Daya Dukung - Hijaubiru

Jumat, 07 Januari 2022

Daya Dukung

 

Kalau Cappadocia itu di Indonesia, yakin deh, beberapa bulan ini pasti bakal berjubel wisatawan domestik.

 

Salah satu adegan dari serial film lokal yang populer belakangan ini menyebut-nyebut Cappadocia sebagai salah satu tujuan wisata. Sebetulnya, lokasi ini sudah jadi global tourist destination Turki sejak lama. Bisa dibilang a-must-visit kalau punya budget travelling lebih pas main ke negara asal kebab dan baklava ini. Orang-orang Indonesia pun sudah banyak yang dengar, meski nggak seluas sekarang. Lokasi ini pernah diulas di beberapa buku travel writing Indonesia juga.

 

Salah satu sifat manusia memang latah. Lihat orang lain begitu, jadi pengin begitu juga. Lihat orang wisata ke sana, jadi pengin ke sana juga. Nggak terkecuali (atau tepatnya, apalagi 😁) orang Indonesia. Begitu lokasi itu terkenal di dunia maya, bakal banyak orang datang ke sana. Kesempatan ini pun dimanfaatkan untuk bikin lokasi tsb jadi ‘lebih menarik’ dengan bikin panggung love atau bunga-bunga atau tagline ‘mirip ikonnya negara X’.

 

Seorang acquintance pernah berseloroh, “Di sini tuh belum afdol jadi tempat wisata kalo belum ada love-love-nya.” 😄

 

Kadang, justru pengelola yang menghadirkan atraksi yang muncul di film-film yang melariskan lokasi itu tanpa ngecek lagi sebenernya cocok/enggak, aman/enggak, demi menuruti animo pasar. Dan ending-nya malah turis luar jadi males ke situ karena, “Udah nggak asli lagi, ya…” padahal mereka ke Indonesia buat nyari sesuatu yang beda dengan negara lain. Dan wisatawan domestik yang nyari keaslian akhirnya juga nggak pengin ke sini (– kayaknya ini dibahas lain kali aja kali ya? Kepanjangan ntar, haha. Soal asli-modif ini saya juga ‘disadarin’ sama share seorang temen di Facebook, bukan hasil mikir sendiri).

 

Kalau dilihat dari segi ekonomi, kenaikan pengunjung ke lokasi wisata jelas menguntungkan karena semakin banyak wisatawan maka semakin banyak pula pemasukan. Lebih bagus lagi kalau yang diuntungkan bukan cuma pengelola, tapi juga warga lokal. Sebab, banyak tempat wisata yang ternyata pemilik dan pengelolanya bukan orang situ. Jadi ketika untung, taraf ekonomi warga sekitar nggak turut meningkat. Mereka mungkin kecipratan ramenya, tapi cuma jadi penonton atau pelaku usaha yang nggak begitu laku. Bahkan ada juga kasus di mana penduduk justru cuma kecipratan dampak negatif: sampah, kerusakan alam, jurang sosial, kekerasan, dsb.

 

Jadi semakin banyak pengunjung makin bagus, dong, apalagi kalau masyarakat ikut sejahtera?

 

Iya, dalam batas tertentu. Kesejahteraan warga lokal nggak cuma ngomongin soal untung secara ekonomis. Namun, juga bicara soal keberlanjutan tempat itu sendiri. Maksudnya ‘keberlanjutan’? Maksudnya adalah seberapa tahan dan seberapa lama tempat itu bisa tetap bagus, lestari, dan nggak rusak. Hal ini disebut ‘daya dukung’.

 

Saya baru tahu istilah ini beberapa tahun belakangan. Selain soal lestari dll tadi, daya dukung juga berkaitan dengan jumlah wisatawan yang berkunjung. Nggak selalu, sih, tapi biasanya kalau jumlah wisatawan yang tinggi, maka kerusakan yang timbul cenderung lebih mudah muncul, meski itu kerusakan yang sungguh-sungguh nggak sengaja.

 

Misalnya, di Monkey Forest Ubud, tanahnya jadi padat karena sering diinjak banyak manusia. Ini salah satu contoh yang nggak sengaja (karena toh gimana lagi, masa mau wisata tapi ngawang?). Padahal, kalau tanah jadi padat, pertumbuhan pohon akan terganggu. Maka pengelola mencari cara supaya tanah jadi gembur kembali.*seminar pariwisata FIB UGM, 09/2019

 

Di beberapa tempat wisata alam, pemberian kuota pengunjung harian juga punya tujuan yang sama: untuk konservasi tanah/alam. Selain biar nggak umpel-umpelan dan akhirnya malah jadi kayak demo dan bukan wisata. Makanya beberapa taman nasional dan gunung untuk pendakian kini diberi kuota maksimal per hari.

 

Sebelumnya aturan ini nggak ada. Mungkin demi keamanan, mungkin juga berkaca dari pengalaman, maka aturan ini dibuat. Pasca pemutaran film 5 Cm yang ber-setting di Gunung Semeru, puncak tertinggi Jawa itu jadi banyak disambangi orang. Berturut-turut kemudian gunung-gunung lainnya. Sebelum film ini populer, pendaki gunung ini berjumlah jauh lebih sedikit dan waktu itu gunung-gunung beneran masih sepiii. Akibatnya, masalah sampah dan konservasi pun timbul. Hal ini berlangsung sampai sekarang hingga beberapa saat lalu populer kampanye ‘gunung bukan tempat sampah’.

 

Soal Cappadocia tadi kurang lebih mirip dengan ini. Kalau Cappadocia ada di Indonesia (eits, bukan berarti Cappadocia di Turki juga bebas dari masalah. Problem konservasi dan turisme juga tetap ada).

 

Coba perhatikan berapa banyak kasus serupa di sini, yaitu tempat wisata yang viral kemudian jadi muncul banyak masalah karena pengelolaan yang nggak bagus. Atau, bukan cuma banyak masalah, tapi lama-lama jadi tutup. Apa ini salah pengelola aja? Ya enggak, pengunjung macam kita juga ikut andil. Apalagi kalau abai dengan kondisi lingkungan di lokasi dan cuma pengin ambil senengnya aja. Contohnya? Se-‘simpel’ bawa jajan buat konsumsi terus sampahnya dibuang sembarangan.

 

Lagi-lagi semua balik ke daya dukung. Pengelola harus sadar seberapa kapasitas tempat wisata dan pengunjung harus membantu jagain kelestarian tempat wisata. Bukan seenaknya aja karena alasan, “Tempat ini hidup karena turis, loh. Aku sebagai wisatawan juga bayar. Tanpa wisatawan, warga sini nggak bisa makan, loh. Harusnya berterima kasih, dong, ke kita-kita”. Ye nggak gitu jugak ya, kalau udah bayar bukan berarti terus ngerasa bisa seenaknya.

((jadi inget beberapa waktu lalu pas penduduk Hawaii minta pariwisata ditutup sementara karena mereka kekurangan air bersih terus ada wisatawan yang ngegas bilang kayak cuplikan di atas))

 

Semoga, ya, semoga, kita nggak termasuk dalam kategori wisatawan yang nyebelin…

 

 

Disclaimer: background vector created by Freepik,

then slightly edited


4 komentar:

  1. "Peran" Instagram juga kali, ya. Apa-apa jadi pengin yang "Instagramable", padahal mah tergantung tukang fotonya. 😄

    BalasHapus