan backpacking dari Jakarta ke Lombok. Berita baik untuk penghobi baca yang juga doyan travelling adalah novel ini dilengkapi deskripsi destinasi-destinasi dan beberapa info tentang guesthouse di sebuah kota yang diselipkan dalam cerita. Plus, hal-hal yang memudahkan kita sebagai traveller juga ada.

Menurut saya, ide novel ini keren: menggabungkan perjalanan dan cerita (mana ada sedikit ‘manual’ travelling, lagi! :D). Hanya pengolahan kalimatnya yang kurang menyentuh, mungkin terlalu deskripsi. Saya sebagai pembaca nggak bisa merasakan patah hatinya Paras atau galaunya si tokoh utama ketika menghadapi konflik. Turn of event alias konfliknya pun rasanya nggak begitu greget sehingga saya nggak merasakan adanya masalah. Endingnya memang unpredictable, tapi masih membingungkan karena di bab-bab sebelumnya ‘tanda-tanda’ yang bisa mendukung ending kurang dieksplor (meski saat diperhatikan, “Oooh, ternyata karena ini toh!).

Tapi lepas dari minusnya, buku ini masih punya nilai plus. Antara lain, memberitahu bahwa wilayah Indonesia ini sangat layak dieksplor dan menjadi tempat backpacker-an, nggak cuma luar negeri aja :)

Buat yang mentingin kondisi fisik buku, jangan khawatir! Soalnya, sampul buku ini tebal dan kaku. Kertasnya bagus, lagi! Tebal dengan corak hitam-putih di setiap halaman, nggak di judul doang. Plus, dilengkapi pembatas buku yang tebal.

Reading Time:

Minggu, 02 Juni 2013

Sherlock Holmes: Non Sir-Arthur-Conan-Doyle
Juni 02, 20130 Comments
Penggemar cerita Sherlock Holmes emang banyak, itu sudah pasti. Dan nggak bisa dipungkiri, ceritanya emang asyik dan bikin tercengang-cengang. Terutama dari teknik deduksi Holmes yang aneh. Sir Arthur Conan Doyle sebagai penulis emang pandai bener bisa bikin tokoh yang seperti itu, apalagi dengan deduksinya yang sebenarnya bisa diakal, tapi mayoritas manusia nggak pernah memerhatikan. Padahal itu sebenarnya hal yang umum aja, yang bisa dipikir. Mungkin saking umumnya kali ya, sampai nggak kepikir?

Well, lupakan. Intinya, saya kagum dengan caranya mendeduksi.

Lha terus, apa hubungannya cara deduksi Holmes dengan judul di atas? Sebenarnya nggak ada hubungannya, sih. Cuma sebagai kalimat pembuka aja.

Cara Holmes mendeduksi dan gaya menulis Sir Arthur Conan Doyle itulah yang bikin saya suka. Sir Arthur Conan Doyle menulis dengan gaya to the point, nggak pakai kias-kias kata. Kalau ada paragraf narasi yang agak panjang pun, yang menjelaskan definisi atau pemikiran, rasanya juga nggak terlalu berbelit-belit. Maksimal dua-tiga kalimat, selesai.

Tapi, nggak semua orang bisa menulis layaknya Sir Arthur Conan Doyle. Yah, gaya nulis orang kan emang beda-beda, nggak bisa disalahin juga, dong.

Tapi, lagi, apa jadinya kalau kisah Sherlock Holmes ditulis dengan gaya yang berbelit-belit?

Saya pernah menemukan cerita Sherlock Holmes semacam ini. Bukan, bukan cerita tulisan Sir Arthur Conan Doyle. Lha? Iya, cerita Sherlock Holmes, yang jadi tokoh sentralnya Holmes dan Watson, tapi yang nulis orang lain. Biasanya sih, mereka penggemar Holmes juga dan ingin melanjutkan kisahnya. Tapi ya itu tadi, gaya nulisnya beda. 

Jadinya nggak asyik. Serius, deh. Jadi bingung, "Ini dia sebenernya ngomongin apa sih?" karena nggak to the point itu tadi. Padahal sebenarnya ceritanya menarik, seru. Tapi karena kebanyakan narasi atau dialog yang diplomatis, jadinya malah bingung. Yang sering kejadian sih, jadi lupa inti persoalannya apa. Gimana bisa lupa sih? Lha, dialog satu orang aja ada yang sampe setengah halaman! Jenuh nggak tuh? 

Kalau yang diceritain adalah detail yang berhubungan dengan kasus, sih, meski banyak kayaknya nggak masalah. Tapi kalau sampai deskripsi perjalanan, flashback hubungan dengan orang tertentu, yang nantinya nggak bakal ngefek banyak ke pemecahan cerita, ya... malah bikin nggak fokus. Padahal ini novel detektif, kan. Titik beratnya ya di pemecahan kasus.

Bukan berarti deskripsi, penjabaran perasaan, dll itu nggak boleh ada. Boleh. Malah bikin fresh dan nambah background tokoh sehingga cerita jadi lebih kaya. Tapi, porsinya diatur lah. Jangan sampe malah 'membayangi' cerita utama. 

Buat saya, ini sih yang paling mengganggu. 

Dan, selalu aja ada yang beda, yang nggak ditemukan di naskah-naskah asli buatan Sir Arthur Conan Doyle. Entah mulai gaya bahasanya beda, narasinya mbulet, sampai cerita yang memandang remeh salah satu tokoh yang biasa muncul. 

Mungkin karena yang nulis orang lain, jadi yang tertuang adalah tokoh hasil persepsi orang itu. Bisa aja Conan Doyle nggak bermaksud bikin tokoh A begitu, misalnya, tapi oleh pembaca (yang kemudian jadi penulis fanfiksi itu) dia punya pendapat dan kesan yang beda. Sebenernya nggak apa-apa, toh perspektif orang memang beda. Yang jadi masalah adalah kalau perspektifnya menyimpang jauh. Ini kejadian di salah satu buku 'Holmes baru'. Salah satu tokoh utamanya dibuat seakan-akan jahat dan berbudi buruk. Padahal, kalo saya baca di novel asli sih, nggak ada 'pertanda' dia sifatnya jelek begitu. Kalau udah mengada-adakan inilah yang bikin saya males.

Misalnya, kalau Holmes digambarkan sebagai 'pemakai'. Ya itu memang betul. Meski di novel asli nggak dibahas terlalu dalam, tapi 'novel Holmes baru' bisalah nulis ini atau bahkan elaborate seberapa parah Holmes jadi pemakai karena memang di cerita aslinya sudah ada pertanda. Lha, kalau sifat Watson atau Mrs. Hudson dibikin jijik sama anak-anak atau apa kek misalnya, kan ini nggak ada di novel asli. Ini udah bikin sifat baru lagi, bukan pengembangan dari yang asli. Kalau kita udah biasa baca yang asli, jadi aneh. "Kok si ini jadi gini?"

Kalau saya, lebih suka baca tulisan Sir Arthur Conan Doyle aja, deh. 

Tapi kalau mau nyoba baca cerita Holmes tulisan orang lain, yang non-Sir Arthur Conan Doyle, nggak ada salahnya, kok. Sebenarnya jalan ceritanya tetap seru, tapi ya, ya kembali ke yang saya bilang di atas. Tapi kalau ada yang merasa, "It's okay, aku bisa mencerna yang non-Sir Arthur Conan Doyle", ya nggak masalah. Toh, yang bagus juga mungkin ada (cuma saya aja yang belum nemu, haha). 

Tergantung selera aja sih. 

Oh ya.
Dan, kalau tokohnya campur-campur dengan tokoh terkenal lainnya, misal: Sherlock-Lupin, Sherlock-Poirot, Sherlock-Irene Adler doang (hubungan mereka dibahas di sini), dll, biasanya itu bukan tulisan Conan Doyle. 
Reading Time:

Sabtu, 01 Juni 2013

Kecanduan Jalan
Juni 01, 20131 Comments

Kecanduan? Mayoritas orang kecanduan rokok, kopi, atau cokelat. Tapi ini, kecanduan jalan-jalan? Memangnya makanan yang namanya ‘jalan-jalan’ itu mengandung depresan atau halusinogen?

Kalau mengandung depresan, kayaknya nggak ya. Soalnya, jalan-jalan malah bikin kerja syaraf makin aktif. Jalan kesana-kemari, potret sana potret sini, jajal kuliner dari pusat kota sampai ujung pelosok. Nah, kalau halusinogen, nggak tahu lagi. Kan katanya kalau lagi fly, orang itu bakal ngerasa senang. Hal yang sama berlaku pada jalan-jalan! Kalau lagi travelling, orang kan cenderung merasa senang, hehehe. #apasih

Aaaanyway, karena termasuk orang yang kecanduan jalan-jalan, hampir semua buku yang saya temui di toko dan bertema ‘jalan-jalan’ biasanya akan saya embat ke kasir. Hingga hari ini, total terkumpul tujuh buku bertema travelling. Lumayan buat tambah-tambah ilmu.



TRAVELER’S TALE (resensi ada di sini)
Buku ini bentuknya novel. Menceritakan perjalanan empat sahabat, Francis, Farah, Retno, dan Jusuf yang tinggal di empat negara berbeda (tapi keempatnya orang Indonesia). Setelah bertahun nggak pernah ketemu, eh, tiba-tiba aja Francis ngundang mereka berempat ke nikahannya. Keempatnya pun berniat ngumpul di Barcelona, tempat nikahan Francis. Tentu saja nggak cuma ke Barcelona doang dong! Sebelumnya, mereka juga mampir di negara-negara sekitar, backpacking. Dari empat benua berbeda, keempatnya menuju Barcelona dengan membawa pertanyaan dari kisah merah yang mereka pendam sejak zaman sekolah.

5 CM (resensi ada di sini)
Novel yang menceritakan lima sekawan yang menggapai puncak gunung tertinggi di Jawa. Lima sahabat yang merasa tumbuh dan ngumpul bareng orang-orang di lingkaran yang itu-itu doang menganggap mereka sudah terlalu lama berada di zona nyaman. Akhirnya, diputuskan mereka berlima nggak ketemuan selama tiga bulan. Pada hari mereka bertemu, mereka bersua kembali di stasiun kereta yang akan membawa mereka ke Mahameru.

BAIT-BAIT SUCI GUNUNG RINJANI (resensinya saya taruh di sini)
Novel tentang gunung kedua yang saya temui (novel pertama adalah 5 Cm). Bab-bab awal menceritakan perjalanan Fajar dan Bambang treking melintasi alam gunung Rinjani yang memesona. Perjalanan makin berwarna saat mereka bertemu dengan rombongan pendaki lain, yang kelak akan menjadi teman mereka. Setelah pulang ke Jakarta, orang-orang ini pun terpisah oleh kesibukan masing-masing. Mereka baru bertemu saat salah seorang dinyatakan hilang (kabur dari rumah) dan akhirnya meninggal saat mendaki Rinjani. Fajar, yang ingin menapak tilas kematian teman seperjalanannya, memutuskan pergi ke Lombok. Siapa sangka di sana dia malah mendapat kejutan hebat?

NAKED TRAVELER
Sebetulnya buku berisi tips-tips perjalanan dan pengalaman Trinity keliling dunia ini sudah ada bervolume-volume, mulai dari warna orange, hijau, dan warna-warna lain (bilang aja lupa, Non!). Namun apa daya, waktu itu saya hanya bisa memeluk satu buku berwarna biru, sedang buku-buku berwarna lain menatap memelas, “Kenapa gue nggak ikut diambil?”. Hiks.
Buku ini sangat menarik dinikmati (dan dipelajari, hehehe). Meskipun isinya tips ataupun pengalaman travelling, tapi isinya nggak bikin bosan. Bukan tipe buku di mana banyak poin-poin kayak rangkuman. Pengalaman jalan pun, ditata apik dengan gaya bahasa yang kadang serius kadang lucu. Fun!

A MEMORABLE JOURNEY (resensi ada di sini)
Buku ini isinya gado-gado. Mulai dari pengalaman wisata ke patung Buddha di Hongkong, catatan-catatan perjalanan pendaki, hingga cerita rohani di dekat Ka’bah. 25 kilasan perjalanan tercatat di buku ini. Menyampaikan pesan pada para penjelajah agar tak sekedar menikmati pesona, namun juga mempelajari hal baru lewat perjalanan.

TAHTA MAHAMERU (resensi dipost di sini)
Faras bingung. Bingung menjawab, bingung merespon. Ikhsan menanyakan hal yang tak pernah terpikirkan oleh Faras, “Apa aku harus membunuh ayahku?”. Ya Allah, bagaimana gadis pucuk gunung yang lembut macam Faras bisa berteman dengan pendaki sekeras Ikhsan?
Lama tak ada kabar, Faras makin khawatir. Ditelusurinya jejak perjalanan Ikhsan satu per satu lewat email, berusaha mencari tahu alasan Ikhsan menghilang tahun-tahun belakangan ini. Penelusuran itu membuatnya makin paham kenapa Ikhsan menanyakan hal-hal tak lazim. Dan penelusuran itu, tanpa disadari, memiliki banyak hikmah untuk dipetik.

TRAVEL IN LOVE (resensi di postingan ini)
Dua sahabat. Tiga cinta. Satu perjalanan.
Paras dan Jatayu (cewek, bukan cowok) sama-sama terluka. Paras tersiksa dengan Kanta yang tak pernah berterus terang, sedang hati Jatayu patah karena Kelana meninggal saat mendaki. Memutuskan untuk melupakan cerita lama, sepasang sahabat ini melakukan perjalanan darat 30 hari: Bandung-Jepara-Karimun Jawa-Semarang-Jogja-Solo-Bali-Lombok.
Tapi apa jadinya jika dalam perjalanan mereka malah bertemu dengan sosok dari masa lalu, Kanta? Apa jadinya pula jika dalam perjalanan, mereka ditakdirkan berjumpa dengan harapan masa depan, Sean? Apa jadinya bila empat anak manusia ini bertabrakan di satu titik yang sama, membuat mereka tanpa disadari menyakiti satu sama lain?
Tapi, bukankah setiap cerita memang memiliki klimaksnya sendiri? Dan bukankah, setiap cerita memiliki akhir?

RENGGANIS (resensi ada di postingan ini)



















Rengganis, salah satu puncak gunung Argopuro, menjadi tujuan perjalanan delapan sekawan kali ini. Mereka harus mampu menghadapi medan alam dengan perangai yang berbeda-beda. Ditambah lagi di balik keindahannya, Argopuro memiliki trek pendakian terpanjang seJawa, plus satu kisah mistis tentang sang putri pemilik puncak: Dewi Rengganis. Konflik pun memuncak ketika salah seorang dari mereka menghilang. Dengan kondisi serba terbatas yang menimpa mereka, apa yang dapat dilakukan?


--------------------------------------------------------

Sebenarnya, ada buku-buku lain yang pernah saya baca. Namun sedihnya, ketiga buku tersebut bukan milik saya alias pinjam teman. Ketiga buku ini adalah:

THE JOURNEYS


Buku ini merupakan kumpulan catatan perjalanan para backpacker keliling dunia. Selebihnya, saya sudah lupa tentang buku ini lebih detail (maaf ^_^). Yang saya ingat, kalau mau cari destinasi perjalanan khususnya ke luar negeri, bisa kok tengok buku ini :)

99 CAHAYA DI LANGIT EROPA
Ternyata Islam di Eropa memiliki jejaknya sendiri. Mulai dari kisah Champ Elysees yang ternyata lurus dengan Makkah hingga sejarah terciptanya croissant yang berhubungan dengan penaklukan Austria oleh Turki. Melalui buku ini, penulis mengajak pembaca untuk menyelami kisah-kisah yang berhubungan dengan Islam di Eropa. Menarik. Buku travelling yang lain dari yang lain, menyorot Eropa dan travelling dari sisi berbeda.

JILBAB TRAVELER 

Semua perjalanan keliling dunia, atau keliling negara sendiri, berawal dari mimpi. Asma Nadia mengawalinya dengan memandangi magnet-magnet kulkas tetangga yang berasal dari seluruh penjuru dunia, sedang penulis lain memulainya dengan menggambar peta Australia, yang ingin dikunjunginya, di tembok kamarnya semasa masih SD. Jadi, tidak ada salahnya berani bermimpi karena mimpi toh setengah perwujudan dari keinginan seseorang.
Buku ini bercerita tentang perjalanan keliling dunia, hampir sama topiknya dengan buku travelling lain. Bedanya, kisah-kisah ini dituturkan oleh para muslimah. Cuma itu doang bedanya? Ya nggak dong. Buku ini membahas problematika muslimah di luar negeri sekaligus memberi solusinya. Mau makan? Hm... halal nggak ya? Mau shalat? Shalat di mana, masjid aja nggak ada! Atau... lho lho lho, kok gue dilihatin satpam? Lho, diikutin sampai parkiran, lagi! Masa gara-gara kain selembar di kepala gue, gue dikira mau berbuat yang enggak-enggak? Kendala yang sering ditemui oleh para muslimah, khususnya yang berjilbab mengingat ada orang-orang yang Islamphobia, dikupas di sini.
Plus, di dalam buku juga diberikan percakapan-percakapan sederhana traveller dalam beberapa bahasa. Masih plus lagi, tips-tips travelling mulai barang bawaan, lisensi, sampai tips menghindari kriminalitas. Alhamdulillah... Jadi, muslimah yang berjilbab nggak usah pake mengidap travellingkeluarnegeriophobia, hehehe.

Sweet Edelweiss (resensi ikut di sini)

Arin merupakan tipe gadis yang nggak banyak tingkah, tipe gadis-gadis pada umumnya. Tapi gara-gara pacarnya mutusin dia dan jadian sama anak Pecinta Alam, Arin jadi kepingin naik gunung juga, hanya karena pengen membuktikan ke mantannya, “Gue juga bisa kayak pacar lo yang baru”.
Kebetulan, Anna, kakak Arin, memiliki seorang teman Pecinta Alam bernama Keenan, yang ditaksir Anna. Konflik dimulai saat Keenan malah menyukai Arin, bukannya Anna. Anna sakit hati dan berniat membalas perbuatan adiknya.
Lalu di mana perjalanannya? Dalam novel ini, ada cerita saat Arin pertama kali mendaki gunung Gede dengan Keenan (pendakian pertamanya) dan petualangan Keenan dkk saat ekspedisi ke Cartensz. Lumayan lengkap :)

Gambar novel 'Sweet Edelweis' dicopas dari

--------------------------------------------------------

Selain buku-buku di atas, buku travelling lain yang saya tahu adalah buku Haram Keliling Dunia. Sayangnya, saya belum sempat beli. Sejauh ini sih, baru buku-buku itu aja yang saya tahu. Kalau ada yang tahu buku lainnya, boleh dong kasih info.

Oh iya, ada yang penasaran nggak, kenapa saya bikin postingan tentang kumpulan buku-buku travelling? (Narsis mode on.)

Alasannya nggak lain nggak bukan karena saya pernah ribet cari-cari buku travelling, mulai yang tips-tips travelling sampai novel tentang pendakian. Googling sana googling sini, mengumpulkan satu demi satu judul, mencari sinopsisnya. Persis kayak mencari satu demi satu keping puzzle yang hilang. Karena pernah mengalami hal seperti itu, tercetuslah ide bikin postingan ini supaya nggak ada orang lain yang menderita seperti saya. Hik hik. (Woi, WOOOOIII, ini bukan acara reality show!)

Singkatnya, saya rangkum jadi:

Buku ‘manual’ travelling:
Naked Traveler, A Memorable Journey, The Journeys, 99 Cahaya di Langit Eropa, Jilbab Traveler.

Novel travelling:
Traveler’s Tale, Travel In Love, 5 Cm, Sweet Edelweiss, Bait-Bait Suci Gunung Rinjani, Tahta Mahameru (4 judul terakhir terkait novel pendakian).

Kalau novel tentang pendakian, sebenarnya ada satu lagi, berjudul Anak Gunung Jatuh Cinta. Tapi, saya nggak memasukkannya ke dalam kategori travelling karena cerita naik gunungnya nggak seberapa banyak, lebih banyak ke cerita cintanya. Resensinya bisa dilihat di sini. Nah, kalau tentang keliling dunia, masih ada lagi satu buku berjudul Geography of Bliss tulisan Eric Weiner (sinopsis di situ dan juga belum saya post). Namun, buku yang bercerita tentang perjalanan seorang jurnalis keliling dunia untuk melihat bukti Teori Kebahagiaan ini lebih mentitikberatkan pada hubungan budaya dan kehidupan dengan kebahagiaan.

So, um, happy travelling?

(and reading)

Reading Time:
Review Buku: Traveler's Tale
Juni 01, 20130 Comments


Judul: Traveler’s Tale
Penulis: Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, Ninit Yunita
Penerbit: Gagasmedia
Tahun terbit: 2007 (cetakan pertama)
Tebal: 221 halaman
Ukuran: 13 x 19 cm

_________________________
NB:
review ini telah ditulis ulang.
Bagian pertama adalah ulasan yang dibuat tahun  2013 (sesuai tanggal terbit post, postingan tidak diedit). Bagian kedua baru ditulis pada Desember 2022.
Apa bedanya?
Karena sudah hampir satu dekade berlalu, tentu ada perbedaan pola pikir pada penulis postingan-nya (baca: saya, haha). Jadi, isi review-nya juga akan berbeda akibat perspektif yang berubah tadi. 
Bila bagian 1 lebih banyak bicara soal isi bukunya, bagian 2 akan lebih bercerita soal review ini buku. Cheers!
_________________________

Bagian 1

Farah, gadis keturunan Arab yang riang dan bagai magnet, namun takut terbang. Jusuf, ensiklopedia berjalan dengan tingkat intelektual yang dianggap paling rendah oleh teman-temannya, namun penuh kejutan dan orang yang paling bisa menghidupkan suasana. Francis, pianis yang serius, namun menyimpan kegalauan besar di balik rencana pernikahannya. Dan Retno, gadis ayu yang lembut, keibuan, dan paling kalem di antara semuanya.

Persahabatan keempat orang ini dimulai saat SD, sejak Jusuf alias Ucup menumpahkan bekal roti strawberry Retno. Francis pun menawarkan bekalnya, bakpao isi ayam, sebagai ganti. Farah, kagum dengan kebaikan Francis. Persahabatan mereka berlanjut sampai dewasa, hingga keempatnya sudah bekerja di empat negara (dan benua) berbeda. Farah di Vietnam, Ucup di Afrika, Francis di Amerika Serikat, dan Retno di Denmark.

Namun, undangan pernikahan yang dikirim Francis lewat email membuyarkan semuanya. Ketiga orang lain yang membaca undangan itu bimbang, termasuk pengundangnya. Karena Jusuf mencintai Farah, Farah mencintai Francis, sedangkan Francis menyayangi Retno.

Berasal dari empat benua berbeda, keempatnya memutuskan hadir di pernikahan Francis dengan seorang wanita Spanyol di Barcelona. Keempatnya dengan misi berbeda. Farah, dengan misi menyatakan perasaannya pada Francis. Jusuf, dengan tujuannya menghentikan Farah. Dan Retno, yang tetap kalem, dengan tujuan ikhlas menyampaikan selamat pada pria yang mencintainya dan dicintainya. Sementara Francis, ternyata malah punya kejutan untuk ketiganya.

Buku dengan dua tema: travelling dan roman ini merupakan proyek bersama empat penulis. Alurnya mudah dipahami, gaya bahasanya gampang diikuti. Selain menyuguhkan cerita roman, novel ini juga dihiasi dengan kisah petualangan keempat sahabat ini backpacking menuju Barcelona, melewati negara-negara lain, menikmati keindahan pedesaan Prancis, pengalaman macet di Itali, eksotisnya Amman, hingga bergolaknya Abidjan. Masih ditambah dengan pengalaman-pengalaman di negara lain.

Selain itu, novel ini dilengkapi dengan tips-tips untuk pembaca yang berminat travelling ke luar negeri, khususnya backpacking. Mulai dari mengatur barang bawaan, mengatasi jetlag, sampai menghindari pencopet. Nggak dibahas panjang lebar, tentu aja, tapi cukup informatif.

Dengan cerita gabungan roman-perjalanan (apalagi dengan ending yang nggak bisa diprediksi), ditambah pengalaman-pengalaman keliling dunia, plus tips-tipsnya, worth it lah. Apalagi untuk tahun segitu (cetakan pertama 2007), masih jarang ada buku yang membahas soal travelling dan sekaligus roman. Mungkin malah, buku ini pioneer buku-buku travelling sejenis? Siapa tahu.

_________________________

Bagian 2

Satu hal yang paling saya ingat dari novel ini adalah: saya menemukan rekomendasinya lewat rubrik koran. Sekitar tahun 2007, ada suatu kolom di koran Jawa Pos tentang review buku yang diterbitkan rutin sekali tiap pekan. Beberapa anak muda diundang membaca buku (novel, umumnya) keluaran terbaru dan dimintai pendapatnya. Tertarik dengan ulasan mereka, apalagi saya mudah kesengsem kalau temanya travelling, saya pun 'memburu' buku ini ketika bertandang ke Gr*medi*.

Hal lain yang juga saya ingat: saat itu, novel Indonesia bertema travelling masih sangat jarang. Apalagi yang segmennya untuk anak muda. Mayoritas masih didominasi teenlit romansa dan kehidupan remaja, sedangkan genre metropop 'ya begitu-begitu saja'. Buku bertema travelling yang terpajang di toko buku adalah atlas dan buku panduan jalan-jalan, bukan novel fiksi. Buku jalan-jalan yang bahasanya 'nge-pop' yang saya temukan di era itu baru empat: satu buku catatan perjalanan mancanegara yang saya temukan di perpus sekolah (lupa judulnya); Naked Traveler-nya Trinity (nonfiksi); Me, Him, and Labuan Bajo-nya Avy Erfianty (fiksi, topik utamanya soal dokter dan pengabdiannya di daerah Labuan Bajo); dan Traveler's Tale ini.

Jadi, bagaimana kesan soal buku ini sepuluh tahun kemudian?
Secara garis besar, sih, masih sama: stunning, revelating, refreshing.
Bukan yang bagus banget banget, tapi tetap bagus banget. Kalau sistem rating, saya kasih 8,5/10. Apalagi untuk buku yang terbit di era itu. Kalau sekarang mungkin masih 8/10 lah, karena jadi punya perbandingan buku travelling lainnya. 

Personally, saya suka novel-novel yang memberi beberapa kutipan saat pergantian babnya. Traveler's Tale memberikan ini. Ia menyajikan kata-kata mutiara bertema travelling; yang bikin saya tambah suka karena berhubungan banget dengan isi bukunya.  Banyak di antara kutipan itu yang berasal dari Ibnu Batuta, pejalan sohor dunia pada abad 14. Ada juga kutipan dari pujangga lawas, seperti Virgil dan Saadi Shirazi. 

Novel inilah yang bikin saya ngeh tentang Ibnu Batuta. Pelajaran IPS di sekolah dasar memang pernah menyebutnya sebagai pejalan terkenal yang menyambangi bagian utara Sumatra, bahkan mencatat pulau itu dalam bukunya. Namun, ya, cuma sampai segitu saja. Di novel ini, nama Ibnu Batuta beberapa kali disebut. Tak hanya sebagai sumber quotes, tapi juga diceritakan singkat bahwa dulu petualang muslim ini pernah mengunjungi kota ini dan itu. Dan, betapa berbedanya kota ini dan itu dengan kondisinya di zaman sekarang (setting waktu di novel).

Peletakan kutipan-kutipan sebetulnya bukan hal asing di novel. Namun, banyak di antaranya yang (1) puitisnya maksa, (2) bahasa belibet dus susah dipahami, atau (3) nggak berhubungan dengan alur cerita. Jadi, ya, hanya sebagai pemanis atau sekadar lewat karena nggak berhubungan dengan cerita. Poin plus buku ini adalah dia berhasil memanfaatkan quotes dengan baik untuk mendukung alurnya. Misalnya, saat di awal bab pakai kutipan "fortune favors the bold", bab itu betulan bercerita soal Ucup yang harus be bold dan nekat nego dengan tentara perbatasan demi bisa mencapai misinya. 

Hal lain yang jadi poin plus novel ini sekaligus penyumbang poin plus terbesar adalah: tema travelling-nya bukan tempelan. Oh, tentu aja inti cerita tetap soal cinta segiempat dan bagaimana-hadir-ke-pernikahan-Francis, tapi cerita-cerita menuju ke bagian klimaks tetap nggak lepas dari unsur jalan-jalan. Bahkan, unsurnya pekat sekali. Hal ini rada berbeda dengan tren yang muncul belakangan.

Setelah travelling dan hiking jadi populer, maka novel bertema serupa pun bermunculan bak cendawan di musim hujan. Genre ini sempat lama menjadi tren serta memiliki segmen pembaca tersendiri (yang cukup besar) dan penulis tersendiri. Biasanya, sih, masih nyerempet ke genre slice-of-life atau jenis teks refleksi/memoar. Keuntungannya, kita nggak perlu lagi bersusah-susah menyisir rak demi rak, bacain satu demi satu sinopsis, buat nyari buku bergenre jalan-jalan (seperti zaman Traveler's Tale baru pertama terbit era 2007-an). Sulitnya, pembaca jadi harus selektif memilih buku mana yang bagus dan mana yang tidak. Atau, buku mana yang cukup menggoda untuk 'diculik' ke kasir sekarang juga dan mana yang masih bisa ditunda.

Dari beberapa novel travelling yang pernah saya baca atau temukan di toko buku, terdapat tiga 'aliran' umum soal isi buku tsb:
  1. 'terlalu' travelling
    Novel jenis ini terlalu menitikberatkan pada info-info travelling sehingga membacanya serasa lagi baca guide atau brosur pariwisata. Ada juga yang seperti catatan perjalanan pribadi: rinci, runut, bahkan detail sekecil ada yang izin BAB pun ditulis. Too much. Semuanya disebutkan dan dijelaskan, sampai-sampai ceritanya sendiri terlupakan: ini ceritanya tentang apa, toh?
  2. travelling hanya sebagai setting
    Berkebalikan dengan sebelumnya, jenis ini justru menjadikan travelling sebagai setting tempelan alais porsinya dikit banget. Mudahnya, ketika lokasi diganti pun cerita nggak akan terpengaruh/berubah banyak. Misal: set lokasinya di Paris, tapi kalau diubah jadi Jakarta pun alur ceritanya tetap bisa jalan tanpa keanehan. Yang seperti ini biasanya menitikberatkan pada kesan bahwa travelling ke LN itu glamor dan asyik/adventouring di Indonesia tuh keren banget, tapi justru lupa memberikan alasan kenapa bisa asyik.
    Kadang memang ada yang cerita 1-2 bab sendiri, tapi setelah itu fokus berubah ke lain hal. Ada pula yang sekadar menyebutkan lokasi dan deskripsi pendek, tapi setelah itu, sudah. 
  3. porsi pas
    Cerita travelling + alur ceritanya pas! Dia bisa meramu setting dan cerita dengan apik dan rapi sesuai takaran sehingga menjadi novel yang sedap dibaca. Tak berat sebelah: nggak kebanyakan deskripsi lokasi tapi juga nggak tempelan banget. 
Traveler's Tale, menurut saya, masuk dalam kategori ketiga.

Merajut cerita fiksi yang berhubungan dengan dunia jalan-jalan dan petualangan memang nggak mudah. Susah-susah gampang (tahu dari mana? Ya karena pernah nyoba 😁jadi tahu rasanya). Penulis yang baru nyemplung atau sudah lama nyemplung tapi jenis tulisannya masih tipe 1/2 pun ada. Usaha mereka menuangkan cerita tetap perlu diapresiasi. Pembaca jadi punya sedikit bayangan soal tempat-tempat yang mereka ceritakan. (The real case of "buku adalah jendela untuk melihat dunia", I think?)

Kembali lagi ke Traveler's Tale. Kenapa dia bisa dibilang porsinya pas? 
Novel ini lokasinya berganti-ganti. Dari Amerika-Eropa-Asia-Afrika, semua dibabat. Ini susah, lho. Maksudnya, membuat cerita yang tetap berhubungan di satu setting aja, belum tentu eksekusinya 'rapi'. Nah, ini malah pindah-pindah tapi ceritanya tetap 'nyambung'. Memang, hal itu diakali dengan cerita di tiap lokasi yang pendek-pendek. Namun, itulah kelebihannya: narasinya pendek, tapi fokus. Narasinya pendek, tapi alur dan setting bisa terjalin beriringan.

Kalau pendek-pendek, detail travelling-nya jadi nggak banyak, dong?
Betul. Tapi, balik ke tadi: detail jalan-jalannya dia tetap fokus. Sure, ada beberapa lokasi yang hanya disebutkan sekelebat. Misal, saat Farah jalan dengan teman backpacking-nya ke 'Dufan'-nya Wina, Austria. Cuma diceritain 1-2 paragraf doang tentang gimana si teman jadi kayak bocah kesenengan lihat wahana yang lebih sederhana daripada Dufannya kita. Tapi, kalau dipikir-pikir, ya ngapain dibikin panjang? Kan, nggak ada kepentingan buat alur juga. Malah ngebosenin nanti. 

Detail lokasi juga gitu. Paling 1-2 paragraf (malah ada yang cuma beberapa baris). Tapi inilah yang bikin dia nggak jadi berlarat-larat atau menjadi deskripsi yang membosankan. Infonya x, y, z, sudah. Infonya umum? Ya, beberapa. Namun ada juga yang infonya cukup unik. Dan, info ini dihubungkan dengan alur. Seperti saat Retno berada di Seville dan bangunan di sana mengingatkannya pada arsitektur kota tempat Francis tinggal (di AS). 

Soal travelling ini sebenarnya juga jadi salah satu faktor pembatas (halah!) Traveler's Tale. Betul bahwa di beberapa bagian, dia nyambung banget. Namun, di ada juga beberapa bagian yang hanya disebutkan sekelebat sehingga berasa, "Lha, gitu doang? Dia ke sini cuma sekilas gini aja?" Entah sengaja atau nggak sengaja dibuat gitu. Kalau sengaja, mungkin karena biar fokus tadi atau supaya vibes travelling pindah-pindah kotanya terasa. Namun, di beberapa bagian memang jadi terasa membacanya tersekat-sekat.

Gimana dengan ceritanya sendiri?
Well, you know how romance trope goes. Cinta segiempat, cinta tak diungkapkan, cinta ditolak, cinta terhalang dinding. Perilaku tokohnya pun sama seperti yang bakal dilakukan orang betulan, nggak ada adegan yang super wow atau ngagetin banget. 

Alur ceritanya serasa mendaki gunung beneran: kadang datar banget, kadang naik banget, kadang turun banget. Sepertinya dua pertiga awal terasa lambat (saat masing-masing tokoh mulai take off ke tujuan). Untungnya, mode lambat ini terselamatkan oleh beragam lokasi yang dikunjungi empat sekawan kita. Karena lokasinya beragam, jadi terasa lebih cepat meski butuh waktu agak lama untuk sampai ke konflik. Namun, ritme ini lalu berubah cepat banget waktu keempat sahabat ini ketemu (kemudian, DHUAR! ada surprise dan puncak konflik). Setelah konflik besar, rada turun tuh tensinya. Ada beberapa saat tenang. Kemudian, di ending, ada penyelesaian yang secara alur sebenarnya cepat, tapi eksekusi kalimatnya jadi berasa waktu berjalan lambat... banget. Kemudian cepat. Nah lho. 

Ending-nya gimana?
Nano-nano, hahaha. Dibilang memuaskan juga kurang puas, tapi dibilang kurang puas juga sebenarnya sudah menuntaskan rasa penasaran. Dibilang sad ending juga enggak karena ada senangnya, tapi dibilang happy ending juga enggak karena ada hal yang belum selesai. Mixed feelings gitu lah. Bikin gemas. Putuskan sendiri saja menurutmu ini masuk kategori yang mana, hehe. 

Novel ini pernah diangkat ke layar lebar pada tahun 2018. Tapi saya nggak nonton. Antara emang nggak tahu kalau difilmkan (baru tahu 2020-an kayaknya) dan memang nggak pengin. Preferensi personal aja, sih, karena saya cenderung lebih enjoy buku daripada versi film. 

Oh, novel ini juga pernah diterbitkan ulang. Waktu tahu kalau dia difilmkan, saya searching lagi, eh ternyata ada kover (cover, KBBI: kover) baru. Sampul baru ini bernuansa lebih terang dan lebih bersih daripada cetakan pertamanya. Bedanya, empat tokoh di sini diganti dengan figur semacam Lego. 
(Beberapa hari lalu saya cek di marketplace Gagas Media, novel ini masih tersedia.)

Kover baru (via Shopee/buku_happy)

Kalau dari cerahnya, saya lebih suka sampul baru. Lebih berwarna juga dan nggak terkesan abu-abu. Namun, kalau dari penggambaran karakter, kayaknya lebih suka sampul lama karena di sana sifat masing-masing tokoh lebih terwakilkan. Kayak, Ucup yang pecicilan digambarkan lagi lompat atau Francis yang necis emang berpakaian paling proper. 

Gimana dengan isinya? Novel yang lama, kan, keluar di era belum ada smartphone. Francis ngirim undangan nikah aja masih pakai email dan pos biasa, bukan link undangan digital kayak sekarang. Mereka berempat komunikasi juga masih pakai email jadul. Farah dan Retno masih SMS-an! Apa ada perubahan di novel barunya, seperti milis diganti group chat dsb? Jujur nggak tahu. Sebab saya nggak baca yang versi anyar. 

Terlepas dari plus-minusnya, Traveler's Tale tetap menjadi novel favorit saya. Dari buku inilah saya jadi bisa sedikit menyingkap tirai Eropa dan (sebagian kecil) Afrika. Tempat-tempat wisata yang disebutkan memang banyak yang kini sudah mainstream, mayoritas bukan yang hidden gem, tapi tetap worth-to-visit. Ibarat nggak afdal kalau ke Paris kalau nggak lihat Menara Eiffel. Namun, ada juga beberapa tempat yang nggak begitu terkenal dan sangat menarik, misalnya perkebunan anggur saat Farah menginap di ****.

Dari sinilah saya pertama kali tahu istilah 'Andalusia' dan sekelumit kisah Islam di Eropa. 
Dari sini juga saya jadi penasaran dengan (kemudian nonton) seri Before Sunrise.
Karena dia, saya jadi bisa menikmati film lawas The Sound of Music dan kesengsem dengan suasana pedesaannya yang sampai sekarang masih cantik!
Kayaknya, novel ini juga yang memicu saya untuk koleksi novel bertema jalan-jalan lainnya 😄


Reading Time:
Bait-Bait Suci Gunung Rinjani
Juni 01, 20130 Comments



Judul: Bait-Bait Suci Gunung Rinjani
Penulis: Khaerul Sidiq
Penerbit: Dian Rakyat
Tahun terbit: 2009 (cetakan pertama)
Tebal: 310 halaman

Perjalanan memang tak cuma untuk menikmati alam, namun juga bisa menjadi ajang mencari teman. Hal itulah yang benar-benar terjadi pada Fajar dan Bambang. Mereka yang awalnya hanya berdua mendaki Rinjani, bertemu dengan kelompok pendaki lain: Ria, Anis, Robi, dan Aldo. Kebersamaan yang mereka bawa dalam perjalanan, menggoreskan kesan. Usai pendakian, keenamnya kembali dengan hidupnya masing-masing. Yang lain kuliah di universitas, sedang Fajar melanjutkan pendidikannya di pesantren.

Hanya sampai di situ?

Tidak. Hidup Fajar tidak bisa disebut lempeng-lempeng saja. Tokoh sentral ini banyak mengalami kejadian dalam hidupnya. Mulai dari mengais rezeki dengan mengamen di bus, menjadi saksi meninggalnya seorang pengamen kecil, hingga proses taaruf-nya dengan Imel yang kandas.

Semuanya mulai terlihat jelas saat Fajar kembali bertemu dengan Anis dan Robi yang sudah menikah. Ternyata Ria sudah meninggal! Padahal, baru beberapa bulan yang lalu Fajar bertemu Ria yang sedang caving. Saat itu, Ria bercerita bahwa dia kabur dari rumah. Sesaat kemudian, Ria dijemput karena ibunya sedang sakaratul maut dan sedang menunggunya. Sejak saat itu, Fajar tidak pernah bertemu Ria.

Berniat menapaktilasi Ria yang meninggal dalam pendakian ke Rinjani, Fajar mengiyakan ajakan Anis dan Robi. Betapa terkejutnya Fajar, mendapati Ria masih hidup. Malahan, keduanya bertemu saat sedang sama-sama berdiri di pelaminan, sebagai sepasang suami istri. Kok bisa?

-------------------------------------------------------------------------

Novel bernafaskan Islam ini overall menarik. Mulai dari cover hingga isinya (apalagi kalau isinya tentang pendakian, hehehe). Catatan perjalanan pendakian Rinjani cukup lengkap untuk ukuran novel. Isinya pun tidak hanya berfokus pada satu tema. Namun juga tentang cinta dan hidup pengamen jalanan. Untuk yang disebut terakhir memang cukup menjadi fokus. Apalagi, penulis adalah salah satu dari mereka. Salut bukan, untuk sebuah karya yang —disebut di sampulnya— lahir dari jalanan?

Namun, masih terdapat beberapa ejaan dan penggunaan tanda baca yang kurang tepat. Pun, dalam gaya bahasa masih terasa kaku meski diselipkan percakapan-percakapan gaul. Dalam narasi masih ada kalimat-kalimat yang mengganjal, yang sebenarnya bisa diperhalus agar emosi pembaca ikut larut. Secara personal, ada juga kalimat yang rasanya agak kasar.

Dari segi isi, cukup nano-nano rasanya. Seperti saya bilang di atas, temanya macam-macam. Jadi berasa ada beberapa cerita di satu novel. Mulai dari pendakian, cerita ngamen, junior yang meninggal misterius, dll. Meski ada sedikiit benang merah di antara cerita-cerita ini, tapi saya ngerasa justru ini yang bikin cerita detached. Macam, terlalu banyak isi yang bikin intinya kurang fokus.

Tapi, lepas dari itu semua, jempol untuk semangat penulis!
Reading Time: