Panas dan Aroma - Hijaubiru

Minggu, 15 Oktober 2023

Panas dan Aroma


Berulang kali, pengharum ruangan dengan aroma pinus segar itu saya raba. Kening saya berkerut, berusaha mengingat-ingat kapan pengharum yang terpasang di kipas angin itu diganti. Perasaan belum ada tiga minggu, deh. Kenapa udah kecil banget gini?

 

Namun, saya segera ingat: dua minggu belakangan, kipas itu memang hampir selalu berputar. Lebih dari dua belas jam per hari, tujuh hari per minggu. Ya gimana pengharumnya nggak cepat habis, lha ketiup angin kipas terus. Padahal biasanya itu kipas nggak pernah nyala selama itu, yang artinya pengharumnya juga nggak secepat itu habisnya.

 

Yah… gimana lagi. Rasanya udah lebih dari sebulan terakhir, penggunaan mesin berpendingin macam kipas, AC, dan kawan-kawannya meningkat. Di mana-mana. Di banyak kota, hawa panas bagai tak terbendung. Di luar ruangan, panasnya terik membakar. Di dalam ruangan, panasnya pengap memenuhi seluruh penjuru. Di luar bak digoreng, di dalam bak diungkep.

 

Kabarnya panas yang nggak umum ini adalah efek perubahan iklim, yang merupakan akibat  pemanasan global yang makin nggak terbendung. Kabarnya lagi, ini belum seberapa. Efeknya bisa aja lebih parah dari ini beberapa tahun ke depan, kalau nggak keburu dicegah.

 

Cuaca yang nggak menentu dan suhu yang makin fluktuatif—termasuk cuaca panas banget macam sekarang ini—adalah dua dari deretan efek climate change. Hal ini udah banyak memantik perhatian orang, termasuk saya. Namun, ada satu lagi efeknya yang turut memantik penasaran saya: tentang aroma/bau.

 

Saya lupa dari website mana, dulu sempat ada artikel yang menyatakan bahwa seiring dengan makin panasnya bumi, maka aroma (khususnya yang wangi) akan semakin sulit tercium. Waktu kejadian pengharum ruangan habis tadi, saya langsung teringat pernyataan ini. Memang kurang berhubungan sebab kemungkinan besar pengharum ruangan saya cepat habis karena angin, bukan karena panas. Hanya membuka ingatan tentang pembahasan aroma ini aja.

 

Kok bisa aroma jadi kurang tercium saat suhu meningkat?

Aroma, termasuk wewangian, tersusun dari beragam molekul. Yang namanya molekul, susunan atomnya dipengaruhi banyak hal, termasuk suhu. Ketika suhu udara naik, ia bisa ngerusak susunan molekul ini. Akibatnya? Molekul pun jadi rusak. Molekul yang rusak menjadi nggak/kurang wangi. Itulah sebabnya beberapa minyak aromaterapi atau parfum yang penyimpanannya harus dihindarkan dari sinar matahari langsung: supaya manfaat/wanginya terjaga. Makanya sampai ada baju yang ‘beraroma matahari’, karena dijemur saat cuaca panas banget atau kena sinar matahari langsung. Beda aroma dengan baju yang dijemur dalam ruangan atau saat cuaca mendung, misalnya.

 

Sekilas, perkara wewangian ini seperti nggak terlalu penting dibandingkan dengan efek negatif climate change lainnya. Kalau parfum kurang wangi, sintesislah yang lebih wangi; kalau baju yang dijemur jadi kurang wangi, sintesislah pewangi pakaian yang lebih kuat; bila pengharum ruangan aromanya kurang mantap, sintesislah yang wanginya lebih mantap. Chemically, possible. Namun, efeknya lebih dari itu. Gimana dengan proses alamiah yang memanfaatkan aroma?

 

Salah satu contohnya adalah penyerbukan bunga. Ada penyerbukan yang memanfaatkan aroma harum bunga untuk menarik penyerbuknya. Jika aromanya jadi kurang wangi sehingga kurang tercium oleh hewan penyerbuk, maka penyerbukan nggak bisa terjadi. Bila ini terjadi di tanaman pangan, maka tanaman tersebut nggak bisa berbuah sehingga nggak bisa dipanen sehingga makanan untuk manusia berkurang. Pun bila ini terjadi di tumbuhan hutan yang buahnya dikonsumsi hewan hutan. Untuk tumbuhannya sendiri, bisa jadi alamat buruk jika ia berkembang biak dengan biji. Nggak diserbuki = nggak ada buah dan biji = nggak bisa tumbuh baru lagi.

 

Selain aroma wangi yang enak, kenaikan suhu juga mempengaruhi bau yang nggak enak. Apa kemudian bau nggak enak juga berkurang karena molekulnya rusak? Bisa jadi. Namun, ada pula bau nggak enak yang aromanya justru menguat karena (1) semakin diproduksi oleh mikroba yang ‘suka’ suhu yang menghangat, atau (2) aroma wangi tadi rusak oleh suhu dan menghasilkan molekul baru yang aromanya nggak enak.

 

Persoalan aroma dan wewangian ini nggak sekadar terjadi pada benda yang fungsinya mengharumkan—seperti parfum/pewangi ruangan dan baju—aja. Bisa juga berefek ke bau sampah misalnya, atau bau ruangan, dan segalanya yang memiliki aroma. Ini baru soal aroma, belum poin-poin lainnya.

 

Ya… intinya, perubahan iklim secara ekstrem selain bikin nggak bisa hidup, juga bikin hidup nggak nyaman dalam prosesnya. Semoga aja di tahun-tahun ke depan bisa benar-benar dikurangi, kita semua—seluruh manusia bumi dan pihak-pihak yang terlibat—kurangi.






Edited on Oct 21

==========

Picture by Trarete on Pexels

1 komentar:

  1. Pantas parfum ruangan kalau diletakkan dekat kipas angin boros banget 😁

    BalasHapus