Februari 2023 - Hijaubiru

Jumat, 24 Februari 2023

Mengumpulkan Kepingan Detail Perjalanan
Februari 24, 20230 Comments


[ Sebetulnya, ini adalah secuplik tips tentang bikin detail catatan perjalanan (catper/travel notes) dengan cepat. Versi saya. Disclaimer: beberapa cara adalah ajaran dari orang/penulis lain atau pelatihan yang kemudian diatur gimana enaknya supaya saya nyaman mencatat dan menulis dengan metode itu. Dan ini konteksnya buat tulisan perjalanan, bukan vlog dan semacamnya.]


Banyak hal terjadi selama kita melakukan perjalanan. Untuk sebagian orang, travelling ya untuk dijalani dan dinikmati, plus didokumentasi dalam foto sebagai bukti. Bagi sebagian orang lainnya, jalan-jalan bisa menjadi bahan tulisan atau memoar tersendiri. Atau, simply pencatatan itinerary untuk diingat atau dibagi ke orang lain yang mungkin ingin menempuh perjalanan yang sama. Terutama untuk pejalan tipe kedua, jalan-jalan nggak hanya dinikmati aja, tapi juga dicermati.


Tapi, kan, banyak hal terjadi selama kita jalan-jalan. Gimana caranya kita mencatat/menulis itu semua?


Memang, nggak harus semuanya.

Kesalahan saya (dan juga kesalahan umum banyak penulis catper pemula, seperti yang dibilang penulis catper kawakan, Agustinus Wibowo) adalah menuliskan semua dengan detail. Mulai dari bangun pagi, mandi, sikat gigi, sarapan, dst. Padahal maksud detail itu adalah: rinci boleh, tapi hal yang penting-penting aja. Kalau nggak penting, buat apa ditulis? Apa pembaca mau ngabisin waktu buat baca hal yang berlarat-larat kayak ... 


Pemandangan itu sangat indah. Lautan luas terhampar di hadapan mata. Warnanya biru sejauh mata memandang. Pasir putih yang halus aku rasakan di bawah kaki. Rasanya nyaman sekali. Rasanya seperti sedang di-massage sembari menikmati belaian sutra superlembut yang tak kasat mata. Air pantainya pun jernih dan segar sekali. Rasanya seperti air murni yang dibawa langsung dari surga. Apalagi pemandangan di pucuk horizon sana ... dst. 


... gitu? Karena kalau berkaca dari diri sendiri, saat nyari review atau catper orang untuk survei lokasi pun saya biasanya scanning aja kalau nemu yang begini (meski kadang juga masih kepeleset nulis hal kayak gini, wkwk).


Apa deskripsi keindahan dan lokasi itu nggak penting atau nggak perlu ditulis? Penting! Asal nggak terlalu banyak. Kalau satu pemandangan digambarkan sampai tiga paragraf dengan isi yang mirip, kan bosan juga bacanya.

(Ini mirip dengan nulis fiksi, sih. Saat editing, bagian yang bertele-tele atau nggak berhubungan dengan plot ya dibuang karena menuh-menuhin dan nggak ngefek ke cerita. Apalagi kalau di cerpen yang jumlah halamannya lebih terbatas.)


Masalah kedua yang berkaitan dengan rincian: kekurangan bahan.

Ini juga sering terjadi sama saya. Rasanya, pengalaman di lokasi itu banyak, penuh, tumpah-tumpah. Namun begitu ditulis, lha, kok "isinya" cuma 1-2 paragraf aja. Sisanya entah deskripsi perasaan atau lokasi yang panjang sekali dan semacamnya. Kalau sudah gini, mau nggak mau memang harus riset untuk nambah bahan dan perspektif. Namun, lebih mudah lagi sebetulnya kalau kita kembangkan pengalaman di lokasi plus riset. Biasanya yang seperti ini menghasilkan tulisan yang lebih ‘nyambung’; lebih relate. Mungkin karena asal bahan tulisannya real time.


Lalu muncul masalah baru: ketika kita nggak mampu mengingat detail yang terjadi di perjalanan. Maklum, daya ingat manusia memang terbatas. Untuk itulah kertas diciptakan; untuk ditulisi hal-hal yang bisa dilupakan atau tak muat ditampung otak. Jadi, solusinya adalah ditulis? Iya dan enggak, karena ada beragam metode. Ini cara yang saya pakai di trip baru-baru ini:

1. tulis di buku/notes kecil, atau

2. ketik di catatan HP

3. catat dengan rinci, atau

4. catat garis besar atau kata kuncinya aja

5. rekam suara

6. foto/video.

Mari kita bahas satu-satu.


Cara pertama, kedua, dan ketiga sudah jamak dilakukan. Pertama dapat ilmu ini waktu bergabung di ekskul Pecinta Alam. Ketika diklat, kami disuruh menulis catatan tentang hal-hal penting hari itu: apa aja yang dilakukan, ngapain dan ke mana aja, ada peristiwa tertentu atau enggak, dsb. Ketika naik gunung juga sama. Kami diminta mencatat jam-jam secara rinci, jarak tempuh pos X ke pos Y, kondisi medan, dsb.


Di zaman itu memang catatan begini sangat berarti karena bisa jadi panduan untuk pendakian selanjutnya. Gampangnya, kalau ada teman/adik kelas/klub pecinta alam lain yang mau naik gunung tsb, mereka bisa survei waktu dan medan ke orang yang pernah naik duluan. Selain tanya-tanya, cara lain, ya, lihat catatan perjalanan orang yang sudah pernah naik. Kalau sekarang, kayaknya info begini udah bejibun. Apalagi di jagad internet dan medsos. 


Penulisan jam, medan, dll, ini masih saya pakai sampai sekarang. Cuma, kalau dulu nyatat di buku, sekarang saya lebih suka nyatat di ponsel. Lebih cepat aja ngetiknya daripada nulis. Karena lebih cepat itu, jadi bisa ‘mengejar’ otak yang kadang baru mikir kejadian A, eh, udah lompat ke kejadian B.


Seringkali mikir lompat-lompat ini yang bikin malas nyatat karena kayaknya banyak banget yang perlu dicatat dan diingat kembali. Saya biasanya baru nulis lengkap kalau malam. Saat kegiatan sudah selesai semua, ketika sudah makan-ganti baju-siap tidur. Padahal itu jam capek-capeknya, kan. Kadang malah nggak jadi nulis karena langsung bablas ke alam mimpi.


Oleh karena itu, saya pakai cara keempat, yaitu catat garis besarnya. Cara ini saya pakai kalau sudah capek/malas ngetik panjang. Sejujurnya, ini cara baru saya pakai semingguan lalu. Mikirnya, “Daripada nggak ditulis, mending tetap nyatat tapi pendek-pendek.” Saya ketikkan kata kunci-kata kunci yang ketika dibaca ulang (harapannya) bisa membangkitkan ingatan detail tentang perjalanan. Kalaupun lupa lagi ngebahas apa, kata-kata tsb juga bisa bantu buat browsing sehingga voila, muncullah cerita yang nyambung.


Misalnya, waktu berkunjung ke desa adat Batak. Pemandu tur menjelaskan banyak hal soal perkakas adat. Maka ditulis: tongkat raja, anak kembar, relief jiwa, pohon. Dengan baca kata-kata ini, saya jadi ingat kalau raja Batak punya tongkat berelief ukiran wajah orang-orang. Raja Batak ini punya anak kembar yang kisah hidupnya miris hingga lengket di pohon.


Namun, sejujurnya cara ini termasuk last resort. Soalnya, kadang nggak semua hal yang kita temui di lokasi bisa ditemui di internet. Jadi browsing-nya rada ribet atau, bad news, nggak nemu. Apalagi kalau kata kuncinya keliru.


Tapi, kan, udah capek seharian jalan-jalan. Masa harus nulis detail, sih?

Untuk itulah ada cara kelima: rekam suara.

Cara ini juga baru kemarin saya pakai dengan total. Sebelum itu pernah, sih, ngerekam suara, tapi durasinya nggak lama. Soalnya, saya malu dan sungkan kalau ngerekam suara tapi ada orang lain yang satu ruangan, hahaha. Pernah saya ‘rekaman’ waktu teman sekamar lagi di kamar mandi. Atau kalau seruangan, ngerekamnya pelan banget kayak bisik-bisik.


Ngerekam suara lebih enak karena kita nggak capek nulis dan mikir. Ngomongnya kayak ngobrol sama teman biasa; ngalir aja kayak lagi curhat. Hanya saja ini ngomong sendiri. Alhamdulillah kalau teman dengar dan mau benerin/nambahin info. Tapi, sisi nggak enaknya adalah kita harus dengerin rekaman itu ketika pulang, kemudian mencatat ulang. Buat orang yang nggak telaten dengar dan lebih cepat baca, ini jadi salah satu cobaan tersendiri. Berasa kerja dua kali. Namun, saat hari-H dan di lokasi, memang jadi hemat energi.


Rekaman suara adalah cara paling final dan paling mudah buat nyatat catper. Cuma, ya, hati-hati aja supaya file-nya nggak keburu dihapus karena dianggap rekaman nggak penting. Untuk mempermudah, di awal rekaman bisa diomongin tuh tanggal dan lokasinya. Misal, “Halo, hari ini 20 Februari 2023, hari pertama trip ke Bandung.” Nge-record-nya sama kayak tulisan, yaitu bisa dibikin per hari atau per malam.


Nah, kalau lagi di jalan dan nggak mungkin nyatat atau ngerekam, gimana?

Misalnya, lagi naik gunung. Ngerekam, kan, butuh waktu. Padahal waktu rest saat hiking toh terbatas buat betul-betul rehat dan tarik napas. Nyatat pun jadi out of question dan kadang jamnya jadi diingat-ingat aja. Sebetulnya bisa aja diketik cepat di ponsel. Tulis aja jam, lokasi, dan medan kalau perlu. Tapi untuk itu pun kadang juga udah malas. Pun ketika malam, bisa jadi lupa detailnya karena kecapekan.


Untuk itulah ada cara keenam: foto/video. Foto tempat, spot yang penting, atau plang penanda. Kalau mau detail medan, fotolah kondisi jalan dan sekitarnya. Kalau mau lebih ringkas, videokan aja. Nggak perlu bagus, yang penting jelas, karena tujuannya untuk pencatatan. Beda cerita kalau mau bikin footage video, memang harus lebih dipikirkan.


Dulu, cara ini saya pakai kalau naik gunung dan capek. Banget. Apalagi kondisi hujan. Males banget ngetik. Ngeluarin HP aja risiko kebasahan. Maka jalan cepatnya adalah potret! Sampai pos 3 misalnya. Potret shelter atau plang posnya. Sampai pos/camp berikutnya juga sama, gitu terus. Saat sudah pulang atau lagi nge-camp dan mau nyusun catper, baru, deh, dilihat properties fotonya: diambil jam berapa, dilihat kondisi cuaca dari gambar kayak gimana, dsb. Baru ditulis ulang. 


Nggak cuma buat naik gunung, cara ini juga lumayan berguna di liburan non-hiking. Liburan kemarin, inilah cara yang saya pakai buat ngitung durasi perjalanan dari spot ke spot. Apalagi kalau bareng rombongan, kan, harus gerak cepat. Manalah mungkin nyatet-nyatet. Jadi begitu sampai tujuan selanjutnya, langsung potret aja apa yang ada di depan mata. Meski nggak ada ‘objek bagus’ sekalipun. Kan, memang buat penanda aja. Motret 'objek beneran'-nya nanti kalau udah di dalam.


Selain mengingat detail durasi dll, cara ini juga bisa dipakai saat lihat sesuatu di tengah perjalanan. Foto-foto yang dikumpulkan bisa dilihat lagi sebagai pengingat saat kita mulai menulis. "Oh, waktu itu di lokasi X ternyata aku lihat ada kejadian Y." Cara ini bisa memperbanyak isi tulisan, sebab yang ditulis nggak cuma deskripsi pemandangan dkk tapi juga peristiwa dan rasa yang terjadi ketika sedang di lokasi.


Ini cara mengumpulkan detail tulisan. Sebenarnya metode-metode di atas juga sudah umum banget. Katakanlah lewat story Instagram/Facebook, vlog, dsb. Hanya saja kalau saya, story dsb itu cuma sekelebat sehingga detailnya masih kurang tercatat. Dan mungkin karena saya mau ‘alihkan’ bahan itu dalam bentuk tulisan kemudian. Namun kalau memang nyaman pakai video dsb dan nggak suka nulis atau mau liburan aja tanpa perlu nyatat macam-macam, ya, mangga aja karena toh hobi dan preferensi orang beda-beda. Kita nggak harus mengambil jalan yang sama. Sebab, apa yang enjoy kita nikmati emang beda-beda.


=====

Ngomong-ngomong, 

kalau diperhatikan, di sini pakai kata "travelling" (dobel L). Ejaan yang betul "travelling" atau "traveling", sih? Dua-duanya benar. Bedanya, dobel L untuk ejaan ala British English dan satu L untuk American English.

 

 

 

Photo credit: wallpaperflare.com

Reading Time:

Jumat, 03 Februari 2023

Euforia Kebaruan
Februari 03, 20230 Comments

 



Nggak terasa, ya, sudah berganti bulan lagi. Padahal rasanya baru kemarin Januari menghampiri. Baru kemarin rasanya dengar ledakan kembang api bertalu-talu di langit malam yang biru bertabut abu-abu. Eh, sekarang sudah Februari aja.

 

Bukan hal baru kalau banyak orang punya rencana baru saat tahun baru. Apapun tahun barunya: tahun baru Masehi, Hijriah, Lunar, you name it. Memulai kebiasaan anyar di awal tahun yang juga anyar memang terkesan lebih ‘bersih’ dan mudah karena beranjak dari sesuatu yang sama sekali baru, nol, kosong, putih. Sebetulnya sama aja dengan memulai kegiatan itu di awal bulan/saat berganti bulan. Sama-sama baru. Namun, feeling-nya agak beda. Mungkin karena durasi tahun itu lebih lama sehingga penantiannya pun lama, jadinya lebih spesial.

 

Yang menjadi masalah adalah: apa resolusi itu sudah ajeg dilakukan hingga akhir Januari atau mulai mrothol ketika memasuki Februari?

 

(Ini, dari kacamata saya. Dan memang ngebahas soal tahun baru Masehi.)

 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, di awal tahun saya mengilas balik apa-apa saja yang dilakukan tahun lalu. Apa ada hal yang signifikan? Apa ada kenaikan value? Atau, ada hal yang menyenangkan atau tak terlupakan? Ya mirip dengan evaluasi program kerja lah, cuma karena ini diri sendiri jadi yaa nggak seserius itu; dibawa santai wae. Target tercapai alhamdulillah, nggak tercapai ya… sudah, wkwkwk.

  

Saat membuka buku agenda, saya baru ingat bahwa tahun lalu saya mencanangkan program “Satu Bulan”. Dalam satu bulan, saya akan fokus mempelajari satu bidang. Planning ini punya 'masa trial' tiga bulan saja untuk melihat efektif/enggaknya. Saya lupa persisnya, tapi yang jelas ada rencana Januari Menulis dan Februari Fotografi.

 

Apakah terlaksana?

Ya dan tidak, haha.

Januari Menulis berisi 30 hari rutin menulis dan merangkum materi-materi dari webinar/pelatihan menulis tahun sebelumnya. Pendek cerita, rencana menulis rutin hanya terpenuhi separuhnya, sedangkan proses pengumpulan rangkuman tersendat-sendat dan baru selesai di bulan Februari, LOL. Pekan pertama cuma alpa satu kali, pekan kedua bolong tiga kali, pekan ketiga nulisnya yang tiga kali, sedangkan pekan keempat cuma sekali. Memang seleksi alam itu nyata, bahkan dalam diri sendiri 🤣

 

Bagaimana dengan Februari Fotografi? Enough said, it didn’t work out, hahaha.

Ya gitu, deh, semangatnya di awal, sedangkan di akhir bulan sudah melempem hingga lama-kelamaan kemudian ditinggalkan.

 

Tampaknya hal ini nggak terjadi ke saya aja. Banyak juga orang lain merasakan hal yang sama. Dan, berulang-ulang. Setiap tahun baru.

 

Dan, rupanya, tak melulu di setiap tahun baru. Hal ini juga kejadian di program baru, organisasi baru, lingkungan baru, dan lain-lainnya yang baru-baru. Belakangan saya sadari ini nggak cuma berlaku pada barang, tapi juga pada orang: lingkungan dan status baru, misalnya.

 

Dalam beberapa seminar/kelas bertema komunikasi, keluarga, atau pernikahan, para pemateri sering menyampaikan bahwa selalu ada fase honeymoon alias fase senang-senang di awal perubahan status: menjadi pasangan baru, orang tua baru, dll. Di fase ini, semua terlihat bagus dan indah. Setelah beberapa saat, barulah muncul (semacam) fase kesadaran: “Kok, ternyata ini ada jeleknya, ya?” Lalu lanjut ke fase kebosanan.

 

Kalau dilihat-lihat, siklus seperti ini nggak terjadi hanya saat punya status baru, tapi juga saat ada barang, lingkungan, atau hal lain yang baru. Contohnya, ketika masuk organisasi baru, rasanya semangat banget merancang proker ini-itu. Saat masuk sekolah/kampus/kerjaan baru, serasa happy banget mengeksplorasi ini-itu. Saat punya barang baru, apalagi yang diidam-idamkan, itu barang disayang-sayang dieman-eman banget. Nggak boleh dijalankan atau dipegang sembarangan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, semua kelekatan itu mulai longgar. Sesuatu yang dulu dianggap istimewa, lama-lama kian biasa saja. Ya karena jadi sering ketemu dan hal yang tadinya luar biasa telah menjadi ‘rutinitas’ biasa saja.

 

Hilangnya ketertarikan yang dibahas pada webinar tadi mirip dengan tulisan dalam buku Geography of Bliss. Eric Weiner—sang penulis—memperhatikan fenomena kebahagiaan di beberapa negara yang dinobatkan menjadi negara paling bahagia dan negara paling nelangsa. Dalam salah satu bab tentang sebuah negara paling bahagia, Weiner menyebut bahwa (salah satu) faktor kebahagiaan di situ bak euforia memenangkan sebuah lotre.


Weiner menyitir salah satu hasil penelitian oleh Philip Brickman tentang kebahagiaan dua kelompok: satu, para pemenang lotre dan dua, para survivor kecelakaan. Intinya adalah: saat baru menang lotre atau mengalami kecelakaan, kebahagiaan dua kelompok ini beda drastis. Jelas, yang satu bahagia banget karena dapat sesuatu yang diimpi-impikan, sedangkan satu lagi sedih karena kehilangan kesehatan. Namun, uniknya, setelah beberapa waktu, tingkat kebahagiaan dua kelompok ini jadi sangat mirip, yaitu balik ke tingkat ketika mereka belum menang lotre/kecelakaan. Bila diibaratkan dengan grafik, kelompok satu yang awalnya tingkat bahagianya tinggi banget lalu berangsur turun jadi biasa-biasa saja; seperti sebelum dapat lotre. Di sisi lain, kelompok kedua yang awalnya sedih banget lalu berangsur naik jadi biasa-biasa saja; seperti sebelum kecelakaan.


Hal serupa penelitian di atas Weiner temukan di sebuah negara sangat kaya yang penduduknya saja emoh naik pesawat kelas bisnis karena dianggap terlalu murah. Negeri ini dulu dikenal gersang dan nggak ada perkembangan. Kemudian, nasibnya berubah kaya dalam sekejap karena ada sumber daya alam yang baru ditemukan. Penduduknya pun jadi sangat makmur, sampai petugas hotel pun harus 'diimpor' dari negara lain, sedangkan warga lokal menjadi customer saja; bukan pekerja.


Weiner bertanya pada salah satu narasumber, apa orang di sini bahagia karena kaya sekali? Narasumber itu menjawab: ya dan tidak. Dulu, awal-awal negaranya berubah kaya, para penduduk memang senang banget. Punya ini-itu yang mahal dan nggak pernah terbayangkan. Namun, sekarang, punya sebiji Ferrari itu sudah terlalu biasa. Punya macam-macam pun rasanya biasa saja. 

 

Disclaimer, saya nggak menggeluti dunia psikologi dan mungkin interpretasi saya salah soal ini.

Dari kacamata saya, resolusi awal tahun mirip dengan kasus kelompok pemenang lotre. Kita mendapat sesuatu yang baru (resolusi baru), meninggalkan tahun belakang yang mungkin aja berisi kesedihan. Karena masih awal, masih senang-senangnya, masih semangat, jadi ya… pekan pertama-kedua ini semangat sekali. Namun, lama-lama euforia kebaruan ini menurun karena ‘barang’ yang tadinya ‘baru’ kini sudah ‘semi-baru’. Seiring terlewatinya bulan demi bulan, resolusi ‘baru’ ini pun menjadi ‘barang lawas’ yang tidak lagi bisa memicu kebahagiaan lagi. Akhirnya, resolusi ini pun rontok pelan-pelan.


Seperti ungkapan,

“Barang baru disayang-sayang, barang lama dilupakan.”

 

Akibat memang sudah siklus alamiah, maka hal ini sebenarnya lumrah. Yang jadi tanda bahaya adalah ketika menjadi muak dan ogah berurusan dengan hal itu, padahal hal tsb harus dilakukan. Misalnya, menjadi staf organisasi padahal sudah telanjur diberi tanggung jawab, bosan menjadi pasangan padahal sudah berkomitmen bersama, dsb. Atau, kalau dihubungkan dengan bahasan sebelumnya: bosan ngelakuin resolusi atau rencana hidup.

 

Maka saya setuju dengan ucapan, “Semangat membara akan mengantarkan ke gerbang, tapi butuh keteguhan agar bisa sampai garis finish dengan benar.”

 

Berkaca dari resolusi tahun lalu, omongan itu benar banget. 1-2 minggu pertama masih semangat, masih senang. Minggu-minggu selanjutnya sudah buyar akibat rasa tertekan atau sekadar ingin menuntaskan kewajiban. Nggak heran kalau istikomah emang nilainya besar.


Semua yang baru akan terasa bagai euforia. Apalagi baru dan diidam-idamkan. Something that's full of happiness and too-good-to-be-true. But then, constantly, without we're realising, it has become dull. The happiness hormone decreased because the stimulation is no longer a stimulation since it has become familiar. 

 

Gimana dengan tahun ini, apakah ada program lagi seperti Januari Menulis atau sudah kapok? Well, saya masih meraba-raba. Kiranya cuitan di atas bisa jadi gambaran bagaimana, sebab saya baru (betul-betul) membuka (kembali) buku agenda di akhir Januari, hahaha.



Reading Time: