Sepuluh Tahun Semeru - Hijaubiru

Minggu, 12 September 2021

Sepuluh Tahun Semeru



Mengapa angka 3, 5, 10, dan kelipatannya sering dijadikan patokan buat memperingati sesuatu? Entah. Namun, mungkin karena saking sering dan saking lazimnya, bawah sadar saya pun jadi ikut pakai angka itu. Tahun ini adalah selang sepuluh dan enam tahun sejak saya terakhir pelesir ke kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS). Tepatnya Juni-Juli lalu.

 

Wah, udah selama itu? Pantesan kangen!

 

Juni-Juli-Agustus memang selalu jadi bulan penuh liburan, penuh petualangan, dan kini, penuh kenangan. Apa lagi sebabnya kalau bukan karena libur panjang dari sekolah yang bikin bisa bebas mbolang ke mana-mana.

 

Dan, nggak tahu, deh, TNBTS memang selalu punya tempat tersendiri di hati biarpun gunung-gunung lain yang pernah saya sambangi juga nggak kalah cantik. Mungkin karena rangkaian pegunungan ini adalah cinta pertama saya. Gunung pertama yang saya kunjungi ada di sini, yaitu Gunung Bromo.

 

Masih ingat banget betapa mata saya membulat takjub waktu ngelihat hutan-hutan rapat plus perbukitan menjulang di kanan-kiri. Kemilau kerlip Bimasakti dengan latar belakang langit bergradasi hitam-biru-ungu terekam jelas. Pun bekunya udara pukul tiga pagi yang menelusup halus lewat celah jaket ketika kami harus turun dari mobil demi menanyakan arah.

 

Beberapa tahun kemudian, saya melawat ke sini lagi untuk mendaki Gunung Semeru. Kali ini, yang bikin berkesan selain pemandangannya —yang masih juga breathtaking yaitu ‘misi’-nya. Buat anak sekolahan yang lemah fisik kayak saya, mendaki Atap Pulau Jawa adalah satu tantangan dan kebanggaan tersendiri.

 

Ah masa, sih, lemah?

Yes, seriously, I was.

 

Sebagai gambaran, saya nggak pernah nggak remidi ujian lari sejak SD hingga tamat SMP. Saat masih awal-awal berseragam putih-merah, saya bakal sesak napas kalau bawa ransel yang lebih berat daripada biasanya. Saat ada upacara bendera, mbak-mbak PMR adalah teman yang familiar karena saya sering mundur dari barisan dan izin duduk lantaran nggak kuat berdiri tiga puluh menit. To be noted, ini masih berlangsung sampai awal SMA.

 

Kemudian, segalanya berubah (halah!). Entah karena hasil digembleng habis selama satu tahun, atau gara-gara pengin banget bisa naik gunung, atau kombinasi keduanya, pelan-pelan fisik saya jadi lebih tangguh. Jauh, jauh, lebih tangguh daripada setahun sebelumnya, alhamdulillah.

 

Anak yang setahun lalu nggak kuat berdiri kalau upacara, kini atas izin-Nya bisa berangkat ke puncak tertinggi di Jawa. Catatan perjalanan untuk pendakian ini pernah saya ceritakan di sini.

 

I’d never have guessed.

 

Pendakian kali itu bikin saya makin kesengsem dengan TNBTS, apalagi ranu-ranunya. Empat tahun kemudian, saking kangennya dengan Ranu Regulo, saya main ke sana lagi. Hal yang spesial dari perjalanan kali ini adalah: alhamdulillah bisa explore TNBTS komplet mulai dari desa warna-warni Tosari, Kaldera Bromo, Lautan Pasir, Bukit Teletubbies, hingga Ranu Pani-Regulo. Dua hari, pakai sepeda motor keluaran ’99, di bulan puasa. Oh, of course bukan saya yang nyetir, hahahah. Nggak ke Ranu Kumbolo sekalian? Enggak, soalnya emang nggak berniat hiking. Selain itu, emang lagi kangen sama Ranu Pani-Regulo aja (buat ngehidupin vibes bikin cerpen, LOL).

 

Kemudian, musim berganti. Tahun-tahun kelipatan 3, 5, dan 10 pun hadir. Nggak terasa sudah sepuluh tahun berlalu semenjak hiking ke Semeru dan enam tahun setelah explore Bromo. Selain dipakai untuk patokan suatu momen, ternyata angka-angka ini juga turut dijadikan pembanding oleh manusia. Termasuk saya, meski tanpa sadar. Dan kemudian, secara sadar, diri ini jadi turut membandingkan keadaan kala itu dan situasi saat ini.

 

And it was quite disheartening.

 

Bukan karena ‘dulu bisa naik gunung, sekarang nggak bisa’. Ya lagi pandemi mau gimana lagi. Tapi lebih karena ‘dulu mampu naik gunung dan segala hal lainnya, sekarang personally nggak mampu’. Dan berakhir jadi ngebandingin banyak aspek lainnya.

 

Sering dulu, zaman sekolah, kami diminta memproyeksikan kira-kira apa yang akan dan mau kami lakukan 3, 5, 10 tahun ke depan. Diminta nulis daftar mimpi dan target juga. Apa karena mimpi yang tercoret nggak banyak, jadi kecewa?

 

Nggak juga. Dari awal saya emang sudah sadar kalau nggak mungkin target seratus biji (dulu kayaknya saya sih nggak sampai seratus juga) itu semuanya bisa tercapai on time ataupun a bit overdue. Karena itulah dibikin banyak biar seenggaknya ada beberapa yang nyantol. Well, it doesn’t matter. What hits me the most was because the grand design I meticulously planned crumbled, almost into ash.

 

It wasn’t about the targets, really. Bukan tujuan yang nggak tercapai yang bikin down, tapi karena langkah-langkah menuju ke sana pun sudah lebur dan hablur.

 

Many people says that the timing or age isn’t everything, but we know that’s not true. Kita semua punya limit waktu. Berita buruk atau baik? nya, kita nggak tahu limit itu kapan. Ini lebih dari ‘sekadar’ limit kematian, tapi juga tentang golden moment; masa di mana waktu dan sesuatu bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya, seoptimal-optimalnya, semaksimal-maksimalnya.

 

And I missed that.

Damn.

 

Seberapa buruk, sih?

 

Sebagai bayangan: saya lebih lemah daripada zaman sebelum ditatar. Masih ingat kalau di atas ada cerita bahwa saya nggak tahan ikut upacara? Well, sekarang lebih ringkih daripada itu.

 

Physically, academically, dan -ly -ly yang lain.

 

Mungkin karena kamu ngebandingin sama orang lain, kali?

 

Eh, semua orang dekat tahu betapa cueknya saya kalau soal beginian, wkwk. Nggak menyangkal, kadang pengin juga kayak teman-teman lain yang sudah stable. Namun, perasaan itu hanya sebagian keciiil dari wujud utuh emosi yang menggerogoti. Saya jarang banget membandingkan diri sendiri dengan orang lain (ya karena cuek mendekati masa bodoh tadi), tapi lebih dari sering membandingkan saya-versi-nyata vs saya-versi-cita-cita.

 

Berkaca dari exploring TNBTS tahun-tahun itu, sebenarnya saya punya proyeksi gunung apa yang ingin saya gapai sepuluh tahun dari itu (atau sepuluh tahun lebih sedikit, deh). ‘Hanya’ satu gunung, kok. Di luar Indonesia, memang, tapi kurang terkenal. Tertinggi di negara/benuanya saja, enggak. Namun kalau diibaratkan, gunung ini adalah titik kulminasi secara harfiah maupun kiasan dari rangkaian target dan rencana hidup yang pernah saya buat.

 

*Sigh*

 

Sama seperti naik gunung yang kudu latihan dulu, kudu bikin manajemen perjalanan dulu, atau kudu ngalami gagal dulu, hidup pun sebenarnya begitu. Cuma kan beda yaaa rasanya (dan skalanya) antara mbeleset hiking gunung dan hiking kehidupan. Coping mechanism dan pengobatan rasa kecewanya juga beda, meski ya mirip-mirip sih kayaknya.

 

I’m trying.

 

Satu telepon dari seorang sahabat, Agustus lalu, jadi semacam suntikan semangat dan wake-up call  bahwa ‘hey, you did it in the past. I’m sure you can do it again, now, albeit slower and weaker. The point is: you can. Focus on that and don’t count the steps, for the time being. Don’t even think about calculating your progress. It’ll only send you backwards and upset. Just. Walk. I believe you can.’

 

Dia nggak literally bilang begitu, sih. Tapi kurang lebih begitulah maksud yang saya tangkap.

 

Gimana kalau salah tangkap?

 

Well I don’t care.

 

Salah satu ‘suntikan’ yang dibutuhkan orang yang lagi down adalah rasa percaya kalau dia bisa bangkit lagi; balik berdiri lagi. Entah rasa percaya dari dia sendiri atau dari orang yang dekat dengannya. Entah dari kata-kata yang memang bermaksud mendorong atau dari kalimat yang sebetulnya nggak bermaksud demikian tapi dia menganggap bisa membangkitkan. Suntikan semangat sekecil apapun bisa jadi booster yang punya daya dorong luar biasa bila ybs punya sugesti demikian.

 

Yah … semoga ‘suntikannya’ masih cukup sampai ‘yang disuntik’ mampu lagi berpijak kuat seperti masa yang telah lewat.


Tidak ada komentar: