![]() |
Hari kedua pendakian. Hari ketiga
perjalanan. Pagi yang mendung
menyambut kami yang bangun awul-awulan dari balik tenda, bersiap sebelum menuju
Cikasur (±2.232 mdpl).
Sebelum meninggalkan Mata Air 1 (±1.800 mdpl) tentunya beres-beres dan
sarapan dulu. Menu utama pagi ini adalah nasi dan ayam (dimasak kari lagi,
kayaknya). Sisa minyak di nesting kami pakai buat ngangetin ayam goreng
yang tersisa agar awet beberapa hari ke depan.
Jelang pukul tujuh, matahari akhirnya muncul.
Hangat... Kami pun keluar tenda, meregangkan badan. Memanfaatkan panas yang
ada, kami juga berjemur dan mengeringkan jas hujan, cover bag, dan barang
apa pun yang kemarin kuyup kehujanan.
Dalam terang barulah kami bisa melihat bentang
alam pos Mata Air 1 dengan jelas. Tempatnya terkungkung di tengah hutan.
Pepohonan tinggi memayungi trek dari sengatan matahari, menciptakan siluet
gelap. Keheningan pagi hanya dipecah oleh kicau burung liar tanpa suara
aktivitas manusia sama sekali. Kami udah makin masuk rantai pegunungan
Yang-Argopuro, bila menilik bukit (atau gunung?) yang berdiri di seberang tapi
bentuknya terlihat jelas.
![]() |
| Pagi dan pelangi di pos Mata Air 1, Argopuro |
Dan, oohh... Lihat itu di gunung
seberang. Ada pelangi!
Nggak pernah saya lihat pelangi sedekat ini.
Posisi pelangi itu sejajar tempat kami berdiri.
Bias warna-warninya seolah bisa diraih tangan. Padahal umumnya lihat pelangi, kan,
mendongak ke atas. Namun ini ngelihat ke depan; lurus. Saya tak henti melihat
warna-warni bias cahaya itu. Terpesona. Tanpa sadar bibir saya turut melengkung
senyum seperti busur pelangi.
Pagi, pelangi, bukit hijau, dan hutan.
Awal yang indah untuk pendakian yang panjang.
Hari ini perjalanan kami akan melalui Mata Air 2 – Sabana/Alun-Alun Kecil –
Sabana/Alun-Alun Besar – Sungai Kolbu – Cikasur.
[ NB: meski hal-hal terkait kebumian dan
sejarah diambil dari referensi, bisa jadi dalam tulisan ini ada yang keliru
sebab saya salah tulis, salah memahami, atau keliru ambil sumber. Mohon maaf
bila ada ketidaktepatan, pembaca disarankan check dan recheck ke
sumber yang lebih kredibel ]
[ Disclaimer: karena pendakian ini udah bertahun-tahun lalu,
pastinya ada hal-hal atau info yang udah berubah seperti peraturan dsb. Harap
cek info terbaru dari laman resmi Dataran Tinggi Yang dan ikuti peraturan
terkini ]
DAFTAR ISI:
- Monyet di Mata Air 1
- Menuju Cikasur
- Hewan-Bunga Apa, Tuh?
- Sabana Besar dan Kecil
- Cikasur, Merak, dan Sungai Kolbu
- Cikasur dan Nostalgia Rusa
- Resort Elite di Argopuro
- Hyang Resort dan St. Moritz, Swiss
- Malam di Cikasur
Seperti biasa, posting-annya
panjang. Daftar isi ini tujuannya memudahkan kalau ada yang cari bagian
tertentu, tinggal klik aja. Masih di halaman ini cuma beda part aja.
Monyet di Mata Air 1
Sambil packing, beberapa orang turun ke
mata air untuk ngisi botol, tapi kembali dengan tangan kosong karena air
sumbernya keruh.
"Mungkin karena hujan kemarin deras
banget, tanahnya kebawa air," kata Candra.
Hm... bisa jadi.
"Bisa jernih kalau ditunggu mengendap, tapi
lama." Ia tunjukkan botol berisi air yang mulai bening. "Mending
nggak usah aja, ya?"
Kami menghitung persediaan air yang tersisa. Masih
banyak. Insyaallah cukup sampai ketemu Sungai Kolbu di Cikasur nanti. Hujan deras
kemarin cukup membantu ternyata, karena kami jadi nggak gampang haus sehingga
nggak banyak minum. Barulah air banyak dipakai saat masak. Hemat, deh!
Kembali packing, ngebolak-balik jas
hujan, sampai kemudian... o-oh, ternyata kami nggak sendirian.
Beberapa makhluk berbulu abu-abu mendekat dari
balik semak-semak. Ekor panjangnya berayun-ayun saat mereka melompat dari dahan
ke dahan.
Monyet!
"Buruan sampahnya ditali!"
Kami buru-buru menyimpan kresek sampah yang
sedang terbuka, memasukkan barang-barang yang belum ter-packing ke
tenda, dan terutama membereskan alat makan dan mengamankan bahan makanan.
Kayaknya monyet-monyet itu terpancing muncul
karena aroma sarapan kami. Menu pagi itu emang bikin ngiler dan pengin nambah
lagi dan lagi, sih.
Kami berusaha menghalau beberapa monyet supaya
nggak mendekati tenda. Melihat kami yang berjaga di sekitar dome tanpa
bergerak lama, primata itu akhirnya mundur balik ke semak.
"Mau ngusir juga sungkan, ya. Kan ini
rumah mereka. Kita cuma pendatang numpang lewat," ujar Musa.
Kami berdehem setuju.
Menurut cerita bapak polhut kemarin, di pos
Mata Air 1 memang lazim ketemu monyet. Hewan-hewan itu udah terbiasa dengan
manusia yang singgah di sini. Makanya pendaki harus hati-hati supaya barang
bawaannya nggak diambil.
Para pendaki nggak boleh
ngasih sedikit pun makanan ke hewan-hewan ini. Kenapa?
Bukan pelit atau alasan hemat logistik, tapi
demi monyetnya sendiri.
Makanan mereka beda dengan kita sehingga nggak
boleh dibiasakan mengonsumsi makanan manusia. Nggak boleh dibiasakan dikasih
pula supaya nggak menggantungkan sumber makanannya ke manusia. Hewan liar di
ekosistem yang sehat nggak boleh tergantung manusia.
Nggak sehat buat hewannya, buat ekosistemnya, nggak
baik pula untuk relasi monyet-manusia karena berpotensi nimbulin konflik ke
depannya. Oleh karena itu pendaki harus bisa jaga barang bawaan dan bijak
sampah. Jangan sampai ngasih makan atau ninggalin bekas yang bisa dimakan hewan
liar.
Ini masih monyet. Di pos-pos depan yang lebih
masuk pegunungan, hewan lain pun bisa mendekat kalau makanan nggak dibungkus
baik-baik. Termasuk yang buas.
"Heiii!" Terdengar pekikan manusia.
Kami sontak menoleh. Seekor monyet rupanya berhasil
mendekat ke tenda. Mendengar pekikan itu, ia langsung lari balik ke
semak-semak... tapi sambil menggondol sesuatu.
"Lhooo bajuku!" Lila menjerit.
Waduh, itu monyet kabur bawa kresek berisi satu
set baju Lila.
Buru-buru Lila mengejar monyet itu ke
semak-semak. Tahu dia dikejar, si monyet lari tunggang-langgang; meninggalkan
buntalan yang memperlambat pelariannya. Susah-payah Lila mbrasak semak
di pinggiran curam untuk mengambil barangnya. Dan berhasil! Fyuh...
Kejadian cepat itu rasanya berlangsung pelan
dan detail bak adegan slow motion.
Setelah itu kami langsung beberes lebih cepat.
Itu pun masih kecolongan: kresek berisi gula dan kopi berhasil digondol pergi.
Hiks!
Seekor monyet bertubuh lebih besar tinggal lama
di dekat tenda. Mungkin pemimpinnya? ‘Bakal lama, nih, kalau nungguin dia
pergi’. Akhirnya kami bergiliran ganti baju dan packing, sementara
Musa dan satu orang lain berjaga di luar sambil terus membujuk si monyet supaya
meninggalkan kami.
![]() |
| Monyet di Mata Air 1. Nggak berhasil ambil makanan, dia memilih nyemil rumput. |
Agak lama, makhluk berekor panjang itu kahirnya pergi.
Setelah camp bersih, kami langsung tancap gas. Takut keburu diikutin.
Menuju Cikasur
Matahari sudah agak tinggi saat kami mulai
jalan. Namun karena mendung, panasnya jadi nggak terlalu menyengat kulit.
Sebelum menuju Cikasur, kami harus melewati pos
Mata Air 2 (±2.132 mdpl) terlebih dulu. Kali ini trek diawali dengan medan yang mirip
dengan kemarin, yaitu jalur tanah yang mendaki terus ke atas. Kadang ada
turunan, tapi lebih sering naiknya. Tanah liat itu licin saat dipijak.
Setelah 2,5 jam mendaki, kami sampai di Mata
Air 2. Sempat rehat sejenak dan minum sambil berkelakar, “Nah, kan, minumnya
cepat habis kalau nggak hujan, hahaha.”
Perjalanan dilanjut dari Mata Air 2 ke Sabana
Kecil. Setelah ini medannya pun masih naik-turun tapi lumayan berumput sehingga
nggak terlalu licin.
Gerimis turun kemudian. Belajar dari kejadian
kemarin, kali ini kami langsung mengenakan jas hujan. Benar aja. Beberapa menit
kemudian, hujan turun dengan bulir lebih besar. Langsung deras!
Hari ini medannya nggak melulu naik seperti
kemarin. Ya naik-turun, sih, tapi rasanya nggak sesusah kemarin. Trek bagian
ini rasanya lebih kayak menaiki dan menuruni bukit berkali-kali. Nanjaknya ada,
tapi 'bonus' turunan atau tanah datarnya juga banyak. Yesss!
Saat bertemu trek 'bonus' ginilah yang bikin
senang. Hitung-hitung ngistirahatin kaki, hehe. Ditambah hujan, jadi makin
nyaman jalan, deh.
Waktu itu sebenarnya hujan turun sama derasnya
seperti kemarin. Bulirnya besar-besar sampai mengaburkan pandangan. Sekujur tubuh
jas hujan udah basah kuyup kayak kemarin pula.
Di tahap inilah saya udah pasrah sama hujan,
hahaha :’) Udah nrimo, kalau emang harus kehujanan terus sepanjang pendakian
sampai hari terakhir, ya udah. Udah nggak apa-apa kalau badan dan isi carrier
jadi lembap. Pikir saya, toh baju dan sleeping bag dalam kresek/pouch
tetap kering, toh masih bisa dipakai, toh kemarin malam tendanya aman dan
bisa istirahat cukup nyaman. Toh perjalanan kemarin yang super berhujan juga
bisa terlalui dengan baik, toh? Jadi... ya sudahlah.
Toh, jalan di tengah hujan ternyata
enak juga. Sejuk.
Nggak perlu istirahat lama-lama.
Nggak terasa panas.
Nggak butuh minum banyak-banyak.
Thus lebih hemat waktu dan energi.
Nggak kebayang kalau jalan ketika
cuaca terik menyengat. Berapa botol yang akan kami teguk sekali jalan?
Berapa lama istirahat yang kami butuhkan karena
sendi-sendi kaki terasa panas dan tubuh berkeringat habis-habisan?
Pada tahap ini, saya sudah agak berdamai dengan
hujan saat pendakian; nggak seperti biasanya yang langsung bad mood saat
ada rintik sedikit aja.
Kayak hidup, ya? Mau ngapain lagi coba saat
hidup diterpa ujian, selain terus dijalanin aja? Menerima sambil menavigasi
gimana caranya melewati badai yang sedang menerpa. Menavigasi supaya nggak cuma
survive tapi tetap on course ke titik tujuan (ini sih yang susah,
karena kadang buat survive ‘doang’ aja setengah mati upayanya).
Rasa-rasanya pendakian emang ‘miniatur’ kehidupan; sama-sama perjalanannya,
kan.
Okayyy, balik ke pendakian.
Hari kedua ini hujannya nggak non-stop kayak
kemarin. Ada jeda ketika ia berhenti cukup lama, menyisakan gerimis halus yang
lembuuut banget menyaput pipi. Kala reda itulah pemandangan alam sekitar mulai
tersingkap.
Padang rumput mulai mendominasi. Masih banyak pepohonan tapi tak setinggi dan serimbun di hutan tadi. Di belakang pohon-pohon besar itu, bersanding bukit-bukit yang berdiri memeluk padang savana. Kami nggak tahu seberapa gede perbukitan itu karena sebagian besar tubuhnya tertutup kabut.
![]() |
| Sabana berkabut. Foto nggak kelihatan jelas gara-gara kamera HP berembun. |
Semakin dalam masuk ke
pegunungan, hewan dan tumbuhan yang ditemui pun makin variatif. Pemandangannya
juga makin macam-macam. Hutan aneka tipe, padang rumput, mulai muncul
perbukitan layaknya di Teletubbies (tapi yang ini bukitnya lebih guedeee). Ini
masih di awal perjalanan, apalagi nanti. Ada puncak berkapur, bekas bandara dan
markas tentara Belanda, candi-candi.
Nggak sabar pengin lihat, euy!
(Eh tapi kudu sabar karena
jalannya masih lama lagi, hahaha.)
Hewan/Bunga Apa, Tuh?
Seiring langkah kami yang berderap
melintasi padang rumput, detail ekosistem sabana tersibak: rumput, bunga,
hingga faunanya. Sebuah surga observasi bagi pengamat alam liar.
Ada rumpun bunga berwarna biru
elektrik di dekat jalur pendakian. Bunganya hampir seukuran telapak tangan.
Sekilas seperti sejenis dahlia atau aster liar. Birunya cerah banget hingga kembangnya
kelihatan dari beberapa meter jauhnya. Sayang nggak sempat motret karena hujan.
Nggak pernah saya ngelihat bunga
liar secerah itu dan sebagus itu sebelumnya.
Di trek pendakian, lagi! Biru, lagi! Jarang-jarang ada bunga yang warna aslinya
biru.
Ada pula rumpun berbunga oranye.
Kali ini bisa ngelihat rada dekat karena letaknya pas di tepi jalan. Kembangnya
seukuran jempol, berbentuk seperti terompet-terompet mini berkelir peach yang
muncul dari satu tangkai yang sama. Daunnya panjang sejajar seperti daun
padi-padian. Jadi ingat bunga snapdragon. Tapi masa iya? Setelah
beberapa penelusuran (setelah pulang, pastinya), kayaknya lebih condong ke
sejenis bunga gladiol/gladiolus.
Kayaknya baru kali itu saya ngelihat
bunga-bunga dengan warna mencolok saat hiking. Ukurannya lumayan gede
pula! Bukan bunga rumput liar tapi udah kayak bunga di florist-florist. Senang
banget bisa menyaksikan bunga liar lokal di habitat aslinya!
Di perjalanan beberapa hari
selanjutnya, lebih banyak lagi flora aneka bentuk dan warna yang kami temui
sepanjang jalur pendakian.
Ketemu, melihat, dan mengagumi dari
jauh udah cukup. Nggak perlu dipetik. Let them grow and thrive and brighten
the forest floor.
![]() |
| Beberapa flora liar yang sempat tertangkap kamera. Dari kiri atas ke kanan: dandelion, gladiol(?) liar, selada air, verbena | Foto nggak jelas karena sambil jalan berkejaran dengan hujan |
Apa hanya tumbuhan? Nggak, dong.
Sesuai statusnya sebagai suaka
margasatwa, Pegunungan Yang-Argopuro juga ngasih kita kesempatan bertemu dengan
beragam hewan yang jarang ditemui di jalur pendakian lainnya (kalau hoki).
Sejak kemarin malam terdengar suara
anjing menyalak. Mungkin anjing hutan.
Beberapa kali kami melihat bayangan
hitam kecil lari melesat di antara rumput-rumput tinggi. Macam di kartun Bugs
Bunny. Tensi kewaspadaan pun meninggi. Itu hewan apa? Bahaya, nggak? Karnivor,
nggak?
Kami berhenti sejenak, mata kami nyalang
menatap sudut-sudut pohon dan semak. Terdengar suara yang sekilas seperti
kombinasi kokok ayam dan jeritan melengking. Sebuah bayangan hitam berlari
cepat melintasi sabana. Saking ngebutnya sampai kelihatan ngeblur!
Oh, ayam hutan!
Sejak awal perjalanan suaranya sudah
terdengar, tapi kami ragu itu ayam atau burung lainnya. Habisnya suaranya beda
banget dari kokok ayam peliharaan.
Baru kali ini saya lihat (dan
ketemu) ayam hutan. Amazed!
“Pasti dagingnya sedikit,” celetuk
seseorang.
“Pasti dagingnya alot.”
“Iyalah, larinya aja kenceng gitu,
ototnya pasti kebentuk. Beda sama ayam broiler peternakan,” sahut yang
lain. Saya langsung kebayang ilustrasi ayam dengan otot besar bak binaragawan,
LOL.
“Ayam kampung aja dagingnya alot, ya,
apalagi ayam hutan.”
“Dia sehat soalnya, tiap hari
naik-turun gunung. Lebih sehat itu ayam daripada kita, hahaha.”
Tawa kami pun pecah. Dibanding
manusia (baca: kami 😄) yang lebih sering berada dalam ruangan dan wira-wiri
pakai kendaraan, emang betul.
Makin mendekati plateau, pemandangan
makin didominasi rerumputan dan semak. Rumpun pakis Gleichenia menyembul
di beberapa petak. Tumbuhan yang pucuk tunasnya bisa dimakan (edible) ini
nampak makin segar dibasuh hujan. Kadang sambil jalan, saya iseng menyentuh
ujung daunnya yang basah dan dingin.
Hujan sudah benar berhenti. Saya melirik
jam tangan, ternyata udah lewat tengah hari. Nggak lama kemudian kami berhenti
untuk makan siang.
Menu makan siang sederhana aja: biskuit tebal dan
roti, nyemil cokelat/madu atau sumber ‘gula’ lainnya, plus minum air atau susu.
Karena perjalanan ini makan waktu lama maka kami putuskan nggak masak supaya
nggak kemalaman di jalan. Kami menghindari jalan malam karena trek Argopuro
cukup berisiko.
Biskuit tebal dan roti yang dikonsumsi memang
banyak supaya kenyang. Biskuitnya pun bukan biskuit yang biasa jadi makanan
ringan, tapi biskuit padat yang dipotek aja susah. Kami menyebutnya gabin;
mungkin ada yang nyebut hardtack atau ‘biskuit TNI’ (meski bukan merk
Gabin ataupun ransum TNI). Kecil, tapi padat dan kenyang.
Kami duduk lesehan begitu aja di atas padang
rumput yang basah. Ya udahlah ya, wong jas hujannya juga udah kuyup,
hehe.
Ketika kami mulai jalan lagi, terdengar dengung
lebah di samping kuping. Tapi… gede banget? Apa ukuran flora-fauna liar di alam
emang secara natural lebih gede daripada di kota? Karena lingkungannya lebih
sehat dan oksigennya lebih banyak, mungkin?
Lebah itu mengikuti kami agak lama. Dari
ukurannya kayaknya bukan lebah, tapi tawon. Untunglah dia nggak terbang
dekat-dekat banget. Sama seperti pendakian Junghuhn yang hari keduanya juga
diikuti tawon.
Bicara soal Junghuhn, di pendakian hari
pertamanya juga hujan deras dan petir sampai tanah yang cokelat berubah jadi
lumpur, tuturnya. Mirip sama hari pertama kami kemarin. Apa iklim lokal di sini
memang begitu ya dari tahun ke tahun, abad ke abad? Padahal pendakian Junghuhn
udah lebih dari 150 tahun lalu.
Curah hujan per tahun di sini memang tinggi, so
nggak heran kalau daerahnya selalu basah. Temperaturnya pun seringkali
rendah; cuma angka belasan.
Langkah berayun. Entah sejak kapan, sayup-sayup
terdengar alunan lagu. Nggak kencang. Bahkan liriknya pun cuma terdengar
sepotong-sepotong karena suaranya timbul-tenggelam.
♫ Hello from the other side~
I must have called a thousand times ♪
“Ada yang nyetel lagu ta? Atau ada yang HP-nya
bunyi?”
“Aku nyetel musik supaya nggak ada hewan
dekat-dekat,” jawab Zaka yang berjalan paling belakang.
Karena kami mulai memasuki area yang mulai
banyak hewan liarnya (bahkan ada macannya…) maka kami berusaha lebih awas. Alasan
Zaka masuk akal dan memang membantu: harapannya kalau ada hewan liar mendekat
atau berpapasan, hewan itu mendengar suara kami dulu sehingga dia menghindar.
Cara ini mengingatkan saya pada sebuah artikel hiking
sebuah area di AS. Karena di daerah itu ada banyak beruang maka rombongan
pendaki diimbau menggantung lonceng di tasnya. Harapannya, dentang lonceng jadi
penanda untuk beruang bahwa ada manusia di dekatnya sehingga dia menghindar
atau berhenti dulu, sehingga beruang dan manusia nggak bertemu thus nggak
saling melukai.
Ada yang pernah bilang, default-nya
hewan itu nggak mau ketemu manusia. Mereka antara malas atau takut sehingga
sebisa mungkin menghindar (kecuali kepepet).
Mengapa? Karena manusia cenderung ngeri nature-nya.
Konfrontatif. Badan kecil tapi nekat, cerdik, dan berani ngadepin hewan yang
lebih besar. Salah-salah malah hewannya mati diburu atau dibunuh. Hewan-hewan
udah malas ketemu kita duluan. Jadi kalau ada pertanda manusia lewat, misalnya
dari suara lonceng atau lagu—meski sayup-sayup, indra pendengar mereka jauh
lebih peka—, mereka akan berusaha supaya nggak bertatap muka dengan manusia.
Nggak semua hewan begitu, tentu. Maka kami
ambil langkah untuk jaga-jaga. Jadilah sayup suara Adele menemani kami sepanjang
perjalanan hari itu.
♫ Hello from the other side~
When can we meet the other side of this plateau, indeed.
Sabana Besar dan Kecil:
... sebuah alun-alun luas di tengah hutan.
Jika sudah bertemu banyak padang
rumput, tandanya para pendaki sudah dekat dengan Alun-Alun. Yup, di Argopuro
memang ada tempat dan checkpoint/pos yang namanya itu. Ada dua malah:
Alun-Alun Kecil dan Alun-Alun Besar. Ada juga yang nyebut Sabana Kecil-Sabana
Besar. Orang Belanda menyebutnya Kleine atau Groote Aloen-Aloen.
(kleine = kecil, groote/grote =
besar)
Selepas Mata Air 2 sebenarnya udah banyak
sabana. Namun nggak begitu terbuka; masih dilingkupi bukit. Makin dekat
Alun-Alun (thus makin dekat Cikasur) barulah savananya lebih luas dan
lapang.
![]() |
| Satu savana ke arah Alun-Alun Kecil |
👉Sekilas trivia!
Mana yang ejaan baku: sabana atau savana?
Kalau sesuai KBBI, yang benar sabana
sedangkan savana adalah ejaan tidak baku (terjemahan dari ‘savannah’-ENG).
But in this writing I took the liberty to use both just because I’m familiar
with them, hehe.
Sekitar 3,5 jam setelah Mata Air 2, kami sampai
di sebuah padang rumput cukup luas. Dibilang cukup karena lebar, tapi masih
dipagari perbukitan di kejauhan. Pohon-pohon masih bergerombol seperti hutan
mini. Sepertinya inilah yang disebut Alun-Alun Kecil itu.
Sesungguhnya karena saking banyaknya savana
yang muncul-hilang sepanjang pendakian hari ini, kami nggak tahu apa betul ini
yang disebut Sabana Kecil atau bukan, haha. Merujuk data elevasi di GPS, sih,
betul.
Oke lanjut. Jalanan masih sama seperti
sebelumnya. Kalau nggak padang rumput, ya masuk hutan sedikit. Kadang naik,
kadang turun. Karena hujan, turunnya cukup licin. Namun tanjakannya nggak
curam-curam banget, kok.
Satu jam kemudian kami sampai di padang rumput
yang lebih lapang. Pohon-pohon dan perbukitan makin berjarak di kejauhan. Ah…
apa ini yang disebut Alun-Alun/Sabana Besar?
Sore jatuh kala kami sampai di Alun-Alun.
Khawatir keburu magrib jika perjalanan dilanjutkan, kami putuskan shalat
jamak-qasar di sini. Matras setengah basah menjadi sajadah. GPS dan kompas jadi
pengarah kiblat karena matahari ngumpet di balik mendung tebal. Badan berusaha
tetap berdiri teguh meski kadang terayun menggigil akibat diterpa angin dan
rintik sedingin air es.
Kelar shalat, sambil beberes kami melayangkan
pandangan ke sekitar. Kagum ada sabana seluas ini di tengah gunung, di balik
hutan yang rimba.
“Kenapa namanya ‘Alun-Alun’, ya?” ujar
seseorang.
“Mungkin karena ukurannya luas banget kayak
alun-alun.”
Yang lain menanggapi, “Aku mikirnya malah dulu
ada alun-alun di sini.”
“Iya, ya, ceritanya dulu kan Argopuro masuk
daerah kerajaannya Dewi Rengganis. Apa alun-alun kerajaannya di sini?”
Cerita rakyat yang beredar di wilayah
Pegunungan Yang-Argopuro dan sekitarnya memang menceritakan sosok Dewi
Rengganis. Versinya macam-macam, tapi intinya selalu sama: Dewi Rengganis
adalah seorang ningrat dari Majapahit yang tinggal di Argopuro dan mendirikan
kerajaan di gunung ini. Seantero Argopuro adalah wilayah kekuasaannya. Istananya
ada di Puncak Rengganis. Di sanalah ia dan para pengikut setianya tinggal
hingga moksa. Konon sampai sekarang sang dewi masih mengawasi daerah
ini. Bahkan ada cerita-cerita magis tentang kemunculan sang dewi di sini.
(cerita lebih lengkap nanti kalau kita udah
sampai di puncak 😉 Menyusul di part []🔗 part 4: Rawa Embik - Puncak)
![]() |
| Sabana Besar kah ini... |
“Kalau bekas istananya aja sekarang masih ada, mungkin/nggak kalau bekas alun-alunnya juga tersisa? Cuma udah nggak ada bangunannya aja.”
Percakapan dan spekulasi kami berbalas-balasan.
“Tapi masa alun-alun jauh dari istana? Biasanya
kalau di Jawa, kan, alun-alun ada di dekat pusat pemerintahan.”
“Nggak tahu… Apa ini alun-alun buat keperluan
lain? Di dekat puncak, kan, udah ada Sabana Lonceng. Bisa tuh buat alun-alun.”
Daaaan sederet spekulasi lainnya. Sampai pada
obrolan alun-alunnya kenapa dijadiin dua, apa kalau banyak rumput begini
dulunya rakyat diizinkan angon sapi/ternak di sini, apa mungkin di zaman
itu di sekitar padang rumput ini ada rumah-rumah penduduk. Sekejap terbayang joglo
atau pendopo kayu menyembul ganjil di tengah hutan yang rapat. Namun tetap nggak
bisa ngebayangin gimana caranya—hebatnya—mereka yang membangun kerajaan di
tengah hutan. Di zaman dulu, lagi.
Keberadaan kerajaan dan kota kuno ini pun masih
jadi perdebatan. Ada yang berpendapat bahwa itu sekadar mitos lokal, ada juga
yang bilang benar adanya tapi karena udah zaman duluuu banget maka benang
kebenarannya udah terjalin dengan cerita lain dari mulut ke mulut sehingga jadi
nggak akurat.
Apa pun itu, sejarawan masa kini masih terus
menggali. Soalnya banyak cerita lokal yang kalau dipikir dengan perspektif
zaman ini kayaknya too good to be true, tapi setelah ditelusuri ternyata
memang pernah terjadi. Memang susah penelusurannya karena banyak kiasan atau
versinya beragam. Tabik pada para sejarawan yang telaten mengurai simpul waktu
satu per satu.
Namun ada satu hal yang sudah terkonfirmasi
benar: alun-alun di sini memang dulunya pernah direncanakan jadi bagian sebuah
kota kecil oleh Belanda.
Tapi nggak jadi.
Medan yang bergunung-gunung dan suhu yang sejuk
dianggap cocok untuk mendirikan kota peristirahatan khas Eropa. Ide ini
dicetuskan oleh J.L. van Gennep, seorang pegawai Belanda yang berkantor di
Besuki. Lengkap, deh, tuh kota isinya: ada hotel, rumah sakit, pos tentara
(tentunya!), lapangan olahraga, dsb.
Padang sabana yang terhampar di Alun-Alun
Kecil, Alun-Alun Besar, Cikasur, hingga arah Cisentor menjadi daerah yang
rencananya dibangun karena tanahnya datar. Makanya di arsip perencanaan,
tempat-tempat ini sering disebut bahkan blad petanya ada beberapa.
Mungkin karena nama berubah seiring zaman, nama-nama tempat di arsip tsb kadang beda dengan sekarang. Contohnya:
- Alun-Alun Kecil = Kleine Aloen-Aloen
- Alun-Alun Besar = Gro(o)te Aloen-Aloen = Aloen-Aloen Radje/Radja
- Cikasur ditulis ‘Aloen-Aloen Kasoer’
- Aloen-Aloen Kenek (nggak yakin apa yang dimaksud ini Aeng Kenek yang arah Bermi atau Alun-Alun Kecil)
- Sabana Lonceng disebut Aloon-Aloon Lonjeng.
(NB: ada yang nggak nulis aloen-aloen
tapi aloon-aloon). Ada juga beberapa nama yang nggak berhasil saya
temuin padanan nama dan lokasi tepatnya di masa ini, contohnya Alun-Alun
Mesem.
Rencana pembangunan mountain resort ini
detail banget. Bahkan desain rumah dan bahan pembuatnya pun tercatat. Namun
akhirnya toh resort ini nggak jadi dibangun. Nanti, deh, detailnya kita
bahas sesudah sampai di Cikasur supaya ada gambaran bentuk lokasinya.
Ketika baca planning pembangunannya itulah
saya jadi bertanya-tanya: jadi sejak kapan tempat ini menyandang nama
‘alun-alun’? Apa sebutan ini pertama dicetuskan Belanda yang mau bikin resor?
Atau dari zaman sebelumnya udah ada, diceritakan di antara penduduk lokal,
kemudian diadopsi belakangan oleh para meneer? Entahlah.
Sekarang kita melintasi Sabana Besar dulu!
Hutan-hutan makin terbuka. Kabut tersingkap, menyibak
tabir perbukitan di kanan-kiri. Dinginnya hujan digantikan oleh terpaan angin
sore yang cukup menusuk kulit. Mata pun makin melek, entah karena pipi serasa
ditampar angin atau euforia yang melambung.
Saya teringat cerita bapak polhut dan
catper-catper pendaki lain. Mana bekas stasiun radionya? Di mana bekas bangunannya?
Katanya di Cikasur bisa ketemu merak? So excited!
Namun sepertinya karena efek lelah berjalan, meski mata udah memandang nyalang ke sekitar, kadang objek yang dicari nggak tertangkap mata, huhuhu. Kadang ngelihat, kadang harus dikasih tahu teman dulu. Jadi kami gantian ngasih tahu gitu.
Cikasur, Merak, dan Sungai Kolbu
Tanah lapang terbuka. Jalan setapak yang makin
jelas terlihat hingga beratus meter jauhnya. Di sebelah kanan, mata saya
menangkap sebuah bangunan kotak warna abu-abu.
“Eh, itu bekas pemancar radionya?” saya
bertanya, yang dijawab dengan gumaman tak pasti dari teman-teman. Kami emang
nggak tahu mana bangunan A, mana bangunan X; mana yang dibangun Belanda, mana
yang Jepang (kalau ada).
![]() |
| Bangunan di sabana: kubus putih abu-abu sisi kiri, di antara pohon. Dari Baderan terletak kanan jalan di sabana sebelum S. Kolbu. Foto diambil dari arah Cikasur. |
Kami berhenti sesaat demi memandangi kubus abu-abu itu. Daripada sebuah bangunan, bentuknya lebih seperti gudang kecil. Beberapa jenak kemudian kami jalan kembali. Di depan tampak medannya menjorok drastis. Sungai, nih, kayaknya.
Di hadapan kami terbentang Sungai Kolbu.
Airnya yang jernih berkecipak terbentur bebatuan. Sungainya nggak terlalu
lebar, sekitar tiga meter. Pun nggak terlalu dalam. Kita bisa lewat dengan
melompati bebatuan yang menonjol di atas air. Namun karena takut terpeleset, saya
memilih nyemplung jalan di sungai sekalian. Aliran air dingin menggenang sampai
atas mata kaki.
| Sungai Kolbu. Airnya jernih seger banget! |
Jalur setelah sungai adalah tanah biasa. Namun
karena sehabis turun hujan dan dekat sungai, tanahnya jadi becek nan superlicin.
Saya sendiri kesulitan mendaki, sampai kepeleset, lalu akhirnya ditarik teman.
“He, ada merak!” Zaka berbisik pelan.
“Mana, mana?”
Zaka menunjuk sebuah pohon kering di tepi
sungai. Hari menjelang magrib, semua objek terlihat sama; sama-sama hitamnya. Kami
bolak-balik nanya ‘meraknya di mana’ (sampai Zaka kesel, hahaha) sambil
memicingkan mata.
Ah, itu dia. Burung berekor flamboyan itu
rupanya bertengger di salah satu dahan pohon. Siluetnya seperti ayam tapi tubuhnya
lebih ramping dengan ekor panjang melambai sampai ke dahan bawahnya.
Sekilas beda banget dengan gambaran di benak
saya tentang merak. Mungkin karena ekornya nggak sedang mekar sehingga kami ngira
itu burung biasa. Lupa kami kalau merak baru akan memamerkan ekornya pada merak
lain yang ia taksir.
Kami nggak bisa lama-lama memandangi si merak
karena harus segera mendirikan tenda. Kalau bisa sebelum gelap. Menilik
bias-bias cahaya yang tersisa dan kokok ayam hutan yang menandai datangnya
petang, kami nggak punya waktu lama.
Seusai melintasi sungai, kami melewati
reruntuhan bangunan di sisi kiri. Kali ini ukurannya lebih luas daripada
bangunan kotak tadi. Kalau yang tadi umpama satu ruangan, maka yang ini berupa
satu bangunan dengan beberapa ruang. Strukturnya sudah runtuh, hanya menyisakan
dinding-dinding setinggi paha. Hanya ada satu bangunan yang punya atap.
Sepertinya atapnya adalah tambahan yang baru dibuat sebab bentuknya masih utuh.
| Sisa dinding-dinding di Cikasur (abaikan warnanya yang kebiruan gara-gara salah setting kamera, hehe) |
Kali ini pun kami nggak bisa lama-lama meneliti
dinding demi dinding. Langkah langsung kami ayun ke sebuah spot yang
mencolok di tengah sabana.
Pohon dan semak melingkar terlihat jelas dari
kejauhan. Tenda-tenda biru dan oranye cerah menyembul dari balik semak-semak
yang menghalau angin savana. Sekelilingnya dikitari padang rumput luaaas
sekali. Inilah Sabana Cikasur yang legendaris itu.
Perjalanan dari Sabana Besar ke Cikasur (±2.232 mdpl) hanya sebentar, ±45 menit. Bisa lebih cepat kayaknya,
karena waktu itu kami jalannya santai pol.
Sudah ada beberapa tenda di sekitar pohon.
Setelah saling sapa dengan rombongan lain, kami pun mendirikan dome. Kali
ini agak santai karena nggak dibarengi hujan.
Kalau diperhatiin, ada beberapa lokasi/pos di
jalur pendakian Gunung Argopuro yang namanya berawalan ‘Ci-’. Cikasur,
Cisentor. Awalnya saya kira ini mirip konsep nama kota-kota di Jabar yang
berawalan Ci- karena ada sungainya, dan dalam bahasa Sunda Ci- berarti air.
Tapi… Argopuro kan di Jatim? Di sini kan lebih dominan orang Madura, bukan
Sunda; thus harusnya nyerap dari bahasa Madura? Tapi… apa?
Jadi apa arti awalan ‘Ci-’ ini?
Saya nggak kunjung nemu, haha. Barangkali ada
yang tahu, tolong kasih saya pencerahan :D
![]() |
| Cikasur. Atas kiri: pohon dan tenda di camp |
Tenda dan flysheet, done. Ganti baju, done. Tinggal masak dan santai-santai. Sambil menyeruput teh dan kopi hangat yang mengepul, kami bercengkerama di ambang pintu te da. Sambil menyantap menu hari itu (meski nasinya kurang matang sehingga masih kriak-kriak dikit, hehehe), kami ngobrol tentang pendakian hari ini.
“Berasa
lebih santai, ya, daripada kemarin.” Kami mengangguk setuju.
“Besok aku
mau lihat-lihat bangunannya.”
“Aku juga!
Aku juga!”
“Di sungai
katanya ada selada air juga, ya? Tadi nggak sempat merhatiin.”
“Besok pagi
kita aja lihat-lihat lagi. Insyaallah waktunya cukup sebelum otw ke
Cisentor.”
Ide itu
disambut koor setuju oleh segenap tim.
Cikasur memang istimewa.
Selain padang sabananya yang luas memanjakan
mata dan selada airnya yang sohor, ia juga kaya akan cerita dan peninggalan
sejarah:
- Berdasarkan mitos Dewi Rengganis yang dipercaya hidup di zaman Majapahit—, sabana ini termasuk wilayah kekuasaannya. Setelah masa itu berlalu pun, konon masyarakat sektiar masih berziarah ke puncak. Garis lurus di tengah padang yang ditengarai sebagai bekas landasan pacu zaman Belanda, katanya sudah terlebih dulu ada karena aslinya merupakan jalur para peziarah dan petapa.
- Catatan para pendaki, di antaranya Junghuhn dan Bosch, berkata bahwa banyak banget rusa yang mendiami wilayah ini. Bosch juga sempat nge-camp di sini. Ini era 1840-an.
- Van Gennep yang berambisi mengubah Pegunungan Yang-Argopuro menjadi resor, beberapa kali survei ke sini bersama rombongan.
- Setelah 1900-an, Ledeboer mengantongi hak sewa lahan di sini. Dia (dan teman-temannya, I presume) sering berburu hewan liar di sini. Namun di era Ledeboer jugalah area ini ditetapkan sebagai cagar alam.
- Dibangun (calon?) lapangan terbang, gudang, dan pos tentara di Zaman Belanda. Persisnya kurang tahu kapan, tapi masih di era 1900-an++ juga kayak era Ledeboer karena katanya pembangunan berhenti karena Jepang keburu masuk.
- Era Perang Dunia II, Jepang menguasai Indonesia termasuk Argopuro. Karena konon di sini kaya bahan tambang (entah apa), tentara Jepang mempekerjakan warga lokal untuk menambang. Masih katanya lagi, mereka yang bekerja di sini dibunuh semua oleh tentara Jepang supaya lokasi tambangnya nggak diketahui umum. Lokasi pembantaiannya, ya, di Cikasur sini. (Ada juga versi bahwa yang membantai adalah tentara Belanda)
Karena cerita pembantaian dan adanya bangunan
kuno inilah Cikasur dan Argopuro jadi salah satu gunung yang kesan angkernya
kuat. Ditambah mitos tentang Dewi Rengganis yang dipercaya masih hidup sampai
sekarang dan kadang menampakkan diri ke orang/pendaki yang ia kehendaki.
Ada cerita yang beredar di kalangan pendaki bahwa
konon ada yang pernah dengar suara seperti derap tentara baris-berbaris ketika bermalam
di Cikasur. Dugaannya, sih, itu arwah para tentara dan pekerja yang meninggal
di sana. Cerita mistis lainnya? Konon sang dewi sesekali menampakkan diri pada pendaki
yang beliau pilih.
Banyak konon dan katanya, ya?
Iya, karena ini cerita lokal yang beredar dari telinga ke telinga. Kami pun
dapat ceritanya dari tuturan orang-orang, baik warga lokal atau pendaki lain. Ada
juga yang bersumber dari kisah yang beredar di komunitas pendaki atau pencinta
alam. Entah siapa yang memberi testimoni dan kejadiannya kapan, sudah hablur
karena kejadiannya diyakini udah bertahun-tahun lalu.
Kisah dan pengalaman mistis. Sejarah ratusan tahun yang benar-benar terjadi. Medan yang menantang dan jalur terpanjang. Kompletlah kemagisan Argopuro dari berbagai sisi.
Cikasur dan Nostalgia Rusa:
Antara Cikasur, Junghuhn, dan Ledeboer
Bila kita lihat citra satelit Cikasur
sekitarnya, nampak area superluas yang datar nan terbuka, termasuk Sabana Besar
dan trek arah Cisentor. Pemandangan itu pula yang terhampar jika kita
melihat peta tahun 1840-an buatan Junghuhn.
Pemandangan itu makin menahbiskan
luasnya Cikasur (dan dataran tinggi ini). Kalau dilihat mata pun memang luas
bangeeet! Namun saat itu saya nggak ngeh seberapa luas sampai citra
satelit nunjukin spot-spot yang nggak tertangkap mata saat kami berada
di lokasi.
![]() |
| Peta Argopuro, dibuat oleh Junghuhn |
Inilah padang di mana rusa-rusa dikabarkan merumput seratus, dua ratus tahun lalu.
Kita jalan sebentar ke dua abad lalu, tepatnya
tahun 1844. Di akhir Oktober itulah Junghuhn dan Bosch janjian hiking
bareng ke Argopuro. Namun Junghuhn sakit sehingga Bosch naik duluan.
Apes, Bosch dkk nyasar. Sementara itu Junghuhn pulih beberapa hari kemudian,
lalu menyusul naik. Setengahnya untuk nyusul bantuin Bosch yang logistiknya
udah habis.
Tim Junghuhn terdiri dari beberapa orang.
Selain para kuli lokal, ikut pula saudara ronggo Bondowoso bernama Kiai
Ngabehi Kreto Adi Wikromo. Mereka naik dari selatan (dari Jember) dan
sampai di plateau pada sore hari kedua pendakian. Dan naturalis Jerman itu
langsung terkesima ngelihat banyaknya rusa di padang rumput ini.
Ribuan rusa, bahkan lebih, menghuni area ini dan muncul dalam kawanan-kawanan sebanyak 100-an, 200-an, 500-an, bahkan 1.000-an rusa, di semua sisi…
… Mereka berbaris berbondong-bondong, biasanya dipimpin sepasang rusa tua yang dipercaya, dengan tanduknya yang amat besar dan berwarna cokelat gelap. Mereka memimpin prosesi itu; kawanan lain atau anggotanya berhenti dari kejauhan, mengobservasi kami dengan tenang dan ingin tahu, sampai kami lewat. Hewan-hewan ini tidak malu-malu. Hampir tidak mungkin menemukan satu pun titik di dataran ini—yang membentang bermil-mil, bahkan berhari-hari—di mana kotoran rusa tidak tersebar berjibun di atas tanah berumput. Jumlah mereka (secara mencengangkan) sangat-sangat banyak dan kemunculan kawanan-kawanan baru yang banyak dan berkali-kali membuat kami senantiasa terkagum-kagum sepanjang sore, meski cuaca tetap membosankan dan berhujan.
– Junghuhn dalam bukunya “Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und Innere
Bauart”
Junghuhn menaksir jumlah rusa di kawasan ini
mencapai 50.000 ekor bahkan lebih. Whoaaa!
Pemandangan yang sama dilihat Wormser
lebih dari 50 tahun kemudian. Dia melihat “kawanan besar rusa-rusa yang minum
dari kali gunung” dan merak-merak yang berjalan-jalan di padang rumput.
Apa kami juga menyaksikan disaksikan
kawanan rusa?
Sayangnya enggak. Populasi rusa di masa ini
udah jauuuh berkurang. Kalau zaman Wormser seabad lalu rusanya masih seabreg,
kami malah nggak ketemu sama sekali.
Naifnya, saya mengira kalau pasti bisa ketemu gerombolan
merak atau rusa. Dugaan saya—karena merak dan rusanya sohor banget kan—kami bisa
menyaksikan sekawanan kecil atau seenggaknya tiga ekor lah. Kalau dari
cerita-cerita orang dan teman kedengarannya heboh dan menakjubkan banget gitu!
Jadi ketika sampai lokasi dan nggak ngelihat
rusa sama sekali… kayak, yaaah, gigit jari, deh.
Ketemu merak juga cuma satu. Itu juga udah
alhamdulillah karena setelahnya kami sama sekali nggak ketemu lagi, huhu.
Selain populasi hewan liar yang udah berkurang,
bisa jadi (banget!) mata kami—saya—nggak awas meninjau sekitar sehingga
kehadiran fauna-fauna menakjubkan itu luput dari pandangan. Bisa jadi mereka
justru bersembunyi dari kami karena takut manusia. Mungkin trauma karena pernah
diburu.
Zaman Ledeboer bersaudara era 1900++,
rusa-rusa itu diburu sekaligus ditangkar untuk mengatasi masalah maraknya
perburuan liar.
Ceritanya setelah planning bikin mountain
resort-nya van Gennep gagal, tanah Pegunungan Hyang disewa-sewakan, salah
satunya pada Ledeboer bersaudara. Mereka doyan berburu. Jadilah Dataran Tinggi
Hyang/Yang dijadikan area berburu oleh duo ini.
Apa yang diburu?
Macam-macam. Macan, kucing hutan, babi hutan,
anjing hutan. Ledeboer bersaudara sampai membangun pondok berburu dan landasan
pacu sederhana (airstrip) untuk para tamu yang datang berburu. Karena predator
sejumlah ratusan macan dibunuhin, populasi rusa pun melonjak.
Rusa-rusa ini memang sengaja ditangkarkan oleh
Ledeboer. Tujuannya untuk menjaga jumlah populasinya sekaligus sebagai
penghasil daging. Daging rusa diambil untuk dikirim ke Surabaya (kabarnya ke
daerah Gunungsari). Kabarnya landasan pacu di Cikasur tuh dibuat untuk pesawat supaya
cepat ngirim daging ke Surabaya. Jalur landasannya masih kelihatan sampai saat ini;
nampak seperti lintasan lurus yang muncul ganjil di antara belantara yang liar.
| Garis lurus yang membentang di Cikasur dan jadi penanda jalan ke Cisentor. Apa ini bekas landasan pacunya? (atau jalur para peziarah zaman kerajaan?) |
Keberadaan kawanan rusa di Cikasur bukan cuma soal kekayaan biodiversitas, tapi juga sebagai penjaga ekosistem. Maksudnya gimana?
Para Cervus timorensis ini menjaga
populasi cemara gunung supaya nggak mendominasi. Rusa jantan ngebersihin velvet/selaput(?)
tanduk dengan menggosoknya ke pohon, juga memakan tunas cemara; sehingga
pohon cemara jadi rusak thus jumlahnya nggak banyak-banyak amat sehingga
nggak mendominasi. Intinya, they keep the casuarina population in check. Karena
itulah tanah bisa ditumbuhi oleh semak/pepohonan selain cemara sehingga flora
di situ jadi lebih beragam.
Sayangnya kenaikan angka populasi rusa
menimbulkan komplain dari masyarakat zaman itu. Mereka ngeluh rusa-rusa masuk
kebun sehingga lahan pertanian di sekitar Pegunungan Yang rusak. Gara-gara itu,
Ledeboer didesak supaya lebih menggencarkan shooting programme-nya dan
membangun pabrik kornet daging rusa (tapi nggak pernah kesampaian).
Lima puluh tahun lalu sekitar 1970-an, tercatat
bahwa populasi rusa di dataran ini emang udah jauh berkurang. Ada tapi nggak
banyak, pun malu-malu banget (takut?); nggak kayak zaman Junghuhn yang berani
jalan santai dan malah ngelihatin orang yang lewat.
Populasi rusa juga menurun karena mereka minim
akses ke garam. Apa hubungannya?
Jadi ternyata rusa itu suka ngejilatin batuan yang mengandung garam mineral. Alasannya
karena mereka butuh untuk metabolisme plus numbuhin tanduknya.
Dulu waktu populasi manusia masih sedikit,
mereka bebas melenggang dari Cikasur ke pantai untuk cari garam. Namun
lama-lama nggak bisa karena aksesnya dihuni manusia. Waktu zaman Ledeboer aja, garamnya
udah disuplai dalam bentuk balok-balok yang ditaruh di gubuk-gubuk khusus. Rusa
tinggal datang ke gubuk dan voila, dapet, deh, jatah garam.
Kemasyhuran rusa-rusa Cikasur kini tinggal riwayat.
Sudah satu setengah abad sejak kisahnya tercatat dalam pendakian para
pendahulu, tak sekali pun sosoknya melintas dalam pendakian kami kali ini.
Namun cerita hewan-hewan itu tetap hidup dalam obrolan larut malam di depan
kompor yang membara; di antara bergelas-gelas kopi, susu, dan teh panas; di
tengah sabana yang dulu pernah jadi tempat tinggalnya.
![]() |
| Potret luasnya Cikasur. Para pendaki di sisi kiri (hitam seperti titik) nampak mungil. Foto dari artikel van Gennep, 1926 |
Resort Elite di Argopuro
Tadi sempat disinggung bahwa pernah ada rencana
ngebangun kompleks peristirahatan di Dataran Tinggi Hyang/Yang/Iyang Argopuro. Pencetusnya
pegawai Belanda bernama J.L. van Gennep. Rencana ini diusulkan sebelum
tanah-tanah di sana disewakan pada Ledeboer bersaudara.
Ceritanya setelah Junghuhn turun dari mendaki
gunung-gunung di Jawa, dia mengamati kalau Belanda butuh semacam hill
station di Hindia. Menurutnya Belanda belum punya hill station yang proper,
padahal konco-konconya sesama penjajah—Inggris contohnya—punya beberapa,
contohnya di Darjeeling-India (siapa yang pernah minum teh Darjeeling yang
terkenal itu?).
Ada, sih, tapi kurang. Sedikit ‘ironi’ karena
Belanda adalah penjajah pertama yang berhasil megang dataran tinggi di Asia,
sedangkan Bogor diklaim sebagai hill station pertama di Asia, tapi dianggap
kurang proper.
Apa hill station itu?
Hill station atau mountain resort kayaknya bersinonim
dengan tempat tetirah atau peristirahatan di pegunungan. Sesuai namanya, tempat
ini difungsikan untuk tempat istirahat atau pemulihan dari penyakit.
Udah jadi hal umum bahwa orang-orang Eropa pada
nggak kuat panas dan lembapnya iklim tropis (sampai sekarang juga gitu, kan).
Mereka juga nggak tahan dengan penyakit-penyakit lokal sehingga banyak yang
jatuh sakit bahkan meninggal. Jika mereka sakit, salah satu saran dokter adalah
tinggal sementara di tempat yang sejuk/pedesaan (jadi ingat novel-novel Inggris
klasik, deh, yang ‘resep’ dokternya juga begini). Opsi lain adalah balik ke
Eropa.
Balik ke Eropa jelas mahal. Capek di jalan
pula, plus habis waktu berbulan-bulan di laut untuk PP Asia-Eropa. Maka salah
satu alternatifnya adalah: recovery di area pegunungan yang hawanya
jelas lebih sejuk, segar, bersih!
Junghuhn usul Dataran Tinggi Dieng sebagai resort,
tapi nggak digubris. Sampai akhirnya van der Stock (dokter) berargumen kalau
Belanda beneran butuh tempat kayak gitu dan usul Yang/Hyang Plateau. Argumen
ini disambut antusias oleh van Gennep yang saat itu jadi controller di
Karesidenan Besuki.
Udahlah tuh dibentuk kepanitiaan sampai survei
berkali-kali ke Argopuro. Dirancanglah bangunannya apa aja, sarana-prasarananya
apa aja, pembiayaannya gimana.
![]() |
| Pondok di Alun-Alun Besar. Artikel van Gennep, 1926 |
Faktor pemulihan jadi sebab utama mengapa
komponen ‘wajib’ di mountain/hill station ini ialah rumah sakit dan
sanatorium. Lalu nambah ada hotel untuk yang sekadar rehat aja tapi
nggak sakit. Nggak lupa ada pos tentara dan kantor pegawai.
Sarana-prasarana pelengkapnyalah yang bikin
tempat ini jadi makin mirip resort. Rencananya ada tempat hiburan
seperti teater, lapangan olahraga, taman-taman dengan bunga,
serta pondok-pondok penginapan seperti chalet mini nan
manis di pedesaan Swiss. Bahkan mau disediain bangku-bangku di beberapa tempat
dengan pemandangan keren; macam viewpoint gitu. Nggak lupa bisa untuk
jalur hiking juga.
Berbarengan dengan itu tentu perlu dibangun jalan
raya. Lengkap dengan saluran telepon, stasiun, dan rel kereta api
yang kuat melintasi perbukitan menanjak. Bahkan ada plan ngebangun
bandara dan hanggar. Soal saluran pembuangan limbah pun sempat disebut-sebut.
Tapi smeua ini listriknya dari mana? Ada
usulan dibangun PLTA (hydroelectricity) memanfaatkan sungai di
Cikasur.
Kayaknya lebih mirip desa atau kota kecil
daripada sekadar kompleks resor, ya?
Yang Resort & St. Moritz, Swiss
Anyway, artikel tentang planning pembangkit
listrik tenaga air ini banyak nyebut-nyebut sungai di plateau, Sungai
Deluwang. Saya nggak tahu ini sungai yang mana dan letaknya di mana. Sempat
curiga ini sungai yang sekarang kita kenal sebagai Sungai Kolbu karena di
beberapa catatan disebut kalau sumbernya S. Deluwang ada di sekitaran Cikasur;
sama kayak S. Kolbu. Tapi entahlah. Namun kalau menilik peta sekarang, ada
daerah namanya ‘Delwang’ di sebuah lembah bersungai. Lokasinya ‘sebelahan’
dengan pos Baderan, cuma berjarak 2,5 km (diukur garis lurus, kalau naik motor
jadi mutar jauh 37 km-an).
Saya sempat kaget waktu baca bagian PLTA ini.
Nggak nyangka aja gitu, di era 1890-an udah kepikir bikin pembangkit listrik.
Makin surprised kalau ingat medan di Cikasur dan sekitarnya.
Di tempat yang sepi ini, bikin pembangkit
bahkan resor? Wah, kalau beneran dibangun, pasti rame dan banyak tiang+kabel
dan gedung dan orang. Sikonnya pasti berbalik seratus delapan puluh derajat
dengan sekarang ketika yang bisa kami dengar hanya kersik rumput dan angin
serta kokok ayam hutan.
Usut punya usut, usul PLTA itu dibuat mengikuti
mountain resort lain yang sudah berhasil: St. Moritz di Swiss.
Kota yang sampai sekarang eksis jadi jujugan wisatawan itu jadi salah satu
pionir hydroelectricity di Eropa. St. Moritz punya sungai juga, bahkan
ada danaunya, thus cocok dibuat PLTA. Lampu listrik pertama di Swiss
menyala di hotel kota ini. Listriknya bersumber dari putaran turbin air. Di
zaman itu sepertinya peristiwa ini merupakan sebuah terobosan akbar sehingga
ramailah jagad Eropa. Mungkin van Gennep juga terinspirasi karena lampunya ada
di hotel, mirip konsep resor di Argopuro.
![]() |
| St. Moritz, Switzerland (Pixabay) |
Kalau dipikir-pikir, perencanaan resor
pegunungan di Argopuro ini sekilas mirip banget sama konsep resor-resor
pegunungan Eropa.
“Sayang, ya, resornya nggak jadi dibangun.
Kalau jadi, kan, bisa kita nikmatin sekarang.”
Kalimat ini saya pernah saya jumpai dulu sekali
sebelum jadi mendaki Argopuro. Kening saya berkerut, kalau di Argopuro dibangun
resor apa akan jadi seperti kota-kota pegunungan lain yang punya bangunan zaman
kolonial seperti daerah perkebunan di Bandung atau Bogor? Apa taman-taman di
Argopuro akan nampak seperti, katakanlah, Selecta di Batu-Malang?
Saat republik sudah berdiri, bisa jadi orang
Indonesia turut menikmati ‘peninggalan’ itu. Namun ketika merdeka belum nampak
di ujung horison sedikit pun? Jangan harap.
Resor mewah di Argopuro sejak awal eksklusif
dikhususkan untuk orang Barat alias kulit putih. Nggak hanya tempat
rekreasi tapi juga tempat menghabiskan masa pensiun kalau nggak mau balik ke
Nederland. Pemilihan tempatnya yang berada di ketinggian pun selain karena
faktor suhu sejuk dan udara segar, juga untuk menunjukkan superioritas Eropa bahwa mereka 'hidup di atas awan seperti para dewa' sambil 'mengamati rakyat/bawahannya yang hidup di dataran rendah', menurut seorang sejarawan.
Sempat direncanakan ada perkebunan
khusus orang Eropa juga. Perkebunan ini dijadikan alternatif ngatasin angka
kemiskinan di Eropa yang makin naik. Orang-orang Barat yang tak berpunya
rencananya dijadikan buruh kasar di sini, jauh dari orang lokal sehingga
‘derajat’ orang Barat nggak turun di mata penduduk pribumi.
Jadi, yah, kalaupun betulan dibangun resor,
nggak akan menguntungkan bumiputra. Namanya penjajahan, kan. Apa ujungnya
kalau bukan eksploitasi?
![]() |
| Salah satu sketsa chalet (pondok khas Pegunungan Alpen) dari artikel van Gennep, 1926 |
Ngomong-ngomong, padang sabana yang akan dikonversi jadi resor nggak cuma Cikasur. Sabana Kecil dan Sabana Besar pun nggak luput dari sasaran karena tanahnya yang datar dan dinilai cocok untuk pembangunan.
Ada 3 plateau yang disasar untuk pembangunan:
- area terbawah di ketinggian 6.000 kaki = 1.829 mdpl (Alun-Alun Kecil/Kleine Aloen-Aloen? Elevasinya mirip)
- area tengah di ketinggian 7.100 kaki = 2.164 mdpl (kayaknya ini di Alun-Alun Besar/Grote Aloen-Aloen sampai Cikasur)
- area terkecil dan tertinggi di 8.300 kaki = 2.530 mdpl (kalau nyocokin ke peta di bawah kayaknya sekitaran Rawa Embik? Di sana sempit juga, kan. Tapi ada catatan yang nyebut-nyebut ada Aloen-Aloen Lonjeng/Lonceng. Entahlah yang mana...)
*NB: teks abu-abu cuma dugaan saya aja, bisa jadi lokasinya bukan di situ
![]() |
| Peta perencanaan wilayah resort, disertasi van der Meer (2014) yang dibuat berdasarkan peta van Gennep |
Rencana pembangunan ini pertama digagas di 1890-an. Survei dan sebagainya masih berlangsung sampai awal abad 20. Seiring waktu timbul pro-kontra tentang pembangunannya. Beberapa di antaranya adalah iklimnya sekilas bagus tapi ternyata enggak, lokasinya terpencil sehingga susah dicapai, dan pembangunannya butuh duit yang nggak sedikit.
Dukungan pemerintah Hindia-Belanda yang
setengah hati dan kegagalan mencari investor jadi gong pembatalan pembangunan mountain
resort ini.
Kalau dipikir-pikir, iya ya, tempat kosong
begitu mau dibangun segala macam. Udah kayak ngebangun desa/kota dari awal.
Nggak cuma biayanya yang gede, risikonya juga.
Jadilah rencana itu ditinggalkan. Tanah yang
sudah dipatok-patok lalu disewakan; salah satunya pada Ledeboer bersaudara. Dan
kini Pegunungan Argopuro kembali ke wujud aslinya: menjadi alam pegunungan liar
yang menjadi rumah bagi flora-fauna lokal dan jauh dari jamahan tangan manusia.
Malam di Cikasur
Malam menjelang di Cikasur. Sunyi. Savana
terang kini gelap gulita. Puing bangunan tak sedikit pun nampak karena dilahap
malam, seperti menggaungkan kejayaannya yang redup dimakan zaman.
Kilau bulan keperakan terpantul di kanvas tenda
dan bilah-bilah daun alang-alang. Suara denting sendok-garpu yang beradu dengan nesting
dan percakapan pelan jadi pemecah kesunyian. Kami berkumpul di sekeliling
kompor gas yang membara, menghangatkan diri di antara gelas-botol kopi-teh-susu yang menguarkan
uap panas.
Di padang rumput seterbuka ini, angin dingin bertiup tanpa henti. Untunglah sekeliling pohon besar ini dilingkari semak yang tumbuh lebih tinggi daripada tenda kami. So, ada penghalau anginnya.
(Sempat takjub sama semak-pohon ini. Kok
bisa formasi tumbuhnya cukup ‘rapi’: pohon tunggal di tengah + semaknya
keliling serupa lingkaran. Dan ada satu-dua pohon lain di Cikasur yang formasinya
begini juga. Tumbuh alami atau ada yang nanam?)
Pendakian hari ini rasanya lebih santai
dari kemarin. Mungkin karena treknya banyak bonus dan hujannya nggak seganas
kemarin, hahaha.
“Hayoo, ndang tidur. Biar besok bisa
lihat-lihat tapi trekking-nya nggak kesiangan,” seorang rekan mengingatkan.
Pendakian baru masuk hari kedua, tapi udah
banyak hal yang tadinya hanya cerita lalu kini bisa kami lihat pakai
mata kepala sendiri. Dan, meski udah ngelihat sekilas, rasa penasaran itu
bercokol nggak habis-habis seperti semak savana yang tumbuh subur disiram
hujan Januari. Sebelum berangkat, pertanyaan dan penasaran itu sudah ada. Namun
setelah ngelihat wujudnya, muncul pertanyaan baru lagi. Begitu seterusnya.
Pertanyaan seperti:
Di mana landasan pacunya? Kayak gimana detail
puing ruangannya? Dulu dibangun buat bagian apa, ya? Kami juga penasaran dengan
Sungai Kolbu dan selada air yang bisa dimakan itu. Nggak puas hanya lihat
sekilas.
Besok. Yup, besok setelah terang kami akan
lihat-lihat lebih lama. Semoga bisa menjawab rasa ingin tahu ini.
Malam itu, mungkin efek kenyang makan enak dan camp yang nyaman, saya terlelap begitu cepat. Sebelum tertidur saya sempat teringat cerita-cerita pendaki yang terbangun oleh bunyi-bunyi aneh nan mistis. Wah.
Pikiran itu buru-buru saya tepis. Saya menutup mata, menenggelamkan diri ke dalam sleeping bag. Lelap.
(bersambung di 🔗Part 2: Cikasur-Rawa Embik) (artikel menyusul)
- RANGKUMAN -
NB: angka mdpl berdasar ketinggian di GPS saat itu
Mata Air 1 – Mata Air 2
- Waktu: 2,5 jam
- ±1.800 mdpl ke ±2.132 mdpl
- Medan naik terus, kadang ada
turunan. Naik agak curam. Medan sebagian besar tanah, lalu tanah+rumput.
Mata Air 2 – Sabana Kecil
- Waktu: 3,5 jam
- Mdpl?
- Sabana Kecil = Alun-Alun
kecil
- Jalanan tanah, naik-turun
bukit. Nggak terlalu nanjak, turunannya agak curam. Dominan tanah
berumput.
- Makin dekat sabana, makin
terbuka dan didominasi rumput tinggi, pepohonan ada tapi makin jarang.
Sabana Kecil – Sabana Besar
- Waktu: 1 jam
- Masih naik-turun bukit dan
kadang masuk hutan, tapi nggak lama kemudian ketemu sabana lagi. Jalur
nanjak biasa. Lumayan banyak datarnya.
Sabana Besar – Cikasur
- Waktu: 45 menit
- Cikasur ±2.232 mdpl
- Banyak lewat sabana (datar)
dan keluar-masuk hutan. Kadang jalan agak nanjak.
- Kanan jalan sebelum Sungai
Kolbu ada bekas bangunan. Kecil. Kotak.
- Sungai Kolbu: sumber air. Nggak terlalu
lebar, dangkal di bagian penyeberangan, arus nggak terlalu deras. Ada selada
air (edible—bisa dimakan).
- Di Cikasur ada bekas
bangunan tua dan sederet cerita bersejarah menarik lainnya.
👣Cerita savana & Cikasur:
- Kalau beruntung bisa ngelihat merak dan ayam hutan (NB: dilihat dari jauh aja, jangan dipegang apalagi ditangkap)
- Dulu rusanya banyak, kisaran ribuan-puluhan ribu.
- Zaman Belanda (akhir abad 19 – awal 20) pernah mau dibangun resort pegunungan, tapi batal. Lalu jadi lahan berburu (macan, rusa, dsb) sekaligus penangkaran rusa.
- Pernah ada pembangunan dan lapangan terbang. Sisanya pembangunannya masih nampak sampai sekarang.
- Konon udah jadi jalur ziarah orang-orang terdahulu di zaman kerajaan bahkan sebelum orang Barat masuk sini.
Referensi:
menyusul di part "Rangkuman"
[]
« Sebelumnya: 🔗Part 1: Baderan-Mata Air 1
Selanjutnya: 🔗Part 2: Cikasur-Rawa Embik »
Updated in January












.jpg)


Tidak ada komentar: