Hijaubiru

Sabtu, 01 Juni 2013

Review Buku: Traveler's Tale
Juni 01, 20130 Comments


Judul: Traveler’s Tale
Penulis: Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, Ninit Yunita
Penerbit: Gagasmedia
Tahun terbit: 2007 (cetakan pertama)
Tebal: 221 halaman
Ukuran: 13 x 19 cm

_________________________
NB:
review ini telah ditulis ulang.
Bagian pertama adalah ulasan yang dibuat tahun  2013 (sesuai tanggal terbit post, postingan tidak diedit). Bagian kedua baru ditulis pada Desember 2022.
Apa bedanya?
Karena sudah hampir satu dekade berlalu, tentu ada perbedaan pola pikir pada penulis postingan-nya (baca: saya, haha). Jadi, isi review-nya juga akan berbeda akibat perspektif yang berubah tadi. 
Bila bagian 1 lebih banyak bicara soal isi bukunya, bagian 2 akan lebih bercerita soal review ini buku. Cheers!
_________________________

Bagian 1

Farah, gadis keturunan Arab yang riang dan bagai magnet, namun takut terbang. Jusuf, ensiklopedia berjalan dengan tingkat intelektual yang dianggap paling rendah oleh teman-temannya, namun penuh kejutan dan orang yang paling bisa menghidupkan suasana. Francis, pianis yang serius, namun menyimpan kegalauan besar di balik rencana pernikahannya. Dan Retno, gadis ayu yang lembut, keibuan, dan paling kalem di antara semuanya.

Persahabatan keempat orang ini dimulai saat SD, sejak Jusuf alias Ucup menumpahkan bekal roti strawberry Retno. Francis pun menawarkan bekalnya, bakpao isi ayam, sebagai ganti. Farah, kagum dengan kebaikan Francis. Persahabatan mereka berlanjut sampai dewasa, hingga keempatnya sudah bekerja di empat negara (dan benua) berbeda. Farah di Vietnam, Ucup di Afrika, Francis di Amerika Serikat, dan Retno di Denmark.

Namun, undangan pernikahan yang dikirim Francis lewat email membuyarkan semuanya. Ketiga orang lain yang membaca undangan itu bimbang, termasuk pengundangnya. Karena Jusuf mencintai Farah, Farah mencintai Francis, sedangkan Francis menyayangi Retno.

Berasal dari empat benua berbeda, keempatnya memutuskan hadir di pernikahan Francis dengan seorang wanita Spanyol di Barcelona. Keempatnya dengan misi berbeda. Farah, dengan misi menyatakan perasaannya pada Francis. Jusuf, dengan tujuannya menghentikan Farah. Dan Retno, yang tetap kalem, dengan tujuan ikhlas menyampaikan selamat pada pria yang mencintainya dan dicintainya. Sementara Francis, ternyata malah punya kejutan untuk ketiganya.

Buku dengan dua tema: travelling dan roman ini merupakan proyek bersama empat penulis. Alurnya mudah dipahami, gaya bahasanya gampang diikuti. Selain menyuguhkan cerita roman, novel ini juga dihiasi dengan kisah petualangan keempat sahabat ini backpacking menuju Barcelona, melewati negara-negara lain, menikmati keindahan pedesaan Prancis, pengalaman macet di Itali, eksotisnya Amman, hingga bergolaknya Abidjan. Masih ditambah dengan pengalaman-pengalaman di negara lain.

Selain itu, novel ini dilengkapi dengan tips-tips untuk pembaca yang berminat travelling ke luar negeri, khususnya backpacking. Mulai dari mengatur barang bawaan, mengatasi jetlag, sampai menghindari pencopet. Nggak dibahas panjang lebar, tentu aja, tapi cukup informatif.

Dengan cerita gabungan roman-perjalanan (apalagi dengan ending yang nggak bisa diprediksi), ditambah pengalaman-pengalaman keliling dunia, plus tips-tipsnya, worth it lah. Apalagi untuk tahun segitu (cetakan pertama 2007), masih jarang ada buku yang membahas soal travelling dan sekaligus roman. Mungkin malah, buku ini pioneer buku-buku travelling sejenis? Siapa tahu.

_________________________

Bagian 2

Satu hal yang paling saya ingat dari novel ini adalah: saya menemukan rekomendasinya lewat rubrik koran. Sekitar tahun 2007, ada suatu kolom di koran Jawa Pos tentang review buku yang diterbitkan rutin sekali tiap pekan. Beberapa anak muda diundang membaca buku (novel, umumnya) keluaran terbaru dan dimintai pendapatnya. Tertarik dengan ulasan mereka, apalagi saya mudah kesengsem kalau temanya travelling, saya pun 'memburu' buku ini ketika bertandang ke Gr*medi*.

Hal lain yang juga saya ingat: saat itu, novel Indonesia bertema travelling masih sangat jarang. Apalagi yang segmennya untuk anak muda. Mayoritas masih didominasi teenlit romansa dan kehidupan remaja, sedangkan genre metropop 'ya begitu-begitu saja'. Buku bertema travelling yang terpajang di toko buku adalah atlas dan buku panduan jalan-jalan, bukan novel fiksi. Buku jalan-jalan yang bahasanya 'nge-pop' yang saya temukan di era itu baru empat: satu buku catatan perjalanan mancanegara yang saya temukan di perpus sekolah (lupa judulnya); Naked Traveler-nya Trinity (nonfiksi); Me, Him, and Labuan Bajo-nya Avy Erfianty (fiksi, topik utamanya soal dokter dan pengabdiannya di daerah Labuan Bajo); dan Traveler's Tale ini.

Jadi, bagaimana kesan soal buku ini sepuluh tahun kemudian?
Secara garis besar, sih, masih sama: stunning, revelating, refreshing.
Bukan yang bagus banget banget, tapi tetap bagus banget. Kalau sistem rating, saya kasih 8,5/10. Apalagi untuk buku yang terbit di era itu. Kalau sekarang mungkin masih 8/10 lah, karena jadi punya perbandingan buku travelling lainnya. 

Personally, saya suka novel-novel yang memberi beberapa kutipan saat pergantian babnya. Traveler's Tale memberikan ini. Ia menyajikan kata-kata mutiara bertema travelling; yang bikin saya tambah suka karena berhubungan banget dengan isi bukunya.  Banyak di antara kutipan itu yang berasal dari Ibnu Batuta, pejalan sohor dunia pada abad 14. Ada juga kutipan dari pujangga lawas, seperti Virgil dan Saadi Shirazi. 

Novel inilah yang bikin saya ngeh tentang Ibnu Batuta. Pelajaran IPS di sekolah dasar memang pernah menyebutnya sebagai pejalan terkenal yang menyambangi bagian utara Sumatra, bahkan mencatat pulau itu dalam bukunya. Namun, ya, cuma sampai segitu saja. Di novel ini, nama Ibnu Batuta beberapa kali disebut. Tak hanya sebagai sumber quotes, tapi juga diceritakan singkat bahwa dulu petualang muslim ini pernah mengunjungi kota ini dan itu. Dan, betapa berbedanya kota ini dan itu dengan kondisinya di zaman sekarang (setting waktu di novel).

Peletakan kutipan-kutipan sebetulnya bukan hal asing di novel. Namun, banyak di antaranya yang (1) puitisnya maksa, (2) bahasa belibet dus susah dipahami, atau (3) nggak berhubungan dengan alur cerita. Jadi, ya, hanya sebagai pemanis atau sekadar lewat karena nggak berhubungan dengan cerita. Poin plus buku ini adalah dia berhasil memanfaatkan quotes dengan baik untuk mendukung alurnya. Misalnya, saat di awal bab pakai kutipan "fortune favors the bold", bab itu betulan bercerita soal Ucup yang harus be bold dan nekat nego dengan tentara perbatasan demi bisa mencapai misinya. 

Hal lain yang jadi poin plus novel ini sekaligus penyumbang poin plus terbesar adalah: tema travelling-nya bukan tempelan. Oh, tentu aja inti cerita tetap soal cinta segiempat dan bagaimana-hadir-ke-pernikahan-Francis, tapi cerita-cerita menuju ke bagian klimaks tetap nggak lepas dari unsur jalan-jalan. Bahkan, unsurnya pekat sekali. Hal ini rada berbeda dengan tren yang muncul belakangan.

Setelah travelling dan hiking jadi populer, maka novel bertema serupa pun bermunculan bak cendawan di musim hujan. Genre ini sempat lama menjadi tren serta memiliki segmen pembaca tersendiri (yang cukup besar) dan penulis tersendiri. Biasanya, sih, masih nyerempet ke genre slice-of-life atau jenis teks refleksi/memoar. Keuntungannya, kita nggak perlu lagi bersusah-susah menyisir rak demi rak, bacain satu demi satu sinopsis, buat nyari buku bergenre jalan-jalan (seperti zaman Traveler's Tale baru pertama terbit era 2007-an). Sulitnya, pembaca jadi harus selektif memilih buku mana yang bagus dan mana yang tidak. Atau, buku mana yang cukup menggoda untuk 'diculik' ke kasir sekarang juga dan mana yang masih bisa ditunda.

Dari beberapa novel travelling yang pernah saya baca atau temukan di toko buku, terdapat tiga 'aliran' umum soal isi buku tsb:
  1. 'terlalu' travelling
    Novel jenis ini terlalu menitikberatkan pada info-info travelling sehingga membacanya serasa lagi baca guide atau brosur pariwisata. Ada juga yang seperti catatan perjalanan pribadi: rinci, runut, bahkan detail sekecil ada yang izin BAB pun ditulis. Too much. Semuanya disebutkan dan dijelaskan, sampai-sampai ceritanya sendiri terlupakan: ini ceritanya tentang apa, toh?
  2. travelling hanya sebagai setting
    Berkebalikan dengan sebelumnya, jenis ini justru menjadikan travelling sebagai setting tempelan alais porsinya dikit banget. Mudahnya, ketika lokasi diganti pun cerita nggak akan terpengaruh/berubah banyak. Misal: set lokasinya di Paris, tapi kalau diubah jadi Jakarta pun alur ceritanya tetap bisa jalan tanpa keanehan. Yang seperti ini biasanya menitikberatkan pada kesan bahwa travelling ke LN itu glamor dan asyik/adventouring di Indonesia tuh keren banget, tapi justru lupa memberikan alasan kenapa bisa asyik.
    Kadang memang ada yang cerita 1-2 bab sendiri, tapi setelah itu fokus berubah ke lain hal. Ada pula yang sekadar menyebutkan lokasi dan deskripsi pendek, tapi setelah itu, sudah. 
  3. porsi pas
    Cerita travelling + alur ceritanya pas! Dia bisa meramu setting dan cerita dengan apik dan rapi sesuai takaran sehingga menjadi novel yang sedap dibaca. Tak berat sebelah: nggak kebanyakan deskripsi lokasi tapi juga nggak tempelan banget. 
Traveler's Tale, menurut saya, masuk dalam kategori ketiga.

Merajut cerita fiksi yang berhubungan dengan dunia jalan-jalan dan petualangan memang nggak mudah. Susah-susah gampang (tahu dari mana? Ya karena pernah nyoba 😁jadi tahu rasanya). Penulis yang baru nyemplung atau sudah lama nyemplung tapi jenis tulisannya masih tipe 1/2 pun ada. Usaha mereka menuangkan cerita tetap perlu diapresiasi. Pembaca jadi punya sedikit bayangan soal tempat-tempat yang mereka ceritakan. (The real case of "buku adalah jendela untuk melihat dunia", I think?)

Kembali lagi ke Traveler's Tale. Kenapa dia bisa dibilang porsinya pas? 
Novel ini lokasinya berganti-ganti. Dari Amerika-Eropa-Asia-Afrika, semua dibabat. Ini susah, lho. Maksudnya, membuat cerita yang tetap berhubungan di satu setting aja, belum tentu eksekusinya 'rapi'. Nah, ini malah pindah-pindah tapi ceritanya tetap 'nyambung'. Memang, hal itu diakali dengan cerita di tiap lokasi yang pendek-pendek. Namun, itulah kelebihannya: narasinya pendek, tapi fokus. Narasinya pendek, tapi alur dan setting bisa terjalin beriringan.

Kalau pendek-pendek, detail travelling-nya jadi nggak banyak, dong?
Betul. Tapi, balik ke tadi: detail jalan-jalannya dia tetap fokus. Sure, ada beberapa lokasi yang hanya disebutkan sekelebat. Misal, saat Farah jalan dengan teman backpacking-nya ke 'Dufan'-nya Wina, Austria. Cuma diceritain 1-2 paragraf doang tentang gimana si teman jadi kayak bocah kesenengan lihat wahana yang lebih sederhana daripada Dufannya kita. Tapi, kalau dipikir-pikir, ya ngapain dibikin panjang? Kan, nggak ada kepentingan buat alur juga. Malah ngebosenin nanti. 

Detail lokasi juga gitu. Paling 1-2 paragraf (malah ada yang cuma beberapa baris). Tapi inilah yang bikin dia nggak jadi berlarat-larat atau menjadi deskripsi yang membosankan. Infonya x, y, z, sudah. Infonya umum? Ya, beberapa. Namun ada juga yang infonya cukup unik. Dan, info ini dihubungkan dengan alur. Seperti saat Retno berada di Seville dan bangunan di sana mengingatkannya pada arsitektur kota tempat Francis tinggal (di AS). 

Soal travelling ini sebenarnya juga jadi salah satu faktor pembatas (halah!) Traveler's Tale. Betul bahwa di beberapa bagian, dia nyambung banget. Namun, di ada juga beberapa bagian yang hanya disebutkan sekelebat sehingga berasa, "Lha, gitu doang? Dia ke sini cuma sekilas gini aja?" Entah sengaja atau nggak sengaja dibuat gitu. Kalau sengaja, mungkin karena biar fokus tadi atau supaya vibes travelling pindah-pindah kotanya terasa. Namun, di beberapa bagian memang jadi terasa membacanya tersekat-sekat.

Gimana dengan ceritanya sendiri?
Well, you know how romance trope goes. Cinta segiempat, cinta tak diungkapkan, cinta ditolak, cinta terhalang dinding. Perilaku tokohnya pun sama seperti yang bakal dilakukan orang betulan, nggak ada adegan yang super wow atau ngagetin banget. 

Alur ceritanya serasa mendaki gunung beneran: kadang datar banget, kadang naik banget, kadang turun banget. Sepertinya dua pertiga awal terasa lambat (saat masing-masing tokoh mulai take off ke tujuan). Untungnya, mode lambat ini terselamatkan oleh beragam lokasi yang dikunjungi empat sekawan kita. Karena lokasinya beragam, jadi terasa lebih cepat meski butuh waktu agak lama untuk sampai ke konflik. Namun, ritme ini lalu berubah cepat banget waktu keempat sahabat ini ketemu (kemudian, DHUAR! ada surprise dan puncak konflik). Setelah konflik besar, rada turun tuh tensinya. Ada beberapa saat tenang. Kemudian, di ending, ada penyelesaian yang secara alur sebenarnya cepat, tapi eksekusi kalimatnya jadi berasa waktu berjalan lambat... banget. Kemudian cepat. Nah lho. 

Ending-nya gimana?
Nano-nano, hahaha. Dibilang memuaskan juga kurang puas, tapi dibilang kurang puas juga sebenarnya sudah menuntaskan rasa penasaran. Dibilang sad ending juga enggak karena ada senangnya, tapi dibilang happy ending juga enggak karena ada hal yang belum selesai. Mixed feelings gitu lah. Bikin gemas. Putuskan sendiri saja menurutmu ini masuk kategori yang mana, hehe. 

Novel ini pernah diangkat ke layar lebar pada tahun 2018. Tapi saya nggak nonton. Antara emang nggak tahu kalau difilmkan (baru tahu 2020-an kayaknya) dan memang nggak pengin. Preferensi personal aja, sih, karena saya cenderung lebih enjoy buku daripada versi film. 

Oh, novel ini juga pernah diterbitkan ulang. Waktu tahu kalau dia difilmkan, saya searching lagi, eh ternyata ada kover (cover, KBBI: kover) baru. Sampul baru ini bernuansa lebih terang dan lebih bersih daripada cetakan pertamanya. Bedanya, empat tokoh di sini diganti dengan figur semacam Lego. 
(Beberapa hari lalu saya cek di marketplace Gagas Media, novel ini masih tersedia.)

Kover baru (via Shopee/buku_happy)

Kalau dari cerahnya, saya lebih suka sampul baru. Lebih berwarna juga dan nggak terkesan abu-abu. Namun, kalau dari penggambaran karakter, kayaknya lebih suka sampul lama karena di sana sifat masing-masing tokoh lebih terwakilkan. Kayak, Ucup yang pecicilan digambarkan lagi lompat atau Francis yang necis emang berpakaian paling proper. 

Gimana dengan isinya? Novel yang lama, kan, keluar di era belum ada smartphone. Francis ngirim undangan nikah aja masih pakai email dan pos biasa, bukan link undangan digital kayak sekarang. Mereka berempat komunikasi juga masih pakai email jadul. Farah dan Retno masih SMS-an! Apa ada perubahan di novel barunya, seperti milis diganti group chat dsb? Jujur nggak tahu. Sebab saya nggak baca yang versi anyar. 

Terlepas dari plus-minusnya, Traveler's Tale tetap menjadi novel favorit saya. Dari buku inilah saya jadi bisa sedikit menyingkap tirai Eropa dan (sebagian kecil) Afrika. Tempat-tempat wisata yang disebutkan memang banyak yang kini sudah mainstream, mayoritas bukan yang hidden gem, tapi tetap worth-to-visit. Ibarat nggak afdal kalau ke Paris kalau nggak lihat Menara Eiffel. Namun, ada juga beberapa tempat yang nggak begitu terkenal dan sangat menarik, misalnya perkebunan anggur saat Farah menginap di ****.

Dari sinilah saya pertama kali tahu istilah 'Andalusia' dan sekelumit kisah Islam di Eropa. 
Dari sini juga saya jadi penasaran dengan (kemudian nonton) seri Before Sunrise.
Karena dia, saya jadi bisa menikmati film lawas The Sound of Music dan kesengsem dengan suasana pedesaannya yang sampai sekarang masih cantik!
Kayaknya, novel ini juga yang memicu saya untuk koleksi novel bertema jalan-jalan lainnya 😄


Reading Time:
Bait-Bait Suci Gunung Rinjani
Juni 01, 20130 Comments



Judul: Bait-Bait Suci Gunung Rinjani
Penulis: Khaerul Sidiq
Penerbit: Dian Rakyat
Tahun terbit: 2009 (cetakan pertama)
Tebal: 310 halaman

Perjalanan memang tak cuma untuk menikmati alam, namun juga bisa menjadi ajang mencari teman. Hal itulah yang benar-benar terjadi pada Fajar dan Bambang. Mereka yang awalnya hanya berdua mendaki Rinjani, bertemu dengan kelompok pendaki lain: Ria, Anis, Robi, dan Aldo. Kebersamaan yang mereka bawa dalam perjalanan, menggoreskan kesan. Usai pendakian, keenamnya kembali dengan hidupnya masing-masing. Yang lain kuliah di universitas, sedang Fajar melanjutkan pendidikannya di pesantren.

Hanya sampai di situ?

Tidak. Hidup Fajar tidak bisa disebut lempeng-lempeng saja. Tokoh sentral ini banyak mengalami kejadian dalam hidupnya. Mulai dari mengais rezeki dengan mengamen di bus, menjadi saksi meninggalnya seorang pengamen kecil, hingga proses taaruf-nya dengan Imel yang kandas.

Semuanya mulai terlihat jelas saat Fajar kembali bertemu dengan Anis dan Robi yang sudah menikah. Ternyata Ria sudah meninggal! Padahal, baru beberapa bulan yang lalu Fajar bertemu Ria yang sedang caving. Saat itu, Ria bercerita bahwa dia kabur dari rumah. Sesaat kemudian, Ria dijemput karena ibunya sedang sakaratul maut dan sedang menunggunya. Sejak saat itu, Fajar tidak pernah bertemu Ria.

Berniat menapaktilasi Ria yang meninggal dalam pendakian ke Rinjani, Fajar mengiyakan ajakan Anis dan Robi. Betapa terkejutnya Fajar, mendapati Ria masih hidup. Malahan, keduanya bertemu saat sedang sama-sama berdiri di pelaminan, sebagai sepasang suami istri. Kok bisa?

-------------------------------------------------------------------------

Novel bernafaskan Islam ini overall menarik. Mulai dari cover hingga isinya (apalagi kalau isinya tentang pendakian, hehehe). Catatan perjalanan pendakian Rinjani cukup lengkap untuk ukuran novel. Isinya pun tidak hanya berfokus pada satu tema. Namun juga tentang cinta dan hidup pengamen jalanan. Untuk yang disebut terakhir memang cukup menjadi fokus. Apalagi, penulis adalah salah satu dari mereka. Salut bukan, untuk sebuah karya yang —disebut di sampulnya— lahir dari jalanan?

Namun, masih terdapat beberapa ejaan dan penggunaan tanda baca yang kurang tepat. Pun, dalam gaya bahasa masih terasa kaku meski diselipkan percakapan-percakapan gaul. Dalam narasi masih ada kalimat-kalimat yang mengganjal, yang sebenarnya bisa diperhalus agar emosi pembaca ikut larut. Secara personal, ada juga kalimat yang rasanya agak kasar.

Dari segi isi, cukup nano-nano rasanya. Seperti saya bilang di atas, temanya macam-macam. Jadi berasa ada beberapa cerita di satu novel. Mulai dari pendakian, cerita ngamen, junior yang meninggal misterius, dll. Meski ada sedikiit benang merah di antara cerita-cerita ini, tapi saya ngerasa justru ini yang bikin cerita detached. Macam, terlalu banyak isi yang bikin intinya kurang fokus.

Tapi, lepas dari itu semua, jempol untuk semangat penulis!
Reading Time:
A Memorable Journey
Juni 01, 20130 Comments


Judul: A Memorable Journey
Penerbit: Dar Insyirah
Tahun terbit: 2012(cetakan pertama)
Tebal: 200 halaman

Buku ini berisi 25 kumpulan catatan perjalanan para pemenang lomba yang digelar oleh Hamasah Komunitas pada 2011 lalu. Hampir sama dengan buku-buku travelling lain, buku ini juga menceritakan kisah-kisah berkesan (dan berhikmah) saat sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat, mulai dari pendakian naik-naik-ke-puncak-gunung hingga pengalaman rohani di Makkah, mulai dari penjelajahan di negeri Zamrud Khatulistiwa hingga ke negara asing.

Judul-judul catatan perjalanan dalam buku ini:
  • Perjalanan Umrah yang Berkesan - Syifa Enwa
  • Unforgettable Moment in Tongging - Nurlaili Sembiring
  • Da'il Authaana Waghtarib - Mursalim
  • Semeru dan Sebuah Asa - Shabrina NH
  • Jogja, I'm in Love - Eka Nur Susanti
  • Ombak yang Tak Bersahabat - Azma Zarqaa
  • Orang Tua: Do'a Masa Depan - Riyadi Marshall
  • Cikuray, Maaf Tak Kuinjakkan Kaki di Puncakmu - Irwan Sanja
  • Mahameru Love Never The End - Avisa Guritna
  • Dieng, Percikan Surga di Tanah Tua Jawa - Bardatin Lutfi Aifa
  • Menjalin Persaudaraan di Lahat - Saepullah
  • Catatan Pelangi Tanah Bandung - Endang SSN
  • Wisata ke Patung Buddha (Giant Buddha) - Nyi Penengah  Dewanti
  • Satu Hari Menjelajah Tanah Karo - Nenny Makmun
  • Menjelajah Kebun Raksasa - Himmah Mahmudah
  • Perjalanan Itu Berakhir (Guntung) - Putra Afriansyah
  • Ngebolang ke Masjid Agung Jawa Tengah - Nuurus Saadah
  • Untuk Kedua Kalinya - Srimulyani
  • Indahnya Perjalanan ke Serambi Mekah - Rasmita Dila
  • Selusin Tahun Melancong di Tiga Negara Macan Asia - Okti Li
  • Makassarku, Kemenanganku - Estianna Khoirunnisa
  • Sebuah Perjalanan - Fransiska S Manginsela
  • Tiga Catatan Satu Perjalanan - Eneng Susanti
  • Baduy, Suku di Negeriku Tercinta - Encep Abdullah
  • Lebak Harjo, Keajaiban yang Ditemukan - Azzam Boo

Reading Time:

Jumat, 24 Mei 2013

Sherlock Holmes: Serial TV
Mei 24, 20130 Comments



Postingan kali ini masih berhubungan dengan postingan sebelumnya. Masih berbau-bau detektif London yang tersohor itu, Sherlock Holmes. Lha terus, apa bedanya? Ya bedanya, kalau di postingan ini saya membahas selentingan kabar antara Holmes dan Irene Adler, maka di posting yang ini saya akan bahas tentang Sherlock Holmes yang difilmkan dan tayang di TV.

Tayang di TV? Yup. Sekarang, kisah Sherlock Holmes nggak cuma difilmin di layar lebar aja. Cerita ini sudah dibuat versi serialnya. Jadi, tayang di TV pada hari-hari tertentu. Macam sinetron gitu (cuma ceritanya beda banget sama sinetron kebanyakan, anyway). Sayangnya, serial ini cuma tayang di BBC Channel, Inggris.

Penonton yang baru pertama kali ngelihat serialnya mungkin kaget, “Kok gini? Nggak bau-bau abad pertengahan sama sekali?”. Iya, memang. Dalam seri TV, kisah Sherlock Holmes memang sengaja diadaptasi dalam bentuk modern. Jadi, kalau di novel Watson nulis memoar kisah-kisah petualangan mereka, maka di seri TV, Watson menulisnya dalam bentuk blog. Kalau di novel, detektif konsultan ini bakal sering naik kereta kuda (yang zaman itu keberadaannya mirip ojek, gampang ditemuin di jalan-jalan), maka di seri TV, Holmes akan naik taksi. Dan banyak perbedaan lainnya (yang emang dibuat gitu).

Lha trus, ceritanya jadi beda dong?

Prinsip cerita tetap sama dengan novel. Hanya, memang ada perbedaan-perbedaan. Misalnya: dalam novel, Holmes dianggap meninggal akibat jatuh dari air terjun. Di seri TV, Holmes meninggal karena jatuh dari atap gedung. Kadang ada juga perbedaan gede, yang sejatinya nggak ada di novel seperti penambahan tokoh yang aslinya nggak ada di novel seperti Molly Hooper (analis di Barts) atau Donovan (polisi yang sensi abis pada Holmes). Hal ini merupakan kreativitas produser (karena dibikin semirip apapun, kalau setting waktunya udah beda, pasti butuh pendekatan beda kan?).

Meski kadang terdapat perbedaan besar, seri TV ini tetap worth it. Bukan karena banyak perbedaan dengan versi asli, lalu jadi ngebosenin. Nggak. Seri TV ini tetap aja menarik. Coba deh, ditengok dulu di youtube.

Holmes versi seri TV ini sudah tayang di BBC Channel sejak Juli 2010. Sejauh ini, sudah ada enam judul yang tayang hingga 2012. Untuk 2013,  kayaknya sih masih proses produksi karena di mbahWiki belum ada tanggal mulai tayangnya. Enam judul itu antara lain:
  1. A Study In Pink (2010)
  2. The Blind Banker (2010)
  3. The Great Game (2010)
  4. A Scandal In Belgravia (2012) -berdasarkan kisah A Scandal In Bohemia
  5. The Hounds of Baskerville (2012)
  6. The Reichenbach Fall (2012)

Untuk judul pertama, kelima, dan keenam, diadaptasi dari kisah berjudul sama. Namun, untuk judul kedua dan ketiga, saya belum menemukan kisah aslinya. Ada yang tahu?

Di awal postingan, saya bilang bahwa Watson menulis blog sebagai ganti memoar. Uniknya, blog ini benar-benar ada di dunia maya di alamat http://www.johnwatsonblog.co.uk/. Nggak itu aja, blog Holmes pun ada di http://www.thescienceofdeduction.co.uk/.


Pemeran:
Benedict Cumberbatch sebagai Sherlock Holmes
Mark Gatiss sebagai Mycroft Holmes
Martin Freeman sebagai John Watson
Una Stubbs sebagai Mrs. Hudson
Louise Brealey sebagai Molly Hooper
Rupert Graves sebagai Detective Inspector Lestrade
Andrew Scott sebagai James Moriarty
Vinette Robinson sebagai Sergeant Sally Donovan

Muncul di The Blind Banker:
Zoe Telford sebagai Sarah
Gemma Chan sebagai Soo Lin Yao
Al Weaver sebagai Andy Galbraith
Dan Percival sebagai Eddie Van Coon
Paul Chequer sebagai Detective Inspector Dimmock
Howard Goggins sebagai Brian Lukis
Olivia Poulet sebagai Amanda

Muncul di The Hounds of Baskervilles:
Russel Tovey sebagai Henry Knight
Amelia Bullmore sebagai Dr. Stapleton
Clive Mantle sebagai Dr. Frankland
Sasha Behar sebagai  Dr. Mortimer

Muncul di A Scandal in Belgravia:
Lara Pulver sebagai Irene Adler

Executive Producer: Mark Gatiss, Steven Moffat, Sue Vertue, Beryl Vertue.
Reading Time:

Senin, 20 Mei 2013

Sherlock Holmes: Irene Adler
Mei 20, 20130 Comments
Setahun yang lalu, saya menemukan sebuah buku berjudul Sherlock Holmes: The Game of Passion. Di bawahnya ada tambahan tulisan: Kisah Cinta Sherlock Holmes & Irene Adler.

Sumber gambar: dokumen pribadi

Hm... Kisah cinta? Sherlock Holmes?

Untuk manusia dingin yang selalu berpegang pada nalar, yang pernah berkata, "I've always assume that love is a dangerous disadvantage", hal ini nyaris nggak mungkin.

Tapi, bagaimana dengan Irene Adler?

Irene Adler hanya muncul sekali di dalam kumpulan cerita Holmes, yang ditulis Watson, pada Skandal di Bohemia. Sedangkan dalam kasus lain, hanya disebutkan namanya tanpa ikut muncul, yaitu dalam Kasus Identitas, Petualangan Carbuncle Biru, Misteri Lima Biji Jeruk, dan Penghormatan Terakhir.

Dalam Skandal di Bohemia, Holmes diminta mengambil sebuah potret. Potret tersebut adalah potret sang klien, raja Bohemia, dengan seorang wanita, Irene Adler. Raja tersebut akan menikah dan ia tak ingin masa lalunya sebagai kekasih Adler terungkap, mengingat skandal itu bisa berakibat buruk pada negaranya.

Holmes pun berencana mengambil potret itu dengan menyamar. Ia menyamar sebagai seorang pendeta yang melindungi miss Adler dari sebuah kerusuhan kecil (yang sudah direncakannya). Holmes akan pura-pura terluka sehingga dibawa ke dalam rumah sang primadona. Di sana, Holmes akan mulai mencari di mana potret itu disimpan dengan taktiknya sendiri.

Siasat berhasil. Holmes berhasil mengetahui tempatnya dan segera kembali ke Baker Street. Esoknya, ia kembali ke rumah tersebut bersama raja Bohemia dan Watson. Betapa terkejutnya Holmes saat pelayan mengatakan ia sudah menantikan Holmes dan menyampaikan bahwa nyonyanya, Irene Adler, sudah meninggalkan Inggris bersama suaminya, Godfrey Norton, yang baru dinikahinya kemarin (Holmes yang saat itu memata-matai menjadi saksi nikah mereka). Holmes kaget, tentu saja, bahwa rencananya bisa diketahui dengan pasti oleh seorang perempuan, makhluk yang ia anggap sentimentil. 

Irene Adler sudah pergi dengan suaminya. Kasus ditutup. Sang raja bersedia memberikan apa saja untuk Holmes. Tapi alih-alih meminta hadiah mahal, Holmes hanya meminta foto Irene Adler. Permintaan yang, tentu saja, langsung diluluskan oleh raja.

Di sini, Watson menambahkan bahwa Holmes terkesan akan kecerdasan wanita itu. Bukan mencintainya. Tertarik, ya. Tapi tertarik dalam artian berbeda, tertarik dalam artian tertarik akan kecerdasannya menebak rencana Holmes.

Itu, dalam buku ciptaan Sir Arthur Conan Doyle.

Namun, dalam sebuah episode yang ditayangkan BBC Channel, tampaknya Holmes memang dibuat seakan-akan menyukai Irene Adler. Entah maksud aslinya, tapi menurut saya kesan yang ditampilkan begitu. Mulai dari raut wajah Holmes saat tahu bahwa Irene Adler tidak meninggal hingga Holmes yang rela pergi ke Karachi untuk menyelamatkan Adler yang hendak dipenggal kawanan teroris (cerita dalam novel asli dan serial di BBC Channel memiliki banyak perbedaan, meski prinsipnya diusahakan sama). Meskipun terlihat bahwa Holmes sangat berusaha menyembunyikannya. Bahkan, John Watson dan Molly Hooper pun sempat curiga akan perasaan Holmes. Ya, tapi, siapa sih yang bisa nebak perasaan dingin begitu?

"He's Sherlock. How will we ever know what goes on in that funny old head?", kata Mrs. Hudson saat Watson mengungkapkan kecurigaannya (dalam seri BBC).

Untuk seorang yang pernah bilang (dalam serial TV, lagi) pada Irene Adler:
"I imagine John Watson thinks love is a mistery to me but the chemistry is incredibly simple and very destructive"
dan
"I've always assumed that love is a dangerous disadvantage. Thanks for the final proof"
cukup membingungkan apa Holmes benar-benar memiliki chemistry dengan Irene Adler (dalam serial) atau tidak.

Jadi, kesimpulan saya sendiri:
Dalam novel, Holmes hanya tertarik pada kecerdasan miss Adler.
Dalam serial BBC, mungkin Holmes tertarik dalam arti ketertarikan lawan jenis.


Reading Time:

Rabu, 24 April 2013

IPA vs IPS
April 24, 2013 2 Comments
“Masnya anak IPA? Waah, ya sudah, Mas. Pasti sudah terjaminlah hidupnya.”
dan
“Kamu masuk IPA atau IPS?”
Alhamdulillah, IPA.”

Ckiiiit!
Why? Why? Mengapa? Mengapa semudah itu masyarakat kita melebihkan derajat ilmu alam dan menjelentrehkan martabat ilmu sosial? Saya anak IPA, suka IPA, memilih masuk IPA, tapi ikut cekit-cekit gitu rasanya kalo ada yang bilang IPS itu kurang penting. 

Mayoritas beralasan bahwa sainslah yang mengubah keadaan dunia satu abad ini. Penemuan penicillin, pasteurisasi, relativitas, hingga bom atom yang mengubah jalan cerita Perang Dunia II semuanya sama-sama berhubungan dengan ketiga pelajaran yang sudah menjadi ciri-ciri anak IPA: Biologi, Fisika, dan Kimia. Ya, semua itu memang betul. Memang ilmu alam sudah mengubah dunia dalam beberapa ratus tahun terakhir ini.

Namun, bukannya ilmu sosial juga berdampak sedemikian jauh? Perang dunia dimulai dengan perebutan daerah pemasaran pasca revolusi industri. Negara-negara Barat berlomba-lomba mengklaim negara X di Asia adalah daerah pemasarannya. Kenapa saya merasa ada unsur ilmu Ekonomi ya  di sini? Dan saat perang dingin AS-Rusia, bukankah mereka berbeda pendapat tentang ideologi? Dan, hei, itu ilmu sosial juga, bukan?

Ah, itu kan, cuma sebagian kecil contoh ilmu sosial yang berguna. Sisanya? Guna nggak?

Oke. Sebuah contoh: (amat)(sangat) banyak (sekali) siswa lulusan SMA di Indonesia yang menginginkan tembus menjadi mahasiswa FTTM a.k.a pertambangan di ITB. Lho, itu kan Fisika? Tapi tahu darimana ada wilayah pertambangan di Indonesia kalau nggak baca di buku paket IPS zaman SD?  Dan kalau ilmu sosial memang dipandang sebelah mata, kenapa situ orang banyak yang ambil jurusan Ekonomi, Akuntansi, maupun Hubungan Internasional?

Meskipun begitu, tetap saja. Orang Indonesia sudah sejak dulu di-mindset-kan IPA.  Sejak zaman Belanda, malah. Sudah pada dengar kan soal STOVIA (sekolah kedokteran Belanda)?

Seorang teman yang penasaran, mengacungkan tangan pada saat pelajaran Sejarah.
“Kenapa orang Indonesia ber-mindset IPA itu pasti bagus ya, Pak? Kan, tanpa IPS, negara juga nggak bisa jalan.”

Benar juga. Mayoritas roda pemerintahan dijalankan oleh ilmu IPS. Tata Kewarganegaraan, Ekonomi, Sosiologi. IPA?

“Ya memang begitu, Nak. Orang kita memang sudah dibentuk pikirannya oleh Belanda kalau ilmu sains itu lebih penting dari ilmu sosial.”

“Kenapa, Pak? Padahal kalau saya perhatikan, di luar negeri banyak juga yang kuliah di ilmu sosial.”

“Waaah, kalau orang Indonesia belajar ilmu sosial bisa bahaya, Nak! Kalau orang kita belajar geografi, mereka bakal tahu tempat-tempat penambangan strategis, letak-letak sumber daya Indonesia yang amat sangat melimpah. Nah, kalau orang Indonesia waktu itu diajari Sejarah? Bahaya juga! Semangat kita bisa langsung membara begitu tahu nenek moyang kita dari Majapahit dan Sriwijaya hampir menguasai Asia Tenggara. Bahaya, Nak! Makanya kita di-mindset­-kan IPA, supaya orang Indonesia nggak tahu seberapa kuat kita sebenarnya. Kalau kita tahu? Wah, Belanda bisa ajur dari dulu, Nak!

“Oleh karena itu, kita dibentuk jadi orang IPA. Orang Barat pintar, Nak, di negara mereka sendiri, ilmu sosial juga digalakkan, nggak IPA aja. Kenapa? Ya supaya nggak jadi kayak kita!”

Ah, jadi apa yang terjadi sekarang ini sudah diwariskan Belanda sejak dulu. Agar kita menjauhi ilmu sosial, agar negara asing bisa mengeruk kekayaan kita, bisa tetap ‘menjajah’ Indonesia meskipun statusnya sudah merdeka de facto dan de jure.

Lagipula, akui sajalah, meskipun orang kita mendewakan ilmu alam, benarkah kita benar-benar menjunjungnya? Adakah ilmuwan Indonesia yang didanai demi risetnya? Kabar paling santer yang saya dengar, seorang insinyur lulusan Jerman bahkan harus menelan mimpinya untuk membuat pesawat buatan anak negeri, karena pabrik pesawatnya ditutup (dan akhir-akhir ini kabarnya membuka pabrik sendiri). Paling pol, ada sekelompok ilmuwan barat yang blusukan ke Kalimantan atau Papua dan menemukan spesies baru tumbuhan.

Bukannya orang Indonesia nggak ada yang benar-benar menggeluti ilmu sains sampai notok jedhok, dengan serius. Buktinya, orang-orang macam ini(posting menyusul) masih ada.

Banyak orang Indonesia yang menguasai ilmu alam. Sungguh banyak. Namun, tak semua mau mengksplorasinya. Tak semua mau memelajarinya dalam-dalam dan membuat suatu penemuan baru. Orang masuk ilmu alam rata-rata karena satu alasan: supaya aman. Yang anak SMA, masuk IPA supaya nanti bisa enak milih jurusan di universitas (ada jurusan yang anak IPA bisa masuk jurusan anak IPS, namun tak berlaku sebaliknya) dan nggak dicap bodoh. Yang sudah kuliah, demi prestise. Intinya satu: keamanan status sosial (nah lho, balik deh ke Sosiologi).

Karena alasan ‘keamanan status sosial’ inilah, teman saya pernah sinis (sebut saja K) ketika tahu ada teman Z yang ingin menjadi dokter.
K: “Kamu nanti mau kuliah jurusan apa?”
Z: “Kedokteran.”
K: (Tersenyum sinis) “Kenapa? Pengen kaya?”

Memang ironis bahwa kebanyakan siswa memilih Fakultas Kedokteran sebagai pelarian agar bisa kaya secara instan. Tapi, hei, jadi dokter bukan jaminan jadi kaya, kok. Kakak kelas saya ada yang jebolan kedokteran dan malah jadi pemusik (dan sukses). Ada juga yang banting setir jadi pedagang. Tetangga saya dokter dan awal-awal dia jadi dokter dulu, bisa dibilang kisahnya tak semanis yang dibayangkan. Ditempatkan di kota terpencil dengan keterbatasan alat-alat kedokteran, belum penyakit tropis yang seabreg, dan gaji yang tidak pernah dibayangkan.

Jadi, jangan heran jika sekarang marak kasus malpraktik. Karena motivasi menjadi dokter bukan lagi menolong orang, tapi supaya bisa hidup enak.

Jadddiiiii, IPA itu jelek? Gitu?

Nggak. Ilmu alam itu sepenting ilmu sosial dan Ilmu sosial itu sepenting ilmu alam, saling melengkapi. Nggak ada dua-duanya, nggak imbang. Mana bisa pemerintahan jalan kalau cuma dijejali penemuan? Mana bisa penemuan berjalan kalau nggak ada dukungan pemerintahan?

Enak aja ngomong. Lu kan nggak ngerasain jadi kita-kita yang hidup di bawah standar gara-gara keprosok ke ilmu sosial!

Saya menyadari bahwa di Indonesia ini hidup dari ilmu sosial tidak semudah hidup dengan ilmu alam, seperti kata ayah saya (“Apa? Kamu mau masuk jurusan Sejarah? Mau jadi apa kamu? Kerja ngelap patung di museum?”). Tapi kalau begini terus, ya kapan majunya? Kapan bikin perubahannya? Harus ada yang berkorban, itu pasti. Dan pasti ada yang mau berkorban, entah satu orang, dua orang, segelintir, dua gelintir. Hasilnya memang belum terlihat. Tapi kalau mau yakin dan kerja keras, apa sih yang nggak?

Yakin dan kerja keras, itu salah satu hal yang ditanamkan kakak kelas (dan semoga dilanjutkan ke generasi-generasi selanjutnya) selama belajar berorganisasi. Yakin dan kerja keras, itu yang akan membuat perubahan. Semenanjung Arab tidak masuk Islam pada satu malam, seperti Amerika Serikat tidak menjadi negara adidaya karena perang satu hari.

Jadi, IPA-IPS, sekarang damai ya? V^o^V

---
Tambahan:
Karena agak sentimen sama ilmu sosial ini juga lah, yang bikin (negara) kita tertinggal di beberapa aspek. Misal? Nggak tahu betul atau enggak, konon katanya ada beberapa sejarah kita yang dimanipulasi oleh bangsa asing biar nggak terlihat 'wah keren banget'. Kenapa bisa gitu? Ya karena sejarawan yang expert dalam sejarah kita justru orang asing. Kebetulan juga, mereka generasi sejarawan pertama yang mengungkap itu. Jadi kalau disitasi, pasti sumber pertamanya beliau. Coba cek aja, di Belanda misalnya, banyak manuskrip dan artefak kita yang justru ada di sana. Jurusan sejarah Indonesia, bahasa Indonesia, dll pun marak di negara tetangga, Australia misalnya.

Seorang teman pernah nyeletuk, "Sebel kalau ada yang bilang kenapa ilmu pengajaran, teori sosial, dll itu kita harus ikut teori Barat. Lha, sendirinya, kalau ada orang yang menekuni ilmu itu di sini, dibilang 'mau jadi apa' kok. Jadi mau ambil ilmu dari mana lagi, karena di kita sendiri nggak didukung, jadi nggak maju, riset sosial kita lemah, dan pada akhirnya buat praktisi harus ambil ilmu dari Barat karena mereka emang lebih mumpuni?"



Reading Time:

Rabu, 20 Februari 2013

Guru Killer (?)
Februari 20, 20130 Comments
Novel-novel memberitahukan bahwa guru-guru eksakta adalah kumpulan guru paling killer sedunia. Murid batuk dikit aja, si guru Fisika langsung balik kanan memelototi seluruh kelas. Gile ajeee! Batuk kan hak asasi manusia! Atau gini nih, si guru Matematika marah-marah ke muridnya yang belum ngerjain PR. Kalau dilogika kan wajar ya, murid nggak ngerjain PR trus gurunya marah. 

Tapi kenyataan mengajarkan pada saya bahwa guru-guru eksakta adalah guru paling keren sedunia. Coba, berapa orang guru yang bakalan bilang ke muridnya, "Nak, nilai itu tidak penting!" dan lanjutannya, "Yang penting, sudah seberapa besar usaha kamu untuk mencoba. Itu!". Atau seorang guru Fisika yang sama sekali nggak galak, namun malah bikin seisi kelasnya tegak antusias mengikuti pelajaran. Kelas Fisika saya zaman SMP nggak pernah sepi dari haha-hihi lantaran gurunya yang super fun kalau ngajar. Pun Kimia, meskipun gurunya nggak lucu, tapi selama 3 tahun di SMA, guru-guru Kimia kelas saya selalu menjelaskan dengan amat sangat gamblang sekali. Atau kenyataan bahwa guru-guru eksakta ini adalah orang-orang yang diam-diam menghanyutkan. Seperti salah dua guru Matematika dan Biologi yang super pendiam, ngomong irit, tapi pintarnya naudzubillah. Saking pintarnya, sampai-sampai kalau ngejelasin materi, muridnya suka bingung sendiri. Apa pasal? Ternyata begini: di otak si guru, dalam satu detik, dia sudah berpikir dari A hingga L. Namun, kecepatan mulutnya hanya A sampai D. Jadilah bicaranya kayak ngelompat-lompat saking cepetnya mikir, sampai mulut nggak bisa mengimbangi kecepatan berpikirnya.

Lalu kenapa guru eksakta sering digambarkan killer? Menurut saya sih, itu lebih pada orang yang menyatakan. Biasanya orang akan menyatakan sesuatu berdasarkan apa yang dia rasakan kan? Mungkin yang menyatakan punya pengalaman buruk dengan pelajaran eksakta, sehingga secara nggak sadar menggambarkan gurunya sebagai simbol pengalaman buruk itu #soknganalisis.

Dari tadi ngomongin kekerenan guru eksakta doang nih! Jadi guru non-eksak nggak cool gitu?

Ah, nggak. Saya juga punya guru non-eksak. Dan mereka super cool. Sebut saja guru Sejarah saya saat SMA. Salah dua di antaranya adalah pendongeng yang sangat baik, sehingga bikin murid-muridnya penasaran bagaimana cerita selanjutnya. Seperti percakapan saya dengan seorang teman.
"Tahu nggak, yang bikin aku tahan pelajaran hari ini itu apa?"
"Apa?"
"Soalnya hari ini ada Sejarah!" dia nyengir senang, ketawa-ketiwi kayak orang gila.
Lantas, kenapa banyak siswa ngerasa Sejarah itu ngebosenin yak? Share yuk! :)

Cuma Sejarah tok? Kagaaak! Guru Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, maupun Bahasa Asing juga keren-keren. Gaya mengajarnya macam-macam, inovatif, nggak ngebosenin. Misalnya nih, guru B.Indo saya yang tiap awal pelajaran pasti mutarin musik. Jadi setiap pertemuan, di lubuk hati terdalam, murid-muridnya dibikin penasaran: apa ya musik yang disetel hari ini? Cara ngajarnya pun asyik. Acara ngerjain soal yang biasa-biasa aja pun jadi nggak biasa karena metode yang digunakan pun nggak biasa: mencongak, soal ditampilkan di LCD, dinilai, yang nilainya di bawah standar harus nyanyi. Membuat semua siswa semangat ngerjain supaya nggak disuruh nyanyi. Atau ngerjain soal berkelompok dan nanti tiap orang dalam tiap kelompok gantian maju, adu cepat menjawab soal yang sudah dikerjakan. Inovatif kan?

Kalau menurut saya sih, killer atau nggak, boring atau nggak, tergantung sifat tiap guru itu sendiri. Nggak bisa langsung men-judge: guru ini guru Fisika, dia pasti killer! Atau: guru ini guru bahasa, pasti baik deh! Nggak juga. Saya punya guru non-eksak, dan dia nggak baik. Jadi? Tergantung orangnya. Don't judge a person by their cover lesson they taught ;)
Reading Time: