Hijaubiru

Kamis, 28 September 2023

Hari Pariwisata
September 28, 20230 Comments



Kemarin, 27 September, adalah Hari Pariwisata Sedunia. World Tourism Day.

Saya nggak akan tahu bahwa ada hari pariwisata yang diperingati secara global kalau bukan dari majalah. Tahun lalu, ada satu tajuk di majalah National Geographic yang bikin saya tertarik sampai pengin beli edisi itu. Topiknya jauh dari bidang pariwisata.

 

Kala itu saya masih maju-mundur mau beli. Namun begitu tahu kalau edisi itu berbonus satu eksemplar majalah NatGeo lainnya, rasa ragu itu terhapus habis! Hehe. Eksemplar bonusan inilah yang mengangkat topik pariwisata. Lebih tepatnya, mengangkat destinasi-destinasi wisata terbaik di Indonesia bertepatan dengan Hari Pariwisata Sedunia sekaligus usaha membangkitkan sektor wisata yang sempat terpuruk akibat Covid-19.

 

Emang pada dasarnya suka jalan-jalan. Dapat majalah bonusan soal travelling, ya langsung hijaulah ini mata, hahaha. Edisi bonusan itu pun berakhir saya baca duluan daripada edisi ‘aslinya’.

 

Balik ke soal pariwisata. Sebagai orang yang gemar pelesiran, tempat-tempat cantik atau unik memang jadi salah dua faktor yang bikin saya pengin berkunjung ke sana. Atau, nggak perlu cantik atau unik, tapi punya cerita tersendiri. Kadang, nggak ada faktor apa-apa. Sekadar pengin menuntaskan rasa ingin tahu aja. Tempat yang dituju pun nggak selalu tourism spots, bisa jadi lahan pinggir jalan atau waduk dekat rumah. Intinya, yang bisa bikin refreshed dan senang.

 

Dalam beberapa perjalanan, tentu nggak hanya rasa senang yang didapat. Kadang ada juga nggak enaknya, ada missed-nya, ada kelirunya, ada berantemnya, dan pengalaman-pengalaman nggak enak lainnya. Namun, menurut saya itulah yang bikin perjalanan jadi lebih berwarna. Asal nggak sampai fatal atau membahayakan sekali bagi diri maupun orang lain.

 

Pemahaman tentang ‘warna-warni’ perjalanan ini sedikit banyak dipengaruhi oleh teman dan senior Pecinta Alam. Merekalah yang ngajarin (dan ngajakin) bahwa berkegiatan di alam bebas seperti naik gunung, naik tebing, dsb, nggak cuma senang-senang. Tentu ada senangnya. Namun ada juga persiapan keberangkatan yang cukup serius. Ada pula manajemen risiko dan manajemen konflik.  Selain di alam, berkunjung ke tempat-tempat bersejarah juga mengajari hal itu. Gedung, jalan, atau barang yang sekilas kelihatan sederhana tanpa makna ternyata menyimpan kisah panjang yang kadang lebih panjang dari sejarah kota tempat dia berdiri.

 

Saya kira yang namanya ‘cerita di balik perjalanan’ sudah cukup dalam sampai di situ.

Saya salah.

‘Ceritanya’ ternyata jauh lebih dalam dan luas.

 

‘Cerita’ ini baru saya sadari saat menghadiri seminar oleh Jurusan Pariwisata. Sebelumnya saya mengira bahwa sektor pariwisata, setidaknya dari kacamata wisatawan, berkutat dengan hal-hal yang disebut di atas. Mungkin ditambah dengan hal-hal seperti kelestarian/kebersihan tempat wisata, pengelolaan yang baik, penentuan harga tiket, pelayanan untuk wisatawan dan penghargaan untuk pengelola dan warga lokal. Nah ternyata… hal-hal ini masih bisa dikulik lebih rinci lagi. Dan semakin dikulik, maka kelihatan makin kompleks melibatkan banyak faktor dan banyak sektor: baik dari segi sosial humaniora maupun dari segi sains dan teknologi.

 

Misalnya, hubungan pengelola dan warga lokal. Seminar di Jurusan Pariwisata tadi bikin saya melek bahwa nggak semua warga lokal diuntungkan dengan adanya tempat wisata. Bisa aja yang untung hanya pengelola, yang nggak jarang bukan warga lokal tapi warga kota yang jauh lokasinya. Warga lokal bisa jadi tidak dilibatkan atau dilibatkan sekadarnya saja, itu pun di level terendah. Nggak semua, tapi ada. Katanya, yang bagus ya yang warga lokalnya berpartisipasi aktif sekaligus dapat manfaat positif dan tempat wisatanya bisa bertahan lama dengan baik.

 

Itu baru satu. Contoh lainnya adalah fenomena banyaknya pungli yang muncul karena banyak faktor: tingkat ekonomi yang kurang makmur, peraturan yang tidak jelas, ketiadaan ketegasan pemerintah setempat, dsb. Belum lagi soal keramahan/ketidakramahan yang berakar dari budaya setempat, perilaku wisatawan baik yang positif/negatif dan memicu respons/fenomena/masalah baru, dsb.

 

Bahkan tentang wisata yang viral kemudian dipasangi tanda atau bangunan warna-warni yang mencolok aja bisa ada bahasannya sendiri. Dan bahasannya multidimensi.

 

Fenomena-fenomena ini pula yang pernah dibahas di postingan ini  dan bikin bergumam pelan, “Oh… ternyata gitu. Susah, ya.”

 

(Kalau pengin tahu tentang hal ini tapi dikemas dengan cukup ringan, mungkin bisa baca buku/blog travel writing-nya Agustinus Wibowo. Ada beberapa bagian yang ngebahas soal itu.)

 

Dari mereka-mereka inilah kemudian pandangan saya tentang pariwisata jadi bergeser. Kalau dulu mikirnya jalan-jalan asal hati senang, dapat foto bagus, dan nggak ngerusak lingkungan, kini mungkin jadi ‘rada mikir’. Dari sikap saya akui memang nggak banyak perubahan, meski sedikit mengetahui latar belakang lokasi dan hidup warlok jadi sesuatu yang cukup membantu untuk ‘mengalami lebih dekat’ dan memaklumi hal-hal asing atau nggak mengenakkan yang terjadi selama perjalanan.

 

Yang agak berubah mungkin dari segi tulisan. Kalau dulu hanya ngomongin rute atau itinerary dan banyak keindahan lokasi, sekarang sebisa mungkin disisipi kisah lain. Entah sejarah, cerita orang, dsb. Kenapa? Supaya nggak hanya fokus di keindahan aja. Kalau cuma spot-spot cantik atau viral, then what? Hanya foto, ‘mengambil’ keindahan, lalu apa? Ini adalah saran dari beberapa travel writer saat webinar. Kisah selain keindahan dan rute mampu memberi lebih banyak arti untuk sebuah lokasi. Jadi titik beratnya nggak hanya di keindahan lokasi. Pengunjung jadi nggak terpaku di kecantikan tempat/bangunan semata. Mereka pun jadi tahu bahwa ada cerita yang lebih dalam sehingga diharapkan tumbuh empati untuk turut peduli pada keberlanjutan tempat wisata itu.

Sesimpel, mungkin,

“Eh ini bangunan/barang dari ratusan tahun lalu, lho. Jangan sembarangan utak-atik/megang, sayang kalau udah lama terus rusak.”

“Eh ini tempatnya dilindungi kelestariannya, lho. Nggak boleh seenaknya metik-metik tumbuhan. Jangan buang sampah sembarangan.”

“Eh nggak boleh kasar sama pengelola/warlok. Meski kita udah bayar, tapi merekalah yang sebenarnya punya tempat ini. Kita ini tamu.”

 

Sehingga, ke depannya diharapkan kepedulian yang timbul makin besar. Kepedulian yang berdampak baik bagi tempat wisata, warga lokal, pengelolanya, lingkungan/alamnya, dan wisatawannya. Untuk semuanya.





=====

Picture by Freepik

Reading Time:

Jumat, 22 September 2023

Buah Berry
September 22, 20230 Comments

 

Di antara jenis-jenis beri di bawah ini, familiar sama yang mana:

strawberry, blueberry, blackberry, raspberry, arbei?

Gimana dengan mulberry, cloudberry, juneberry, dewberry, gooseberry (yang nggak ada hubungannya dengan angsa), atau wineberry (yang juga nggak ada hubungannya dengan wine), pernah dengar juga?

 

Kalau jawabannya enggak; wajar. Sebab nama dan jenis beri ternyata macam-macam. Dan, beri-beri ini nggak tumbuh di Indonesia sehingga nggak aneh kalau  nggak pernah dengar. Bahkan orang yang dengar/tahu pun, mungkin cuma ngelihat dari dunia maya atau ngelihat buah impor yang dijual di swalayan, bukan sepohonnya. Ada yang nggak impor sih, seperti stroberi, tapi sepertinya yang lebih gampang ditemukan di swalayan cuma stroberi dan blueberry, ya? Kadang ada mulberry (murbei/arbei).

 

Beri-beri itu memang nggak tumbuh di sini. Yang tumbuh dan marak dibudidayakan di sini pun baru stroberi. Mulberry, meski sejak dulu sudah banyak, kayaknya kurang diminati. Akhirnya kalau kita mau makan beri ‘non-lokal’, ya harus impor. Lha gimana, di sini nggak bisa tumbuh. Bisa pun, susah berbunga-berbuah. Kalau ‘dipaksa’ mungkin bisa, entah diintensifkan perawatannya atau gimana. Namun tentu butuh tenaga dan biaya yang nggak sedikit. Kadang, nggak sebanding cost sama hasilnya.

 

(Jadi menurut saya kurang tepat kalau ada yang bilang “semua bisa tumbuh baik di Indonesia”. Ya bisa, tapi sekadar tumbuh/hidup aja, nggak makmur sampai bunga/berbuah)

 

Itulah sebabnya kenapa kadang beri-beri impor di swalayan harganya lumayan. Ngirim dari luar negeri aja udah kena biaya lebih, apalagi kalau barang fresh macam buah-sayur yang gampang busuk. Handling-nya tentu lebih ribet.

 

Dengan harga nggak murah pun kadang berinya kecil-kecil. Saya pernah nemu blueberry seukuran kelingking, padahal di negara empat musim versi murahannya di pasar bisa seukuran jempol. Ya… itu tadi, balik ke harga-handling-dsb.

 

Balik ke jenis-jenis beri. Saya baru tahu kalau beri ini jenisnya buanyaaak baru beberapa tahun belakangan. Itu pun karena cari-cari soal foraging atau survival botani di Indonesia. Singkat cerita, saya dan teman-teman sering nemu beri liar di hutan, saat hiking. Bentuknya ya itu-itu aja. Yang ini sering disebut arbei hutan. Penasaran, saya browsing buah-buahan hutan lainnya yang aman dimakan. Pikir saya, dengan Indonesia yang kaya biodiversitas gini, pasti banyak dong tumbuhan liar yang bisa dimakan manusia.

 

Sayang, handbook yang dicari nggak kunjung ketemu. Ada field guide, tapi semuanya untuk negara empat musim. Padahal tumbuhan di Indonesia, kan, beda banget. Ya sudah, saya tetap lihat-lihat karena bukunya menarik. Dari situlah kemudian saya tahu bahwa ada banyaaak sekali jenis beri. Bahkan arbei hutan yang biasa kami temukan pun ternyata jenisnya beda-beda. Sekilas memang nggak kelihatan. Baru ketahuan kalau dilihat secara jeli.

 

Dari situlah saya ‘kenalan’ dengan beri-beri asing yang belum pernah saya lihat dan makan sebelumnya: wineberry, gooseberry, cloudberry, dsb. Beri-beri ini nggak cuma tumbuh liar, tapi banyak di antaranya yang umum ditanam, dimakan, dan diperjualbelikan di negara subtropis sana.

 

Gara-gara jenis yang beraneka macam ini pula saya jadi bertanya-tanya kalau nemu arbei liar. “Apa ini betul jenis arbei? Hm… kayak raspberry. Tapi kalau dilihat lagi, mirip cloudberry. Jadi… ini apa?” Seperti waktu nemu beri di bawah ini.


Buah beri di pinggir jalur pendakian G. Lawu. Daun-daunnya menggulung kering, tapi buahnya merah kelihatan segar. Ini beri jenis apa, ya?
 

Mungkin kadang cukup disebut “beri” atau “beri liar” aja, hehe. Apalagi yang bentuknya mirip-mirip arbei hutan. Secara umum yang bentuknya (dan bentuk tumbuhannya) seperti itu aman dikonsumsi manusia (*CMIIW!). Kalau beri liar lain yang kurang umum, perlu dicek lagi edible atau inedible for human. Sebab kadang, dimakan hewan lain aman-aman aja, tapi bahaya buat kita.


Saya pernah berandai-andai, “Kalau aja di sini banyak buah beri kayak di negara empat musim atau di film/kartun petualangan.”

Tapi ya gimana lagi, iklimnya nggak cocok. Lagipula di sini jenis buah-buahan, meski bukan beri, juga banyak. Di sini mungkin nggak ada gooseberry, wineberry, dsb, tapi ada mangga, kelengkeng, sirsat, dan banyak lainnya. Dan karena lumrah, maka buah-buah ini harganya murah. Dua puluh ribu bisa dapat sekresek, seperti orang asing yang juga dapat beri sekresek dengan harga murah di negaranya. Padahal di sana, buah-buahan tropis harganya selangit.

 

Jadi keingat teman yang di luar negeri pengin makan mangga dan semangka tapi nggak mau beli karena mahal, sedangkan di sini saya bisa makan mangga berpotong-potong.

Di sana dia juga bisa makan beri dan buah-buah lain dengan murah, sedangkan buah-buah itu di sini harganya nggak murah.

 

Soal buah-buahan ini juga bikin saya sering bergumam, “Oalaaah gini aja” tiap ngelihat tayangan di Youtube yang membahas “exotic fruits”. Sebab, eksotis di situ adalah dari sudut pandang orang Barat/pembuat videonya. Jadi yang ditampilin ya buah yang umum buat orang tropis: salak, buah naga, nanas, dll. Buat kita kebalikannya, buah eksotis itu ya yang tumbuh di negara mereka.


Sawang-sinawang, kalau kata orang Jawa. Masing-masing ada enaknya, ada juga nggak enaknya. Ada yang dimiliki, ada juga yang nggak dipunyai.

 

Reading Time:

Jumat, 01 September 2023

Jalan ke Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar
September 01, 2023 2 Comments

 


Bicara soal wisata, Surabaya bukan termasuk pilihan pertama untuk wisata alam. Untuk wisata alam, kota-kota sekitar macam Malang atau Mojokerto jauh lebih bagus. Maka ketika dengar ada kebun raya di Surabaya, saya sempat mengernyitkan kening. ‘Surabaya sebelah mana yang tanahnya cukup luas buat dijadikan kebun raya?’

 

Usut punya usut, ternyata ini bukan kebun raya biasa tapi kebun raya mangrove. Artinya, lahan hijau ini berlokasi di tepian pantai yang banyak ditumbuhi pohon mangrove. ‘Oh, kalau gitu masuk akal.’ Sebab Kota Pahlawan ini memang sudah lama punya area hutan mangrove, antara lain Wisata Mangrove Gunung Anyar. Tempat inilah yang kemudian dijadikan Kebun Raya Mangrove Surabaya. Jadi memang bukan tempat yang 100% baru, tapi dinaikkan statusnya (dari hutan biasa jadi kebun raya) dan ditambah fasilitasnya.

 

Kebun Raya Mangrove Surabaya baru dibuka akhir Juli 2023 ini. Mungkin lebih tepatnya re-opening kali, ya, sebab sebelumnya tempat ini juga sudah dibuka untuk pengunjung. Ya waktu masih bernama Mangrove Gunung Anyar. Sekarang pun kayaknya masih banyak yang nyebut dengan nama lawas.

 

Mangrove Gunung Anyar terletak di ujung timur Surabaya. Akses jalan ke sini mudah. Kalau dari Raya A. Yani, tinggal lurus terus ke timur tanpa belok-belok. Cuma kalau pakai transportasi umum mungkin agak effort karena jalannya agak masuk. Kalau naik bemo/mikrolet kayaknya harus jalan lagi agak jauh. Sebab, waktu ke sana kemarin hanya ketemu bemo di jalan yang masih ramai. Dan itu jaraknya satu kiloan dari pintu masuk kebun raya. Mungkin pilihan paling fleksibel adalah bawa kendaraan sendiri atau pakai ojek online.

 

Jangan lupa pakai masker dan semacamnya. Hutan mangrove memang adem dan penuh pohon, tapi jalan ke sananya agak berdebu. Mungkin karena kemarin saya main ke sana saat kemarau, plus saat siang ketika matahari terik banget, plus pembangunan fasumnya masih baru thus masih ada material sisa, sehingga banyak debu dan pasir beterbangan sepanjang jalan mendekati lokasi.

 

Debu, panas, pasir-pasir kuning lembut beterbangan di antara roda motor. Vibes musim kemarau banget, deh.

 

💡 Tips: Waktu Terbaik untuk Berkunjung

Berdasarkan ulasan di GMaps, pagi adalah waktu terbaik. Suasana masih adem, nggak terik, dan perjalanan ke lokasi pun nggak kepasanan. Pilihan kedua adalah sore hari, tapi berisiko kurang santai dan berkejaran dengan waktu tutup.

Hari terbaik, seperti biasa, adalah hari kerja karena lebih sepi. Lebih mudah dapat foto tanpa ada orang lain dan santai memilih duduk di gazebo mana pun.

 

Kenapa kami milih ke sini siang-siang, padahal tempat ini pagi pun sudah buka?

Kami berangkat jam 9-10-an, sampai sekitar 45 menit kemudian. Alasannya karena waktu itu ada keperluan dulu aja. Dan kalau berangkat pagi, jalanan penuh dengan orang yang berangkat sekolah atau kerja. Jadi milih agak siangan dengan risiko kepanasan di jalan.

 

Untungnya, di lokasi nggak kepanasan. Dari jalan umum masuk ke titik parkir, ada banyak pohon-pohon hijau rimbun di kanan-kiri. Aroma khas air laut yang asin sudah tercium dari sini. Setelah beberapa ratus meter dan melewati rusung Gunung Anyar, sampailah di tempat parkir yang nampak baru dan kering. Di selatan tempat parkir tampak gundukan yang awalnya saya kira sedang ada pembangunan. Setelah lebih teliti melihat, ternyata itu adalah TPA/Tempat Pembuangan Akhir.

 

Setelah diberi karcis parkir, kami pun berjalan ke arah kanan dan masuk ke gerbang. Berapa harga karcis masuk Kebun Raya Mangrove? Kurang tahu. Waktu itu kami langsung disuruh masuk tanpa bayar. Mungkin karena baru re-opening beberapa hari sebelumnya, sebab menurut teman jalan yang nonton berita opening-nya, nanti akan ada tarif tiket masuk perorangan.

 

Seperti layaknya hutan dan kebun raya, Mangrove Gunung Anyar ini juga sejuk meski letaknya nggak jauh dari bibir pantai. Kesejukan itu sudah dirasakan sejak sebelum gerbang. Pohon-pohon cemara laut dan mangrove yang rimbun membuat suasana siang Surabaya yang terkenal sumuk pol menjadi lumayan adem.

 

Dari gerbang masuk, rute jalan-jalan bisa dimulai dengan belok kanan ke arah hutan/jogging track kayu. Sebelum itu, di kanan track ada toko merchandise. Pengelola juga memajang peta lokasi lengkap dengan track dan spot-spot seperti gazebo, pendopo, dan menara pandang. Peta ini dibentakan di dekat pintu masuk ke hutan.

 

Selain peta, pengelola membentangkan banner dengan jenis-jenis tumbuhan yang bisa dilihat pengunjung di area mangrove.  Uniknya adalah yang ditampilkan nggak cuma nama dan foto bentuk tumbuhannya, tapi juga manfaatnya. Takjub aja gitu. Dari banyak pohon dan semak pinggir jalan yang kayaknya “gitu aja”, ternyata manfaatnya banyak juga: untuk obat, pengusir nyamuk, makanan atau snack. Jadi ingat waktu pergi ke Mangrove Wonorejo. Di sana ada warung yang jual berbotol-botol sirup mangrove jenis pidada (*kalau nggak salah). Rasanya kayak gimana? Sayang saya belum coba. Waktu ke Gunung Anyar ini pun alpa visit ke galeri oleh-olehnya karena udah kecapekan keliling. 


Kami masuk ke kawasan hutan, yang ada jogging track kayunya. Gapura kayunya memberi kesan alami meski jelas divernis mengilap. Marka arah jalan, baik yang sekadar dicat di track maupun yang jadi plang, berwarna cerah mencolok. Mungkin karena baru diganti atau baru dicat untuk re-opening  kemarin. 


Kami pun berjalan di antara pohon-pohon mangrove. Rimbun. Hijau. Panasnya Surabaya jadi terasa berkurang. Benarlah kalau pengin suasana adem, tanam pohon lebih efektif daripada bikin naungan dari material. (Jadi keinget dulu kalau gabut suka duduk bawah pohon dekat Perpus, haha).


Awal-awal, semua masih hijau. Kita bisa menjangkau daun yang tumbuh dekat ke pagar pembatas. Namun kalau diperhatikan, ada sela/gap di pohon-pohon. Gap itu menunjukkan tanah berlumpur di bawah jembatan kayu berwarna abu-abu dan basah. Khas tanah rawa pinggir pantai yang sering tergenang. Kalau nggak salah, inilah yang disebut marsh/bog(?). 


Makin dalam, jalur jogging track ini bercabang-cabang. Untung tadi udah sempat foto peta yang di depan, jadi bisa buat pertimbangan mau ngarah ke yang mana. 


Makin dalam juga, pagar pembatas yang tadi ada di kiri-kanan, sekarang nggak ada. Jadi pengunjung harus lebih hati-hati melangkah supaya nggak jatuh ke tanah lumpur basah di bawah track. Buat yang bawa anak kecil juga baiknya lebih diperhatikan anaknya. Dan di sini mulai banyak nyamuk. Maklum, karena area genangan air. 


Di hutan ber-jogging track ini pohonnya nggak selalu mengungkung. Ada juga bagian yang terbuka sehingga kalau lewat situ, ya … panasnya kerasa. Di pinggir track juga kayaknya bakal disediakan spot foto, tapi saat itu sepertinya masih tahap pembangunan karena bentuknya belum jadi. Kalau menurut peta tadi, ada gazebo dan pendopo juga. Tapi karena letaknya beda jalur dengan yang kami lewati, jadi nggak tahu bentuknya gimana. 


Yang menarik, beberapa pohon di sini digantungi semacam kartu nama. Kartu nama ini berisi nama latin pohon dan jenisnya. Ini salah satu poin yang saya suka dari tempat ini, karena pengunjung jadi tahu jenis pohonnya dan rada ngeh kalau meski semua pohon kelihatannya sama, tapi mereka sebenarnya beda jenis. Mungkin penamaan ini juga karena fungsi kebun raya sebagai sarana pendidikan. Jadi nggak cuma jadi tempat wisata atau healing aja, tapi juga ngasih info ke pengunjung. Sayangnya yang ditampilin cuma nama ilmiah, nama lokal enggak. Padahal biasanya orang lebih familiar dengan nama lokal daripada nama latin. Tapi mungkin ada pertimbangan lain kali ya, misal, karena nama lokalnya banyak nanti jadi info dump, misalnya? Nevertheless, buat orang kayak saya yang tertarik sama botani, ini menarik karena bisa ngelihat dan tahu langsung bentuk pohon yang mungkin cuma pernah dilihat di buku aja. Jadi ada kayak perasaan senang. Macam anak kecil kalau lihat gajah di buku anak terus diajak ke taman safari dan lihat gajah beneran dan kayak, “Wahh, aku lihat yang asli!”


Funfact! 

Ekosistem mangrove sering kali dikaitkan dengan bakau. Awalnya saya kira mangrove = bakau, tapi ternyata enggak. 

Mangrove = kawasan hutan tepi laut. Jadi tumbuhannya macam-macam, mulai dari pohon sampai semak.

Bakau = salah satu jenis pohon mangrove, biasanya dari jenis (genus) Rhizospora sp. 

Pendeknya, bakau termasuk mangrove, tapi mangrove nggak bakau aja. 




-bersambung 😁-

 

 

 

 


Reading Time:

Jumat, 18 Agustus 2023

Berkunjung ke Gua Selarong: Markas Perang Jawa dan Diponegoro
Agustus 18, 20230 Comments

 



Sebenarnya kunjungan ke sini udah lama, beberapa tahun lalu. Namun karena kayaknya momennya pas: saat Agustusan, well, here we go. Mari berkunjung ke jejak salah satu pahlawan nasional yang terletak di Yogyakarta dan nggak ramai serbuan turis.

 

Saat dengar kata “Selarong”, yang saya ingat adalah Pangeran Diponegoro. Nggak tahu kenapa, nama ini melekat di memori bersama dengan dua wilayah lain yang pernah jadi tempat persembunyian Diponegoro saat Perang Jawa dua abad lalu.

 

Saya masih ingat bunyi teks di buku paket, 

... Pangeran Diponegoro dan pasukannya lalu bersembunyi di Selarong, Pleret, Dekso ...


Mungkin, karena nama mereka menjadi soal yang diujikan dalam ulangan. Mungkin juga karena nama-nama itu terasa tak biasa dan baru di telinga saya yang kala itu masih SD. Jadi, nggak sengaja malah tersimpan di memori.

 

Selarong, Pleret, dan Dekso adalah beberapa wilayah yang terletak di Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. Ketiganya pernah jadi tempat persembunyian Pangeran Diponegoro dan pasukannya saat Perang Jawa (1825-1830). Pangeran dari Yogya yang juga pernah menjadi santri ini berpindah-pindah agar pasukannya tak terendus pasukan Belanda.

 

Kalau sekarang, Gua Selarong terletak di selatan ringroad Yogya. Nggak selatan juga, sih, tapi agak ke barat. Waktu itu saya dari ringroad timur, begitu belok ke ruas ringroad selatan, nggak jauh kemudian putar balik untuk masuk kampung di selatannya. Dari situ tinggal ikuti Google Maps.

 

Jalannya menuju destinasi lewat jalur Google Maps relatif bagus. Seingat saya, masuk jalan kampung/desa yang di sisinya rumah-rumah dan sawah, baru kemudian masuk ke ruas jalan lintas desa yang mulai jarang rumah dan banyak hutan (jati/sengon? Lupa). Jalannya aspal halus. Di beberapa ruas jalan memang agak naik, tapi bukan yang nanjak tajam. Ada beberapa tikungan tajam, tapi nggak yang ‘tajam banget’ macam kalau ke Mangunan.

 

Setelah lihat peta, baru nyadar kalau letaknya nggak terlalu jauh dari sentra gerabah Kasongan. Tapi rasanya udah jauh. Apa karena lokasinya yang dikelilingi banyak pohon dan nggak terletak di jalan raya besar?

 

Dari jalan aspal, Gua Selarong ada di sisi kanan. Kalau nggak salah ingat, masuk dulu baru kemudian terlihat tanda selamat datang. Bayar masuknya sekitar Rp5.000,00/orang plus biaya parkir per kendaraan (lupa berapa, tapi standar, bukan yang mahal banget).

 

Dari parkiran, tampak tulisan besar-besar “GOA SELARONG” dengan cat oranye menyala.

(Jadi yang benar ‘goa’ atau ‘gua’? Di KBBI pakai ‘gua’, tapi di masyarakat lebih biasa pakai ‘goa’ kayaknya)

 

Plang dan infografis  Gua Selarong, oleh dinas setempat dan program KKN mahasiswa
(klik untuk baca dalam ukuran lebih besar)

Seperti umumnya daerah di selatan Yogya agak ke barat, area ini sekilas seperti kering. Khas area pegunungan kapur. Banyak tumbuhan, tapi suasananya kayak kering. Singkapan tebing yang terbuka berwarna putih kecoklatan. Tanahnya pun berwarna coklat muda sekali, mengingatkan pada pasir pantai putih.

 

Dan, karena saya berkunjung ke sini saat musim kemarau, maka hawanya beneran kering. Sepanjang jalan tadi, pohon-pohon jati mulai meranggas. Seresah kekuningan di mana-mana, yang kalau diinjak bunyinya renyah sekali kayak suara kerupuk.

 

Menurut sumber online, ada air terjun kecil di area ini. Kalau dilihat dari foto, letaknya di sebelah kanan, setelah parkiran atau sebelum gua/tangga naik. Alirannya nggak terlalu deras, jatuh dari pinggir tebing kemudian langsung ke aliran sungai kecil di bawahnya. Sayang banget kami nggak bisa ngelihat air terjun itu di kunjungan kali ini. Sebabnya, sumber airnya hanya ada di musim hujan dan kering saat musim kemarau. Jadilah kami cuma bisa melihat jejak-jejak alirannya yang memahat bebatuan.

 

Satu hal yang menjadi surprise: ternyata guanya banyak.

Hal kedua yang jadi surprise: tangganya juga lumayan banyak.

 

Pengunjung harus menaiki terundak demi terundak untuk mencapai gua. Pertama dilihat, wah, tinggi juga. Apalagi jalurnya lurus ke atas, mengingatkan pada tangga menuju langit di film-film kartun.

 

Nggak lebih dari 15 menit meniti tangga (dengan sedikit menggeh-menggeh, haha), akhirnya kami sampai di kompleks gua. Saya sebut kompleks karena itu tadi: guanya ternyata banyak. Yang disebut gua adalah ceruk-ceruk yang masuk ke bawah tebing-tebing batu keras. Pintu masuknya pendek, tak sampai setinggi pinggang orang dewasa. Bayangan saya tentang gua persembunyian pun buyar.

 

Awalnya, saya kira Gua Selarong hanya terdiri dari satu gua yang masuk panjang ke dalam. Bahkan mungkin sampai bisa ada sekat-sekatnya seperti di komik Swiss Family Robinson yang pernah saya baca dulu sekali. Sampai sini barulah saya tahu bahwa gua itu bentuknya macam-macam. Berbeda dengan bentukan dalam komik (dan imajinasi saya), di sini guanya lebih seperti ceruk, ada banyak, dan sekilas terlihat tak terlalu dalam. Ada yang pojok-pojoknya bisa terlihat dari luar. Jadi bentuknya lebih kayak sebuah ruangan. Apa ada yang masuk sampai dalam banget? Kurang tahu, karena saya nggak masuk ke gua, cuma ngelihat dari luar aja. Lagipula, ada beberapa gua yang diberi gapura dan tampak ada beberapa barang di mulut guanya, jadi saya kira itu adalah area off-limit untuk pengunjung.

 

Ide berkunjung ke Gua Selarong sebenarnya bukan keinginan yang baru. Beberapa tahun sebelumnya sudah pengin ke sana, tapi perlahan lupa. Siang itu, waktu pengin jalan-jalan dan bingung ke mana, langsung kepikir ke Selarong aja. Lagipula saat itu saya lagi di tengah kota Yogya. Meski masih jauh, tapi nggak terlalu jauh kalau dibandingkan saya jalan dari Kaliurang, misalnya. Dan karena siang itu waktu kami terbatas dan emang niat untuk lihat-lihat aja (bukan yang menikmati banget atau ndelumuk ngamatin banget), jadi ya gas aja. Paling enggak, satu tempat tujuan sudah tercoret dari wishlist.

 

Kenapa ingin lihat jejak Pangeran Diponegoro? Selain alasan ‘terpatri di ingatan karena soal ulangan’ di atas, saya penasaran aja. Mungkin karena beliau salah satu pahlawan nasional yang terkenal. Mungkin karena tertarik dengan background beliau yang priyayi tinggi sekaligus santri, bangsawan yang nampak agamis hingga digambarkan selalu mengenakan surban, sebuah kombinasi yang termasuk jarang ditemui. Mungkin juga karena saya merasa aji mumpung: mumpung di Yogya, bisa sepuasnya menggali kisah budaya dan cerita serta tempat bersejarah yang sebelumnya cuma bisa saya dengar dan lihat dari buku pelajaran aja.

 

Menyaksikan sebuah tempat dengan mata kepala sendiri, setelah selama ini hanya tahu cerita atau fotonya aja, serasa … menakjubkan. It was magical. Semacam ada perasaan, “Wah … dulu dia berdiri di sini, lho” atau “Oh ini toh yang selama ini diceritain”.

 

Rasanya kayak bayanganmu terwujud, berbentuk nyata di depanmu.

 

Sebelum Selarong, sebetulnya ada keinginan ngelihat keraton Tegalrejo. Konon di sinilah Pangeran Diponegoro dibesarkan. Beliau baru meninggalkan Tegalrejo ketika Belanda menyerang keraton itu. Di peta, nama “Tegalrejo” masih ada, menjadi nama sebuah kecamatan di Kota Yogya. Di mana istana atau bekasnya? Menurut seorang petugas Keraton Yogya yang sempat saya tanya saat berkunjung ke keraton, istana Tegalrejo menjadi bangunan milik TNI sekarang. (Setelah ngecek lagi, ada yang bilang bahwa sudah jadi museum sekarang—Museum Sasana Wiratama—, bahkan bekas tembok yang dijebol Pangeran Diponegoro waktu nyelamatin keluarganya saat dikepung Belanda, masih ada.)

 

Gua Selarong termasuk markas utama pasukan Pangeran Diponegoro. Keluarganya pun turut tinggal di sini. Ada dua gua paling utama di area ini: Gua Kakung dan Gua Putri. Konon, Gua Putri adalah tempat tinggal untuk istri sang pangeran. Mungkin, karena sebagai tempat persembunyian, maka ‘pintu’ masuk guanya rendah-rendah. Supaya nggak mudah ditemukan meski di ketinggian, mungkin? Meski tentu hutan zaman itu yang lebih lebat daripada sekarang cukup bisa menyembunyikan. Dari ketinggian gua ini, terlihat dataran di selatan Yogya yang menghijau.

 

Pemandangan di Yogya bagian selatan


Perang antara Belanda vs Pangeran Diponegoro, yang dikenal sebagai Perang Jawa/The Java War/Java Oorlog dikenal sebagai salah satu perang yang membuat Belanda kalang kabut. Kerugian banyak, habis dana banyak. Kabarnya, Belanda sampai menarik pasukannya di Sumatra (yang sedang memerangi pasukan Tuanku Imam Bonjol *cmiiw) untuk bala bantuan.

 

Area Yogya sekitarnya menjadi arena pertempuran. Termasuk daerah Menoreh, yang sempat dibahas di postingan sebelumnya waktu main ke Punthuk Setumbu—dekat Candi Borobudur. Area utara Menoreh, yang termasuk daerah Kedu (sekarang Magelang), menjadi saksi penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Belanda sebelum beliau ditawan di Batavia (penjaranya di Kota Tua Jakarta) kemudian dibuang ke Makassar.

 

Seperti cerita-cerita sejarah lainnya, selalu ada sisi abu-abu dalam setiap kisah. Pun tentang perjuangan Diponegoro dan pasukannya. Mungkin sebagian kita tahunya adalah Diponegoro berperang dengan Belanda untuk kemerdekaan. Sebagian lain berpendapat bahwa perang ini dimulai dan berlangsung karena konflik kepentingan. Tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya pun, baik dari pihak Indonesia dan Belanda, tak lepas dari kemelut putih-hitam sosok manusia: ada saat menjadi heroine, ada saat menjadi villain. Seperti apa kisahnya? Wah, banyak. Apalagi, sumber dan metode penelusuran sejarahnya macam-macam. Jadi ada beragam versi.

 

Yah, hidup kayaknya memang gitu: selalu abu-abu.

 

Kenapa beragam versi dan kisah itu nggak diajarkan di buku sejarah sekolah?

Ya, karena itu tadi: banyak, panjang. Dan versinya macam-macam. Nggak cukup itu buku paket. Dan mungkin yang diberikan adalah versi ringkasnya aja supaya para siswa nggak bingung karena kebanyakan versi. Dan kalau dimasukin pun, ada beberapa jenjang yang pikirannya belum sanggup mencerna kisah yang kompleks dan pelik. Lah kita aja, orang dewasa, masih suka bingung kok kalau nemu cerita yang versinya banyak, apalagi anak kecil. 

 

Begitulah. Apa di daerahmu juga ada jejak/lokasi bersejarah yang kadang luput dari tujuan wisatawan? Sini bisikin, siapa tahu kapan-kapan kita bisa explore bareng :D


Para simbah dan dagangan mereka di dalam area
Gua Selarong: ada minuman, jajan, dan buah-buahan
seperti jambu dan ciplukan yang sudah dikupas

Reading Time:

Jumat, 28 Juli 2023

Bediding: Ketika Kemarau Justru Terasa Dingin
Juli 28, 20230 Comments

 

 

Siapa yang ngerasa akhir-akhir ini cuaca dingin meski langit cerah tanpa awan? Apalagi kalau malam. Siang boleh panas terik menyengat, tapi malam hari justru dingin menggigit. Beberapa mungkin juga merasa siang terasa adem meski matahari bersinar menyengat. Di beberapa daerah pegunungan, seperti Dieng dan Bromo, justru muncul es atau embun upas.

 

Fenomena ini disebut ‘bediding’ (atau bedhidhing) oleh orang Jawa. Bediding berarti awal peralihan musim hujan ke kemarau, ketika suhu udara justru terasa dingin. Nanti, ketika sudah betul-betul masuk kemarau, suhu sudah kembali ‘normal’ alias sudah panas lagi.

 

Mengapa masuk musim kemarau justru tambah dingin?

BMKG menyebutkan bahwa ini adalah efek angin muson dan efek ketiadaan awan.

 

Saat ini, angin bergerak dari Benua Australia ke Benua Asia sehingga melewati kita, Indonesia. Angin itu juga membawa udara dingin karena Australia sedang musim dingin sekarang. Ada yang bilang, ini juga berhubungan dengan axis alias sumbu bumi yang miring sehingga menyebabkan perbedaan musim di belahan bumi yang berbeda.

 

Sebab kedua adalah ketiadaan awan. Akibat sudah masuk musim kemarau, maka hujan dan mendung pun berkurang pesat. Tanah/bumi yang terasahangat saat siang karena disinari matahari, saat malam melepas panas yang ia terima (karena tidak ada matahari yang bikin tetap hangat). Ketika ada awan/mendung—di musim hujan—, panas yang dilepas ini akan tertahan di atmosfer bumi karena ‘tertutup’ awan sehingga suhu jadi rada mendingan. Namun, tidak ada awan/mendung saat kemarau. Panas yang dilepas bumi itu pun akhirnya betulan lepas ke luar karena tidak ada yang ‘menahan’. Akibat kehilangan panas, permukaan bumi pun jadi dingin sehingga kita—manusia yang hidup di permukaannya—ikut kedinginan.

 

Namun ini nggak berlangsung lama; hanya di awal peralihan musim aja. Kalau sudah betulan masuk kemarau, ya, panas-panasan lagi.

 

💡 Untuk yang suka main ke wilayah pegunungan, bediding jadi suatu hal yang harus diperhatikan. Memang cuacanya cerah sehingga pemandangan bakal jelas banget dan (relatif) jarang ketutup kabut atau risiko hujan, tapi dinginnya akan lebih dingin daripada suhu gunung biasanya. Karena alasan itulah tur ke Bromo yang saya ceritakan di sini mengatur keberangkatan mendekati subuh meski kami ingin lihat Milky Way dari ketinggian; karena khawatir peserta tur pada kedinginan.

 

Kala suhu rendah banget begini, di beberapa pegunungan bisa terbentuk es atau embun. Beberapa hari lalu hingga hari ini, ada berita muncul es di Bromo dan embun upas di Dieng. Fenomena ini menarik perhatian orang berduyun-duyun untuk melihat wujud es, benda yang hampir mustahil terlihat secara alami di daerah tropis yang panas. Di sisi lain, para petani pun harap-harap cemas karena embun es ini bisa merusak tanaman yang mereka budidayakan.

 

Dulu, saya heran ketika ada yang cerita soal kerusakan ini. Embun es, kan, nanti akan mencair juga. Toh nggak lama; tinggal tunggu matahari muncul dan es akan hilang. Setidaknya itu yang terjadi di Ranu Kumbolo, saat seorang teman bilang, “Ada es, lho, di rumput,” dan saya nggak menemukannya ketika keluar beberapa menit kemudian (yaa waktu matahari udah lebih naik, haha).

 

Jadi, kenapa embun es yang nanti akan kembali jadi air bisa merusak tanaman?

Apalagi tanaman yang kena, bisa jadi kering.

Lho, kan, es? Kok kering? Harusnya malah basah, dong, kan dari air?  Dulu saya bertanya-tanya kayak gini.



BAGAIMANA EMBUN ES MERUSAK TANAMAN 

Konon katanya embun upas adalah sebutan masyarakat Dieng untuk es yang muncul pada tanaman. Teman-teman saya yang nggak berasal dari Dieng tapi dari area Jateng lain juga menyebut demikian. “Upas” dalam bahasa Jawa berarti “racun”. Kata ini sudah masuk KBBI dengan makna racun dari pohon tertentu. Jadi, embun upas berarti embun yang “beracun” karena bisa merusak tanaman.

 

Ladang dan perkampungan di Dataran Tinggi Dieng,
dilihat dari puncak Gunung Prau


Embun es bisa merusak tanaman karena tanaman ini nggak terbiasa dengan suhu amat rendah. Kita bicara soal air di dalam tubuh tanaman sekarang, bukan air/es di luar yang simply nempel di permukaan. Es yang menempel di tubuh tanaman adalah sebuah indikator untuk kita bahwa suhunya lagi dingin banget. Artinya, suhu di dalam tubuh tumbuhan juga dingin banget.

 

Suhu rendah bisa membuat air dalam tubuh tumbuhan turut menjadi es, seperti embun upas di luar tubuhnya. Air dalam tubuh ini menjadi kristal es. Kristal ini bisa merusak sel tubuh. Akibatnya? Banyak. Kristal es ini bisa melukai sel dari dalam karena kristalnya yang tajam atau ‘mencepit’ sel-sel dari luar dengan bentuknya yang tidak beraturan. Ia juga bisa membuat konsentrasi internal sel meningkat karena nggak ada air (sudah jadi es). Ibarat sirup tanpa air, kental sekali, bukan. Kalau nggak salah, kata buku teks Biologi SMP/SMA inilah kondisi hipertonik. Lalu karena lingkungan sel yang terlalu ‘kental’, zat lain dalam sel bisa ikut rusak karena kondisi lagi dehidrasi alias kekurangan air. Lalu, jangan lupakan bahwa metabolisme sel sangat butuh air: untuk ‘mengalirkan’ zat, untuk mereaksikan zat, dll. Tanpa air, praktis proses metabolisme ini berhenti.

 

Metabolisme yang terhenti berarti terjadi gangguan tubuh. Kalau gangguan itu sangat kecil, mungkin bisa diatasi. Namun kalau banyak, ya, alamat tamat. 


Hal yang sama terjadi pada manusia. Di gunung-gunung tinggi bersalju, ada ancaman frostbite alias kerusakan jaringan sel, utamanya dekat permukaan kulit, akibat beku. Kalau beku/dinginnya sekujur badan, ya ... wassalam.

 

Balik ke tanaman. Tanaman yang terkena embun upas juga jadi kering karena airnya tidak ada. Airnya sudah membeku semua. Kering = nggak ada air (tersedia) dalam tubuhnya.

 

Sebagai catatan, es tidak selalu berarti basah. Konsep ini juga baru saya pahami waktu ada teman yang cerita dia harus pakai lipbalm, handbody, dan segala macam buat jaga kelembapan tubuh saat ia tinggal di negara yang sedang winter.

“Kalau nggak pakai, bibir atau kulit bisa pecah-pecah,” tuturnya.

Ia bercerita bahwa winter itu kering karena kelembapan udara rendah sekali. Memang salju/es itu dari air. Namun, itu itu juga berarti tidak ada air (atau minim kelembapan) saat winter karena sudah berubah jadi salju/es.

 

Konsep dingin basah ini sebetulnya juga bisa dilihat di Indonesia. Itulah sebabnya kalau naik atau main ke gunung, apalagi berhari-hari, disarankan pakai lipbalm karena bibir bisa dehidrasi lalu pecah-pecah. (Ketahanan orang beda-beda. Ada yang nggak pakai, baik-baik aja. Sebagian yang lain—contohnya saya—bisa pecah mengelupas bibirnya).

 

Perladangan di area sekitar Bromo-Tengger-Semeru: 
ada lahan yang belum ditanami (coklat) & sudah (hijau, bawah)
(Dan ya, securam itu ladangnya. Kalau saya pasti sehari aja
keliling ladang, ini kaki udah gempor  😄)


Di perladangan seperti di Dieng atau Tosari (Bromo), embun upas ini merusak tanaman kentang sehingga panen kentang menurun. Ada yang bilang batang-daun carica Dieng juga ikut kering. Sudah ada beberapa antisipasi untuk efek embun upas, seperti ditutup paranet atau diberi mist irrigation. Di negara empat musim yang memang bersuhu dingin, frost pada tanaman bisa diantisipasi dengan dibungkus atau ditanam di greenhouse. Masih ada cara lainnya juga. Beda cara, beda efektivitas, dan tentu beda cost produksi.

 

Tapi, kenapa ada tanaman yang nggak kenapa-kenapa meski kena embun upas juga, ya?

Simpelnya: karena sifat tumbuhan beda-beda. Ada tumbuhan yang tahan dingin, ada yang tahan panas. Thus, adaptasinya pun beda-beda.

 

Namun, apa yang membuat tumbuh-tumbuhan yang biasa hidup di tempat yang sama (say, di Dieng/Bromo), misal kentang, cemara, semak liar, ada yang mati kena embun upas tapi yang lainnya tetap hidup?

 

Kita kembali ke …

 


BAGAIMANA CARA ADAPTASI DI SUHU DINGIN 

Ada banyak cara makhluk hidup beradaptasi dengan lingkungannya, termasuk di suhu dingin. Bisa termasuk jenis adaptasi perilaku, seperti manusia yang pakai jaket tebal atau selalu makan yang berlemak. Bisa juga adaptasi bentuk tubuh (morfologi) atau proses dalam tubuh (fisiologi). Karena terlalu banyak, kita rada sempitkan ke bagian fisiologi aja.

 

Sederhananya, tumbuhan bisa tahan hidup di lingkungan beku karena dia punya metabolisme tubuh yang mengatur itu. Bisa dengan:

  • produksi zat tertentu (antifreeze agent) untuk mencegah pembekuan
  • menyetorkan nutrisinya ke bagian tertentu
  • 'menghibernasikan diri' (dorman)
  • mengurangi kandungan air dengan memindahkan ke bagian lain/melapisi tubuh dengan lilin/mempersempit permukaan
  • punya ‘sensor’ yang aktif ketika mendeteksi perubahan suhu
  • produksi enzim tertentu, dan
  • cara-cara lain yang belum dipahami sepenuhnya oleh kita, manusia. 

Mekanisme tumbuhan juga bisa beda antara mereka yang memang hidup di lingkungan dingin dan tumbuhan yang lingkungannya bisa menjadi dingin.


Adaptasi tumbuhan yang hidup di wilayah tropis, seperti di sini, beda dengan adaptasi tumbuhan yang memang hidup di negara yang dingin. Pun di negara yang dingin/4 musim, adaptasinya beda lagi dengan tumbuhan yang hidup di daerah yang hampir selalu tertutup es. Bervariasi banget. Itu baru di tumbuhan. Belum di hewan. Belum lagi di manusia.

 

Kita aja, yang sesama Homo sapiens, punya ketahanan dan adaptasi yang berbeda-beda. Padahal kita masih satu spesies. Apalagi kalau pada tumbuhan/hewan yang spesies bahkan genusnya lebih variatif lagi.


Buat apa tahu soal adaptasi beginian?

Tergantung orang/keperluannya. Kalau saya karena penasaran aja. Namun untuk orang-orang yang lebih serius, hal beginian bisa diaplikasikan untuk pengawetan makanan/benih pertanian, misalnya. Bisa juga buat memahami tanaman sehingga bisa antisipasi kalau-kalau suhu rendah, jadi tanamannya nggak rusak dan tetap bisa dipanen. Untuk antisipasi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, misalnya. Buat penggemar science fiction, bisa juga jadi 'pintu gerbang' menilik cryobiology alias pembekukan makhluk hidup untuk dihidupkan lagi. Kayak adegan di film-film: dibekukan terus hidup lagi berapa ratus tahun kemudian saat bumi sudah berubah atau saat di planet lain.



KEMBALI KE BEDIDING  

Kalau kata orang-orang tua, bediding berarti waktu ketika minyak klentik membeku. Katanya juga, ini musim pohon-pohon mangga mulai berbunga. Beberapa bulan lagi saat kemarau, buah segarnya sudah bisa dinikmati.

 

Mungkin dulu memang hal-hal seperti ini belum bisa dijelaskan. Apa hubungannya suhu dingin dengan buah mangga? Entah. Yang jelas, saat suhu berubah lebih menggigit, moyang kita memperhatikan bahwa pohon-pohon mangga mulai semerbak berbunga. Kini kita mungkin sudah tahu bahwa suhu itulah salah satu pemicu pembungaan mangga.

 

Dulu, kakek-nenek kita dan moyangnya membaca prakiraan cuaca dengan modal niteni alias memperhatikan kerutinan yang terjadi dari tahun ke tahun. Dari kerutinan inilah muncul prakiraan cuaca model lawas seperti pranoto mangsa pada masyarakat Jawa. Praktik niteni inilah yang menjadi salah satu patokan musim bertani.

 

Sekarang, dengan musim yang makin tak jelas batasnya akibat perubahan iklim cukup drastis, praktik memperhatikan tanda-tanda alam ini makin sulit dilakukan.



=====

Disclaimer:

Artikel ini bukan tulisan akademik, melainkan bacaan ringan saja. Beberapa poin bukan sesuatu yang pernah saya pelajari langsung/spesifik sehingga untuk penjelasan ilmiah silakan di-recheck ulang karena meski ada referensinya, bisa saja saya salah membaca/salah memahami sehingga salah menuliskan pula. Terima kasih!



=====


Source (linked italicised text):

Fajarlie, N. I. 2022. Kompas. Embun Es di Dataran Tinggi Dieng: Ancaman bagi Petani, Daya Tarik buat Wisatawan (kompas.tv) || Harmoko, I. W. 2021. BMKG.https://www.bmkg.go.id/artikel/?p=mencermati-periode-terjadinya-embun-upas-dan-bediding&lang=ID || Ritongga, F. N. dan S. Chen. 2020. Physiological and Molecular Mechanism Involved in Cold Stress Tolerance in Plants - PMC (nih.gov) || Simangunsong, W.S. 2023. Kompas. Embun Upas Muncul di Gunung Bromo, Suhu Capai 5 Derajat Celsius - Kompas.com || Wikipedia EN. Frost - Wikipedia || __. Cold hardening - Wikipedia || Wikipedia ID. Bediding - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas || * Terima kasih pada para dosen Thermomikrobiologi yang mengajarkan efek freezing pada sel


Reading Time: