Hijaubiru

Jumat, 20 Oktober 2023

Mematikan Lilin
Oktober 20, 20231 Comments


Di lingkungan sekitar rumah, ada banyak kucing liar. Kucing-kucing ini emang biasa keluar-masuk halaman rumah orang, termasuk numpang tiduran atau main sebentar. Para warga pun nggak masalah. Kadang mereka malah dikasih makan atau diajak main. Masalahnya baru kalau pada ribut berantem atau BAB/BAK sembarangan. Kalau itu, barulah hewan-hewan berbulu ini dibubarkan supaya nggak mengganggu ketenteraman publik.

 

Dari sekian banyak kucing yang seliweran dan main ke tempat tinggal saya, ada satu yang rutin ‘bertamu’. Sebut aja namanya si Putih. Selain paling sering bertamu, dia juga yang paling sering ngendon di depan rumah. Kalau yang lain leyeh-leyeh beberapa jam aja, dia bisa ngendon sejak pagi sampai sore, kadang sampai malam. Dan, di antara yang lainnya, si Putih ini yang paling manja. Baruuu aja kami buka pintu, dia udah ngeong-ngeong. Minta dipuk-puk lah, minta dikasih makan lah, terus gelendotan di sekitar kaki lah.

 

Sebenarnya mau bermanja-manja juga nggak apa-apa. Toh, semua kucing kami perlakukan sama dan setara (ceilah!): sama-sama dielus-elus, sama-sama diajak main, saat kasih jajan dan adanya sedikit ya semua dikasih sedikit/ada banyak ya semua dikasih banyak, kalo reseh ya semuanya kena marah.

 

Masalah muncul kira-kira dua minggu belakangan.

Saat itu, ada beberapa anak kucing/kitten yang muncul di kampung. Nggak kecil-kecil banget, sih, udah agak gede dan kelihatannya udah bisa eksplor sekitar/cari makan sendiri. Entahlah ini ada induk yang baru nyapih anaknya atau (seperti desas-desus tetangga) ada orang yang buang kucing.

 

Nah, salah satu kitten ini ada yang main ke rumah. Awalnya kayaknya nyasar karena masih takut-takut; timid sekali. Setelah diajak main, dia mulai berani dekat-dekat. Ini anak lucu banget! Mari kita sebut si Belang. Si Belang memang nggak terlalu gembul kayak anak kucing di video-video viral, tapi raut mukanya… polos.

 

Adik imut ini anteng dan penurut. Maksudnya nggak reseh dan clingy gitu. Mana ada satu kejadian yang bikin terharu: ketika dia main di jalan depan, kemudian saya yang nggak sengaja ngelihat keluar ngelihat dia, lalu saya panggil, kemudian dia yang sebelumnya nampak jalan sambil plonga-plongo ngelihatin sekitar langsung lari-lari kecil menghampiri saya sambil ngeong pelan lalu merem-melek saat saya puk-puk. Duh, melting saya…. Ini anak imut sekali! Mana suaranya kalau ngeong tuh pelaaan banget. Siapa yang nggak gemes, coba! Tampak plonga-plongo belum tahu kejamnya dunia dan tanpa dosa.

 

Sedihnya, dia akan segera tahu kejamnya dunia. Hiks.

Dan ‘kekejaman’ itu berasal dari si Putih.

 

Awalnya saya kira semua fine aja. Dengar-dengar kucing itu hewan teritorial alias punya daerah kekuasaan sendiri-sendiri. Tapi ngelihat kucing-kucing yang selama ini mampir rumah dan oke-oke wae, saya kira hubungan mereka pun baik-baik aja. Toh biasanya nampak si Putih dan 1-2 kucing lain goleran bareng di teras dalam jarak dekat. Dan nggak berantem. Jadi saya pikir si Putih cukup welcome.

 

Nope.

 

Kali kedua si Belang bertandang, si Putih emang tampak penasaran. Mereka saling mengendus (kenalan kali, ya?). Lalu si Belang lari menjauh. Pikir saya, ‘Oh mungkin karena anak baru, masih takut-takut’. Pertemuan selanjutnya agak dramatis. Setelah si Putih mengendus si Belang, dia nabok si kecil! Ya ampun. Kami refleks berseru, “Heh, nggak boleh!” Namun si Belang udah keburu lari. Waktu itu kami masih berprasangka baik: kali aja si Putih cuma gemes. Nah, kali ketigalah yang bikin patah hati dan pengin ngamuk.

 

Saat itu kurang lebih semingguan sejak kemunculan si Belang. Sore itu, saya lagi duduk di depan rumah. Seperti biasa, si Putih sudah nyamperin dari tadi dan kini sedang tiduran santai setelah dikasih jajan. Nah, waktu saya berbalik, eh ada si Belang muncul! Dia ngeong pelan.

 

Saya berjongkok, mengelusnya sebentar. “Sebentar ya, kuambilin makan,” ujar saya sambil berbalik mau masuk rumah.

 

Eh lho, kok si Putih yang tadinya dua meteran dari kami, kini sudah di sebelah kaki saya.

Perasaan saya mulai nggak enak.

 

Si Putih mendekati si Belang, berusaha mengendus. Si adik kecil mundur beberapa langkah, tampak ragu.

“Adik nggak apa-apa, sini aja,” kata saya pada si Belang sambil menghalangi si Putih.

 

Si Putih mendekat lagi, yang langsung saya dorong menjauh dengan kaki (takut kecakar euy kalau pakai tangan/langsung gendong). Entah imajinasi atau bukan, rasanya dengar suara mendesis pelan. Hissing? Saya yang tadi berdiri di samping si Putih kini berpindah ke depannya, supaya ini kucing gede nggak nabok si adik kecil kayak kemarin. Nggak lupa tetap ngedorong si Putih menjauh. Saya juga minta bantuan ibu buat menarik perhatian si Belang supaya dia menjauh sebentar.

 

Kejadian selanjutnya berlangsung dalam hitungan detik. Wussh! Si Putih tiba-tiba melompati kaki saya dan mendarat di tempat si Belang tadi duduk. Sepersekian detik sebelumnya, si Belang mundur menjauh. Kaki kecilnya cukup lincah menghindari serangan rupanya. Pada titik ini, si Putih udah nggak hissing lagi tapi udah ngeong-ngeong marah, macam orang ngomel.

 

“Heh, nggak boleh!!! Itu masih anak kecil!” seru saya tertahan.

 

Si Putih malah mengejar. Kali ini si Belang sudah lari dan sembunyi di kolong. Tetap sambil ngomel, si Putih merangsek ke kolong, mengikuti terus si adik kecil yang sudah merelakan tidak makan malam hari itu.

 

Saya nggak ngelihat gimana pertengkaran mereka di dalam kolong. Cuma sebentar saya dengar si Putih marah-marah kenceng banget dan terus mengejar si Belang. Seakan nggak rela. Mungkin dia ngomel, “Ini daerahku! Tempatku makan dan tiduran. Kamu anak baru nggak usah ke sini, cari tempat lain!”

 

Waktu saya nunduk lihat kolong, sekilas saya lihat si Belang merapatkan badan. Gesturnya seperti meringkuk di pojokan dengan berkata, “Aku cuma pengin main dan jajan, Kak. Aku nggak akan ngerebut apa-apa….”

 

Sepersekian detik kemudian, si Putih lari macam ngejar prajurit musuh. Badan putihnya cepat melintasi kolong, keluar pagar, menuju jalanan. Sekelebat saya lihat warna abu-abu kecil juga tunggang-langgang ke jalanan depan rumah karena dikejar. Si Putih teriak-teriak kencang. Dia kejar si Belang sampai ke 2-3 rumah sebelah dan masih ngeong kenceng banget sampai tetangga yang lagi nongkrong juga kaget. Sesaat terdengar suara grubak-grubuk. Mungkin itu suara si Belang grubak-grubuk cari persembunyian supaya nggak terjangkau.

 

Suara cempreng si Putih baru berhenti setelah beberapa detik. Kemudian, semua tenang. Seakan nggak terjadi apa-apa. Tinggal saya, keluarga, dan para tetangga yang masih tercengang akan kejadian barusan. Belum mampu mencerna.

“Lapo iku mau? Tukaran?” Terdengar suara tetangga yang depan rumahnya dilewati saat ‘peristiwa pengejaran’. Ya gimana, peristiwa pengusiran di atas terjadi hanya dalam hitungan detik!

 

Eh, ketika saya masih berdiri terpaku dan mau buka pagar buat nyari si Belang, si Putih dengan santainya melenggang kembali rumah kami. Dia berusaha mendekat.

 

“Nggak mau! Kamu jahat! Nggak usah dekat-dekat!” kata saya yang udah sadar dari syok. Perlahan saya jauhi pagar, urung mencari si Belang karena diadang si Putih. “Kamu jahat sama anak kecil!”

 

Mengingat kucing yang teritorial, kami paham mungkin si Putih merasa keberadaan si Belang mengancam dirinya. Tapi, kenapa sama si Belang aja, sama kucing lain enggak? Ada kucing lain di depan rumah pun dia santuy aja. Apa karena Belang anak baru? Atau karena Belang anak kecil, jadi mudah diintimidasi?

 

Yah, apa pun itu, jelasnya si Putih mungkin cemburu. Atau iri. Takut jatah perhatian dan jajannya berkurang.

 

Ya ampun, kenapa dah. Sama anak kecil, juga. Masa nggak ada kasihannya? Dia, kan, juga kucing jalanan yang susah cari makan. Masa nggak ada empatinya pada sesama (ke anak kecil, lagi!) yang juga cari rezeki? Toh, meski ada si Belang, si Putih tetap diberi makan dengan porsi seperti biasanya. Malah porsi makan si Belang jauh lebih sedikit (mungkin karena masih bocil, porsi makannya juga kecil).

 


Mematikan Lilin

Sejak kejadian itu, saya dan orang rumah jadi jaga jarak dengan si Putih. Jarang elus-elus, jarang kasih jajan, jarang ajak main. Ya masih, tapi nggak sesering dulu; nggak seramah dulu. Selain karena sebal dia ngusir Belang, kami juga ngebiasaain si Putih supaya nggak terlalu tergantung atau merasa “the only one”. Supaya nggak merasa, “Pokoknya di sini yang boleh diperlakukan baik cuma aku! Yang lain minggir!”

 

Mana rasanya si Putih jadi lebih clingy. Ngeongnya lebih kenceng, ndusel-nya jadi lebih ndusel. Kalau kata ibu, “Gara-gara kejadian kemarin, dia jadi minta diperhatikan, pengin diyakinkan kalau dia masih disayang.”

 

Meski ada si Belang juga kemarin dia tetap disayang. Coba nggak gaplokin Belang, mungkin sekarang akan tetap disayang.

 

Drama perkucingan itu keingat sampai hari ini. Masih nggak tega aja kalau keingat si kecil yang harus berjuang sendiri, terus ditabok dan dikejar kayak kriminal sampai harus lari tunggang-langgang. Padahal yang ‘kriminal’ kan kucing dewasa yang ‘ngehajar’ kucing kecil, kan, ya? Tahu, sih, dunia hewan memang pakai hukum rimba, tapi tetap aja nggak tega. Apalagi sama anak kecil kayak gitu.

 

Saya jadi teringat sebuah kutipan:

Nggak perlu mematikan lilin orang lain untuk membuat lilin kita menyala lebih terang.

Nggak perlu mematikan kebahagiaan orang lain untuk membuat kita jadi lebih bahagia. Pun soal rezeki. Fine, lilin itu akan tampak seolah-olah jadi lebih terang karena nggak ada lilin lain. Namun, kalau dihitung intensitas cahayanya, sebenarnya nggak ada perubahan.

 

Itu kan kebahagiaan, gimana kalau rezeki? Konsepnya mirip. Okelah kalau harta dan semacamnya mungkin akan jadi lebih banyak. Tapi, kan, ini ngomongin rezeki yang artinya nggak hanya harta, tapi juga kesehatan, berkah, ketenangan, dsb.

 

Kalau dari kejadian si Putih vs Belang ini, berasa si Putih matiin ‘lilinnya’ sendiri. Dengan ngusir si Belang, mungkin dia merasa ancamannya nggak ada. ‘Cahaya lilinnya’ seakan lebih terang karena nggak ada ‘lilin’ lain; milik si Belang. Namun efeknya adalah perhatian dan porsi jajan dia justru berkurang karena kami—salah satu pemberi jajan dan teman mainnya—telanjur kesal.

 

Mungkin, sama aja dengan ‘lilin’ kebahagiaan manusia. Memadamkan kebahagiaan orang lain nggak akan menambah kebahagiaan diri sendiri. (Plus, berbuat nggak baik akan selalu punya konsekuensi, sooner or later). Kebahagiaan/rezeki yang ‘mati’ tadi nggak otomatis berubah haluan menjadi milik kita, tapi bisa aja malah jadi milik orang lain lagi, kan?

 

Tentu aja kutipan di atas nggak berlaku dalam beberapa kasus; (pasti) ada beberapa pengecualian. Namun, poinnya adalah keegoisan dan rasa iri berlebihan yang sampai ngerusak atau ganggu hidup orang lain akan ‘balik’ ngerusak diri sendiri. Ya kayak cerita si Putih tadi.


Sejak saat itu, si Belang nggak pernah kelihatan. Sesaat setelah kejadian, sempat lihat dia digendong anak kecil yang tinggal di blok tetangga. Entah kemudian dia dipiara anak itu atau diajak main ke bloknya sehingga nggak pernah lewat depan rumah kami lagi. 

 

Duh, Belang, semoga nasibmu lebih baik sekarang. Sampai kita ketemu lagi, ya  :’)

 


=====


 

Anyway jadi ingat salah satu adegan di sebuah komik. Ada pasangan, sebut aja A dan B. Namun ada sosok C‍👧 yang suka B👨. Udahlah si C ngefitnah A dan sebagainya sehingga reputasi A jelek banget dan hubungannya dengan B jadi renggang. 

‍👧: “A jelek dan jahat banget, kan. Udahlah kamu nggak usah sama dia.”

👨: (menatap tajam) “Meski udah nggak sama A, kamu pikir aku jadi mau sama kamu?”

 


Reading Time:

Minggu, 15 Oktober 2023

Panas dan Aroma
Oktober 15, 20231 Comments


Berulang kali, pengharum ruangan dengan aroma pinus segar itu saya raba. Kening saya berkerut, berusaha mengingat-ingat kapan pengharum yang terpasang di kipas angin itu diganti. Perasaan belum ada tiga minggu, deh. Kenapa udah kecil banget gini?

 

Namun, saya segera ingat: dua minggu belakangan, kipas itu memang hampir selalu berputar. Lebih dari dua belas jam per hari, tujuh hari per minggu. Ya gimana pengharumnya nggak cepat habis, lha ketiup angin kipas terus. Padahal biasanya itu kipas nggak pernah nyala selama itu, yang artinya pengharumnya juga nggak secepat itu habisnya.

 

Yah… gimana lagi. Rasanya udah lebih dari sebulan terakhir, penggunaan mesin berpendingin macam kipas, AC, dan kawan-kawannya meningkat. Di mana-mana. Di banyak kota, hawa panas bagai tak terbendung. Di luar ruangan, panasnya terik membakar. Di dalam ruangan, panasnya pengap memenuhi seluruh penjuru. Di luar bak digoreng, di dalam bak diungkep.

 

Kabarnya panas yang nggak umum ini adalah efek perubahan iklim, yang merupakan akibat  pemanasan global yang makin nggak terbendung. Kabarnya lagi, ini belum seberapa. Efeknya bisa aja lebih parah dari ini beberapa tahun ke depan, kalau nggak keburu dicegah.

 

Cuaca yang nggak menentu dan suhu yang makin fluktuatif—termasuk cuaca panas banget macam sekarang ini—adalah dua dari deretan efek climate change. Hal ini udah banyak memantik perhatian orang, termasuk saya. Namun, ada satu lagi efeknya yang turut memantik penasaran saya: tentang aroma/bau.

 

Saya lupa dari website mana, dulu sempat ada artikel yang menyatakan bahwa seiring dengan makin panasnya bumi, maka aroma (khususnya yang wangi) akan semakin sulit tercium. Waktu kejadian pengharum ruangan habis tadi, saya langsung teringat pernyataan ini. Memang kurang berhubungan sebab kemungkinan besar pengharum ruangan saya cepat habis karena angin, bukan karena panas. Hanya membuka ingatan tentang pembahasan aroma ini aja.

 

Kok bisa aroma jadi kurang tercium saat suhu meningkat?

Aroma, termasuk wewangian, tersusun dari beragam molekul. Yang namanya molekul, susunan atomnya dipengaruhi banyak hal, termasuk suhu. Ketika suhu udara naik, ia bisa ngerusak susunan molekul ini. Akibatnya? Molekul pun jadi rusak. Molekul yang rusak menjadi nggak/kurang wangi. Itulah sebabnya beberapa minyak aromaterapi atau parfum yang penyimpanannya harus dihindarkan dari sinar matahari langsung: supaya manfaat/wanginya terjaga. Makanya sampai ada baju yang ‘beraroma matahari’, karena dijemur saat cuaca panas banget atau kena sinar matahari langsung. Beda aroma dengan baju yang dijemur dalam ruangan atau saat cuaca mendung, misalnya.

 

Sekilas, perkara wewangian ini seperti nggak terlalu penting dibandingkan dengan efek negatif climate change lainnya. Kalau parfum kurang wangi, sintesislah yang lebih wangi; kalau baju yang dijemur jadi kurang wangi, sintesislah pewangi pakaian yang lebih kuat; bila pengharum ruangan aromanya kurang mantap, sintesislah yang wanginya lebih mantap. Chemically, possible. Namun, efeknya lebih dari itu. Gimana dengan proses alamiah yang memanfaatkan aroma?

 

Salah satu contohnya adalah penyerbukan bunga. Ada penyerbukan yang memanfaatkan aroma harum bunga untuk menarik penyerbuknya. Jika aromanya jadi kurang wangi sehingga kurang tercium oleh hewan penyerbuk, maka penyerbukan nggak bisa terjadi. Bila ini terjadi di tanaman pangan, maka tanaman tersebut nggak bisa berbuah sehingga nggak bisa dipanen sehingga makanan untuk manusia berkurang. Pun bila ini terjadi di tumbuhan hutan yang buahnya dikonsumsi hewan hutan. Untuk tumbuhannya sendiri, bisa jadi alamat buruk jika ia berkembang biak dengan biji. Nggak diserbuki = nggak ada buah dan biji = nggak bisa tumbuh baru lagi.

 

Selain aroma wangi yang enak, kenaikan suhu juga mempengaruhi bau yang nggak enak. Apa kemudian bau nggak enak juga berkurang karena molekulnya rusak? Bisa jadi. Namun, ada pula bau nggak enak yang aromanya justru menguat karena (1) semakin diproduksi oleh mikroba yang ‘suka’ suhu yang menghangat, atau (2) aroma wangi tadi rusak oleh suhu dan menghasilkan molekul baru yang aromanya nggak enak.

 

Persoalan aroma dan wewangian ini nggak sekadar terjadi pada benda yang fungsinya mengharumkan—seperti parfum/pewangi ruangan dan baju—aja. Bisa juga berefek ke bau sampah misalnya, atau bau ruangan, dan segalanya yang memiliki aroma. Ini baru soal aroma, belum poin-poin lainnya.

 

Ya… intinya, perubahan iklim secara ekstrem selain bikin nggak bisa hidup, juga bikin hidup nggak nyaman dalam prosesnya. Semoga aja di tahun-tahun ke depan bisa benar-benar dikurangi, kita semua—seluruh manusia bumi dan pihak-pihak yang terlibat—kurangi.






Edited on Oct 21

==========

Picture by Trarete on Pexels

Reading Time:

Kamis, 28 September 2023

Hari Pariwisata
September 28, 20230 Comments



Kemarin, 27 September, adalah Hari Pariwisata Sedunia. World Tourism Day.

Saya nggak akan tahu bahwa ada hari pariwisata yang diperingati secara global kalau bukan dari majalah. Tahun lalu, ada satu tajuk di majalah National Geographic yang bikin saya tertarik sampai pengin beli edisi itu. Topiknya jauh dari bidang pariwisata.

 

Kala itu saya masih maju-mundur mau beli. Namun begitu tahu kalau edisi itu berbonus satu eksemplar majalah NatGeo lainnya, rasa ragu itu terhapus habis! Hehe. Eksemplar bonusan inilah yang mengangkat topik pariwisata. Lebih tepatnya, mengangkat destinasi-destinasi wisata terbaik di Indonesia bertepatan dengan Hari Pariwisata Sedunia sekaligus usaha membangkitkan sektor wisata yang sempat terpuruk akibat Covid-19.

 

Emang pada dasarnya suka jalan-jalan. Dapat majalah bonusan soal travelling, ya langsung hijaulah ini mata, hahaha. Edisi bonusan itu pun berakhir saya baca duluan daripada edisi ‘aslinya’.

 

Balik ke soal pariwisata. Sebagai orang yang gemar pelesiran, tempat-tempat cantik atau unik memang jadi salah dua faktor yang bikin saya pengin berkunjung ke sana. Atau, nggak perlu cantik atau unik, tapi punya cerita tersendiri. Kadang, nggak ada faktor apa-apa. Sekadar pengin menuntaskan rasa ingin tahu aja. Tempat yang dituju pun nggak selalu tourism spots, bisa jadi lahan pinggir jalan atau waduk dekat rumah. Intinya, yang bisa bikin refreshed dan senang.

 

Dalam beberapa perjalanan, tentu nggak hanya rasa senang yang didapat. Kadang ada juga nggak enaknya, ada missed-nya, ada kelirunya, ada berantemnya, dan pengalaman-pengalaman nggak enak lainnya. Namun, menurut saya itulah yang bikin perjalanan jadi lebih berwarna. Asal nggak sampai fatal atau membahayakan sekali bagi diri maupun orang lain.

 

Pemahaman tentang ‘warna-warni’ perjalanan ini sedikit banyak dipengaruhi oleh teman dan senior Pecinta Alam. Merekalah yang ngajarin (dan ngajakin) bahwa berkegiatan di alam bebas seperti naik gunung, naik tebing, dsb, nggak cuma senang-senang. Tentu ada senangnya. Namun ada juga persiapan keberangkatan yang cukup serius. Ada pula manajemen risiko dan manajemen konflik.  Selain di alam, berkunjung ke tempat-tempat bersejarah juga mengajari hal itu. Gedung, jalan, atau barang yang sekilas kelihatan sederhana tanpa makna ternyata menyimpan kisah panjang yang kadang lebih panjang dari sejarah kota tempat dia berdiri.

 

Saya kira yang namanya ‘cerita di balik perjalanan’ sudah cukup dalam sampai di situ.

Saya salah.

‘Ceritanya’ ternyata jauh lebih dalam dan luas.

 

‘Cerita’ ini baru saya sadari saat menghadiri seminar oleh Jurusan Pariwisata. Sebelumnya saya mengira bahwa sektor pariwisata, setidaknya dari kacamata wisatawan, berkutat dengan hal-hal yang disebut di atas. Mungkin ditambah dengan hal-hal seperti kelestarian/kebersihan tempat wisata, pengelolaan yang baik, penentuan harga tiket, pelayanan untuk wisatawan dan penghargaan untuk pengelola dan warga lokal. Nah ternyata… hal-hal ini masih bisa dikulik lebih rinci lagi. Dan semakin dikulik, maka kelihatan makin kompleks melibatkan banyak faktor dan banyak sektor: baik dari segi sosial humaniora maupun dari segi sains dan teknologi.

 

Misalnya, hubungan pengelola dan warga lokal. Seminar di Jurusan Pariwisata tadi bikin saya melek bahwa nggak semua warga lokal diuntungkan dengan adanya tempat wisata. Bisa aja yang untung hanya pengelola, yang nggak jarang bukan warga lokal tapi warga kota yang jauh lokasinya. Warga lokal bisa jadi tidak dilibatkan atau dilibatkan sekadarnya saja, itu pun di level terendah. Nggak semua, tapi ada. Katanya, yang bagus ya yang warga lokalnya berpartisipasi aktif sekaligus dapat manfaat positif dan tempat wisatanya bisa bertahan lama dengan baik.

 

Itu baru satu. Contoh lainnya adalah fenomena banyaknya pungli yang muncul karena banyak faktor: tingkat ekonomi yang kurang makmur, peraturan yang tidak jelas, ketiadaan ketegasan pemerintah setempat, dsb. Belum lagi soal keramahan/ketidakramahan yang berakar dari budaya setempat, perilaku wisatawan baik yang positif/negatif dan memicu respons/fenomena/masalah baru, dsb.

 

Bahkan tentang wisata yang viral kemudian dipasangi tanda atau bangunan warna-warni yang mencolok aja bisa ada bahasannya sendiri. Dan bahasannya multidimensi.

 

Fenomena-fenomena ini pula yang pernah dibahas di postingan ini  dan bikin bergumam pelan, “Oh… ternyata gitu. Susah, ya.”

 

(Kalau pengin tahu tentang hal ini tapi dikemas dengan cukup ringan, mungkin bisa baca buku/blog travel writing-nya Agustinus Wibowo. Ada beberapa bagian yang ngebahas soal itu.)

 

Dari mereka-mereka inilah kemudian pandangan saya tentang pariwisata jadi bergeser. Kalau dulu mikirnya jalan-jalan asal hati senang, dapat foto bagus, dan nggak ngerusak lingkungan, kini mungkin jadi ‘rada mikir’. Dari sikap saya akui memang nggak banyak perubahan, meski sedikit mengetahui latar belakang lokasi dan hidup warlok jadi sesuatu yang cukup membantu untuk ‘mengalami lebih dekat’ dan memaklumi hal-hal asing atau nggak mengenakkan yang terjadi selama perjalanan.

 

Yang agak berubah mungkin dari segi tulisan. Kalau dulu hanya ngomongin rute atau itinerary dan banyak keindahan lokasi, sekarang sebisa mungkin disisipi kisah lain. Entah sejarah, cerita orang, dsb. Kenapa? Supaya nggak hanya fokus di keindahan aja. Kalau cuma spot-spot cantik atau viral, then what? Hanya foto, ‘mengambil’ keindahan, lalu apa? Ini adalah saran dari beberapa travel writer saat webinar. Kisah selain keindahan dan rute mampu memberi lebih banyak arti untuk sebuah lokasi. Jadi titik beratnya nggak hanya di keindahan lokasi. Pengunjung jadi nggak terpaku di kecantikan tempat/bangunan semata. Mereka pun jadi tahu bahwa ada cerita yang lebih dalam sehingga diharapkan tumbuh empati untuk turut peduli pada keberlanjutan tempat wisata itu.

Sesimpel, mungkin,

“Eh ini bangunan/barang dari ratusan tahun lalu, lho. Jangan sembarangan utak-atik/megang, sayang kalau udah lama terus rusak.”

“Eh ini tempatnya dilindungi kelestariannya, lho. Nggak boleh seenaknya metik-metik tumbuhan. Jangan buang sampah sembarangan.”

“Eh nggak boleh kasar sama pengelola/warlok. Meski kita udah bayar, tapi merekalah yang sebenarnya punya tempat ini. Kita ini tamu.”

 

Sehingga, ke depannya diharapkan kepedulian yang timbul makin besar. Kepedulian yang berdampak baik bagi tempat wisata, warga lokal, pengelolanya, lingkungan/alamnya, dan wisatawannya. Untuk semuanya.





=====

Picture by Freepik

Reading Time:

Jumat, 22 September 2023

Buah Berry
September 22, 20230 Comments

 

Di antara jenis-jenis beri di bawah ini, familiar sama yang mana:

strawberry, blueberry, blackberry, raspberry, arbei?

Gimana dengan mulberry, cloudberry, juneberry, dewberry, gooseberry (yang nggak ada hubungannya dengan angsa), atau wineberry (yang juga nggak ada hubungannya dengan wine), pernah dengar juga?

 

Kalau jawabannya enggak; wajar. Sebab nama dan jenis beri ternyata macam-macam. Dan, beri-beri ini nggak tumbuh di Indonesia sehingga nggak aneh kalau  nggak pernah dengar. Bahkan orang yang dengar/tahu pun, mungkin cuma ngelihat dari dunia maya atau ngelihat buah impor yang dijual di swalayan, bukan sepohonnya. Ada yang nggak impor sih, seperti stroberi, tapi sepertinya yang lebih gampang ditemukan di swalayan cuma stroberi dan blueberry, ya? Kadang ada mulberry (murbei/arbei).

 

Beri-beri itu memang nggak tumbuh di sini. Yang tumbuh dan marak dibudidayakan di sini pun baru stroberi. Mulberry, meski sejak dulu sudah banyak, kayaknya kurang diminati. Akhirnya kalau kita mau makan beri ‘non-lokal’, ya harus impor. Lha gimana, di sini nggak bisa tumbuh. Bisa pun, susah berbunga-berbuah. Kalau ‘dipaksa’ mungkin bisa, entah diintensifkan perawatannya atau gimana. Namun tentu butuh tenaga dan biaya yang nggak sedikit. Kadang, nggak sebanding cost sama hasilnya.

 

(Jadi menurut saya kurang tepat kalau ada yang bilang “semua bisa tumbuh baik di Indonesia”. Ya bisa, tapi sekadar tumbuh/hidup aja, nggak makmur sampai bunga/berbuah)

 

Itulah sebabnya kenapa kadang beri-beri impor di swalayan harganya lumayan. Ngirim dari luar negeri aja udah kena biaya lebih, apalagi kalau barang fresh macam buah-sayur yang gampang busuk. Handling-nya tentu lebih ribet.

 

Dengan harga nggak murah pun kadang berinya kecil-kecil. Saya pernah nemu blueberry seukuran kelingking, padahal di negara empat musim versi murahannya di pasar bisa seukuran jempol. Ya… itu tadi, balik ke harga-handling-dsb.

 

Balik ke jenis-jenis beri. Saya baru tahu kalau beri ini jenisnya buanyaaak baru beberapa tahun belakangan. Itu pun karena cari-cari soal foraging atau survival botani di Indonesia. Singkat cerita, saya dan teman-teman sering nemu beri liar di hutan, saat hiking. Bentuknya ya itu-itu aja. Yang ini sering disebut arbei hutan. Penasaran, saya browsing buah-buahan hutan lainnya yang aman dimakan. Pikir saya, dengan Indonesia yang kaya biodiversitas gini, pasti banyak dong tumbuhan liar yang bisa dimakan manusia.

 

Sayang, handbook yang dicari nggak kunjung ketemu. Ada field guide, tapi semuanya untuk negara empat musim. Padahal tumbuhan di Indonesia, kan, beda banget. Ya sudah, saya tetap lihat-lihat karena bukunya menarik. Dari situlah kemudian saya tahu bahwa ada banyaaak sekali jenis beri. Bahkan arbei hutan yang biasa kami temukan pun ternyata jenisnya beda-beda. Sekilas memang nggak kelihatan. Baru ketahuan kalau dilihat secara jeli.

 

Dari situlah saya ‘kenalan’ dengan beri-beri asing yang belum pernah saya lihat dan makan sebelumnya: wineberry, gooseberry, cloudberry, dsb. Beri-beri ini nggak cuma tumbuh liar, tapi banyak di antaranya yang umum ditanam, dimakan, dan diperjualbelikan di negara subtropis sana.

 

Gara-gara jenis yang beraneka macam ini pula saya jadi bertanya-tanya kalau nemu arbei liar. “Apa ini betul jenis arbei? Hm… kayak raspberry. Tapi kalau dilihat lagi, mirip cloudberry. Jadi… ini apa?” Seperti waktu nemu beri di bawah ini.


Buah beri di pinggir jalur pendakian G. Lawu. Daun-daunnya menggulung kering, tapi buahnya merah kelihatan segar. Ini beri jenis apa, ya?
 

Mungkin kadang cukup disebut “beri” atau “beri liar” aja, hehe. Apalagi yang bentuknya mirip-mirip arbei hutan. Secara umum yang bentuknya (dan bentuk tumbuhannya) seperti itu aman dikonsumsi manusia (*CMIIW!). Kalau beri liar lain yang kurang umum, perlu dicek lagi edible atau inedible for human. Sebab kadang, dimakan hewan lain aman-aman aja, tapi bahaya buat kita.


Saya pernah berandai-andai, “Kalau aja di sini banyak buah beri kayak di negara empat musim atau di film/kartun petualangan.”

Tapi ya gimana lagi, iklimnya nggak cocok. Lagipula di sini jenis buah-buahan, meski bukan beri, juga banyak. Di sini mungkin nggak ada gooseberry, wineberry, dsb, tapi ada mangga, kelengkeng, sirsat, dan banyak lainnya. Dan karena lumrah, maka buah-buah ini harganya murah. Dua puluh ribu bisa dapat sekresek, seperti orang asing yang juga dapat beri sekresek dengan harga murah di negaranya. Padahal di sana, buah-buahan tropis harganya selangit.

 

Jadi keingat teman yang di luar negeri pengin makan mangga dan semangka tapi nggak mau beli karena mahal, sedangkan di sini saya bisa makan mangga berpotong-potong.

Di sana dia juga bisa makan beri dan buah-buah lain dengan murah, sedangkan buah-buah itu di sini harganya nggak murah.

 

Soal buah-buahan ini juga bikin saya sering bergumam, “Oalaaah gini aja” tiap ngelihat tayangan di Youtube yang membahas “exotic fruits”. Sebab, eksotis di situ adalah dari sudut pandang orang Barat/pembuat videonya. Jadi yang ditampilin ya buah yang umum buat orang tropis: salak, buah naga, nanas, dll. Buat kita kebalikannya, buah eksotis itu ya yang tumbuh di negara mereka.


Sawang-sinawang, kalau kata orang Jawa. Masing-masing ada enaknya, ada juga nggak enaknya. Ada yang dimiliki, ada juga yang nggak dipunyai.

 

Reading Time:

Jumat, 01 September 2023

Jalan ke Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar
September 01, 2023 2 Comments

 


Bicara soal wisata, Surabaya bukan termasuk pilihan pertama untuk wisata alam. Untuk wisata alam, kota-kota sekitar macam Malang atau Mojokerto jauh lebih bagus. Maka ketika dengar ada kebun raya di Surabaya, saya sempat mengernyitkan kening. ‘Surabaya sebelah mana yang tanahnya cukup luas buat dijadikan kebun raya?’

 

Usut punya usut, ternyata ini bukan kebun raya biasa tapi kebun raya mangrove. Artinya, lahan hijau ini berlokasi di tepian pantai yang banyak ditumbuhi pohon mangrove. ‘Oh, kalau gitu masuk akal.’ Sebab Kota Pahlawan ini memang sudah lama punya area hutan mangrove, antara lain Wisata Mangrove Gunung Anyar. Tempat inilah yang kemudian dijadikan Kebun Raya Mangrove Surabaya. Jadi memang bukan tempat yang 100% baru, tapi dinaikkan statusnya (dari hutan biasa jadi kebun raya) dan ditambah fasilitasnya.

 

Kebun Raya Mangrove Surabaya baru dibuka akhir Juli 2023 ini. Mungkin lebih tepatnya re-opening kali, ya, sebab sebelumnya tempat ini juga sudah dibuka untuk pengunjung. Ya waktu masih bernama Mangrove Gunung Anyar. Sekarang pun kayaknya masih banyak yang nyebut dengan nama lawas.

 

Mangrove Gunung Anyar terletak di ujung timur Surabaya. Akses jalan ke sini mudah. Kalau dari Raya A. Yani, tinggal lurus terus ke timur tanpa belok-belok. Cuma kalau pakai transportasi umum mungkin agak effort karena jalannya agak masuk. Kalau naik bemo/mikrolet kayaknya harus jalan lagi agak jauh. Sebab, waktu ke sana kemarin hanya ketemu bemo di jalan yang masih ramai. Dan itu jaraknya satu kiloan dari pintu masuk kebun raya. Mungkin pilihan paling fleksibel adalah bawa kendaraan sendiri atau pakai ojek online.

 

Jangan lupa pakai masker dan semacamnya. Hutan mangrove memang adem dan penuh pohon, tapi jalan ke sananya agak berdebu. Mungkin karena kemarin saya main ke sana saat kemarau, plus saat siang ketika matahari terik banget, plus pembangunan fasumnya masih baru thus masih ada material sisa, sehingga banyak debu dan pasir beterbangan sepanjang jalan mendekati lokasi.

 

Debu, panas, pasir-pasir kuning lembut beterbangan di antara roda motor. Vibes musim kemarau banget, deh.

 

💡 Tips: Waktu Terbaik untuk Berkunjung

Berdasarkan ulasan di GMaps, pagi adalah waktu terbaik. Suasana masih adem, nggak terik, dan perjalanan ke lokasi pun nggak kepasanan. Pilihan kedua adalah sore hari, tapi berisiko kurang santai dan berkejaran dengan waktu tutup.

Hari terbaik, seperti biasa, adalah hari kerja karena lebih sepi. Lebih mudah dapat foto tanpa ada orang lain dan santai memilih duduk di gazebo mana pun.

 

Kenapa kami milih ke sini siang-siang, padahal tempat ini pagi pun sudah buka?

Kami berangkat jam 9-10-an, sampai sekitar 45 menit kemudian. Alasannya karena waktu itu ada keperluan dulu aja. Dan kalau berangkat pagi, jalanan penuh dengan orang yang berangkat sekolah atau kerja. Jadi milih agak siangan dengan risiko kepanasan di jalan.

 

Untungnya, di lokasi nggak kepanasan. Dari jalan umum masuk ke titik parkir, ada banyak pohon-pohon hijau rimbun di kanan-kiri. Aroma khas air laut yang asin sudah tercium dari sini. Setelah beberapa ratus meter dan melewati rusung Gunung Anyar, sampailah di tempat parkir yang nampak baru dan kering. Di selatan tempat parkir tampak gundukan yang awalnya saya kira sedang ada pembangunan. Setelah lebih teliti melihat, ternyata itu adalah TPA/Tempat Pembuangan Akhir.

 

Setelah diberi karcis parkir, kami pun berjalan ke arah kanan dan masuk ke gerbang. Berapa harga karcis masuk Kebun Raya Mangrove? Kurang tahu. Waktu itu kami langsung disuruh masuk tanpa bayar. Mungkin karena baru re-opening beberapa hari sebelumnya, sebab menurut teman jalan yang nonton berita opening-nya, nanti akan ada tarif tiket masuk perorangan.

 

Seperti layaknya hutan dan kebun raya, Mangrove Gunung Anyar ini juga sejuk meski letaknya nggak jauh dari bibir pantai. Kesejukan itu sudah dirasakan sejak sebelum gerbang. Pohon-pohon cemara laut dan mangrove yang rimbun membuat suasana siang Surabaya yang terkenal sumuk pol menjadi lumayan adem.

 

Dari gerbang masuk, rute jalan-jalan bisa dimulai dengan belok kanan ke arah hutan/jogging track kayu. Sebelum itu, di kanan track ada toko merchandise. Pengelola juga memajang peta lokasi lengkap dengan track dan spot-spot seperti gazebo, pendopo, dan menara pandang. Peta ini dibentakan di dekat pintu masuk ke hutan.

 

Selain peta, pengelola membentangkan banner dengan jenis-jenis tumbuhan yang bisa dilihat pengunjung di area mangrove.  Uniknya adalah yang ditampilkan nggak cuma nama dan foto bentuk tumbuhannya, tapi juga manfaatnya. Takjub aja gitu. Dari banyak pohon dan semak pinggir jalan yang kayaknya “gitu aja”, ternyata manfaatnya banyak juga: untuk obat, pengusir nyamuk, makanan atau snack. Jadi ingat waktu pergi ke Mangrove Wonorejo. Di sana ada warung yang jual berbotol-botol sirup mangrove jenis pidada (*kalau nggak salah). Rasanya kayak gimana? Sayang saya belum coba. Waktu ke Gunung Anyar ini pun alpa visit ke galeri oleh-olehnya karena udah kecapekan keliling. 


Kami masuk ke kawasan hutan, yang ada jogging track kayunya. Gapura kayunya memberi kesan alami meski jelas divernis mengilap. Marka arah jalan, baik yang sekadar dicat di track maupun yang jadi plang, berwarna cerah mencolok. Mungkin karena baru diganti atau baru dicat untuk re-opening  kemarin. 


Kami pun berjalan di antara pohon-pohon mangrove. Rimbun. Hijau. Panasnya Surabaya jadi terasa berkurang. Benarlah kalau pengin suasana adem, tanam pohon lebih efektif daripada bikin naungan dari material. (Jadi keinget dulu kalau gabut suka duduk bawah pohon dekat Perpus, haha).


Awal-awal, semua masih hijau. Kita bisa menjangkau daun yang tumbuh dekat ke pagar pembatas. Namun kalau diperhatikan, ada sela/gap di pohon-pohon. Gap itu menunjukkan tanah berlumpur di bawah jembatan kayu berwarna abu-abu dan basah. Khas tanah rawa pinggir pantai yang sering tergenang. Kalau nggak salah, inilah yang disebut marsh/bog(?). 


Makin dalam, jalur jogging track ini bercabang-cabang. Untung tadi udah sempat foto peta yang di depan, jadi bisa buat pertimbangan mau ngarah ke yang mana. 


Makin dalam juga, pagar pembatas yang tadi ada di kiri-kanan, sekarang nggak ada. Jadi pengunjung harus lebih hati-hati melangkah supaya nggak jatuh ke tanah lumpur basah di bawah track. Buat yang bawa anak kecil juga baiknya lebih diperhatikan anaknya. Dan di sini mulai banyak nyamuk. Maklum, karena area genangan air. 


Di hutan ber-jogging track ini pohonnya nggak selalu mengungkung. Ada juga bagian yang terbuka sehingga kalau lewat situ, ya … panasnya kerasa. Di pinggir track juga kayaknya bakal disediakan spot foto, tapi saat itu sepertinya masih tahap pembangunan karena bentuknya belum jadi. Kalau menurut peta tadi, ada gazebo dan pendopo juga. Tapi karena letaknya beda jalur dengan yang kami lewati, jadi nggak tahu bentuknya gimana. 


Yang menarik, beberapa pohon di sini digantungi semacam kartu nama. Kartu nama ini berisi nama latin pohon dan jenisnya. Ini salah satu poin yang saya suka dari tempat ini, karena pengunjung jadi tahu jenis pohonnya dan rada ngeh kalau meski semua pohon kelihatannya sama, tapi mereka sebenarnya beda jenis. Mungkin penamaan ini juga karena fungsi kebun raya sebagai sarana pendidikan. Jadi nggak cuma jadi tempat wisata atau healing aja, tapi juga ngasih info ke pengunjung. Sayangnya yang ditampilin cuma nama ilmiah, nama lokal enggak. Padahal biasanya orang lebih familiar dengan nama lokal daripada nama latin. Tapi mungkin ada pertimbangan lain kali ya, misal, karena nama lokalnya banyak nanti jadi info dump, misalnya? Nevertheless, buat orang kayak saya yang tertarik sama botani, ini menarik karena bisa ngelihat dan tahu langsung bentuk pohon yang mungkin cuma pernah dilihat di buku aja. Jadi ada kayak perasaan senang. Macam anak kecil kalau lihat gajah di buku anak terus diajak ke taman safari dan lihat gajah beneran dan kayak, “Wahh, aku lihat yang asli!”


Funfact! 

Ekosistem mangrove sering kali dikaitkan dengan bakau. Awalnya saya kira mangrove = bakau, tapi ternyata enggak. 

Mangrove = kawasan hutan tepi laut. Jadi tumbuhannya macam-macam, mulai dari pohon sampai semak.

Bakau = salah satu jenis pohon mangrove, biasanya dari jenis (genus) Rhizospora sp. 

Pendeknya, bakau termasuk mangrove, tapi mangrove nggak bakau aja. 




-bersambung 😁-

 

 

 

 


Reading Time:

Jumat, 18 Agustus 2023

Berkunjung ke Gua Selarong: Markas Perang Jawa dan Diponegoro
Agustus 18, 20230 Comments

 



Sebenarnya kunjungan ke sini udah lama, beberapa tahun lalu. Namun karena kayaknya momennya pas: saat Agustusan, well, here we go. Mari berkunjung ke jejak salah satu pahlawan nasional yang terletak di Yogyakarta dan nggak ramai serbuan turis.

 

Saat dengar kata “Selarong”, yang saya ingat adalah Pangeran Diponegoro. Nggak tahu kenapa, nama ini melekat di memori bersama dengan dua wilayah lain yang pernah jadi tempat persembunyian Diponegoro saat Perang Jawa dua abad lalu.

 

Saya masih ingat bunyi teks di buku paket, 

... Pangeran Diponegoro dan pasukannya lalu bersembunyi di Selarong, Pleret, Dekso ...


Mungkin, karena nama mereka menjadi soal yang diujikan dalam ulangan. Mungkin juga karena nama-nama itu terasa tak biasa dan baru di telinga saya yang kala itu masih SD. Jadi, nggak sengaja malah tersimpan di memori.

 

Selarong, Pleret, dan Dekso adalah beberapa wilayah yang terletak di Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. Ketiganya pernah jadi tempat persembunyian Pangeran Diponegoro dan pasukannya saat Perang Jawa (1825-1830). Pangeran dari Yogya yang juga pernah menjadi santri ini berpindah-pindah agar pasukannya tak terendus pasukan Belanda.

 

Kalau sekarang, Gua Selarong terletak di selatan ringroad Yogya. Nggak selatan juga, sih, tapi agak ke barat. Waktu itu saya dari ringroad timur, begitu belok ke ruas ringroad selatan, nggak jauh kemudian putar balik untuk masuk kampung di selatannya. Dari situ tinggal ikuti Google Maps.

 

Jalannya menuju destinasi lewat jalur Google Maps relatif bagus. Seingat saya, masuk jalan kampung/desa yang di sisinya rumah-rumah dan sawah, baru kemudian masuk ke ruas jalan lintas desa yang mulai jarang rumah dan banyak hutan (jati/sengon? Lupa). Jalannya aspal halus. Di beberapa ruas jalan memang agak naik, tapi bukan yang nanjak tajam. Ada beberapa tikungan tajam, tapi nggak yang ‘tajam banget’ macam kalau ke Mangunan.

 

Setelah lihat peta, baru nyadar kalau letaknya nggak terlalu jauh dari sentra gerabah Kasongan. Tapi rasanya udah jauh. Apa karena lokasinya yang dikelilingi banyak pohon dan nggak terletak di jalan raya besar?

 

Dari jalan aspal, Gua Selarong ada di sisi kanan. Kalau nggak salah ingat, masuk dulu baru kemudian terlihat tanda selamat datang. Bayar masuknya sekitar Rp5.000,00/orang plus biaya parkir per kendaraan (lupa berapa, tapi standar, bukan yang mahal banget).

 

Dari parkiran, tampak tulisan besar-besar “GOA SELARONG” dengan cat oranye menyala.

(Jadi yang benar ‘goa’ atau ‘gua’? Di KBBI pakai ‘gua’, tapi di masyarakat lebih biasa pakai ‘goa’ kayaknya)

 

Plang dan infografis  Gua Selarong, oleh dinas setempat dan program KKN mahasiswa
(klik untuk baca dalam ukuran lebih besar)

Seperti umumnya daerah di selatan Yogya agak ke barat, area ini sekilas seperti kering. Khas area pegunungan kapur. Banyak tumbuhan, tapi suasananya kayak kering. Singkapan tebing yang terbuka berwarna putih kecoklatan. Tanahnya pun berwarna coklat muda sekali, mengingatkan pada pasir pantai putih.

 

Dan, karena saya berkunjung ke sini saat musim kemarau, maka hawanya beneran kering. Sepanjang jalan tadi, pohon-pohon jati mulai meranggas. Seresah kekuningan di mana-mana, yang kalau diinjak bunyinya renyah sekali kayak suara kerupuk.

 

Menurut sumber online, ada air terjun kecil di area ini. Kalau dilihat dari foto, letaknya di sebelah kanan, setelah parkiran atau sebelum gua/tangga naik. Alirannya nggak terlalu deras, jatuh dari pinggir tebing kemudian langsung ke aliran sungai kecil di bawahnya. Sayang banget kami nggak bisa ngelihat air terjun itu di kunjungan kali ini. Sebabnya, sumber airnya hanya ada di musim hujan dan kering saat musim kemarau. Jadilah kami cuma bisa melihat jejak-jejak alirannya yang memahat bebatuan.

 

Satu hal yang menjadi surprise: ternyata guanya banyak.

Hal kedua yang jadi surprise: tangganya juga lumayan banyak.

 

Pengunjung harus menaiki terundak demi terundak untuk mencapai gua. Pertama dilihat, wah, tinggi juga. Apalagi jalurnya lurus ke atas, mengingatkan pada tangga menuju langit di film-film kartun.

 

Nggak lebih dari 15 menit meniti tangga (dengan sedikit menggeh-menggeh, haha), akhirnya kami sampai di kompleks gua. Saya sebut kompleks karena itu tadi: guanya ternyata banyak. Yang disebut gua adalah ceruk-ceruk yang masuk ke bawah tebing-tebing batu keras. Pintu masuknya pendek, tak sampai setinggi pinggang orang dewasa. Bayangan saya tentang gua persembunyian pun buyar.

 

Awalnya, saya kira Gua Selarong hanya terdiri dari satu gua yang masuk panjang ke dalam. Bahkan mungkin sampai bisa ada sekat-sekatnya seperti di komik Swiss Family Robinson yang pernah saya baca dulu sekali. Sampai sini barulah saya tahu bahwa gua itu bentuknya macam-macam. Berbeda dengan bentukan dalam komik (dan imajinasi saya), di sini guanya lebih seperti ceruk, ada banyak, dan sekilas terlihat tak terlalu dalam. Ada yang pojok-pojoknya bisa terlihat dari luar. Jadi bentuknya lebih kayak sebuah ruangan. Apa ada yang masuk sampai dalam banget? Kurang tahu, karena saya nggak masuk ke gua, cuma ngelihat dari luar aja. Lagipula, ada beberapa gua yang diberi gapura dan tampak ada beberapa barang di mulut guanya, jadi saya kira itu adalah area off-limit untuk pengunjung.

 

Ide berkunjung ke Gua Selarong sebenarnya bukan keinginan yang baru. Beberapa tahun sebelumnya sudah pengin ke sana, tapi perlahan lupa. Siang itu, waktu pengin jalan-jalan dan bingung ke mana, langsung kepikir ke Selarong aja. Lagipula saat itu saya lagi di tengah kota Yogya. Meski masih jauh, tapi nggak terlalu jauh kalau dibandingkan saya jalan dari Kaliurang, misalnya. Dan karena siang itu waktu kami terbatas dan emang niat untuk lihat-lihat aja (bukan yang menikmati banget atau ndelumuk ngamatin banget), jadi ya gas aja. Paling enggak, satu tempat tujuan sudah tercoret dari wishlist.

 

Kenapa ingin lihat jejak Pangeran Diponegoro? Selain alasan ‘terpatri di ingatan karena soal ulangan’ di atas, saya penasaran aja. Mungkin karena beliau salah satu pahlawan nasional yang terkenal. Mungkin karena tertarik dengan background beliau yang priyayi tinggi sekaligus santri, bangsawan yang nampak agamis hingga digambarkan selalu mengenakan surban, sebuah kombinasi yang termasuk jarang ditemui. Mungkin juga karena saya merasa aji mumpung: mumpung di Yogya, bisa sepuasnya menggali kisah budaya dan cerita serta tempat bersejarah yang sebelumnya cuma bisa saya dengar dan lihat dari buku pelajaran aja.

 

Menyaksikan sebuah tempat dengan mata kepala sendiri, setelah selama ini hanya tahu cerita atau fotonya aja, serasa … menakjubkan. It was magical. Semacam ada perasaan, “Wah … dulu dia berdiri di sini, lho” atau “Oh ini toh yang selama ini diceritain”.

 

Rasanya kayak bayanganmu terwujud, berbentuk nyata di depanmu.

 

Sebelum Selarong, sebetulnya ada keinginan ngelihat keraton Tegalrejo. Konon di sinilah Pangeran Diponegoro dibesarkan. Beliau baru meninggalkan Tegalrejo ketika Belanda menyerang keraton itu. Di peta, nama “Tegalrejo” masih ada, menjadi nama sebuah kecamatan di Kota Yogya. Di mana istana atau bekasnya? Menurut seorang petugas Keraton Yogya yang sempat saya tanya saat berkunjung ke keraton, istana Tegalrejo menjadi bangunan milik TNI sekarang. (Setelah ngecek lagi, ada yang bilang bahwa sudah jadi museum sekarang—Museum Sasana Wiratama—, bahkan bekas tembok yang dijebol Pangeran Diponegoro waktu nyelamatin keluarganya saat dikepung Belanda, masih ada.)

 

Gua Selarong termasuk markas utama pasukan Pangeran Diponegoro. Keluarganya pun turut tinggal di sini. Ada dua gua paling utama di area ini: Gua Kakung dan Gua Putri. Konon, Gua Putri adalah tempat tinggal untuk istri sang pangeran. Mungkin, karena sebagai tempat persembunyian, maka ‘pintu’ masuk guanya rendah-rendah. Supaya nggak mudah ditemukan meski di ketinggian, mungkin? Meski tentu hutan zaman itu yang lebih lebat daripada sekarang cukup bisa menyembunyikan. Dari ketinggian gua ini, terlihat dataran di selatan Yogya yang menghijau.

 

Pemandangan di Yogya bagian selatan


Perang antara Belanda vs Pangeran Diponegoro, yang dikenal sebagai Perang Jawa/The Java War/Java Oorlog dikenal sebagai salah satu perang yang membuat Belanda kalang kabut. Kerugian banyak, habis dana banyak. Kabarnya, Belanda sampai menarik pasukannya di Sumatra (yang sedang memerangi pasukan Tuanku Imam Bonjol *cmiiw) untuk bala bantuan.

 

Area Yogya sekitarnya menjadi arena pertempuran. Termasuk daerah Menoreh, yang sempat dibahas di postingan sebelumnya waktu main ke Punthuk Setumbu—dekat Candi Borobudur. Area utara Menoreh, yang termasuk daerah Kedu (sekarang Magelang), menjadi saksi penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Belanda sebelum beliau ditawan di Batavia (penjaranya di Kota Tua Jakarta) kemudian dibuang ke Makassar.

 

Seperti cerita-cerita sejarah lainnya, selalu ada sisi abu-abu dalam setiap kisah. Pun tentang perjuangan Diponegoro dan pasukannya. Mungkin sebagian kita tahunya adalah Diponegoro berperang dengan Belanda untuk kemerdekaan. Sebagian lain berpendapat bahwa perang ini dimulai dan berlangsung karena konflik kepentingan. Tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya pun, baik dari pihak Indonesia dan Belanda, tak lepas dari kemelut putih-hitam sosok manusia: ada saat menjadi heroine, ada saat menjadi villain. Seperti apa kisahnya? Wah, banyak. Apalagi, sumber dan metode penelusuran sejarahnya macam-macam. Jadi ada beragam versi.

 

Yah, hidup kayaknya memang gitu: selalu abu-abu.

 

Kenapa beragam versi dan kisah itu nggak diajarkan di buku sejarah sekolah?

Ya, karena itu tadi: banyak, panjang. Dan versinya macam-macam. Nggak cukup itu buku paket. Dan mungkin yang diberikan adalah versi ringkasnya aja supaya para siswa nggak bingung karena kebanyakan versi. Dan kalau dimasukin pun, ada beberapa jenjang yang pikirannya belum sanggup mencerna kisah yang kompleks dan pelik. Lah kita aja, orang dewasa, masih suka bingung kok kalau nemu cerita yang versinya banyak, apalagi anak kecil. 

 

Begitulah. Apa di daerahmu juga ada jejak/lokasi bersejarah yang kadang luput dari tujuan wisatawan? Sini bisikin, siapa tahu kapan-kapan kita bisa explore bareng :D


Para simbah dan dagangan mereka di dalam area
Gua Selarong: ada minuman, jajan, dan buah-buahan
seperti jambu dan ciplukan yang sudah dikupas

Reading Time: