Pendakian Argopuro Part 2: Mata Air 1 - Cikasur - Hijaubiru

Minggu, 31 Agustus 2025

Pendakian Argopuro Part 2: Mata Air 1 - Cikasur


Hari kedua pendakian. Hari ketiga perjalanan. Pagi yang mendung menyambut kami yang bangun awul-awulan dari balik tenda, bersiap sebelum menuju Cikasur (±2.232 mdpl).

 

Sebelum meninggalkan Mata Air 1 (±1.800 mdpl) tentunya beres-beres dan sarapan dulu. Menu utama pagi ini adalah nasi dan ayam (dimasak kari lagi, kayaknya). Sisa minyak di nesting kami pakai buat ngangetin ayam goreng yang tersisa agar awet beberapa hari ke depan.

 

Jelang pukul tujuh, matahari akhirnya muncul. Hangat... Kami pun keluar tenda, meregangkan badan. Memanfaatkan panas yang ada, kami juga berjemur dan mengeringkan jas hujan, cover bag, dan barang apa pun yang kemarin kuyup kehujanan.


Dalam terang barulah kami bisa melihat bentang alam pos Mata Air 1 dengan jelas. Tempatnya terkungkung di tengah hutan. Pepohonan tinggi memayungi trek dari sengatan matahari, menciptakan siluet gelap. Keheningan pagi hanya dipecah oleh kicau burung liar tanpa suara aktivitas manusia sama sekali. Kami udah makin masuk rantai pegunungan Yang-Argopuro, bila menilik bukit (atau gunung?) yang berdiri di seberang tapi bentuknya terlihat jelas. 

 

Pagi dan pelangi di pos Mata Air 1, Argopuro

Dan, oohh... Lihat itu di gunung seberang. Ada pelangi!

Nggak pernah saya lihat pelangi sedekat ini.

 

Posisi pelangi itu sejajar tempat kami berdiri. Bias warna-warninya seolah bisa diraih tangan. Padahal umumnya lihat pelangi, kan, mendongak ke atas. Namun ini ngelihat ke depan; lurus. Saya tak henti melihat warna-warni bias cahaya itu. Terpesona. Tanpa sadar bibir saya turut melengkung senyum seperti busur pelangi.

 

Pagi, pelangi, bukit hijau, dan hutan.

Awal yang indah untuk pendakian yang panjang. Hari ini perjalanan kami akan melalui Mata Air 2 – Sabana/Alun-Alun Kecil – Sabana/Alun-Alun Besar – Sungai Kolbu – Cikasur. 


[ NB: meski hal-hal terkait kebumian dan sejarah diambil dari referensi, bisa jadi dalam tulisan ini ada yang keliru sebab saya salah tulis, salah memahami, atau keliru ambil sumber. Mohon maaf bila ada ketidaktepatan, pembaca disarankan check dan recheck ke sumber yang lebih kredibel ]

 

[ Disclaimer: karena pendakian ini udah bertahun-tahun lalu, pastinya ada hal-hal atau info yang udah berubah seperti peraturan dsb. Harap cek info terbaru dari laman resmi Dataran Tinggi Yang dan ikuti peraturan terkini ]



Seperti biasa, posting-annya panjang. Daftar isi ini tujuannya memudahkan kalau ada yang cari bagian tertentu, tinggal klik aja. Masih di halaman ini cuma beda part aja.

 

 


Monyet di Mata Air 1

Sambil packing, beberapa orang turun ke mata air untuk ngisi botol, tapi kembali dengan tangan kosong karena air sumbernya keruh.

 

"Mungkin karena hujan kemarin deras banget, tanahnya kebawa air," kata Candra.

 

Hm... bisa jadi.

 

"Bisa jernih kalau ditunggu mengendap, tapi lama." Ia tunjukkan botol berisi air yang mulai bening. "Mending nggak usah aja, ya?"

 

Kami menghitung persediaan air yang tersisa. Masih banyak. Insyaallah cukup sampai ketemu Sungai Kolbu di Cikasur nanti. Hujan deras kemarin cukup membantu ternyata, karena kami jadi nggak gampang haus sehingga nggak banyak minum. Barulah air banyak dipakai saat masak. Hemat, deh!

 

Kembali packing, ngebolak-balik jas hujan, sampai kemudian... o-oh, ternyata kami nggak sendirian.

 

Beberapa makhluk berbulu abu-abu mendekat dari balik semak-semak. Ekor panjangnya berayun-ayun saat mereka melompat dari dahan ke dahan.

 

Monyet!

 

"Buruan sampahnya ditali!"

 

Kami buru-buru menyimpan kresek sampah yang sedang terbuka, memasukkan barang-barang yang belum ter-packing ke tenda, dan terutama membereskan alat makan dan mengamankan bahan makanan.

 

Kayaknya monyet-monyet itu terpancing muncul karena aroma sarapan kami. Menu pagi itu emang bikin ngiler dan pengin nambah lagi dan lagi, sih.

 

Kami berusaha menghalau beberapa monyet supaya nggak mendekati tenda. Melihat kami yang berjaga di sekitar dome tanpa bergerak lama, primata itu akhirnya mundur balik ke semak.

 

"Mau ngusir juga sungkan, ya. Kan ini rumah mereka. Kita cuma pendatang numpang lewat," ujar Musa.

 

Kami berdehem setuju.

 

Menurut cerita bapak polhut kemarin, di pos Mata Air 1 memang lazim ketemu monyet. Hewan-hewan itu udah terbiasa dengan manusia yang singgah di sini. Makanya pendaki harus hati-hati supaya barang bawaannya nggak diambil.

 

Para pendaki nggak boleh ngasih sedikit pun makanan ke hewan-hewan ini. Kenapa?

Bukan pelit atau alasan hemat logistik, tapi demi monyetnya sendiri.

 

Makanan mereka beda dengan kita sehingga nggak boleh dibiasakan mengonsumsi makanan manusia. Nggak boleh dibiasakan dikasih pula supaya nggak menggantungkan sumber makanannya ke manusia. Hewan liar di ekosistem yang sehat nggak boleh tergantung manusia.

 

Nggak sehat buat hewannya, buat ekosistemnya, nggak baik pula untuk relasi monyet-manusia karena berpotensi nimbulin konflik ke depannya. Oleh karena itu pendaki harus bisa jaga barang bawaan dan bijak sampah. Jangan sampai ngasih makan atau ninggalin bekas yang bisa dimakan hewan liar.

 

Ini masih monyet. Di pos-pos depan yang lebih masuk pegunungan, hewan lain pun bisa mendekat kalau makanan nggak dibungkus baik-baik. Termasuk yang buas.

 

"Heiii!" Terdengar pekikan manusia.

 

Kami sontak menoleh. Seekor monyet rupanya berhasil mendekat ke tenda. Mendengar pekikan itu, ia langsung lari balik ke semak-semak... tapi sambil menggondol sesuatu.

 

"Lhooo bajuku!" Lila menjerit.

Waduh, itu monyet kabur bawa kresek berisi satu set baju Lila.

 

Buru-buru Lila mengejar monyet itu ke semak-semak. Tahu dia dikejar, si monyet lari tunggang-langgang; meninggalkan buntalan yang memperlambat pelariannya. Susah-payah Lila mbrasak semak di pinggiran curam untuk mengambil barangnya. Dan berhasil! Fyuh...

 

Kejadian cepat itu rasanya berlangsung pelan dan detail bak adegan slow motion.

 

Setelah itu kami langsung beberes lebih cepat. Itu pun masih kecolongan: kresek berisi gula dan kopi berhasil digondol pergi. Hiks!

 

Seekor monyet bertubuh lebih besar tinggal lama di dekat tenda. Mungkin pemimpinnya? ‘Bakal lama, nih, kalau nungguin dia pergi’. Akhirnya kami bergiliran ganti baju dan packing, sementara Musa dan satu orang lain berjaga di luar sambil terus membujuk si monyet supaya meninggalkan kami.

 

Monyet di Mata Air 1. Nggak berhasil ambil makanan, dia memilih nyemil rumput.

Agak lama, makhluk berekor panjang itu kahirnya pergi.


Setelah camp bersih, kami langsung tancap gas. Takut keburu diikutin.



Menuju Cikasur

Matahari sudah agak tinggi saat kami mulai jalan. Namun karena mendung, panasnya jadi nggak terlalu menyengat kulit.

 

Sebelum menuju Cikasur, kami harus melewati pos Mata Air 2 (±2.132 mdpl) terlebih dulu. Kali ini trek diawali dengan medan yang mirip dengan kemarin, yaitu jalur tanah yang mendaki terus ke atas. Kadang ada turunan, tapi lebih sering naiknya. Tanah liat itu licin saat dipijak.

 

Setelah 2,5 jam mendaki, kami sampai di Mata Air 2. Sempat rehat sejenak dan minum sambil berkelakar, “Nah, kan, minumnya cepat habis kalau nggak hujan, hahaha.”

 

Perjalanan dilanjut dari Mata Air 2 ke Sabana Kecil. Setelah ini medannya pun masih naik-turun tapi lumayan berumput sehingga nggak terlalu licin.

 

Gerimis turun kemudian. Belajar dari kejadian kemarin, kali ini kami langsung mengenakan jas hujan. Benar aja. Beberapa menit kemudian, hujan turun dengan bulir lebih besar. Langsung deras!

 

Hari ini medannya nggak melulu naik seperti kemarin. Ya naik-turun, sih, tapi rasanya nggak sesusah kemarin. Trek bagian ini rasanya lebih kayak menaiki dan menuruni bukit berkali-kali. Nanjaknya ada, tapi 'bonus' turunan atau tanah datarnya juga banyak. Yesss!

 

Saat bertemu trek 'bonus' ginilah yang bikin senang. Hitung-hitung ngistirahatin kaki, hehe. Ditambah hujan, jadi makin nyaman jalan, deh.

 

Waktu itu sebenarnya hujan turun sama derasnya seperti kemarin. Bulirnya besar-besar sampai mengaburkan pandangan. Sekujur tubuh jas hujan udah basah kuyup kayak kemarin pula.

 

Di tahap inilah saya udah pasrah sama hujan, hahaha :’) Udah nrimo, kalau emang harus kehujanan terus sepanjang pendakian sampai hari terakhir, ya udah. Udah nggak apa-apa kalau badan dan isi carrier jadi lembap. Pikir saya, toh baju dan sleeping bag dalam kresek/pouch tetap kering, toh masih bisa dipakai, toh kemarin malam tendanya aman dan bisa istirahat cukup nyaman. Toh perjalanan kemarin yang super berhujan juga bisa terlalui dengan baik, toh? Jadi... ya sudahlah.

 

Toh, jalan di tengah hujan ternyata enak juga. Sejuk.

Nggak perlu istirahat lama-lama.

Nggak terasa panas.

Nggak butuh minum banyak-banyak.

Thus lebih hemat waktu dan energi.

 

Nggak kebayang kalau jalan ketika cuaca terik menyengat. Berapa botol yang akan kami teguk sekali jalan?

Berapa lama istirahat yang kami butuhkan karena sendi-sendi kaki terasa panas dan tubuh berkeringat habis-habisan?

 

Pada tahap ini, saya sudah agak berdamai dengan hujan saat pendakian; nggak seperti biasanya yang langsung bad mood saat ada rintik sedikit aja.

 

Kayak hidup, ya? Mau ngapain lagi coba saat hidup diterpa ujian, selain terus dijalanin aja? Menerima sambil menavigasi gimana caranya melewati badai yang sedang menerpa. Menavigasi supaya nggak cuma survive tapi tetap on course ke titik tujuan (ini sih yang susah, karena kadang buat survive ‘doang’ aja setengah mati upayanya). Rasa-rasanya pendakian emang ‘miniatur’ kehidupan; sama-sama perjalanannya, kan.

 

Okayyy, balik ke pendakian.

 

Hari kedua ini hujannya nggak non-stop kayak kemarin. Ada jeda ketika ia berhenti cukup lama, menyisakan gerimis halus yang lembuuut banget menyaput pipi. Kala reda itulah pemandangan alam sekitar mulai tersingkap.


Padang rumput mulai mendominasi. Masih banyak pepohonan tapi tak setinggi dan serimbun di hutan tadi. Di belakang pohon-pohon besar itu, bersanding bukit-bukit yang berdiri memeluk padang savana. Kami nggak tahu seberapa gede perbukitan itu karena sebagian besar tubuhnya tertutup kabut.


Sabana berkabut. Foto nggak kelihatan jelas gara-gara kamera HP berembun.

Semakin dalam masuk ke pegunungan, hewan dan tumbuhan yang ditemui pun makin variatif. Pemandangannya juga makin macam-macam. Hutan aneka tipe, padang rumput, mulai muncul perbukitan layaknya di Teletubbies (tapi yang ini bukitnya lebih guedeee). Ini masih di awal perjalanan, apalagi nanti. Ada puncak berkapur, bekas bandara dan markas tentara Belanda, candi-candi.

 

Nggak sabar pengin lihat, euy!

(Eh tapi kudu sabar karena jalannya masih lama lagi, hahaha.)



Hewan/Bunga Apa, Tuh?

Seiring langkah kami yang berderap melintasi padang rumput, detail ekosistem sabana tersibak: rumput, bunga, hingga faunanya. Sebuah surga observasi bagi pengamat alam liar.

 

Ada rumpun bunga berwarna biru elektrik di dekat jalur pendakian. Bunganya hampir seukuran telapak tangan. Sekilas seperti sejenis dahlia atau aster liar. Birunya cerah banget hingga kembangnya kelihatan dari beberapa meter jauhnya. Sayang nggak sempat motret karena hujan.

 

Nggak pernah saya ngelihat bunga liar secerah itu dan sebagus itu sebelumnya.
Di trek pendakian, lagi! Biru, lagi! Jarang-jarang ada bunga yang warna aslinya biru.

 

Ada pula rumpun berbunga oranye. Kali ini bisa ngelihat rada dekat karena letaknya pas di tepi jalan. Kembangnya seukuran jempol, berbentuk seperti terompet-terompet mini berkelir peach yang muncul dari satu tangkai yang sama. Daunnya panjang sejajar seperti daun padi-padian. Jadi ingat bunga snapdragon. Tapi masa iya? Setelah beberapa penelusuran (setelah pulang, pastinya), kayaknya lebih condong ke sejenis bunga gladiol/gladiolus.

 

Kayaknya baru kali itu saya ngelihat bunga-bunga dengan warna mencolok saat hiking. Ukurannya lumayan gede pula! Bukan bunga rumput liar tapi udah kayak bunga di florist-florist. Senang banget bisa menyaksikan bunga liar lokal di habitat aslinya!

 

Di perjalanan beberapa hari selanjutnya, lebih banyak lagi flora aneka bentuk dan warna yang kami temui sepanjang jalur pendakian.

 

Ketemu, melihat, dan mengagumi dari jauh udah cukup. Nggak perlu dipetik. Let them grow and thrive and brighten the forest floor.

 

Beberapa flora liar yang sempat tertangkap kamera. Dari kiri atas ke kanan: dandelion, gladiol(?) liar, selada air, verbena | Foto nggak jelas karena sambil jalan berkejaran dengan hujan

Apa hanya tumbuhan? Nggak, dong.

Sesuai statusnya sebagai suaka margasatwa, Pegunungan Yang-Argopuro juga ngasih kita kesempatan bertemu dengan beragam hewan yang jarang ditemui di jalur pendakian lainnya (kalau hoki).

 

Sejak kemarin malam terdengar suara anjing menyalak. Mungkin anjing hutan.

 

Beberapa kali kami melihat bayangan hitam kecil lari melesat di antara rumput-rumput tinggi. Macam di kartun Bugs Bunny. Tensi kewaspadaan pun meninggi. Itu hewan apa? Bahaya, nggak? Karnivor, nggak?

 

Kami berhenti sejenak, mata kami nyalang menatap sudut-sudut pohon dan semak. Terdengar suara yang sekilas seperti kombinasi kokok ayam dan jeritan melengking. Sebuah bayangan hitam berlari cepat melintasi sabana. Saking ngebutnya sampai kelihatan ngeblur!

 

Oh, ayam hutan!

 

Sejak awal perjalanan suaranya sudah terdengar, tapi kami ragu itu ayam atau burung lainnya. Habisnya suaranya beda banget dari kokok ayam peliharaan.

 

Baru kali ini saya lihat (dan ketemu) ayam hutan. Amazed!

 

“Pasti dagingnya sedikit,” celetuk seseorang.

 

“Pasti dagingnya alot.”

 

“Iyalah, larinya aja kenceng gitu, ototnya pasti kebentuk. Beda sama ayam broiler peternakan,” sahut yang lain. Saya langsung kebayang ilustrasi ayam dengan otot besar bak binaragawan, LOL.

 

“Ayam kampung aja dagingnya alot, ya, apalagi ayam hutan.”

 

“Dia sehat soalnya, tiap hari naik-turun gunung. Lebih sehat itu ayam daripada kita, hahaha.”

 

Tawa kami pun pecah. Dibanding manusia (baca: kami 😄) yang lebih sering berada dalam ruangan dan wira-wiri pakai kendaraan, emang betul.

 

Makin mendekati plateau, pemandangan makin didominasi rerumputan dan semak. Rumpun pakis Gleichenia menyembul di beberapa petak. Tumbuhan yang pucuk tunasnya bisa dimakan (edible) ini nampak makin segar dibasuh hujan. Kadang sambil jalan, saya iseng menyentuh ujung daunnya yang basah dan dingin.

 

Hujan sudah benar berhenti. Saya melirik jam tangan, ternyata udah lewat tengah hari. Nggak lama kemudian kami berhenti untuk makan siang.

 

Menu makan siang sederhana aja: biskuit tebal dan roti, nyemil cokelat/madu atau sumber ‘gula’ lainnya, plus minum air atau susu. Karena perjalanan ini makan waktu lama maka kami putuskan nggak masak supaya nggak kemalaman di jalan. Kami menghindari jalan malam karena trek Argopuro cukup berisiko.

 

Biskuit tebal dan roti yang dikonsumsi memang banyak supaya kenyang. Biskuitnya pun bukan biskuit yang biasa jadi makanan ringan, tapi biskuit padat yang dipotek aja susah. Kami menyebutnya gabin; mungkin ada yang nyebut hardtack atau ‘biskuit TNI’ (meski bukan merk Gabin ataupun ransum TNI). Kecil, tapi padat dan kenyang.

 

Kami duduk lesehan begitu aja di atas padang rumput yang basah. Ya udahlah ya, wong jas hujannya juga udah kuyup, hehe.

 

Ketika kami mulai jalan lagi, terdengar dengung lebah di samping kuping. Tapi… gede banget? Apa ukuran flora-fauna liar di alam emang secara natural lebih gede daripada di kota? Karena lingkungannya lebih sehat dan oksigennya lebih banyak, mungkin?

 

Lebah itu mengikuti kami agak lama. Dari ukurannya kayaknya bukan lebah, tapi tawon. Untunglah dia nggak terbang dekat-dekat banget. Sama seperti pendakian Junghuhn yang hari keduanya juga diikuti tawon.

 

Bicara soal Junghuhn, di pendakian hari pertamanya juga hujan deras dan petir sampai tanah yang cokelat berubah jadi lumpur, tuturnya. Mirip sama hari pertama kami kemarin. Apa iklim lokal di sini memang begitu ya dari tahun ke tahun, abad ke abad? Padahal pendakian Junghuhn udah lebih dari 150 tahun lalu.

 

Curah hujan per tahun di sini memang tinggi, so nggak heran kalau daerahnya selalu basah. Temperaturnya pun seringkali rendah; cuma angka belasan.

 

Langkah berayun. Entah sejak kapan, sayup-sayup terdengar alunan lagu. Nggak kencang. Bahkan liriknya pun cuma terdengar sepotong-sepotong karena suaranya timbul-tenggelam.

 

Hello from the other side~

I must have called a thousand times

 

“Ada yang nyetel lagu ta? Atau ada yang HP-nya bunyi?”

 

“Aku nyetel musik supaya nggak ada hewan dekat-dekat,” jawab Zaka yang berjalan paling belakang.

 

Karena kami mulai memasuki area yang mulai banyak hewan liarnya (bahkan ada macannya…) maka kami berusaha lebih awas. Alasan Zaka masuk akal dan memang membantu: harapannya kalau ada hewan liar mendekat atau berpapasan, hewan itu mendengar suara kami dulu sehingga dia menghindar.

 

Cara ini mengingatkan saya pada sebuah artikel hiking sebuah area di AS. Karena di daerah itu ada banyak beruang maka rombongan pendaki diimbau menggantung lonceng di tasnya. Harapannya, dentang lonceng jadi penanda untuk beruang bahwa ada manusia di dekatnya sehingga dia menghindar atau berhenti dulu, sehingga beruang dan manusia nggak bertemu thus nggak saling melukai.

 

Ada yang pernah bilang, default-nya hewan itu nggak mau ketemu manusia. Mereka antara malas atau takut sehingga sebisa mungkin menghindar (kecuali kepepet).

 

Mengapa? Karena manusia cenderung ngeri nature-nya. Konfrontatif. Badan kecil tapi nekat, cerdik, dan berani ngadepin hewan yang lebih besar. Salah-salah malah hewannya mati diburu atau dibunuh. Hewan-hewan udah malas ketemu kita duluan. Jadi kalau ada pertanda manusia lewat, misalnya dari suara lonceng atau lagu—meski sayup-sayup, indra pendengar mereka jauh lebih peka—, mereka akan berusaha supaya nggak bertatap muka dengan manusia.

 

Nggak semua hewan begitu, tentu. Maka kami ambil langkah untuk jaga-jaga. Jadilah sayup suara Adele menemani kami sepanjang perjalanan hari itu.

 

Hello from the other side~


When can we meet the other side of this plateau, indeed.

 


Sabana Besar dan Kecil:

... sebuah alun-alun luas di tengah hutan.

Jika sudah bertemu banyak padang rumput, tandanya para pendaki sudah dekat dengan Alun-Alun. Yup, di Argopuro memang ada tempat dan checkpoint/pos yang namanya itu. Ada dua malah: Alun-Alun Kecil dan Alun-Alun Besar. Ada juga yang nyebut Sabana Kecil-Sabana Besar. Orang Belanda menyebutnya Kleine atau Groote Aloen-Aloen.

(kleine = kecil, groote/grote = besar)

 

Selepas Mata Air 2 sebenarnya udah banyak sabana. Namun nggak begitu terbuka; masih dilingkupi bukit. Makin dekat Alun-Alun (thus makin dekat Cikasur) barulah savananya lebih luas dan lapang.

 

Satu savana ke arah Alun-Alun Kecil


👉Sekilas trivia!

Mana yang ejaan baku: sabana atau savana?

Kalau sesuai KBBI, yang benar sabana sedangkan savana adalah ejaan tidak baku (terjemahan dari ‘savannah’-ENG). But in this writing I took the liberty to use both just because I’m familiar with them, hehe.

 

Sekitar 3,5 jam setelah Mata Air 2, kami sampai di sebuah padang rumput cukup luas. Dibilang cukup karena lebar, tapi masih dipagari perbukitan di kejauhan. Pohon-pohon masih bergerombol seperti hutan mini. Sepertinya inilah yang disebut Alun-Alun Kecil itu.

 

Sesungguhnya karena saking banyaknya savana yang muncul-hilang sepanjang pendakian hari ini, kami nggak tahu apa betul ini yang disebut Sabana Kecil atau bukan, haha. Merujuk data elevasi di GPS, sih, betul.

 

Oke lanjut. Jalanan masih sama seperti sebelumnya. Kalau nggak padang rumput, ya masuk hutan sedikit. Kadang naik, kadang turun. Karena hujan, turunnya cukup licin. Namun tanjakannya nggak curam-curam banget, kok.

 

Satu jam kemudian kami sampai di padang rumput yang lebih lapang. Pohon-pohon dan perbukitan makin berjarak di kejauhan. Ah… apa ini yang disebut Alun-Alun/Sabana Besar?

 

Sore jatuh kala kami sampai di Alun-Alun. Khawatir keburu magrib jika perjalanan dilanjutkan, kami putuskan shalat jamak-qasar di sini. Matras setengah basah menjadi sajadah. GPS dan kompas jadi pengarah kiblat karena matahari ngumpet di balik mendung tebal. Badan berusaha tetap berdiri teguh meski kadang terayun menggigil akibat diterpa angin dan rintik sedingin air es.

 

Kelar shalat, sambil beberes kami melayangkan pandangan ke sekitar. Kagum ada sabana seluas ini di tengah gunung, di balik hutan yang rimba.

 

“Kenapa namanya ‘Alun-Alun’, ya?” ujar seseorang.

 

“Mungkin karena ukurannya luas banget kayak alun-alun.”

 

Yang lain menanggapi, “Aku mikirnya malah dulu ada alun-alun di sini.”

 

“Iya, ya, ceritanya dulu kan Argopuro masuk daerah kerajaannya Dewi Rengganis. Apa alun-alun kerajaannya di sini?”

 

Cerita rakyat yang beredar di wilayah Pegunungan Yang-Argopuro dan sekitarnya memang menceritakan sosok Dewi Rengganis. Versinya macam-macam, tapi intinya selalu sama: Dewi Rengganis adalah seorang ningrat dari Majapahit yang tinggal di Argopuro dan mendirikan kerajaan di gunung ini. Seantero Argopuro adalah wilayah kekuasaannya. Istananya ada di Puncak Rengganis. Di sanalah ia dan para pengikut setianya tinggal hingga moksa. Konon sampai sekarang sang dewi masih mengawasi daerah ini. Bahkan ada cerita-cerita magis tentang kemunculan sang dewi di sini.

(cerita lebih lengkap nanti kalau kita udah sampai di puncak 😉 Menyusul di part []🔗 part 4: Rawa Embik - Puncak)

 

Sabana Besar kah ini...


“Kalau bekas istananya aja sekarang masih ada, mungkin/nggak kalau bekas alun-alunnya juga tersisa? Cuma udah nggak ada bangunannya aja.”

 

Percakapan dan spekulasi kami berbalas-balasan.

 

“Tapi masa alun-alun jauh dari istana? Biasanya kalau di Jawa, kan, alun-alun ada di dekat pusat pemerintahan.”

 

“Nggak tahu… Apa ini alun-alun buat keperluan lain? Di dekat puncak, kan, udah ada Sabana Lonceng. Bisa tuh buat alun-alun.”

 

Daaaan sederet spekulasi lainnya. Sampai pada obrolan alun-alunnya kenapa dijadiin dua, apa kalau banyak rumput begini dulunya rakyat diizinkan angon sapi/ternak di sini, apa mungkin di zaman itu di sekitar padang rumput ini ada rumah-rumah penduduk. Sekejap terbayang joglo atau pendopo kayu menyembul ganjil di tengah hutan yang rapat. Namun tetap nggak bisa ngebayangin gimana caranya—hebatnya—mereka yang membangun kerajaan di tengah hutan. Di zaman dulu, lagi.

 

Keberadaan kerajaan dan kota kuno ini pun masih jadi perdebatan. Ada yang berpendapat bahwa itu sekadar mitos lokal, ada juga yang bilang benar adanya tapi karena udah zaman duluuu banget maka benang kebenarannya udah terjalin dengan cerita lain dari mulut ke mulut sehingga jadi nggak akurat.

 

Apa pun itu, sejarawan masa kini masih terus menggali. Soalnya banyak cerita lokal yang kalau dipikir dengan perspektif zaman ini kayaknya too good to be true, tapi setelah ditelusuri ternyata memang pernah terjadi. Memang susah penelusurannya karena banyak kiasan atau versinya beragam. Tabik pada para sejarawan yang telaten mengurai simpul waktu satu per satu.

 

Namun ada satu hal yang sudah terkonfirmasi benar: alun-alun di sini memang dulunya pernah direncanakan jadi bagian sebuah kota kecil oleh Belanda.

 

Tapi nggak jadi.

 

Medan yang bergunung-gunung dan suhu yang sejuk dianggap cocok untuk mendirikan kota peristirahatan khas Eropa. Ide ini dicetuskan oleh J.L. van Gennep, seorang pegawai Belanda yang berkantor di Besuki. Lengkap, deh, tuh kota isinya: ada hotel, rumah sakit, pos tentara (tentunya!), lapangan olahraga, dsb.

 

Padang sabana yang terhampar di Alun-Alun Kecil, Alun-Alun Besar, Cikasur, hingga arah Cisentor menjadi daerah yang rencananya dibangun karena tanahnya datar. Makanya di arsip perencanaan, tempat-tempat ini sering disebut bahkan blad petanya ada beberapa.

 

Mungkin karena nama berubah seiring zaman, nama-nama tempat di arsip tsb kadang beda dengan sekarang. Contohnya:

  • Alun-Alun Kecil = Kleine Aloen-Aloen
  • Alun-Alun Besar = Gro(o)te Aloen-Aloen = Aloen-Aloen Radje/Radja
  • Cikasur ditulis ‘Aloen-Aloen Kasoer’
  • Aloen-Aloen Kenek (nggak yakin apa yang dimaksud ini Aeng Kenek yang arah Bermi atau Alun-Alun Kecil)
  • Sabana Lonceng disebut Aloon-Aloon Lonjeng.

(NB: ada yang nggak nulis aloen-aloen tapi aloon-aloon). Ada juga beberapa nama yang nggak berhasil saya temuin padanan nama dan lokasi tepatnya di masa ini, contohnya Alun-Alun Mesem.

 

Rencana pembangunan mountain resort ini detail banget. Bahkan desain rumah dan bahan pembuatnya pun tercatat. Namun akhirnya toh resort ini nggak jadi dibangun. Nanti, deh, detailnya kita bahas sesudah sampai di Cikasur supaya ada gambaran bentuk lokasinya.

 

Ketika baca planning pembangunannya itulah saya jadi bertanya-tanya: jadi sejak kapan tempat ini menyandang nama ‘alun-alun’? Apa sebutan ini pertama dicetuskan Belanda yang mau bikin resor? Atau dari zaman sebelumnya udah ada, diceritakan di antara penduduk lokal, kemudian diadopsi belakangan oleh para meneer? Entahlah.

 

Sekarang kita melintasi Sabana Besar dulu!

 

Hutan-hutan makin terbuka. Kabut tersingkap, menyibak tabir perbukitan di kanan-kiri. Dinginnya hujan digantikan oleh terpaan angin sore yang cukup menusuk kulit. Mata pun makin melek, entah karena pipi serasa ditampar angin atau euforia yang melambung.

 

Saya teringat cerita bapak polhut dan catper-catper pendaki lain. Mana bekas stasiun radionya? Di mana bekas bangunannya? Katanya di Cikasur bisa ketemu merak? So excited!


Namun sepertinya karena efek lelah berjalan, meski mata udah memandang nyalang ke sekitar, kadang objek yang dicari nggak tertangkap mata, huhuhu. Kadang ngelihat, kadang harus dikasih tahu teman dulu. Jadi kami gantian ngasih tahu gitu.



Cikasur, Merak, dan Sungai Kolbu

Tanah lapang terbuka. Jalan setapak yang makin jelas terlihat hingga beratus meter jauhnya. Di sebelah kanan, mata saya menangkap sebuah bangunan kotak warna abu-abu.

 

“Eh, itu bekas pemancar radionya?” saya bertanya, yang dijawab dengan gumaman tak pasti dari teman-teman. Kami emang nggak tahu mana bangunan A, mana bangunan X; mana yang dibangun Belanda, mana yang Jepang (kalau ada).

 

Bangunan di sabana: kubus putih abu-abu sisi kiri, di antara pohon. Dari Baderan terletak kanan jalan di sabana sebelum S. Kolbu. Foto diambil dari arah Cikasur.


Kami berhenti sesaat demi memandangi kubus abu-abu itu. Daripada sebuah bangunan, bentuknya lebih seperti gudang kecil. Beberapa jenak kemudian kami jalan kembali. Di depan tampak medannya menjorok drastis. Sungai, nih, kayaknya.

 

Di hadapan kami terbentang Sungai Kolbu. Airnya yang jernih berkecipak terbentur bebatuan. Sungainya nggak terlalu lebar, sekitar tiga meter. Pun nggak terlalu dalam. Kita bisa lewat dengan melompati bebatuan yang menonjol di atas air. Namun karena takut terpeleset, saya memilih nyemplung jalan di sungai sekalian. Aliran air dingin menggenang sampai atas mata kaki.

 

Sungai Kolbu. Airnya jernih seger banget!
 

Jalur setelah sungai adalah tanah biasa. Namun karena sehabis turun hujan dan dekat sungai, tanahnya jadi becek nan superlicin. Saya sendiri kesulitan mendaki, sampai kepeleset, lalu akhirnya ditarik teman.

 

“He, ada merak!” Zaka berbisik pelan.

“Mana, mana?”

 

Zaka menunjuk sebuah pohon kering di tepi sungai. Hari menjelang magrib, semua objek terlihat sama; sama-sama hitamnya. Kami bolak-balik nanya ‘meraknya di mana’ (sampai Zaka kesel, hahaha) sambil memicingkan mata.

 

Ah, itu dia. Burung berekor flamboyan itu rupanya bertengger di salah satu dahan pohon. Siluetnya seperti ayam tapi tubuhnya lebih ramping dengan ekor panjang melambai sampai ke dahan bawahnya.

 

Sekilas beda banget dengan gambaran di benak saya tentang merak. Mungkin karena ekornya nggak sedang mekar sehingga kami ngira itu burung biasa. Lupa kami kalau merak baru akan memamerkan ekornya pada merak lain yang ia taksir.

 

Kami nggak bisa lama-lama memandangi si merak karena harus segera mendirikan tenda. Kalau bisa sebelum gelap. Menilik bias-bias cahaya yang tersisa dan kokok ayam hutan yang menandai datangnya petang, kami nggak punya waktu lama.

 

Seusai melintasi sungai, kami melewati reruntuhan bangunan di sisi kiri. Kali ini ukurannya lebih luas daripada bangunan kotak tadi. Kalau yang tadi umpama satu ruangan, maka yang ini berupa satu bangunan dengan beberapa ruang. Strukturnya sudah runtuh, hanya menyisakan dinding-dinding setinggi paha. Hanya ada satu bangunan yang punya atap. Sepertinya atapnya adalah tambahan yang baru dibuat sebab bentuknya masih utuh.

 

Sisa dinding-dinding di Cikasur 
(abaikan warnanya yang kebiruan gara-gara salah setting kamera, hehe)
 

Kali ini pun kami nggak bisa lama-lama meneliti dinding demi dinding. Langkah langsung kami ayun ke sebuah spot yang mencolok di tengah sabana.

 

Pohon dan semak melingkar terlihat jelas dari kejauhan. Tenda-tenda biru dan oranye cerah menyembul dari balik semak-semak yang menghalau angin savana. Sekelilingnya dikitari padang rumput luaaas sekali. Inilah Sabana Cikasur yang legendaris itu.

 

Perjalanan dari Sabana Besar ke Cikasur (±2.232 mdpl) hanya sebentar, ±45 menit. Bisa lebih cepat kayaknya, karena waktu itu kami jalannya santai pol.

 

Sudah ada beberapa tenda di sekitar pohon. Setelah saling sapa dengan rombongan lain, kami pun mendirikan dome. Kali ini agak santai karena nggak dibarengi hujan.

 

Kalau diperhatiin, ada beberapa lokasi/pos di jalur pendakian Gunung Argopuro yang namanya berawalan ‘Ci-’. Cikasur, Cisentor. Awalnya saya kira ini mirip konsep nama kota-kota di Jabar yang berawalan Ci- karena ada sungainya, dan dalam bahasa Sunda Ci- berarti air. Tapi… Argopuro kan di Jatim? Di sini kan lebih dominan orang Madura, bukan Sunda; thus harusnya nyerap dari bahasa Madura? Tapi… apa?

 

Jadi apa arti awalan ‘Ci-’ ini?

Saya nggak kunjung nemu, haha. Barangkali ada yang tahu, tolong kasih saya pencerahan :D

 

Cikasur. Atas kiri: pohon dan tenda di camp


Tenda dan flysheet, done. Ganti baju, done. Tinggal masak dan santai-santai. Sambil menyeruput teh dan kopi hangat yang mengepul, kami bercengkerama di ambang pintu te da. Sambil menyantap menu hari itu (meski nasinya kurang matang sehingga masih kriak-kriak dikit, hehehe), kami ngobrol tentang pendakian hari ini.

 

“Berasa lebih santai, ya, daripada kemarin.” Kami mengangguk setuju.


“Besok aku mau lihat-lihat bangunannya.”


“Aku juga! Aku juga!”


“Di sungai katanya ada selada air juga, ya? Tadi nggak sempat merhatiin.”


“Besok pagi kita aja lihat-lihat lagi. Insyaallah waktunya cukup sebelum otw ke Cisentor.”

 

Ide itu disambut koor setuju oleh segenap tim.

 


Cikasur memang istimewa.

Selain padang sabananya yang luas memanjakan mata dan selada airnya yang sohor, ia juga kaya akan cerita dan peninggalan sejarah:

  • Berdasarkan mitos Dewi Rengganis yang dipercaya hidup di zaman Majapahit—, sabana ini termasuk wilayah kekuasaannya. Setelah masa itu berlalu pun, konon masyarakat sektiar masih berziarah ke puncak. Garis lurus di tengah padang yang ditengarai sebagai bekas landasan pacu zaman Belanda, katanya sudah terlebih dulu ada karena aslinya merupakan jalur para peziarah dan petapa.
  • Catatan para pendaki, di antaranya Junghuhn dan Bosch, berkata bahwa banyak banget rusa yang mendiami wilayah ini. Bosch juga sempat nge-camp di sini. Ini era 1840-an.
  • Van Gennep yang berambisi mengubah Pegunungan Yang-Argopuro menjadi resor, beberapa kali survei ke sini bersama rombongan.
  • Setelah 1900-an, Ledeboer mengantongi hak sewa lahan di sini. Dia (dan teman-temannya, I presume) sering berburu hewan liar di sini. Namun di era Ledeboer jugalah area ini ditetapkan sebagai cagar alam.
  • Dibangun (calon?) lapangan terbang, gudang, dan pos tentara di Zaman Belanda. Persisnya  kurang tahu kapan, tapi masih di era 1900-an++ juga kayak era Ledeboer karena katanya pembangunan berhenti karena Jepang keburu masuk.
  • Era Perang Dunia II, Jepang menguasai Indonesia termasuk Argopuro. Karena konon di sini kaya bahan tambang (entah apa), tentara Jepang mempekerjakan warga lokal untuk menambang. Masih katanya lagi, mereka yang bekerja di sini dibunuh semua oleh tentara Jepang supaya lokasi tambangnya nggak diketahui umum. Lokasi pembantaiannya, ya, di Cikasur sini. (Ada juga versi bahwa yang membantai adalah tentara Belanda)

Karena cerita pembantaian dan adanya bangunan kuno inilah Cikasur dan Argopuro jadi salah satu gunung yang kesan angkernya kuat. Ditambah mitos tentang Dewi Rengganis yang dipercaya masih hidup sampai sekarang dan kadang menampakkan diri ke orang/pendaki yang ia kehendaki.

 

Ada cerita yang beredar di kalangan pendaki bahwa konon ada yang pernah dengar suara seperti derap tentara baris-berbaris ketika bermalam di Cikasur. Dugaannya, sih, itu arwah para tentara dan pekerja yang meninggal di sana. Cerita mistis lainnya? Konon sang dewi sesekali menampakkan diri pada pendaki yang beliau pilih.

 

Banyak konon dan katanya, ya? Iya, karena ini cerita lokal yang beredar dari telinga ke telinga. Kami pun dapat ceritanya dari tuturan orang-orang, baik warga lokal atau pendaki lain. Ada juga yang bersumber dari kisah yang beredar di komunitas pendaki atau pencinta alam. Entah siapa yang memberi testimoni dan kejadiannya kapan, sudah hablur karena kejadiannya diyakini udah bertahun-tahun lalu.


Kisah dan pengalaman mistis. Sejarah ratusan tahun yang benar-benar terjadi. Medan yang menantang dan jalur terpanjang. Kompletlah kemagisan Argopuro dari berbagai sisi.



Cikasur dan Nostalgia Rusa:

Antara Cikasur, Junghuhn, dan Ledeboer

Bila kita lihat citra satelit Cikasur sekitarnya, nampak area superluas yang datar nan terbuka, termasuk Sabana Besar dan trek arah Cisentor. Pemandangan itu pula yang terhampar jika kita melihat peta tahun 1840-an buatan Junghuhn.

 

Pemandangan itu makin menahbiskan luasnya Cikasur (dan dataran tinggi ini). Kalau dilihat mata pun memang luas bangeeet! Namun saat itu saya nggak ngeh seberapa luas sampai citra satelit nunjukin spot-spot yang nggak tertangkap mata saat kami berada di lokasi.

 

Peta Argopuro, dibuat oleh Junghuhn

Inilah padang di mana rusa-rusa dikabarkan merumput seratus, dua ratus tahun lalu.

 

Kita jalan sebentar ke dua abad lalu, tepatnya tahun 1844. Di akhir Oktober itulah Junghuhn dan Bosch janjian hiking bareng ke Argopuro. Namun Junghuhn sakit sehingga Bosch naik duluan. Apes, Bosch dkk nyasar. Sementara itu Junghuhn pulih beberapa hari kemudian, lalu menyusul naik. Setengahnya untuk nyusul bantuin Bosch yang logistiknya udah habis.

 

Tim Junghuhn terdiri dari beberapa orang. Selain para kuli lokal, ikut pula saudara ronggo Bondowoso bernama Kiai Ngabehi Kreto Adi Wikromo. Mereka naik dari selatan (dari Jember) dan sampai di plateau pada sore hari kedua pendakian. Dan naturalis Jerman itu langsung terkesima ngelihat banyaknya rusa di padang rumput ini.

 

Ribuan rusa, bahkan lebih, menghuni area ini dan muncul dalam kawanan-kawanan sebanyak 100-an, 200-an, 500-an, bahkan 1.000-an rusa, di semua sisi…

 

… Mereka berbaris berbondong-bondong, biasanya dipimpin sepasang rusa tua yang dipercaya, dengan tanduknya yang amat besar dan berwarna cokelat gelap. Mereka memimpin prosesi itu; kawanan lain atau anggotanya berhenti dari kejauhan, mengobservasi kami dengan tenang dan ingin tahu, sampai kami lewat. Hewan-hewan ini tidak malu-malu. Hampir tidak mungkin menemukan satu pun titik di dataran ini—yang membentang bermil-mil, bahkan berhari-hari—di mana kotoran rusa tidak tersebar berjibun di atas tanah berumput. Jumlah mereka (secara mencengangkan) sangat-sangat banyak dan kemunculan kawanan-kawanan baru yang banyak dan berkali-kali membuat kami senantiasa terkagum-kagum sepanjang sore, meski cuaca tetap membosankan dan berhujan.

Junghuhn dalam bukunya “Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und Innere Bauart”

 


Junghuhn menaksir jumlah rusa di kawasan ini mencapai 50.000 ekor bahkan lebih. Whoaaa!

 

Pemandangan yang sama dilihat Wormser lebih dari 50 tahun kemudian. Dia melihat “kawanan besar rusa-rusa yang minum dari kali gunung” dan merak-merak yang berjalan-jalan di padang rumput.

 

Apa kami juga menyaksikan disaksikan kawanan rusa?

Sayangnya enggak. Populasi rusa di masa ini udah jauuuh berkurang. Kalau zaman Wormser seabad lalu rusanya masih seabreg, kami malah nggak ketemu sama sekali.

 

Naifnya, saya mengira kalau pasti bisa ketemu gerombolan merak atau rusa. Dugaan saya—karena merak dan rusanya sohor banget kan—kami bisa menyaksikan sekawanan kecil atau seenggaknya tiga ekor lah. Kalau dari cerita-cerita orang dan teman kedengarannya heboh dan menakjubkan banget gitu!

 

Jadi ketika sampai lokasi dan nggak ngelihat rusa sama sekali… kayak, yaaah, gigit jari, deh.

 

Ketemu merak juga cuma satu. Itu juga udah alhamdulillah karena setelahnya kami sama sekali nggak ketemu lagi, huhu.

 

Selain populasi hewan liar yang udah berkurang, bisa jadi (banget!) mata kami—saya—nggak awas meninjau sekitar sehingga kehadiran fauna-fauna menakjubkan itu luput dari pandangan. Bisa jadi mereka justru bersembunyi dari kami karena takut manusia. Mungkin trauma karena pernah diburu.

 

Zaman Ledeboer bersaudara era 1900++, rusa-rusa itu diburu sekaligus ditangkar untuk mengatasi masalah maraknya perburuan liar.

 

Ceritanya setelah planning bikin mountain resort-nya van Gennep gagal, tanah Pegunungan Hyang disewa-sewakan, salah satunya pada Ledeboer bersaudara. Mereka doyan berburu. Jadilah Dataran Tinggi Hyang/Yang dijadikan area berburu oleh duo ini.

 

Apa yang diburu?

Macam-macam. Macan, kucing hutan, babi hutan, anjing hutan. Ledeboer bersaudara sampai membangun pondok berburu dan landasan pacu sederhana (airstrip) untuk para tamu yang datang berburu. Karena predator sejumlah ratusan macan dibunuhin, populasi rusa pun melonjak.

 

Rusa-rusa ini memang sengaja ditangkarkan oleh Ledeboer. Tujuannya untuk menjaga jumlah populasinya sekaligus sebagai penghasil daging. Daging rusa diambil untuk dikirim ke Surabaya (kabarnya ke daerah Gunungsari). Kabarnya landasan pacu di Cikasur tuh dibuat untuk pesawat supaya cepat ngirim daging ke Surabaya. Jalur landasannya masih kelihatan sampai saat ini; nampak seperti lintasan lurus yang muncul ganjil di antara belantara yang liar.

 

Garis lurus yang membentang di Cikasur dan jadi penanda jalan ke Cisentor. Apa ini bekas landasan pacunya? (atau jalur para peziarah zaman kerajaan?)

Keberadaan kawanan rusa di Cikasur bukan cuma soal kekayaan biodiversitas, tapi juga sebagai penjaga ekosistem. Maksudnya gimana?

 

Para Cervus timorensis ini menjaga populasi cemara gunung supaya nggak mendominasi. Rusa jantan ngebersihin velvet/selaput(?) tanduk dengan menggosoknya ke pohon, juga memakan tunas cemara; sehingga pohon cemara jadi rusak thus jumlahnya nggak banyak-banyak amat sehingga nggak mendominasi. Intinya, they keep the casuarina population in check. Karena itulah tanah bisa ditumbuhi oleh semak/pepohonan selain cemara sehingga flora di situ jadi lebih beragam.

 

Sayangnya kenaikan angka populasi rusa menimbulkan komplain dari masyarakat zaman itu. Mereka ngeluh rusa-rusa masuk kebun sehingga lahan pertanian di sekitar Pegunungan Yang rusak. Gara-gara itu, Ledeboer didesak supaya lebih menggencarkan shooting programme-nya dan membangun pabrik kornet daging rusa (tapi nggak pernah kesampaian).

 

Lima puluh tahun lalu sekitar 1970-an, tercatat bahwa populasi rusa di dataran ini emang udah jauh berkurang. Ada tapi nggak banyak, pun malu-malu banget (takut?); nggak kayak zaman Junghuhn yang berani jalan santai dan malah ngelihatin orang yang lewat.

 

Populasi rusa juga menurun karena mereka minim akses ke garam. Apa hubungannya?
Jadi ternyata rusa itu suka ngejilatin batuan yang mengandung garam mineral. Alasannya karena mereka butuh untuk metabolisme plus numbuhin tanduknya.

 

Dulu waktu populasi manusia masih sedikit, mereka bebas melenggang dari Cikasur ke pantai untuk cari garam. Namun lama-lama nggak bisa karena aksesnya dihuni manusia. Waktu zaman Ledeboer aja, garamnya udah disuplai dalam bentuk balok-balok yang ditaruh di gubuk-gubuk khusus. Rusa tinggal datang ke gubuk dan voila, dapet, deh, jatah garam.

 

Kemasyhuran rusa-rusa Cikasur kini tinggal riwayat. Sudah satu setengah abad sejak kisahnya tercatat dalam pendakian para pendahulu, tak sekali pun sosoknya melintas dalam pendakian kami kali ini. Namun cerita hewan-hewan itu tetap hidup dalam obrolan larut malam di depan kompor yang membara; di antara bergelas-gelas kopi, susu, dan teh panas; di tengah sabana yang dulu pernah jadi tempat tinggalnya.

 

Potret luasnya Cikasur. Para pendaki di sisi kiri (hitam seperti titik) nampak mungil. Foto dari artikel van Gennep, 1926



Resort Elite di Argopuro

Tadi sempat disinggung bahwa pernah ada rencana ngebangun kompleks peristirahatan di Dataran Tinggi Hyang/Yang/Iyang Argopuro. Pencetusnya pegawai Belanda bernama J.L. van Gennep. Rencana ini diusulkan sebelum tanah-tanah di sana disewakan pada Ledeboer bersaudara.

 

Ceritanya setelah Junghuhn turun dari mendaki gunung-gunung di Jawa, dia mengamati kalau Belanda butuh semacam hill station di Hindia. Menurutnya Belanda belum punya hill station yang proper, padahal konco-konconya sesama penjajah—Inggris contohnya—punya beberapa, contohnya di Darjeeling-India (siapa yang pernah minum teh Darjeeling yang terkenal itu?).

 

Ada, sih, tapi kurang. Sedikit ‘ironi’ karena Belanda adalah penjajah pertama yang berhasil megang dataran tinggi di Asia, sedangkan Bogor diklaim sebagai hill station pertama di Asia, tapi dianggap kurang proper.

 

Apa hill station itu?

Hill station atau mountain resort kayaknya bersinonim dengan tempat tetirah atau peristirahatan di pegunungan. Sesuai namanya, tempat ini difungsikan untuk tempat istirahat atau pemulihan dari penyakit.

 

Udah jadi hal umum bahwa orang-orang Eropa pada nggak kuat panas dan lembapnya iklim tropis (sampai sekarang juga gitu, kan). Mereka juga nggak tahan dengan penyakit-penyakit lokal sehingga banyak yang jatuh sakit bahkan meninggal. Jika mereka sakit, salah satu saran dokter adalah tinggal sementara di tempat yang sejuk/pedesaan (jadi ingat novel-novel Inggris klasik, deh, yang ‘resep’ dokternya juga begini). Opsi lain adalah balik ke Eropa.

 

Balik ke Eropa jelas mahal. Capek di jalan pula, plus habis waktu berbulan-bulan di laut untuk PP Asia-Eropa. Maka salah satu alternatifnya adalah: recovery di area pegunungan yang hawanya jelas lebih sejuk, segar, bersih!

 

Junghuhn usul Dataran Tinggi Dieng sebagai resort, tapi nggak digubris. Sampai akhirnya van der Stock (dokter) berargumen kalau Belanda beneran butuh tempat kayak gitu dan usul Yang/Hyang Plateau. Argumen ini disambut antusias oleh van Gennep yang saat itu jadi controller di Karesidenan Besuki.

 

Udahlah tuh dibentuk kepanitiaan sampai survei berkali-kali ke Argopuro. Dirancanglah bangunannya apa aja, sarana-prasarananya apa aja, pembiayaannya gimana.

 

Pondok di Alun-Alun Besar. Artikel van Gennep, 1926

 

Faktor pemulihan jadi sebab utama mengapa komponen ‘wajib’ di mountain/hill station ini ialah rumah sakit dan sanatorium. Lalu nambah ada hotel untuk yang sekadar rehat aja tapi nggak sakit. Nggak lupa ada pos tentara dan kantor pegawai.

 

Sarana-prasarana pelengkapnyalah yang bikin tempat ini jadi makin mirip resort. Rencananya ada tempat hiburan seperti teater, lapangan olahraga, taman-taman dengan bunga, serta pondok-pondok penginapan seperti chalet mini nan manis di pedesaan Swiss. Bahkan mau disediain bangku-bangku di beberapa tempat dengan pemandangan keren; macam viewpoint gitu. Nggak lupa bisa untuk jalur hiking juga.

 

Berbarengan dengan itu tentu perlu dibangun jalan raya. Lengkap dengan saluran telepon, stasiun, dan rel kereta api yang kuat melintasi perbukitan menanjak. Bahkan ada plan ngebangun bandara dan hanggar. Soal saluran pembuangan limbah pun sempat disebut-sebut. Tapi smeua ini listriknya dari mana? Ada usulan dibangun PLTA (hydroelectricity) memanfaatkan sungai di Cikasur.

 

Kayaknya lebih mirip desa atau kota kecil daripada sekadar kompleks resor, ya?



Yang Resort & St. Moritz, Swiss

Anyway, artikel tentang planning pembangkit listrik tenaga air ini banyak nyebut-nyebut sungai di plateau, Sungai Deluwang. Saya nggak tahu ini sungai yang mana dan letaknya di mana. Sempat curiga ini sungai yang sekarang kita kenal sebagai Sungai Kolbu karena di beberapa catatan disebut kalau sumbernya S. Deluwang ada di sekitaran Cikasur; sama kayak S. Kolbu. Tapi entahlah. Namun kalau menilik peta sekarang, ada daerah namanya ‘Delwang’ di sebuah lembah bersungai. Lokasinya ‘sebelahan’ dengan pos Baderan, cuma berjarak 2,5 km (diukur garis lurus, kalau naik motor jadi mutar jauh 37 km-an).

 

Saya sempat kaget waktu baca bagian PLTA ini. Nggak nyangka aja gitu, di era 1890-an udah kepikir bikin pembangkit listrik. Makin surprised kalau ingat medan di Cikasur dan sekitarnya.

 

Di tempat yang sepi ini, bikin pembangkit bahkan resor? Wah, kalau beneran dibangun, pasti rame dan banyak tiang+kabel dan gedung dan orang. Sikonnya pasti berbalik seratus delapan puluh derajat dengan sekarang ketika yang bisa kami dengar hanya kersik rumput dan angin serta kokok ayam hutan.

 

Usut punya usut, usul PLTA itu dibuat mengikuti mountain resort lain yang sudah berhasil: St. Moritz di Swiss. Kota yang sampai sekarang eksis jadi jujugan wisatawan itu jadi salah satu pionir hydroelectricity di Eropa. St. Moritz punya sungai juga, bahkan ada danaunya, thus cocok dibuat PLTA. Lampu listrik pertama di Swiss menyala di hotel kota ini. Listriknya bersumber dari putaran turbin air. Di zaman itu sepertinya peristiwa ini merupakan sebuah terobosan akbar sehingga ramailah jagad Eropa. Mungkin van Gennep juga terinspirasi karena lampunya ada di hotel, mirip konsep resor di Argopuro.

 

St. Moritz, Switzerland (Pixabay)

Kalau dipikir-pikir, perencanaan resor pegunungan di Argopuro ini sekilas mirip banget sama konsep resor-resor pegunungan Eropa.

 

“Sayang, ya, resornya nggak jadi dibangun. Kalau jadi, kan, bisa kita nikmatin sekarang.”

 

Kalimat ini saya pernah saya jumpai dulu sekali sebelum jadi mendaki Argopuro. Kening saya berkerut, kalau di Argopuro dibangun resor apa akan jadi seperti kota-kota pegunungan lain yang punya bangunan zaman kolonial seperti daerah perkebunan di Bandung atau Bogor? Apa taman-taman di Argopuro akan nampak seperti, katakanlah, Selecta di Batu-Malang?

 

Saat republik sudah berdiri, bisa jadi orang Indonesia turut menikmati ‘peninggalan’ itu. Namun ketika merdeka belum nampak di ujung horison sedikit pun? Jangan harap.

 

Resor mewah di Argopuro sejak awal eksklusif dikhususkan untuk orang Barat alias kulit putih. Nggak hanya tempat rekreasi tapi juga tempat menghabiskan masa pensiun kalau nggak mau balik ke Nederland. Pemilihan tempatnya yang berada di ketinggian pun selain karena faktor suhu sejuk dan udara segar, juga untuk menunjukkan superioritas Eropa bahwa mereka 'hidup di atas awan seperti para dewa' sambil 'mengamati rakyat/bawahannya yang hidup di dataran rendah', menurut seorang sejarawan.

 

Sempat direncanakan ada perkebunan khusus orang Eropa juga. Perkebunan ini dijadikan alternatif ngatasin angka kemiskinan di Eropa yang makin naik. Orang-orang Barat yang tak berpunya rencananya dijadikan buruh kasar di sini, jauh dari orang lokal sehingga ‘derajat’ orang Barat nggak turun di mata penduduk pribumi.

 

Jadi, yah, kalaupun betulan dibangun resor, nggak akan menguntungkan bumiputra. Namanya penjajahan, kan. Apa ujungnya kalau bukan eksploitasi?

 

Salah satu sketsa chalet (pondok khas Pegunungan Alpen) dari artikel van Gennep, 1926


Ngomong-ngomong, padang sabana yang akan dikonversi jadi resor nggak cuma Cikasur. Sabana Kecil dan Sabana Besar pun nggak luput dari sasaran karena tanahnya yang datar dan dinilai cocok untuk pembangunan.

 

Ada 3 plateau yang disasar untuk pembangunan:

  • area terbawah di ketinggian 6.000 kaki = 1.829 mdpl (Alun-Alun Kecil/Kleine Aloen-Aloen? Elevasinya mirip) 
  • area tengah di ketinggian 7.100 kaki = 2.164 mdpl (kayaknya ini di Alun-Alun Besar/Grote Aloen-Aloen sampai Cikasur)
  • area terkecil dan tertinggi di 8.300 kaki = 2.530 mdpl (kalau nyocokin ke peta di bawah kayaknya sekitaran Rawa Embik? Di sana sempit juga, kan. Tapi ada catatan yang nyebut-nyebut ada Aloen-Aloen Lonjeng/Lonceng. Entahlah yang mana...)

 *NB: teks abu-abu cuma dugaan saya aja, bisa jadi lokasinya bukan di situ


Peta perencanaan wilayah resort, disertasi van der Meer (2014) yang dibuat berdasarkan peta van Gennep


Rencana pembangunan ini pertama digagas di 1890-an. Survei dan sebagainya masih berlangsung sampai awal abad 20. Seiring waktu timbul pro-kontra tentang pembangunannya. Beberapa di antaranya adalah iklimnya sekilas bagus tapi ternyata enggak, lokasinya terpencil sehingga susah dicapai, dan pembangunannya butuh duit yang nggak sedikit.

 

Dukungan pemerintah Hindia-Belanda yang setengah hati dan kegagalan mencari investor jadi gong pembatalan pembangunan mountain resort ini.

 

Kalau dipikir-pikir, iya ya, tempat kosong begitu mau dibangun segala macam. Udah kayak ngebangun desa/kota dari awal. Nggak cuma biayanya yang gede, risikonya juga.

 

Jadilah rencana itu ditinggalkan. Tanah yang sudah dipatok-patok lalu disewakan; salah satunya pada Ledeboer bersaudara. Dan kini Pegunungan Argopuro kembali ke wujud aslinya: menjadi alam pegunungan liar yang menjadi rumah bagi flora-fauna lokal dan jauh dari jamahan tangan manusia.



Malam di Cikasur

Malam menjelang di Cikasur. Sunyi. Savana terang kini gelap gulita. Puing bangunan tak sedikit pun nampak karena dilahap malam, seperti menggaungkan kejayaannya yang redup dimakan zaman.

 

Kilau bulan keperakan terpantul di kanvas tenda dan bilah-bilah daun alang-alang. Suara denting sendok-garpu yang beradu dengan nesting dan percakapan pelan jadi pemecah kesunyian. Kami berkumpul di sekeliling kompor gas yang membara, menghangatkan diri di antara gelas-botol kopi-teh-susu yang menguarkan uap panas.

 

Di padang rumput seterbuka ini, angin dingin bertiup tanpa henti. Untunglah sekeliling pohon besar ini dilingkari semak yang tumbuh lebih tinggi daripada tenda kami. So, ada penghalau anginnya. 

(Sempat takjub sama semak-pohon ini. Kok bisa formasi tumbuhnya cukup ‘rapi’: pohon tunggal di tengah + semaknya keliling serupa lingkaran. Dan ada satu-dua pohon lain di Cikasur yang formasinya begini juga. Tumbuh alami atau ada yang nanam?)

 

Pendakian hari ini rasanya lebih santai dari kemarin. Mungkin karena treknya banyak bonus dan hujannya nggak seganas kemarin, hahaha.

 

“Hayoo, ndang tidur. Biar besok bisa lihat-lihat tapi trekking-nya nggak kesiangan,” seorang rekan mengingatkan.

 

Pendakian baru masuk hari kedua, tapi udah banyak hal yang tadinya hanya cerita lalu kini bisa kami lihat pakai mata kepala sendiri. Dan, meski udah ngelihat sekilas, rasa penasaran itu bercokol nggak habis-habis seperti semak savana yang tumbuh subur disiram hujan Januari. Sebelum berangkat, pertanyaan dan penasaran itu sudah ada. Namun setelah ngelihat wujudnya, muncul pertanyaan baru lagi. Begitu seterusnya.

 

Pertanyaan seperti:

Di mana landasan pacunya? Kayak gimana detail puing ruangannya? Dulu dibangun buat bagian apa, ya? Kami juga penasaran dengan Sungai Kolbu dan selada air yang bisa dimakan itu. Nggak puas hanya lihat sekilas.

 

Besok. Yup, besok setelah terang kami akan lihat-lihat lebih lama. Semoga bisa menjawab rasa ingin tahu ini.

 

Malam itu, mungkin efek kenyang makan enak dan camp yang nyaman, saya terlelap begitu cepat. Sebelum tertidur saya sempat teringat cerita-cerita pendaki yang terbangun oleh bunyi-bunyi aneh nan mistis. Wah.


Pikiran itu buru-buru saya tepis. Saya menutup mata, menenggelamkan diri ke dalam sleeping bag. Lelap.

 

(bersambung di 🔗Part 2: Cikasur-Rawa Embik(artikel menyusul)



- RANGKUMAN -

NB: angka mdpl berdasar ketinggian di GPS saat itu

 Mata Air 1 – Mata Air 2

  • Waktu: 2,5 jam
  • ±1.800 mdpl ke ±2.132 mdpl
  • Medan naik terus, kadang ada turunan. Naik agak curam. Medan sebagian besar tanah, lalu tanah+rumput.

 Mata Air 2 – Sabana Kecil

  • Waktu: 3,5 jam
  • Mdpl?
  • Sabana Kecil = Alun-Alun kecil
  • Jalanan tanah, naik-turun bukit. Nggak terlalu nanjak, turunannya agak curam. Dominan tanah berumput.
  • Makin dekat sabana, makin terbuka dan didominasi rumput tinggi, pepohonan ada tapi makin jarang.

 Sabana Kecil – Sabana Besar

  • Waktu: 1 jam
  • Masih naik-turun bukit dan kadang masuk hutan, tapi nggak lama kemudian ketemu sabana lagi. Jalur nanjak biasa. Lumayan banyak datarnya.

 Sabana Besar – Cikasur

  • Waktu: 45 menit
  • Cikasur ±2.232 mdpl
  • Banyak lewat sabana (datar) dan keluar-masuk hutan. Kadang jalan agak nanjak.
  • Kanan jalan sebelum Sungai Kolbu ada bekas bangunan. Kecil. Kotak.
  • Sungai Kolbu: sumber air. Nggak terlalu lebar, dangkal di bagian penyeberangan, arus nggak terlalu deras. Ada selada air (edible—bisa dimakan).
  • Di Cikasur ada bekas bangunan tua dan sederet cerita bersejarah menarik lainnya.

👣Cerita savana & Cikasur:

  • Kalau beruntung bisa ngelihat merak dan ayam hutan (NB: dilihat dari jauh aja, jangan dipegang apalagi ditangkap)
  • Dulu rusanya banyak, kisaran ribuan-puluhan ribu.
  • Zaman Belanda (akhir abad 19 awal 20) pernah mau dibangun resort pegunungan, tapi batal. Lalu jadi lahan berburu (macan, rusa, dsb) sekaligus penangkaran rusa.
  • Pernah ada pembangunan dan lapangan terbang. Sisanya pembangunannya masih nampak sampai sekarang.
  • Konon udah jadi jalur ziarah orang-orang terdahulu di zaman kerajaan bahkan sebelum orang Barat masuk sini.

 

 

 

Referensi:

menyusul di part "Rangkuman" 

 

[]

« Sebelumnya: 🔗Part 1: Baderan-Mata Air 1

   Selanjutnya: 🔗Part 2: Cikasur-Rawa Embik »



Updated in January



Tidak ada komentar: