Januari 2023 - Hijaubiru

Jumat, 13 Januari 2023

Lone Tree si Perintis
Januari 13, 20230 Comments



Pohon di atas mencuri perhatian saya. Di padang pasir Bromo yang begitu luas, ia tumbuh sendirian; tunggal. Tanpa teman. Di dekatnya hanya ada rerumputan dan alang-alang. Pohon serupa berjarak beberapa puluh (atau ratus?) meter jauhnya.


Kenapa pohon di sini sedikit banget? 

Bukannya ini area pegunungan, yang seyogyanya punya banyak pohon? Apalagi tempat ini dikelilingi hutan-hutan berpohon tinggi, ya hutan yang dilalui pengunjung sebelum turun ke Lautan Pasir. Namun, mengapa justru “cuma” rumput-rumputan yang ada, kontras dengan hutan yang dilewati?


[ Sebelum itu, disclaimer: ada banyak padang rumput hijau di beberapa sisi, contohnya di Bukit Teletubbies. Begitu juga dengan pohon. Tapi, saya bahas yang sisi ini aja: sisi yang minim pohon dan didominasi rumput/semak. ]


Sebetulnya bukan hal aneh kalau Lautan Pasir ini minim pohon dan justru didominasi rumput serta ilalang. Sebab, area ini terletak dekat dengan kawah gunung berapi, apalagi masih aktif. Gunung berapi aktif kadang memuntahkan material super panas ke area di sekitarnya. Logikanya, dengan suhu yang sangat tinggi, kecil kemungkinan ada makhluk yang bisa hidup di tanah itu.


“Tapi, kan, tanah/pasirnya sudah nggak panas?”

True, tapi, selain suhu, ada banyak hal yang bikin tanaman nggak mudah tumbuh. Jenis tanah dan ketersediaan zat hara/air, misalnya. Kebutuhan-kebutuhan seperti itu belum tentu tersedia di lingkungan yang cukup ekstrem. Akibatnya, nggak sembarang tumbuhan bisa tumbuh di sana. Mayoritas tumbuhan yang bisa ditemui hanyalah rumput, ilalang, atau semak. Mereka yang bisa hidup di lingkungan ekstrem inilah yang disebut dengan tumbuhan perintis (pioneer plant).


Mereka disebut perintis karena merekalah yang pertama ada dan menghuni tempat-tempat yang terhitung ekstrem. Merekalah jenis-jenis yang tahan lingkungan keras dan survive di sana. Keberadaan tumbuhan perintis bikin tempat-tempat yang ekstrem perlahan-lahan menjadi “layak huni” bagi makhluk hidup lainnya (ataupun sesama tumbuhan yang nggak sekuat mereka).hb 


Sebenarnya, organisme perintis nggak cuma tumbuhan. Makhluk yang pertama-tama merintis tentu makhluk yang sama yang dulu membuat bumi jadi layak huni seperti sekarang; makhluk bernyawa yang ditengarai muncul paling pertama ketika bumi terbentuk: organisme bersel satu. Contohnya bakteri. Setelah ada bakteri dan sejenisnya, pelan-pelan muncul makhluk primitif bersel banyak, menyusul kemudian jenis lumut, lalu tumbuhan, lalu hewan dan manusia.


Makhluk hidup paling sederhana muncul lebih dulu, disusul makhluk hidup lebih kompleks kemudian. 


Gimana bisa organisme bikin lingkungan jadi lebih habitable buat organisme lain?

Mudahnya, dengan menghasilkan sesuatu yang “bisa dimakan” organisme lain. Alurnya begini: “gizi” di lingkungan ekstrem hanya bisa dimakan mikrobia. Setelah dimakan, gizi ini berubah jadi zat lain yang hanya bisa dimakan (misalnya) lumut. Nanti sama aja, lumut bakal menghasilkan zat yang bisa dimakan tumbuhan, dst.


Mirip rantai makanan gitulah. Kalau ingat istilah zaman sekolah, di pelajaran IPA atau Biologi, inilah contoh nyata suksesi secara ekologi. 


Zat yang dihasilkan tadi nggak cuma untuk dimakan, tapi juga bisa membuat lingkungan yang keras menjadi cukup “lunak”. Dengan lingkungan yang lebih enak, tentu makhluk hidup juga lebih suka (dan bisa) hidup di sana. 


Mirip dengan tempat-tempat ekstrem yang sekarang ada, seperti di area Bromo tadi. Bila diperhatikan, area yang mendekati puncak tampak gundul. Hanya ada pasir di sana. Kadang diseling sejumput rumput yang tampak kering. Agak ke bawah, ke tempat yang lebih “layak huni”, rumput-rumput ini mulai banyak terhampar, kadang diselingi semak-semak. Kemudian ada pohon-pohon tunggal seperti pada foto.



Pohon pada foto—jika benar tumbuh sendiri dan bukan sengaja ditanam—termasuk tumbuhan perintis. Jenisnya adalah salah satu yang bisa survive di Lautan Pasir, bersama dengan rumput dan semak lain. 


Kenapa bisa menarik perhatian, kan, cuma pohon?

Mungkin ini personal. Dari segi foto, objek tunggal di antara padang bisa lebih eye-catching. Dari segi tumbuhan, kemampuan bertahannya menarik. Kalau cuma rumput dan sejenisnya, mungkin saya akan ngerasa biasa aja. Secara struktur sel mereka lebih sederhana. Pohon punya struktur yang lebih rumit. Biasanya yang rumit-rumit gini kebutuhannya juga rumit. Jadi, ketika dia punya kebutuhan yang ribet tapi bisa hidup di lingkungan yang super sederhana, tentu dia punya keistimewaan tersendiri.


Ibarat kagum ngelihat orang yang akhirnya sukses setelah berjuang merangkak dari bawah banget tanpa punya priviledge apa-apa. 


Meski, ya, pohon tadi bukan berarti tanpa priviledge juga. Makhluk-makhluk penghuni tempat ekstrem ini biasanya justru punya mekanisme tubuh khusus yang bikin mereka bisa survive


Ketika di lokasi, saya nggak begitu memperhatikan itu pohon jenis apa. Kalau menilik dari foto dan fotonya diperbesar, kayaknya tipe daunnya mirip tumbuhan jenis Leguminosa (?)(* CMIIW). Kalau betul jenisnya itu, nggak heran, sebab banyak jenis Leguminosa yang jadi tumbuhan perintis. Contoh Leguminosa paling umum, ya, kacang-kacangan. Contoh lain kayak kembang merak, lamtoro (petai cina), atau saga.


Leguminosa kondang dengan kemampuannya mengikat nitrogen. Nitrogen yang sudah “diikat” bisa meningkatkan kesuburan tanah. Kalau tanah yang tadinya nggak subur berubah jadi subur, bakal lebih banyak tumbuhan yang bisa hidup di sana. Ini konsepnya sama dengan zat yang dihasilkan dan dimakan (bak rantai makanan) tadi.


Kalau ngelihat beberapa gunung lain, pemandangan puncaknya punya pola yang mirip. Hanya ada sedikit kehidupan di puncak. Pernah pergi ke dekat kawah gunung berapi atau hiking ke puncak gunung yang cukup tinggi? Coba perhatikan bagian puncaknya. Dari jauh, gunung-gunung itu memang kelihatan hijau banget; asri banget. Namun, ketika sampai di titik teratas, hanya rumput atau semak di seantero mata memandang. Kadang, ada 1-2 pohon. Tak banyak. 


Mungkin karena tanahnya minim nutrisi. Mungkin karena suhunya ekstrem. Mungkin karena anginnya kencang sehingga bikin pohon gampang roboh dan rebah. Dan banyak faktor “mungkin” lainnya.


[ Puncak yang punya banyak pohon tinggi, at least yang saya tahu, adalah puncak di Gunung Argopuro. Padahal, ketinggiannya sudah lebih dari 3.000 mdpl, sedangkan gunung-gunung lain yang tingginya cuma >1.500 atau 2.000-an mdpl puncaknya gundul tanpa pohon; cuma rumput. Jadi penasaran kenapa bisa beda gitu. Faktor geografisnya mungkin? ]


Bahkan, di beberapa gunung, puncaknya blas tanpa tumbuhan sama sekali. Hanya ada pasir dan kerikil plus bebatuan. Bahkan, beberapa ratus meter sebelum puncak pun sudah nggak tampak hijau-hijauan. Biasanya yang begini ditemukan di gunung yang masih aktif, contohnya Semeru.


Kenapa gitu?

Gunung yang masih aktif bakal memuntahkan material ke daerah sekitarnya. Daerah yang kena muntahan panas, berat, dan beraneka ragam ini akan terus dihantam oleh material baru. Dihantam terus-menerus kayak gitu, tumbuhan mana yang bisa hidup? Lha wong tanahnya aja hancur begitu. 


Kecuali mikrobia atau lumut. Itu pun, nggak semua jenis mikrobia bisa hidup. Cuma jenis tertentu aja yang biasanya termasuk ekstremofil alias bisa hidup di tempat-tempat ekstrem yang nggak masuk akal macam kawah panas bergejolak atau dasar laut terdalam.  


Reading Time:

Jumat, 06 Januari 2023

Memilih Lomba Cerpen
Januari 06, 2023 2 Comments


Sama seperti novel, cerpen pun punya 'aliran' sendiri-sendiri. Entah apa istilah resminya. Bukan tema, sebab tema lebih seperti topik: cinta, perjuangan, lingkungan, dsb, bukan? Bukan pula genre karena genre berarti cerpen horor, cerpen romance, cerpen misteri, dll. Atau, 'aliran' ini lebih ke gaya bahasa dan isi/hal yang dibahas. Beberapa orang menggunakan istilah 'cerpen serius' dan 'cerpen santai' atau 'cerpen berat' dan 'cerpen ringan' untuk membedakan ini. Meski tentu serius/santai dan berat/ringan ini debatable.


Jadi, saya gunakan 'aliran' aja.


Mudahnya, ada cerpen yang bahasanya lebih baku dan isi ceritanya lebih 'dalem'. Contohnya cerpen-cerpen koran. Topik dalam tulisan ini beraneka ragam, bisa tentang cinta, politik, isu sosial, atau sesimpel kejadian sehari-hari yang jamak terjadi di sekitar kita. Cerpen ini bisa serius, tapi kadang juga bisa lucu atau lucu slash nyindir. 


Di sisi lain, ada cerpen yang bahasanya teramat bebas, seperti bahasa percakapan sehari-hari. Isi cerita lebih mengulik alur dan elemen surprise dan semacamnya. Hal yang diulik biasanya baru permukaan atau kalau 'dalam' pun tidak sedalam tipe pertama. Oleh karena itu, ada beberapa yang menyebutnya cerpen santai. Umumnya topik berkisar di cerpen cinta remaja, persahabatan, cerpen anak-anak, dsb. (Not to say cerpen cinta remaja dkk tadi nggak bisa dibikin tipe pertama. Bisa. Semua tergantung penulisnya). Bila menilik pangsa pasar, mungkin ini jatuhnya ke tulisan teenlit, metropop, dan semacamnya. 


Mana yang lebih baik di antara keduanya?

Pendapat orang beda-beda. Kalau menurut saya, keduanya sama-sama bagus. Tergantung pada keahlian si penulis menuangkan cerita. Cerita aliran pertama yang membosankan, nggak sesuai fakta, atau terlalu melodramatik; ada. Namun, yang bagus dan merangkul konflik sederhana tapi mengena; juga ada. Di sisi lain, ada juga cerpen teenlit atau metropop yang asyik banget dibaca, bikin deg-degan atau ikut nangis. Tapi di sisi lain, ada juga cerpen tipe ini yang luar biasa alay.


Gimana dengan lomba cerpen?

Seiring dengan makin maraknya lomba menulis, tentu penulis akan pilih-pilih lomba mana yang ingin ia ikuti. Nggak mungkin, kan, ngikutin semua lomba? Ada beberapa kriteria yang bisa dijadikan alasan pemilihan.


Alasan pertama tentu kredibel atau enggak. Kredibel artinya panitia bertanggung jawab. Apalagi kalau ada biaya pendaftaran. Jangan sampai setelah bayar dan kirim naskah, kemudian sama sekali tiada kabar. Atau lebih buruk, naskahnya diambil dan di-hak milik tapi penulis tidak diberi apa-apa. 


Masih ada poin pertimbangan lainnya, tapi di sini lebih soal 'aliran' tadi. Kenapa? Sebab dengan mengetahui 'aliran' yang 'dianut' penyelenggara, penulis bisa lebih melihat kans dirinya lebih berpeluang atau tidak, terlepas siapa pun saingannya. Mudahnya: lebih baik kirim naskah ke lomba yang 'sealiran' dengan tulisan kita. 


Kalau cerpen kita lebih ke arah teenlit, ya jangan dimasukin ke lomba cerpen yang 'nyastra banget'. Begitu pula kalau gaya tulisan kita ala cerpen koran, maka sebaiknya nggak diikutkan lomba cerpen remaja. Kalau dikirim, apa pasti nggak menang? Ya belum tentu. Cuma kita sedang mempertimbangkan peluang tadi. Bila tulisan kita bukan jenis tulisan yang mereka cari, tentu peluang menangnya jauh lebih kecil.


Gimana cara tahu 'alirannya' apa? Kalau lombanya sudah berlangsung bertahun-tahun, kita bisa lihat naskah-naskah yang menang tahun sebelumnya. Apalagi kalau dibukukan dan ada e-booknya. Kalau nggak ada, gimana? Lihat bahasa dan desain poster yang digunakan penyelenggara. Kalau dia pakai bahasa santai/sehari-hari, mungkin cerpen 'santai' bisa dicoba. Kalau bahasanya lebih kaku, mungkin memang nyari cerpen 'serius'.


Lomba cerpen dari kampus umumnya lebih ke tipe cerpen pertama. Apalagi kalau penyelenggaranya adalah Fakultas Bahasa dan Sastra atau Fakultas Ilmu Budaya. Kadang, ada himpunan dan organisasi semacamnya yang bikin lomba cerpen dan meloloskan cerpen tipe kedua. Namun, dalam situasi seperti itu, cerpen tipe pertama tetap dapat peluang yang lebih besar untuk menang. Kenapa? Karena biasanya yang dicari adalah yang tipe rada serius (biasanya karena disesuaikan dengan tema kegiatan/visi organisasi). 


Lomba cerpen dari komunitas? Maka lihat jenis komunitasnya. Apakah ia jenis komunitas yang nyastra banget, atau santai banget, atau menerima semua naskah? Sebab, ada juga komunitas besar yang beragam sekali tulisan anggotanya sehingga dalam lomba-lomba yang ia adakan, ada cerpen-cerpen dengan beragam gaya yang turut lolos.


Gimana dengan penerbit? Ini juga mirip dengan komunitas; tergantung penerbitnya. Bahkan, kadang, tergantung jenis event-nya. Penerbit besar nggak berarti selalu nyari cerpen ala koran. Gramedia atau Mizan, misalnya. Kadang mereka juga cari cerpen teenlit dan sejenisnya. Lebih lagi kalau penyelenggaranya adalah platform perpanjangan tangan mereka, misalnya Gramedia dengan GWP dan Mizan dengan Rakatanya. 


Dari lomba-lomba yang pernah diselenggarakan, kadang ada penyelenggara yang transparan sekali soal penilaian. Jadi dibahas tuh cerpen ini kurangnya di mana, poin plusnya di mana. Nggak semua cerpen dibahas, memang. Kalau peserta sedikit, bisa aja dibahas. Tapi kalau pesertanya ratusan, hanya tulisan yang masuk nominasi aja. Kadang, penyelenggara bakal ngadain kelas menulis gratis dan di situ kita bisa tanya soal naskah kita.


Dalam beberapa kesempatan, saya nemu lebih banyak peserta yang menulis teenfic dan semacamnya memasukkan naskah ke lomba cerpen ala koran daripada sebaliknya. Mungkin karena belum tahu background penyelenggara tadi. 


Jadi apa cerpen aliran kedua nggak bisa lolos penjurian di lomba cerpen tipe pertama, begitu juga sebaliknya?

Menurut saya, itu tergantung eksekusi, penulisan, dan penulisnya.  Selama bisa meramu tulisan sedemikian rupa, ya, bisa aja. Kisah remaja atau dewasa muda pun bisa diulik lebih dalam dan disajikan dalam tulisan yang lebih serius. Sebaliknya, cerpen ala koran juga bisa dibawa ke ranah lebih santai. Entah dengan membahas hal-hal yang lebih terbatas atau cara lainnya.


Apa eksekusi (dan mengubah style naskah ini) mudah? Sekali lagi: tergantung penulisnya. Kalau buat saya, sih, susah, hahahah. Makanya kalau pengin ikut lomba cerpen, saya lihat-lihat 'alirannya' dulu supaya nggak mengubah banyak hal, melainkan sedari awal menulis cerita dengan style emang-gaya-gue. 


Beberapa contoh nyata, buat saya, adalah karya-karya Asma Nadia dan Dewi "Dee" Lestari yang tulisannya 'lentur'. Keduanya bisa menulis santai dengan bahasan ringan dan gaya lo-gue, tapi di lain waktu—dengan topik yang sama—mereka bisa mengubahnya menjadi fiksi yang lebih serius. Ini contoh eksekusi yang berbeda dari orang yang sama. Apa hanya dua orang ini saja? Tentu enggak. Masih ada penulis-penulis lainnya.


Jadi, sebaiknya menulis yang 'aliran' mana?

Terserah kita, penulisnya. Dan, tergantung apa yang kita kejar. Untuk beberapa hal, tentu ada kompromi yang harus dilakukan. Bila tidak mau kompromi, ya, betul-betul kembali pada apa yang kita sukai: masukkan naskah ke lomba yang 'sealiran' dengan kita. Sebab, kalau kilas-balik dari pengalaman sendiri, kelihatan betul mana tulisan yang berasal dari hati dan mana yang cuma mengikuti struktur tapi minim empati (demi mengikuti 'aliran' yang dicari oleh juri). Tulisan siapa itu? Tulisan siapa lagi kalau bukan saya sendiri, wkwkwk.


Buat orang yang nggak tahu kamu, cerpen itu mungkin bagus. Tapi, saya merasa dongeng-dongeng kamu jauh lebih otentik, lebih original, dan lebih mencerminkan kamu yang sebenarnya. Dalam cerpen itu, saya tidak menemukan diri kamu.  

          Keenan pada Kugy, Perahu Kertas by Dee




* * * * *

Photo is courtesy of Karolina Grabowska via Pexels.com

Reading Time: