Hijaubiru

Minggu, 20 Januari 2013

Tahta Mahameru
Januari 20, 20130 Comments
Judul : Tahta Mahameru
Penulis: Azzura Dayana
Penerbit : Republika
Tahun terbit: Maret 2012
Tebal :380 halaman

Buat saya, dari judul maupun cover-nya, novel ini catchy banget.

Novel yang menjadi novel terbaik kedua dalam lomba novel Republika 2011 ini nggak sengaja saya temukan ketika saya lagi ngubek-ngubek toko buku demi mencari sebuah buku agenda yang pas di hati. Bukan cuma buku agenda yang saya temukan, tapi juga lima novel yang semuanya bagus-bagus. Namun karena saya sadar dompet saya belum begitu tebal, yang berhasil saya gondol cuma buku agenda dan novel karya Azzura Dayana ini.

Bermula dari desa tertinggi di Jawa, Ranu Pani, novel ini menceritakan perjalanan tiga manusia (Faras, Mareta, dan Ikhsan) dengan karakter yang amat berbeda.

Faras, gadis lulusan SMA, pengajar di SDN Ranu Pani yang juga tumbuh di desa itu. Perangainya lembut, sopan, sabar, dan cerdas. Tipikal tokoh protagonis sejati. Ada pula Ikhsan, pendaki slengekan, sinis, dan suka berbuat semaunya. Baginya, persahabatan  tidak ada artinya. Hubungan sosial tidak berarti apa-apa. Ambisi terbesarnya cuma satu: membunuh ayahnya, orang yang ia anggap sangat bertanggung jawab atas takdir buruk yang menimpanya. Sedangkan Mareta, setipe dengan Ikhsan, namun tidak se-keterlaluan seperti Ikhsan.

Cerita berawal ketika Ikhsan dan Fikri mencari wisma untuk menginap sebelum mendaki Semeru. Mereka bertemu Faras, yang dengan senang hati menunjukkan rumah penduduk. Pertemuan Faras dengan Ikhsan, pendaki yang slengekan, sinis, dan suka berbuat semaunya, mengubah jalan hidupnya.

Eit, jangan dulu mikir bahwa nanti jadinya Faras suka Ikhsan, atau Ikhsan naksir Faras, tapi cinta mereka terhalang problema sebesar gunung Semeru. Bukaaaan! Sama sekali bukan! 

Ikhsan yang sekuler dalam urusan agama, pun apatis dalam memandang persahabatan, selama tiga tahun berturut-turut terus menghujani Faras dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, "Kamu bisa jelaskan padaku sebelas alasan kenapa aku harus shalat?", "Kamu tahu 'Tahta Mahameru'?" dan sebagainya. Pertanyaan terakhir Ikhsan cukup membuat dada Faras bergolak. Ikhsan bertanya apakah ia harus membunuh ayahnya.

Tahun berselang, Faras tak pernah bertemu Ikhsan. Ia hanya menerima foto-foto jepretan Ikhsan tentang perjalanannya traveling Indonesia. Namun, teringat pertanyaan terakhir Ikhsan, Faras memutuskan mencari Ikhsan, agar Ikhsan terhindar dari lumpur hitam yang menjeratnya.

Pertemuan Faras dengan Mareta di Borobudur tidak disengaja. Kedua wanita yang tak saling mengenal ini terlibat pembicaraan, kemudian menjadi kawan seperjalanan. Mereka menuju Sulawesi bersama-sama. Faras dengan misinya mencari Ikhsan (yang menurut email terakhirnya berada di Sulawesi) dan Mareta dengan niat traveling-nya.

Selama tahun-tahun tidak ada kontak dengan Faras, Ikhsan ternyata mengalami masa kelam. Ia yang ingin membalas dendam pada istri tua ayahnya karena dianggapnya sudah membunuh ibu kandungnya, malah masuk penjara. Di dalam penjara, ia menemukan cahaya.

Cerita diakhiri dengan Ikhsan yang kembali bertemu Faras di Ranu Pani (padahal dicarinya di Sulawesi, boo!). Mereka mendaki Semeru bersama ayah Faras. Di puncaklah Faras menjawab pertanyaan Ikhsan yang dulu membuatnya bingung : "Jika Mahameru adalah puncak para dewa, apakah Allah punya tempat di sana?"

Terus, apa spesialnya novel ini?

Memang pendeknya, novel ini mengisahkan perjalanan Faras mencari Ikhsan. Tapi, nggak sesimpel itu. Tentu aja ada nilai-nilai kemanusiaan bahkan agama yang tersurat. Banyak juga quote bagus di sini. Buat yang doyan traveling juga, lumayanlah referensi mengenai Makassar seperti kapal Pinisi, adatnya, pulau Selayar, dan semacamnya. Soal budaya dan perjalanan inilah yang bikin novel ini jadi favorit saya.

Salah satu hal yang bikin saya suka di sini adalah plot twist-nya. Clue-nya ada di si pengirim email perjalanan ke Faras. Kejutan ini dirangkai secara rapi sehingga kalau kita putar balik ke bab-bab selanjutnya maka baru nyadar: oooh ternyata iniii pertandanya. 

Namun, seperti novel-novel lainnya, Tahta Mahameru juga punya kekurangan. Beberapa masalah dan dialog terkesan agak kaku dan too good/too dramatic to be true. Beberapa hal yang bikin saya nggak sreg adalah cerita Ikhsan di penjara yang bertemu Yusuf. Yusuf ini kisahnya seperti Nabi Yusuf a.s. yang dibui karena difitnah menggoda atasannya. Kebetulan ini rasanya agak gimanaa gitu. Pun adegan balas dendam Ikhsan ke istri tua ayahnya. Dramatis, sih. Tapi kesannya terlalu... hm... sinetron, mungkin? Jadi agak polar gitu sama adegan-adegan lain yang rasanya ngalir lancar, alamiah, dan real. 

Terlepas dari hal-hal di atas, topik traveling, budaya, serta perjalanan mencari jawaban dan mengenal jati diri tetap jadi topik yang mendominasi. Dan, satu hal lagi, perjalanan mencari jawaban/jati diri di sini bukan cuma tempelan dan nggak cuma menyentuh permukaan kemudian dibikin puitis dan diromantisasi berlebihan (seperti novel perjalanan yang jamak di masa ini, ehm). Jadinya, lebih 'nendang' gitu pencarian jawaban/jati dirinya.

Jadi, hiking, travelling, agama, quote kehidupan, semuanya dirangkum jadi satu deh di sini!


----------------------

Desember 2013 lalu saya sempat ke salah satu toko buku gede. Di sana saya nemuin buku ini judulnya sudah diganti menjadi 'Altitude 3676'. Covernya pun diganti jadi pemandangan matahari terbit di jalur pendakian ke puncak Semeru.
Reading Time:

Selasa, 30 Oktober 2012

Kakak?
Oktober 30, 20120 Comments


Lampu jalan berwarna kuning memancarkan sinarnya yang keemasan, dipantulkan oleh comberan tepi jalan. Jalanan nampak sepi. Tak banyak kendaraan yang lalu-lalang. Yogyakarta sudah mencapai tengah malam.

Kakinya melangkah menyusuri trotoar, menghindari lubang-lubang becek bekas hujan sore tadi. Tangan dimasukkan ke saku, hood jaket menutupi kepalanya. Ransel di punggungnya berguncang-guncang pelan, searah langkahnya. Di sebuah perempatan, ia menyeberang.

Sekilas tak ada yang aneh darinya. Seseorang yang berjalan tengah malam menembus jantung bekas ibu kota Indonesia. Namun ia tahu, ada yang berbeda.

Aku tak tahu ke mana arah tujuanku.

Kakinya melangkah ke mana hatinya ingin melangkah. Tapi tanpa tujuan pasti.

Karena tujuanku sudah tidak ada.

Segerombolan pria duduk di tepi jalan, bersorak-sorak ramai. Bibir mereka keras meneriakkan nama-nama kartu. Sesekali tangannya mengarah ke atas, lalu dengan cepat melemparkan sebuah kartu remi ke tumpukan kartu di bawahnya. Setumpuk pendek uang diselipkan di bawah kursi. Olala, Las Vegas ada di mana-mana!

Ia melirik sejenak, lalu kembali fokus ke depan. Dalam kondisi normal, ia tak akan tinggal diam. Pasti akan diambilnya kamera dan membidikkan lensanya ke arah mereka. Tapi dalam kondisi seperti ini, rasanya kehilangan kameranya pun ia tak akan peduli.

Meski kamera itu kamera yang setia menemaninya. Meski kamera itu kamera favoritnya, karena tak pernah rewel dan hasilnya selalu memuaskan. Meski kamera itu selalu ikut serta memvisualkan memori yang tersimpan di otaknya.

Rasanya memoriku sudah hilang. Atau mungkin rusak. Sehingga semua yang kutahu tak lebih dari sebuah kesalahan.

Sebuah wajah meloncat keluar dari imajinya. Wajah yang tersenyum dengan rambut agak gondrong. Wajah yang mengaku tak bisa melepaskan diri dari kaos dan jeans belelnya. Yang mengaku tak pernah bisa lepas dari kamera pula.

Jantungnya seakan tercabut keluar saat melihat sosok itu setelah lima tahun. Bukan kejut bahagia yang ia rasakan. Bukan.

Kenapa kakak jadi begini?

Kalimat itu tak sampai hati ia lontarkan. Ia hanya tersenyum, menanyakan kabar, berbasa-basi. Lawan bicaranya pun sama saja. Menanyakan kuliahnya, sudah semester berapa sekarang, menanyakan kondisinya. Formal sekali.

“Meler terus! Kasih minyak kayu putih sana!” hidungnya dipencet.
Padahal pintu pagar baru saja dibuka. Bukan sapa yang dilontarkan, tapi kalimat seperti itu.
“Daripada Kakak! Cukur tuh rambut! Gondrong, kayak kuntilanak!” balasnya.
“Eh, gondrong-gondrong gini banyak yang suka!”
“Yee, tapi aku kan nggak suka!”

Jika dibandingkan dengan lima tahun lalu, orang tak akan menyangka mereka dua orang yang sama yang tersenyum di atas rerumputan Taman Biologi sambil memamerkan kameranya masing-masing. Yang begitu bertemu, pasti ramenya minta ampun sampai yang lain harus menyuruh mereka berdua diam.

“Kamera Kakak, mana?” tanyanya gagu, sekedar untuk memecah hening.
“Oh, aku sudah nggak main kamera lagi.”
Kaget. “Kenapa?” Bukannya Kakak yang dulu ngajarin aku supaya suka kamera?
“Sibuk, nggak banyak waktu buat main lagi.”
“Hari Minggu?”
“Mending dibuat istirahat.
“Selain itu...”

Dan kata-kata yang meluncur selanjutnya dari si lawan bicara membuatnya jatuh ke tanah.

Kata-kata yang, tak bisa ia percaya, keluar dari mulut orang yang sama yang dulu pernah berkata, “Kenapa aku suka motret? Pertama, buat memori. Dua, nambah koleksi. Dan tiga...,” ia menggoyang-goyangkan tangannya, “kamera itu jujur, obyektif. Dia bisa lihat apa yang mata manusia nggak mampu lihat. Atau seenggaknnya, pada akhirnya, menyadarkan manusia kalau penglihatannya salah”.

Dan ia tak suka karena kamera terlalu jujur? Karena kameranya tak menangkap kilat yang ia tangkap setiap melihat’nya’?

“Sesepele itu?”
“Mungkin.”
“Nggak ada alasan lain?”
“Mungkin nggak ada,” jawabnya cepat. “Mungkin juga ada.”

Jawaban yang mengambang. Yang ia tak bisa tebak. Jika orang yang di depannya orang yang sama seperti dulu, pasti ia akan mendapati dirinya mengejar-ngejar jawaban sekarang.

Tapi tidak. Dua sosok itu hanya diam di kursi masing-masing. Yang ingin ditanya menekuri layar komputer, yang ingin bertanya memain-mainkan jarinya. Yang ingin ditanya necis memakai kemeja, dasi, dan sepatu fantofel. Yang ingin bertanya masih memakai kaus, celana jeans, dan sepatu kets. Sama-sama diam.

Sampai ia mengucapkan salam. Pergi. Keluar ruangan.

Dan ia mendapati dirinya termangu di pagar besi sebuah jembatan. Kepala menumpu siku, mata memandangi arus Kali Code dari atas. Menyaksikan riak-riaknya keras terbentur batu-batu besar di tengah sungai.

Dibukanya tas, dikeluarkannya kamera, membidik laju sungai di bawah. Dengan keahliannya memotret, sungai yang aslinya berwarna abu-abu itu terlihat artistik. Hitam arus memantulkan warna langit, semburat oranye membiaskan lampu-lampu jalan.

“Karena kamera membuat yang tampak jadi lebih indah. Lihat ya,” sosok itu memotret sebuah pohon besar di Taman Biologi.
“Waaah,” bibirnya membentuk bulatan ‘o’ sambil memerhatikan gambar yang nampak di layar kamera. Pohon yang tadinya hanya berwarna hijau, sekarang bergradasi. Yang kanan hijau, yang tengah hitam siluet, yang kiri oranye terkena pantulan mentari senja.
“Bagus kan?” sosok itu tersenyum, bangga memamerkan kebenaran katanya.
“Aku mau dong, diajarin motret, Kak!”
“Oke! Kapan aja kamu minta ajarin!”

Betapa berbeda. Betapa berbeda. Betapa tak sama!

“Tapi, itu artinya kamera jujur kan, Kak?”
“Ya, tapi kadang dia bohong juga kan?”
Ia menggeleng tak mengerti.
“Yang jelek jadi kelihatan bagus, asal kita ahli.”
“Berarti bergantung orangnya kan, Kak?”
“Tapi, itu tetap bohong.”

Sebuah alur mengalir di pipinya, masuk ke sela bibir. Asin.

Sosok yang dikenalnya, sudah jadi orang lain. Tidak ada lagi panggilan sayang, tidak ada lagi tangan yang suka mengacak rambutnya. Tidak ada senyum ramah atau mata yang bersinar jenaka. Tak ada lagi semangat yang tampak menyala. Yang ada mata yang memandang penuh ketegasan, bibir yang lurus menampakkan kekakuan. Sarkas.

Ia sudah kehilangan kakaknya.

Aliran di pipinya bertambah deras. Dirogohnya saku, mencari sesuatu sebagai bendungan. Ia mengeluarkan sebuah sapu tangan kotak-kotak berwarna biru.

“Sampai kapan sih kamu mau meler terus?”
“Kakak kan tahu aku alergi dingin!”
“Hei, Lasem kan nggak dingin-dingin amat!”
“Kakak lupa kalau kita tinggal di gunungnya, bukan daerah pantainya?”
“Alasan!” kakaknya merogoh sesuatu dari tas, lalu meletakkan sapu tangan kotak-kotak berwarna biru di atas kepalanya. “Nih, sapu tangan, supaya nggak meler terus!”
---------------------------------------------------------------------------------------------

Kupejamkan mata ini mencoba tuk melupakan
Segala kenangan indah tentang dirimu, tentang mimpiku
Semakin aku mencoba, bayangmu semakin nyata
Merasuk hingga ke jiwa
Tuhan tolonglah diriku

Entah di mana dirimu berada
Hampa terasa diriku tanpa dirimu
Apakah di sana kau rindukan aku
Seperti diriku yang s’lalu merindukanmu
Selalu merindukanmu

Tak bisa aku ingkari engkaulah satu-satunya
Yang bisa membuat jiwaku tak pernah mati, menjadi berarti
Namun kini kau menghilang bagaikan ditelan bumi
Tak pernahkah kau sadari arti cintamu untukku?

(Hampa, Ari Lasso)


-------------------------------------------------------------------------------------------
Monggo dibaca, dipahami, direnungi #eh dan berikan tanggapannya di kotak bawah ini. Mohon saran juga ya. Suwun :)

Reading Time:

Selasa, 07 Agustus 2012

Semeru Masih Nomor Satu
Agustus 07, 20120 Comments

Aku kangen desir pasirnya
Aku kangen biru danaunya
Aku kangen bisik anginnya

Aku rindu gemerisik ilalangnya
Aku rindu pilas kabutnya
Aku rindu putih edelweisnya

Aku kangen Semeru

Aku kangen Semeru
Karena bagiku, dia masih nomor satu :')
Reading Time:

Senin, 09 April 2012

April 09, 20120 Comments
Bagaimana seseorang bisa berarti untuk orang lain?
Dengan membantunya? Memberinya materi? Memberi hadiah-hadiah?
 Nggak.
 Seseorang 'memberitahu' saya, bahwa

kehadiran saja sudah cukup


Kemarin habis lihat dorama, judulnya 'Papa to Musume'. Di situ ada seorang tokoh yang bernama Nakajima. Orang ini workaholic, terobsesi untuk menjadi pegawai yang perfect. Hingga saat ayahnya sakit pun, demi kemajuan perusahaan, dia lebih memilih untuk bekerja daripada menunggui ayahnya.
Atasannya marah, dan menyuruhnya pulang.
Esoknya, Nakajima pergi ke rumah atasan tersebut dan berkata, "Ayah saya sudah lebih baik. Katanya karena kehadiran saya, membuatnya sembuh".

Saat sedih pun, kita tidak perlu dihibur.
Kita tidak perlu diberi uang, untuk membuat kita senang
Oke, diberi materi memang bisa membuat senang
Tapi
Saat seseorang itu melihat kita sedih, 
Lalu dia duduk di samping kita
Bahkan tanpa dia mengatakan apa-apa
Itu sudah cukup kan?
Tanpa dia memberi solusi
Dia hanya mengelus pundak kita
Itu sudah membuat beban kita sedikit-banyak terangkat, bukan?

Mungkin kita tidak menyadari, kehadiran kita berarti banyak bagi orang lain

Tapi bagi 'orang lain' itu, mungkin kehadiran kita bisa meneteskan embun pada dahaganya.

Mungkin, bagi kita hanya datang, itu biasa

Tapi bagi mereka, mungkin itu sebuah pesta

Mungkin


Bahkan jika kita hanya

Sebuah bayangan
Reading Time:

Senin, 26 Maret 2012

Weekend
Maret 26, 20120 Comments
Weekend = ke sekolah (kegiatan SS) = di rumah (nganggur). Tapi alhamdulillah, minggu kemarin ternyata nggak! :D

Ternyata weekend kemarin saya berkesempatan kembali ke Watusemar, Trawas. Karena kekurangan motor, jadilah saya dan Bonita naik bus.

Rute kami ke Trawas dari Surabaya (via Pandaan):
Surabaya --> Terminal Bungurasih, naik bus ke Arah Malang
                  Turun di Terminal Pandaan, naik colt ke arahTrawas
NB: kalau naik colt, jangan di terminalnya ya. Soalnya pasti bakalan lama (itu colt nunggu sampai penuh dulu, baru berangkat). Tunggu aja coltnya di depan terminal, depannya pom bensin.

Nah, karena coltnya cuma sampai di pertigaan Trawas aja, maka kalau mau lanjut ke Trawas harus oper lagi. Opernya ojek. Dan FYI, mulai dari pertigaan itu sampai gang Arcalanang di Trawas yang kami tuju, jalannya kayak roller coaster.

Sampai gang Arcalanang, saya pun lega.

Mulailah kami treking ke Bukit Watusemar. Di sana sampai sore. Setelah matahari kelihatan seperti mau balik ke peraduannya, kami pun turun bukit.

Menuruni jalan tanah dengan seledri di kanan-kiri, pohon-pohon yang menjulang tinggi, guguran daun pinus yang mulai menguning, mendengar suara hewan hutan yang berkerik. 

Ah, entah kenapa jadi galau.

Dan kegalauan itu semakin menjadi saat teman-teman dengan ramainya bernyanyi, memecah kesunyian suci hutan ini.

Apalagi suaranya Pingka, yang tetap bernyanyi meskipun semuanya sudah diam. (Sepurane, Ping :P )

Hingga akhirnya......
Tiba-tiba saya menemukan diri saya sedang berjalan di sebelah si Pingka.

Dan sebuah ide gila terlintas.

Sebelum otak memutuskan syaraf-syaraf motorik untuk menutup mulut saya, mulut saya sudah terlanjur kebuka.

Dan parahnya, syaraf motorik lidah seperti tidak mendengarkan si otak juga.

Sehingga tanpa sadar saya melontarkan kalimat ini pada Pingka,
"Ping, nyanyi yok!"

Jadilah sepanjang jalan kami bernyanyi, teriak-teriak.
Padahal saya adalah tipikal orang yang lebih suka diam saat treking, untuk menyimpan napas supaya tetap kuat berjalan.

Ah, mumpung jalannya turun. Sesekali teriak-teriak di hutan toh nggak apa, suara liar membujuk napas saya tetap kuat.

Hei, teganya kamu merusak kesunyian hutan yang suci ini!, eh, suara saya yang lain, yang sering menemani saya treking.

Peduli amat sama napas, suara asli saya.

Dan saya tetap berteriak-teriak, membiarkan pita suara yang sudah lama tidak pernah dilatih ini bekerja kembali, menghasilkan suara yang serak-serak basah putus.

Entah kenapa, semua jadi kelihatan seperti sinetron.

Sekelompok anak manusia yang dikelilingi alam, nyanyi-nyanyi gila macam film India. Persis bayangan saya tentang drama-drama penguras air mata.

But, truly, I love this. I like this. Seems I miss this.

Waktu saya SD/SMP dulu, saya sering membayangkan betapa senangnya memiliki sekelompok teman yang suka jalan-jalan ke hutan. Yang menyayangi satu sama lain dengan tulus, lalu bernyanyi-nyanyi bersama.

Eh, kesampaian.

Sepanjang jalan saya dan Pingka berhasil menyelesaikan beberapa lagu. Antara lain: Gie, Cahaya Bulan, dan Bagaikan Langit-nya Melly yang saya gilai sejak SD (dan baru tahu judulnya  saat itu)

BAGAIKAN LANGIT - Melly Goeslow

Bagaikan langit di sore hari
Berwarna biru sebiru hatiku
Menanti kabar yang aku tunggu
Peluk dan cium, hangat 'kan untukku


Bagaikan langit di sore hari
Berwarna biru sebiru hatiku
Menanti kabar yang aku tunggu
Peluk dan cium, hangat 'kan untukku


Oh asmara
Yang terindah mewarnai bumi 
Yang kucinta menjanjikan aku 
Terbang ke atas
Ke langit ketujuh, bersamamu


Bagaikan langit di sore hari
Berwarna biru sebiru hatiku
Menanti kabar yang aku tunggu
Peluk dan cium, hangat 'kan untukku


Bagaikan langit di sore hari
Berwarna biru sebiru hatiku
Menanti kabar yang aku tunggu
Peluk dan cium, hangat 'kan untukku


Oh asmara 
Yang terindah mewarnai bumi yang kucinta
Menjanjikan aku terbang ke atas
Ke langit ketujuh, bersamamu


Oh dewi cinta
Sandarkan aku di bahumu
Ada kurasa rindunya hati, teredakan sudah
Hadirmu sayang, tenangkan diriku


Oh asmara
Yang terindah mewarnai bumi
Yang kucinta menjanjikan aku terbang ke atas
Ke langit ketujuh, bersamamu, oh oh...


Oh asmara
Yang terindah mewarnai bumi
Yang kucinta menjanjikan aku terbang ke atas
Ke langit ketujuh, bersamamu, 


Oh dewi cinta
Sandarkan aku di bahumu
Ada kurasa rindunya hati, teredakan sudah
Hadirmu sayang, tenangkan diriku


Oh asmara
Yang terindah mewarnai bumi
Yang kucinta menjanjikan aku terbang ke atas
Ke langit ketujuh, bersamamu 



Senang sekali Pingka mau ngajarin saya lagu itu. Suwun, Ping :D

Dan saat mas Brodin datang dengan HP-nya dan menyetel lagu ini, seakan-akan sepotong kenangan terlempar dari alam bawah sadar.


Menatap lembayung di langit Bali
Dan kusadari betapa berharga kenanganmu
Di kala jiwaku tak terbatas
Bebas berandai memulang waktu


Hingga masih bisa kuraih dirimu
Sosok yang mengisi kehampaan kalbuku
Bilakah diriku berucap maaf
Masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu
Oh cinta


Teman yang terhanyut arus waktu
Mekar mendewasa
Masih kusimpan suara tawa kita
Kembalilah sahabat lawasku
Semarakkan keheningan lubuk


Hingga masih bisa kurangkul kalian
Sosok yang mengaliri cawan hidupku
Bilakah kita menangis bersama
Tegar melawan tempaan 
Semangatmu itu
Oh jingga


Hingga masih bisa kuraih dirimu
Sosok yang mengisi kehampaan kalbuku
Bilakah diriku berucap maaf
Masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu
Oh cinta


Hingga masih bisa kurangkul kalian
Sosok yang mengaliri cawan hidupku
Bilakah kita menangis bersama
Tegar melawan tempaan 
Semangatmu itu
Oh jingga


Hingga masih bisa kujangkau cahaya
Senyum yang menyalakan hasrat diriku
Bilakah kuhentikan pasir waktu
Tak terbangun dari khayal keajaiban ini
Oh mimpi


Andai ada satu cara
Tuk kembali menatap agung surya-Mu
Lembayung Bali 


Yup, judulnya Lembayung Bali. Cocok diputar di senja hari. Bareng teman-teman. 

Well, what a day. What a weekend. What a MEMORY :')


Reading Time:

Kamis, 08 Desember 2011

Gie
Desember 08, 20110 Comments
Mau review film lagi nih. Setelah kemarin-kemarin bosan bukain video-video yang sudah sering saya tonton mulai dari Doraemon, Conan, film action, komedi, sampai drama, kebetulan ada teman nawarin film baru. Filmnya sudah agak lamaan sih, tapi tetap bikin saya penasaran dan akhirnya nonton juga. Apa sih, istimewanya film ini sampai bisa dapat tiga penghargaan sekalisgus dalam ajang Festival Film Indonesia 2005: Film Terbaik, Aktor Terbaik, dan Penata Sinematografi Terbaik.


Gie. Soe Hok Gie.
Para Pecinta Alam di nusantara pasti sudah nggak asing dengan nama ini. Ya, almarhum adalah salah satu pendiri Mapala UI. Almarhum? Ya, karena Soe Hok Gie sudah meninggal pada 16 Desember 1969 di titik tertinggi Jawa, puncak Semeru.
Film ini tidak mengisahkan pendakian-pendakian yang dilakukan Gie dan kawan-kawan (cuma ditampilkan cuplikan--cuplikannya saja), namun lebih kepada perjalanan hidup Gie. Gie dilahirkan sebagai seorang Tionghoa pada 17 Desember 1942 dalam keluarga yang 'biasa-biasa saja'. Sejak kecil, Gie telah menunjukkan sikap kritisnya. Dalam film, hal ini ditunjukkan dalam salah satu adegan debat dengan gurunya tentang sastra. Karena terlalu kritis, akhirnya Gie pun tidak naik kelas. Dia protes kepada gurunya. Protes kepada orang tuanya. Ia minta pindah sekolah. Ia yakin ia tidak naik karena sering berdebat dengan gurunya, akhirnya nilainya dikurangi. Dia yakin dia bisa, karena dia memang banyak membaca.
Akhirnya Gie pun pindah ke sekolah lain. Di sini pun dia masih tetap kritis. Namun gurunya tidak keberatan, malahan kagum dan senang pada siswa yang rajin dan kritis seperti Gie.
Gie pun memasuki bangku kuliah. Dia menuntut ilmu di Fakultas Sastra UI. Di sana, dia menemukan banyak sahabat. Seperti Herman Lantang, Ira yang cerdas dan juga sering menemaninya naik gunung, Jaka, atau Denny yang kocak.
Namun seiring berjalannya waktu, keadaan mulai berubah. Gie yang sejak kecil peka terhadap kesulitan rakyat kecil, semakin tidak suka saat mulai memahami permainan politik Indonesia. Gara-gara permainan 'orang besar', rakyat jadi makin tertindas. Apalagi saat parpol-parpol mulai menggunakan mahasiswa. Jadilah para mahasiswa terbagi-bagi menurut parpol yang mereka dukung. Mulailah Gie menyuarakan ketidaksukaannya melalui media-media.
Tidak semua orang menyukai Gie karena sikap kritisnya. Bahkan Jaka, teman Gie yang dulu akrab dengan Gie, sekarang malah memusuhi Gie. Di samping banyak orang yang mencoba menjegalnya, banyak pula yang memperebutkan Gie agar masuk ke dalam golongan mereka. Namun Gie menolak. Dia netral.
Puncak film ini adalah saat reformasi mahasiswa pertama di Indonesia: 1966. Ribuan mahasiswa berjaket almamater turun ke jalan untuk memprotes pemerintahan. Mereka menuntut Soekarno mundur dan PKI dibubarkan.
Film diakhiri dengan Denny yang memberikan surat titipan Gie sebelum ke Semeru pada Ira. Denny sekaligus memberitahukan bahwa ada kabar buruk dari Semeru. Ditampilkan pula sosok Gie yang duduk di savanna sendirian, menikmati alam. Seakan terlempar ke masa lalu, Gie bertemu dengan teman masa kecilnya, Han. Mereka lalu kembali ke masa kecil, ketika mereka bermain di laut. Di ketinggian, Gie melihat laut di kejauhan.
_________________________________________________________________________________

Film ini diangkat dari kisah hidup Soe Hok Gie sendiri. Bahkan, kisahnya pun diambil dari buku yang ditulisnya, Catatan Seorang Demonstran. Namun, kisah ini ditambahi sedikit. Misalnya saja Han, teman Gie yang diperlakukan buruk oleh tantenya dan akhirnya masuk ke dalam PKI, merupakan gabungan dari dua teman Gie asli, yakni Djin Hok dan Effendi. Kisah cinta dengan Sinta pun, juga merupakan tambahan 'benang merah' yang diselipkan dalam film.
Overall, film ini baguslah. Bisa dijadikan sebagai alternatif kalau kita lagi pengen tema yang serius. Bisa dianggap sebagai 'kebangkitan' dari krisis ide film di Indonesia.

Kalau ada yang mau soundtrack-nya, yang saya tahu cuma ini:
1. 'Cahaya Bulan - Octa' bisa di-download di:
2. 'Gie' bisa di-download di:
3. 'Donna-Donna' bisa di-download di:

Sutradara : Riri Riza
Produser : Mira Lesmana
Penulis : Riri Riza
Aktor/aktris:
#Nicholas Saputra
#Wulan Guritno
#Indra Birowo
#Lukman Sardi
#Sita Nursanti
#Thomas Nawilis
#Jonathan Mulia
#Christian Audy
#Donny Alamsyah
#Robby Tumewu
#Tutie Kirana
#Gino Korompis
#Surya Saputra
#Happy Salma

Sumber:wikipedia.org
Reading Time: