Hijaubiru

Senin, 26 Maret 2012

Weekend
Maret 26, 20120 Comments
Weekend = ke sekolah (kegiatan SS) = di rumah (nganggur). Tapi alhamdulillah, minggu kemarin ternyata nggak! :D

Ternyata weekend kemarin saya berkesempatan kembali ke Watusemar, Trawas. Karena kekurangan motor, jadilah saya dan Bonita naik bus.

Rute kami ke Trawas dari Surabaya (via Pandaan):
Surabaya --> Terminal Bungurasih, naik bus ke Arah Malang
                  Turun di Terminal Pandaan, naik colt ke arahTrawas
NB: kalau naik colt, jangan di terminalnya ya. Soalnya pasti bakalan lama (itu colt nunggu sampai penuh dulu, baru berangkat). Tunggu aja coltnya di depan terminal, depannya pom bensin.

Nah, karena coltnya cuma sampai di pertigaan Trawas aja, maka kalau mau lanjut ke Trawas harus oper lagi. Opernya ojek. Dan FYI, mulai dari pertigaan itu sampai gang Arcalanang di Trawas yang kami tuju, jalannya kayak roller coaster.

Sampai gang Arcalanang, saya pun lega.

Mulailah kami treking ke Bukit Watusemar. Di sana sampai sore. Setelah matahari kelihatan seperti mau balik ke peraduannya, kami pun turun bukit.

Menuruni jalan tanah dengan seledri di kanan-kiri, pohon-pohon yang menjulang tinggi, guguran daun pinus yang mulai menguning, mendengar suara hewan hutan yang berkerik. 

Ah, entah kenapa jadi galau.

Dan kegalauan itu semakin menjadi saat teman-teman dengan ramainya bernyanyi, memecah kesunyian suci hutan ini.

Apalagi suaranya Pingka, yang tetap bernyanyi meskipun semuanya sudah diam. (Sepurane, Ping :P )

Hingga akhirnya......
Tiba-tiba saya menemukan diri saya sedang berjalan di sebelah si Pingka.

Dan sebuah ide gila terlintas.

Sebelum otak memutuskan syaraf-syaraf motorik untuk menutup mulut saya, mulut saya sudah terlanjur kebuka.

Dan parahnya, syaraf motorik lidah seperti tidak mendengarkan si otak juga.

Sehingga tanpa sadar saya melontarkan kalimat ini pada Pingka,
"Ping, nyanyi yok!"

Jadilah sepanjang jalan kami bernyanyi, teriak-teriak.
Padahal saya adalah tipikal orang yang lebih suka diam saat treking, untuk menyimpan napas supaya tetap kuat berjalan.

Ah, mumpung jalannya turun. Sesekali teriak-teriak di hutan toh nggak apa, suara liar membujuk napas saya tetap kuat.

Hei, teganya kamu merusak kesunyian hutan yang suci ini!, eh, suara saya yang lain, yang sering menemani saya treking.

Peduli amat sama napas, suara asli saya.

Dan saya tetap berteriak-teriak, membiarkan pita suara yang sudah lama tidak pernah dilatih ini bekerja kembali, menghasilkan suara yang serak-serak basah putus.

Entah kenapa, semua jadi kelihatan seperti sinetron.

Sekelompok anak manusia yang dikelilingi alam, nyanyi-nyanyi gila macam film India. Persis bayangan saya tentang drama-drama penguras air mata.

But, truly, I love this. I like this. Seems I miss this.

Waktu saya SD/SMP dulu, saya sering membayangkan betapa senangnya memiliki sekelompok teman yang suka jalan-jalan ke hutan. Yang menyayangi satu sama lain dengan tulus, lalu bernyanyi-nyanyi bersama.

Eh, kesampaian.

Sepanjang jalan saya dan Pingka berhasil menyelesaikan beberapa lagu. Antara lain: Gie, Cahaya Bulan, dan Bagaikan Langit-nya Melly yang saya gilai sejak SD (dan baru tahu judulnya  saat itu)

BAGAIKAN LANGIT - Melly Goeslow

Bagaikan langit di sore hari
Berwarna biru sebiru hatiku
Menanti kabar yang aku tunggu
Peluk dan cium, hangat 'kan untukku


Bagaikan langit di sore hari
Berwarna biru sebiru hatiku
Menanti kabar yang aku tunggu
Peluk dan cium, hangat 'kan untukku


Oh asmara
Yang terindah mewarnai bumi 
Yang kucinta menjanjikan aku 
Terbang ke atas
Ke langit ketujuh, bersamamu


Bagaikan langit di sore hari
Berwarna biru sebiru hatiku
Menanti kabar yang aku tunggu
Peluk dan cium, hangat 'kan untukku


Bagaikan langit di sore hari
Berwarna biru sebiru hatiku
Menanti kabar yang aku tunggu
Peluk dan cium, hangat 'kan untukku


Oh asmara 
Yang terindah mewarnai bumi yang kucinta
Menjanjikan aku terbang ke atas
Ke langit ketujuh, bersamamu


Oh dewi cinta
Sandarkan aku di bahumu
Ada kurasa rindunya hati, teredakan sudah
Hadirmu sayang, tenangkan diriku


Oh asmara
Yang terindah mewarnai bumi
Yang kucinta menjanjikan aku terbang ke atas
Ke langit ketujuh, bersamamu, oh oh...


Oh asmara
Yang terindah mewarnai bumi
Yang kucinta menjanjikan aku terbang ke atas
Ke langit ketujuh, bersamamu, 


Oh dewi cinta
Sandarkan aku di bahumu
Ada kurasa rindunya hati, teredakan sudah
Hadirmu sayang, tenangkan diriku


Oh asmara
Yang terindah mewarnai bumi
Yang kucinta menjanjikan aku terbang ke atas
Ke langit ketujuh, bersamamu 



Senang sekali Pingka mau ngajarin saya lagu itu. Suwun, Ping :D

Dan saat mas Brodin datang dengan HP-nya dan menyetel lagu ini, seakan-akan sepotong kenangan terlempar dari alam bawah sadar.


Menatap lembayung di langit Bali
Dan kusadari betapa berharga kenanganmu
Di kala jiwaku tak terbatas
Bebas berandai memulang waktu


Hingga masih bisa kuraih dirimu
Sosok yang mengisi kehampaan kalbuku
Bilakah diriku berucap maaf
Masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu
Oh cinta


Teman yang terhanyut arus waktu
Mekar mendewasa
Masih kusimpan suara tawa kita
Kembalilah sahabat lawasku
Semarakkan keheningan lubuk


Hingga masih bisa kurangkul kalian
Sosok yang mengaliri cawan hidupku
Bilakah kita menangis bersama
Tegar melawan tempaan 
Semangatmu itu
Oh jingga


Hingga masih bisa kuraih dirimu
Sosok yang mengisi kehampaan kalbuku
Bilakah diriku berucap maaf
Masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu
Oh cinta


Hingga masih bisa kurangkul kalian
Sosok yang mengaliri cawan hidupku
Bilakah kita menangis bersama
Tegar melawan tempaan 
Semangatmu itu
Oh jingga


Hingga masih bisa kujangkau cahaya
Senyum yang menyalakan hasrat diriku
Bilakah kuhentikan pasir waktu
Tak terbangun dari khayal keajaiban ini
Oh mimpi


Andai ada satu cara
Tuk kembali menatap agung surya-Mu
Lembayung Bali 


Yup, judulnya Lembayung Bali. Cocok diputar di senja hari. Bareng teman-teman. 

Well, what a day. What a weekend. What a MEMORY :')


Reading Time:

Kamis, 08 Desember 2011

Gie
Desember 08, 20110 Comments
Mau review film lagi nih. Setelah kemarin-kemarin bosan bukain video-video yang sudah sering saya tonton mulai dari Doraemon, Conan, film action, komedi, sampai drama, kebetulan ada teman nawarin film baru. Filmnya sudah agak lamaan sih, tapi tetap bikin saya penasaran dan akhirnya nonton juga. Apa sih, istimewanya film ini sampai bisa dapat tiga penghargaan sekalisgus dalam ajang Festival Film Indonesia 2005: Film Terbaik, Aktor Terbaik, dan Penata Sinematografi Terbaik.


Gie. Soe Hok Gie.
Para Pecinta Alam di nusantara pasti sudah nggak asing dengan nama ini. Ya, almarhum adalah salah satu pendiri Mapala UI. Almarhum? Ya, karena Soe Hok Gie sudah meninggal pada 16 Desember 1969 di titik tertinggi Jawa, puncak Semeru.
Film ini tidak mengisahkan pendakian-pendakian yang dilakukan Gie dan kawan-kawan (cuma ditampilkan cuplikan--cuplikannya saja), namun lebih kepada perjalanan hidup Gie. Gie dilahirkan sebagai seorang Tionghoa pada 17 Desember 1942 dalam keluarga yang 'biasa-biasa saja'. Sejak kecil, Gie telah menunjukkan sikap kritisnya. Dalam film, hal ini ditunjukkan dalam salah satu adegan debat dengan gurunya tentang sastra. Karena terlalu kritis, akhirnya Gie pun tidak naik kelas. Dia protes kepada gurunya. Protes kepada orang tuanya. Ia minta pindah sekolah. Ia yakin ia tidak naik karena sering berdebat dengan gurunya, akhirnya nilainya dikurangi. Dia yakin dia bisa, karena dia memang banyak membaca.
Akhirnya Gie pun pindah ke sekolah lain. Di sini pun dia masih tetap kritis. Namun gurunya tidak keberatan, malahan kagum dan senang pada siswa yang rajin dan kritis seperti Gie.
Gie pun memasuki bangku kuliah. Dia menuntut ilmu di Fakultas Sastra UI. Di sana, dia menemukan banyak sahabat. Seperti Herman Lantang, Ira yang cerdas dan juga sering menemaninya naik gunung, Jaka, atau Denny yang kocak.
Namun seiring berjalannya waktu, keadaan mulai berubah. Gie yang sejak kecil peka terhadap kesulitan rakyat kecil, semakin tidak suka saat mulai memahami permainan politik Indonesia. Gara-gara permainan 'orang besar', rakyat jadi makin tertindas. Apalagi saat parpol-parpol mulai menggunakan mahasiswa. Jadilah para mahasiswa terbagi-bagi menurut parpol yang mereka dukung. Mulailah Gie menyuarakan ketidaksukaannya melalui media-media.
Tidak semua orang menyukai Gie karena sikap kritisnya. Bahkan Jaka, teman Gie yang dulu akrab dengan Gie, sekarang malah memusuhi Gie. Di samping banyak orang yang mencoba menjegalnya, banyak pula yang memperebutkan Gie agar masuk ke dalam golongan mereka. Namun Gie menolak. Dia netral.
Puncak film ini adalah saat reformasi mahasiswa pertama di Indonesia: 1966. Ribuan mahasiswa berjaket almamater turun ke jalan untuk memprotes pemerintahan. Mereka menuntut Soekarno mundur dan PKI dibubarkan.
Film diakhiri dengan Denny yang memberikan surat titipan Gie sebelum ke Semeru pada Ira. Denny sekaligus memberitahukan bahwa ada kabar buruk dari Semeru. Ditampilkan pula sosok Gie yang duduk di savanna sendirian, menikmati alam. Seakan terlempar ke masa lalu, Gie bertemu dengan teman masa kecilnya, Han. Mereka lalu kembali ke masa kecil, ketika mereka bermain di laut. Di ketinggian, Gie melihat laut di kejauhan.
_________________________________________________________________________________

Film ini diangkat dari kisah hidup Soe Hok Gie sendiri. Bahkan, kisahnya pun diambil dari buku yang ditulisnya, Catatan Seorang Demonstran. Namun, kisah ini ditambahi sedikit. Misalnya saja Han, teman Gie yang diperlakukan buruk oleh tantenya dan akhirnya masuk ke dalam PKI, merupakan gabungan dari dua teman Gie asli, yakni Djin Hok dan Effendi. Kisah cinta dengan Sinta pun, juga merupakan tambahan 'benang merah' yang diselipkan dalam film.
Overall, film ini baguslah. Bisa dijadikan sebagai alternatif kalau kita lagi pengen tema yang serius. Bisa dianggap sebagai 'kebangkitan' dari krisis ide film di Indonesia.

Kalau ada yang mau soundtrack-nya, yang saya tahu cuma ini:
1. 'Cahaya Bulan - Octa' bisa di-download di:
2. 'Gie' bisa di-download di:
3. 'Donna-Donna' bisa di-download di:

Sutradara : Riri Riza
Produser : Mira Lesmana
Penulis : Riri Riza
Aktor/aktris:
#Nicholas Saputra
#Wulan Guritno
#Indra Birowo
#Lukman Sardi
#Sita Nursanti
#Thomas Nawilis
#Jonathan Mulia
#Christian Audy
#Donny Alamsyah
#Robby Tumewu
#Tutie Kirana
#Gino Korompis
#Surya Saputra
#Happy Salma

Sumber:wikipedia.org
Reading Time:

Kamis, 20 Oktober 2011

Endless Love
Oktober 20, 20110 Comments
                                                                                                                                                                                                                                                                   














Judul       : Endless Love
Produksi : Korea, 

Semaleman habis begadang lihat film (dibela-belain meski besoknya ujian :P). Film biasa sih. Bisa dibilang sinetron. Ceritanya juga sinetron. Tapi ini versi Korea. Tapi yang namanya sinetron tetap aja sinetron.
Sebenarnya ceritanya standar, sama seperti sinetron-sinetron Indonesia lainnya: anak yang ketukar terus waktu sudah gede ketemu terus . . . ya . . . gitu deh.
Tapi yang bikin saya suka, konfliknya nggak bejibun kayak sinetron Indonesia. Nggak seperti sinetron Indonesia yang habis masalah A selesai, datang masalah B, terus masalah C, dst. Ini fokusnya cuma satu, tu, tu, meski ada variasi dikit.
Hal lain yang bikin saya suka sama drama ini adalah setting dan lagunya. Settingnya di alam semua. Ada yang di pedesaan, kota kecil di kaki bukit, sawah-sawah, sungai, pantai. Pokoknya yang hijau-hijau nyegerin mata gitu deh! Meski ada beberapa setting yang malah di perkampungan kumuh di tepi laut. Tapi ya tetep aja bagus! :D
Dan lagunya! Lagunya yang mellow bikin suasana mendukung buat para penonton bermewek-mewek ria. Lagu itu antara lain: Reason, Gi Do, Sen Sing Chi, dan satu lagu klasik yaitu Romance. Kalo mau download, klik http://search.4shared.com/q/1/ost%20endless%20love.
Sekarang ke ceritanya.
Tersebutlah ada sebuah keluarga kaya yang memiliki 2 anak, sang kakak, Joon Suh (laki-laki), dan sang adik, Eun Suh (perempuan). Dua kakak-beradik ini rukun banget. Kedua oraang tuanya tentu aja seneng anaknya rukun begitu.
Mereka tinggal di sebuah rumah yang asri di sebuah kota kecil di kaki bukit. Sekolah mereka pun harus melewati sawah dan sungai. Tidak jarang, kakak-beradik itu berhenti di suatu tempat untuk bermain bersama.
Konflik dimulai saat Eun Suh mengalami kecelakaan saat pulang sekolah (tertubruk truk saat naik sepeda). Eun Suh pun masuk rumah sakit dan harus dioperasi. Dia butuh transfusi darah. Tapi ternyata, setelah dicek, golongan darah Eun Suh adalah B. Sedang orang tuanya keduanya O. Setelah dicek ke rumah sakit tempat bersalin dulu, ternyata benar tertukar.
Orang tuanya berusaha menyembunyikan kenyataan ini. Bahkan kakaknya yang tidak sengaja tahu pun menyembunyikannya. Bahkan mereka berencana untuk pindah ke Amerika agar masalah ini dianggap selesai saja.
Tapi tidak.
Shin Ae, rival Eun Suh di sekolah, yang merupakan anak kandung orang tua Eun Suh, bertengkar dengan ibunya (ibu kandung Eun Suh). Dilanda emosi, ibu itu pun membeberkan semuanya. Akhirnya, Shin Ae pergi ke rumah Eun Suh.
Bagian ini nih yang bikin mewek-mewek. Satu keluarga kaya itu baru saja pulang dari piknik saat menemukan Shin Ae duduk di halaman rumah mereka. Dengan berlinang air mata, Shin Ae bertanya apakah dia anak kandung keluarga itu. Dan menuding Eun Suh bukan anak kandung keluarga tersebut.
Eun Suh langsung saja berlari menghilang. Joon Suh langsung mengejarnya. Akhirnya setelah susah payah mencari, dia menemukan Eun Suh dan membawanya pulang.
Eun Suh yang awalnya bagai putri sekolah pun nasibnya berubah. Dia yang seorang ketua kelas, yang sering membawa bekal enak ke sekolah untuk dibagi-bagikan ke teman-temannya, sekarang dipandang sebagai orang lain oleh teman-temannya. Sebaliknya, Shin Ae mulai mengambil pengaruh, memanfaatkan kejadian yang menimpa mereka. Akhirnya, cuma satu orang dari sekian teman yang tetap menemani Eun Suh.

Ternyata sahabat sejati datang justru bukan di waktu senang, justru waktu kita lagi susah.

Sejak saat itu, hidup Eun Suh tak lagi sama. Apalagi Shin Ae sering mengejeknya di sekolah. Bahkan, Eun Suh dibawanya ke rumah lamanya, untuk tinggal bersama ibu lamanya (ibu kandung Eun Suh).
Tapi kedua orang tua Eun Suh masih sayang pada anak mereka. Mereka tidak meminta Eun Suh tinggal bersama ibu kandungnya. Tapi Eun Suh memang anak yang baik hati, dia memilih tinggal bersama ibu kandungnya dan meninggalkan keluarga kaya itu.
Pun saat ibu lamanya meminta dia turut ke Amerika agar hidupnya terjamin (ibu kandung Eun Suh kehidupannya tidak memadai), dia tetap memilih tinggal bersama ibu kandungnya. Hidupnya tidak akan memadai, memang, tapi dia punya hati.
Adegan lain yang bikin saya nangis tersedu-sedu adalah saat diabsen, ibu guru memberitahu bahwa Shin Ae sekeluarga hari itu pindah ke Amerika. Eun Suh langsung keluar kelas dan berlari ke rumah lamanya. Sayangnya, dia tidak bisa mengejar mobil keluarganya yang sudah berjalan cepat.
Dia berkali-kali memanggil kakaknya....
Dia sangat menyayangi kakaknya....

------------------------------------------------------------------------------

Berpuluh tahun berlalu. Semua telah beranjak dewasa. Eun Suh bekerja di sebuah hotel, dengan seorang tamu menyebalkan yang juga anak pemilik hotel bernama Tae Suhk (laki-laki). Sementara itu, Joon Suh sudah pulang dari Amerika untuk mencari Eun Suh. Dia ingin memberitahu adik kesayangannya itu bahwa dia akan bertunangan dengan Yumi.
Adegan yang bikin mewek lagi:  pertemuan Joon Suh dan Eun Suh kembali.
:'( :'( :'(
Nah, mulai dari sini cerita menjadi agak njelimet karena konflik sedikit bertambah. Tapi fokus masalah tetap pada Eun Suh. Mulai dari Tae Suhk yang keterlaluan mengerjainya sampai dia dipecat, tinggalnya dia di studio Joon Suh yang menyebabkan Yumi cemburu, hingga hadirnya Shin Ae yang tidak menginginkan Eun Suh melihat kedua orang tua lamanya.

Nah, bagaimana kelanjutannya?
Saya nggak tahu, saya belum tamat nonton.
Yang jelas, kalau orang bertipe kepribadian melankolis nonton ini, siapkan tisu!
Reading Time:

Selasa, 04 Oktober 2011

Ekspedisi Semeru : Hari Keempat & Kelima
Oktober 04, 20111 Comments

HARI KEEMPAT: SENIN, 20 JUNI 2011
Pukul 01.00 WIB kami memulai perjalanan. Pertama-tama, rombongan yang terdiri dari belasan orang ini melingkar dan berdoa. Setelah itu kami berjalan berbaris memanjang seperti kereta api. Mengikuti jalan setapak yang kadang bercabang tapi nampak jelas di antara rerumputan. Jalan di savanna ini nggak neko-neko. Lurus dan datar. Baru setelah beberapa lama kemudian, jalan njujlug turun berbatu. Tapi nggak banyak.
Setelah savanna, kami memasuki hutan lagi. Karena gelap, saya nggak tahu hutan ini ‘bentuknya’ kayak gimana. Tapi jalannya sejenis dengan jalan di hutan Cemoro Kandang, nanjak naik gitulah. Untungnya, untuk muncak kita nggak perlu bawa carrier. Jadi nggak begitu berat trekingnya. Tenda dan carrier kami tinggal di camp di Kalimati (insyaallah aman), sedang untuk muncak kami hanya bawa ransel.
Di tengah jalan, kami menemukan sebuah tempat dengan tenda-tenda. Nah, ini camp terakhir sebelum menuju puncak. Arcopodo. Kalau mau, sebenernya bisa juga nge-camp di sini, bukan di Kalimati. Kebetulan waktu itu Kalimati juga lagi rame dan di Arcopodo lebih sepi. Tapi kami milih Kalimati aja.
Untuk jalur selanjutnya, siap-siap buka mata dan pikiran. Pasalnya, udah jalannya berteras-teras dan nanjak banget, banyak pohon-pohon besar yang tumbang nutupin jalan (kadang sampai bingung harus jalan ke mana), juga kanan-kiri yang sudah mulai jurang. Jurang beneran ini, dalem, dengan jalan setapak yang kami lalui yang lebarnya nggak seberapa. Jadi, hati-hati.
Menjelang memasuki zona pasir, rombongan kami istirahat sejenak. Sekitar 30 menit-an. Kami memanfaatkan kesempatan ini untuk istirahat sebaik-baiknya sebelum ‘maju tempur’ menuju puncak. Nyelonjorin kaki, minum, geletakan. Nggak lupa, lihat ke langit, yang kapan pun tetap keren dan indah dipandang.
Seperti biasa, langit biru gelap gagah membentang di atas kepala kami. Dihiasi beratus-ratus, beribu-ribu, bahkan berjuta-juta bintang yang gemerlapan. Besar dan kecil, berkelap-kelip. Membentuk kumpulan yang bagaikan supernova atau galaksi mini. Kalau lihat ke sekitar, yang ada siluet pepohonan. Kalau lihat ke kejauhan, yang ada kegelapan dengan siluet relief-relief permukaan bumi. Ditambah cahaya-cahaya lampu yang buanyak yang kemungkinan bersumber dari kota terdekat yang, herannya, masih kelihatan sampai tempat setinggi ini. Subhanallah....
Saking lamanya mendongak ngelihatin langit dan merem-melek menghayati pemandangan, saya sampai ditegur salah satu teman dari rombongan, “Jangan tidur lho ya!”. Yang lain pun ketawa dan alhasil mata saya langsung membuka.
Setelah ini, menuju puncak.
Jalur menuju puncak dibuka dengan jalur pasir campur tanah. Menjelang keluar dari hutan, ada beberapa tonggak-tonggak dari besi dan rantai yang tertancap. Warnanya hitam-kuning. Tonggak ini untuk menandai jalur yang benar menuju puncak. Setelah beberapa tonggakan lewat, sudah nggak ada penanda lagi. Dulunya, ada penanda alami, yaitu Cemoro Tunggal. Cemoro Tunggal adalah sebuah pohon cemara yang berdiri sendirian di antara pasir, sebagai penanda kita ada di jalur yang benar. Tapi saat itu, saya udah nggak nemuin lagi. Kabarnya, udah mati kena lahar.
Oh iya, sebelum naik, sebaiknya jalur disimpan di GPS. Soalnya Semeru itu kan pegunungan. Nah, kalau kita melenceng dikiit aja dari jalur waktu turun dari puncak, bisa-bisa kita turunnya di salah satu gunung Pegunungan Tengger, bukan turun di Arcopodo atau Kalimati.
Seperti yang sudah saya sebutkan di awal, jalur menuju puncak adalah pasir. Kenapa pasir dan bukan tanah? Karena tanah dan batu di puncak Semeru sudah sering terkena panas dari batuan atau lahar yang keluar dari kawah Jonggring Saloka, jadinya lapuk dan jadi pasir semua. Pasir ini juga bukan pasir yang liat sehingga mudah diinjak, tapi lebih mirip pasir sirtu yang digunakan untuk membangun rumah. Jadi saat diinjak, pasir itu melorot turun dan otomatis juga membawa langkah kaki kita turun. Bener deh kata para senior saya, “Naik ke puncak Semeru itu satu langkah naik dua langkah turun”. Untungnya, antara pendaki satu dan lain (meski nggak saling kenal), kalau lihat ada yang berhenti, langsung disemangati  :D
Selain pasir, di sini juga ada banyak batu, besar dan kecil. Nah, kalau biasanya di gunung lain batu-batu ini bisa dipercaya sebagai pijakan, jangan harap di sini juga sama. Di Semeru, batu segede apapun kalau diinjak, ya tetep aja jatuh. Soalnya nggak membenam di tanah. Malah kadang, sesuatu yang nampak seperti batu yang bisa dipakai pegangan sebenarnya adalah pasir. Bentuknya kaku, memang. Tapi begitu dipegang, langsung berjatuhan jadi pasir. Mirip dengan pasir yang basah lalu membentuk saat kena panas.
Yah, kalau dibilang, jalur berpasir inilah yang paling ‘makan hati’. Udah medannya pasir jadi sulit naik, kanan-kiri udah jurang tempat mengalirnya lava. Dan juga, jalur pasir ini ‘menipu’. Waktu malam, kelihatannya cahaya-cahaya senter di atas itu cahaya senter orang yang udah muncak. Ternyata, mereka juga masih di jalan, boook!
Butuh waktu 5 jam bagi tim kami untuk sampai ke puncak dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Keindahan alam saat matahari terbit dan matahari sudah terbit sepenuhnya nggak bisa sepenuhnya saya hayati karena target menuju puncak belum tercapai padahal matahari sudah tinggi. Dan perlu dicatat, sekitar pukul 10.00 WIB atau 11.00 WIB dan seterusnya, angin berhembus ke arah utara, arah track kami, menghembuskan gas beracun dari kawah Jonggring Saloka. Makanya, pukul 10.00 WIB ke atas, pendaki dilarang muncak. Tiap orang yang mendaki Semeru harus tahu hal ini, karena kalau nggak, bisa aja berakhir seperti Soe Hok Gie dan Idhan Lubis (mahasiswa Pecinta Alam dari UI) yang meninggal di Semeru pada 6 Desember 1969.
Sebenarnya puncak sudah nggak lama (kalau dibandingin waktu yang kami habiskan untuk mencapai titik di mana kami berdiri sekarang). Tapi ketakutan saya akan gas beracun muncul saat saya melihat jam tangan yang sudah menunjuk hampir pukul 7. Pikir saya, belum waktu turunnya nanti butuh beberapa jam. Akhirnya saya sampaikan kekhawatiran saya kepada Nauval sebagai ketua tim bahwa saya ingin turun jika waktunya emang nggak mungkin. Tapi mbak Lisa berpendapat bahwa puncak tinggal sebentar lagi, eman kalau nggak sekalian muncak. Terbagi dalam 2 kubu, akhirnya Nauval memutuskan kalau jam 8 kami belum muncak, kami mending turun.
Kami pun melanjutkan perjalanan. Dasar mental udah down, saya berjalan pendek-pendek. Itu pun harus dibujuk Nauval bahwa saya boleh break down sebentar di batu besar yang bentuknya seperti unta. Saat saya sampai di batu berbentuk unta, istirahat sebentar, lalu jalan lagi pendek-pendek. Saya sampe mikir, “Kok nggak sampe-sampe sih?” dan kadar down saya pun bertambah.
Tapi seketika itu juga Nauval bertemu pendaki dari Surabaya yang mau turun. Nauval bertanya berapa lama waktu menuju puncak. Pendaki sipit berambut agak gondrong itu menjawab, “Cuma 15 menit dari sini, Mas”. Apaaa??? Dan seketika itu juga semangat saya langsung naik drastis. 15 menit dibandingkan 5 jam bukan apa-apa! Langsung aja tancap gas, menyusul mbak Lisa yang udah jauh di depan.
Alhamdulillaaaaaaah!!!!! Akhirnya kami sampai juga di puncak. Yang sampai pertama adalah mbak Lisa, disusul Nauval, lalu saya. Senengnya minta ampun, meskipun cuapek banget. Mbak Lisa dan Nauval langsung mendirikan shalat di sana, sedang saya melihat-lihat sekeliling.

Cukup banyak juga orang yang masih di sini. Ada rombongan kami mendaki semalam, ada juga rombongan yang mendirikan tenda dome untuk persiapan pernikahan. Puncak ini cukup luas, dengan plang bertulisan ‘Puncak’ di tengah-tengah. Tanahnya pasir, tapi padat. Dari matahari muncul sampai sekarang, cuacanya cerah dan tentu aja panas karena nggak ada tumbuhan satu pun. Dari puncak, yang terlihat adalah relief-relief bumi yang bervariasi. Mulai dari datar sampai bergunung-gunung. Konon katanya dari sini bisa ngelihat laut. Tapi waktu itu, saya nggak lihat. Yang saya lihat cuma gumpalan awan putih yang nampak seperti kapas di segala penjuru. Di sisi selatan, terlihat puncak lain Semeru, Jonggring Saloka.
Yup, Semeru memiliki 2 puncak, yakni puncak Mahameru yang merupakan puncak tertinggi  (3676 mdpl) dan puncak Jonggring Saloka yang ada kawahnya. Kawah ini meletus tiap 15 menit. Tapi, pendaki dilarang berkunjung ke puncak yang satu ini karena ya ada gas beracunnya tadi.
Di puncak, kami bergabung dengan rombongan kembali. Bagi-bagi jajan dan foto-foto bersama. Sudah menjadi tradisi SMALAPALA, saat mencapai puncak gunung atau tebing, harus berfoto dengan bendera  SMALAPALA dan merah-putih. Sayangnya, foto kami bertiga memegang bendera SMALAPALA dan merah-putih, setelah dicek di Ranu Pani, ternyata nggak ada entah kenapa :’(
 Sejam di puncak, kami pun turun. Kalau perjalanan turun ini lebih cepat, cuma makan waktu 2 jam. Tapi ya itu, karena saat turun sepatu harus bergesekan dengan batu-batu, maka sepatu mbak Lisa dan saya pun sobeklah. Nggak apa deh, hitung-hitung sebagai kenang-kenangan J
Tengah hari, kami sampai di camp Kalimati. Saya dan mbak Lisa packing dan istirahat, sedang Nauval pergi mengambil air di Sumber Mani yang berjarak 2 jam pulang-pergi dari Kalimati.
Setelah semua barang sudah dipacking beres, pukul 14.00 WIB kami dan rombongan pun pulang, kembali ke Ranu Kumbolo, tempat para ST (Support Team) menunggu kami.
Melewati Cemoro Kandang, Oro-Oro Ombo, dan Tanjakan Cinta dalam perjalanan pulang hanya membutuhkan waktu 3 jam. Oh iya, waktu akan keluar dari Cemoro Kandang, kami bertemu lagi dengan mas-mas kribo, juga Melani beserta teman-temannya. Merekalah yang kami mintai tolong untuk mengambil foto kami bertiga.
Pukul 17.00 WIB kami sampai di Ranu Kumbolo. Langsung disambut oleh ST dan juga pendaki-pendaki lain (bahkan sampai dikasih teh hangat dan biskuit segala, terima kasih J J J). Kami habiskan mie yang dibikinin ST karena emang lapar, meskipun ST berjanji mau bikinin kami nasi goreng saat kami turun.
Setelah beres-beres, kami pun melanjutkan perjalanan ke Ranu Pani. Treking kali ini dipimpin Afi. Perjalanan malam oey! Tapi tetep aja jalurnya rame karena masih banyak pendaki yang lewat menuju Ranu Kumbolo. Gelap, jelas. Tapi hawa dingin nggak kerasa karena kami terus berjalan. Kerasanya waktu kami istirahat di pos. Brrr, dingin!
Oh iya, ada kejadian unik yang terjadi saat treking malam ini. Di perjalanan antara entah pos berapa ke pos berapa, Afi berhenti tiba-tiba. Ternyata di depannya ada seekor anak babi hutan. Mbak Mela berseru-seru ketakutan. Aneh, saya kok nggak lihat? Padahal posisi saya ada di belakang Afi persis. Waktu Afi berusaha menghalaunya, saya melongok-longok ke depan. Tapi tetap aja, nggak kelihatan. Kata mas Doni sih karena, “Kamu kalau treking lihat bawah terus sih!”.
Setelah melewati pos 1, kami makin bersemangat. Udah dekat soalnya. Apalagi saat menemui jalan berpaving, wah, tambah semangat. Begitu keluar hutan dan di depan kami yang terlihat adalah perkebunan penduduk, kami pun berucap syukur.
Kami pun kembali ke pondok pendaki di Ranu Pani. Setelah ganti baju, bersih-bersih, dan beres-beres, kami pun melakukan evaluasi. Sial, saat evaluasi saya dan Nauval tertidur dan akhirnya harus push up 3 seri sebagai konsekuensi. Kelar evaluasi, gelar sleeping bag, dan ... good night everyone! Kami pun kembali ke peradaban.

HARI KELIMA: SELASA, 21 JUNI 2011
Kami bangun pagi dan shalat. Tidak ada yang mandi kecuali mas Doni, karena hawanya dingin banget. Setelah menghabiskan beberapa saat meng-zombie, kami pun memasak sarapan. Kali ini kami berusaha menghabiskan persediaan makanan yang ada. Jadilah kami makan mie dengan beberapa topping, juga sup merah yang hanya berbahan sosis dan air serta bumbu nasi goreng yang ternyata enak juga.
Setelah itu, kami pun beres-beres secepat mungkin. Soalnya, jeep yang menjemput kami akan datang pukul 11.00 WIB. Setelah semua barang masuk ke dalam carrier, kami pun berpamitan pada pak Hambali dan turun ke pos perizinan, menunggu jeep.
......................
Tapi malesnya, pukul 11.00 WIB lewat, jeep belum juga datang. Mas Wisnu mencoba menghubungi, tapi berkali-kali gagal. Akhirnya berhasil juga sih. Dan jawaban pak jeep-nya adalah, dia lagi nyopirin bule ke Bromo. Aaarrggghhh! Akhirnya kami menghabiskan waktu untuk foto-foto. Mengabadikan Ranu Pani dan kebun-kebunnya. Memuas-muaskan diri sebelum kembali ke Surabaya.
Sambil menunggu, saya mengamati keadaan (halah!). Berjalan-jalan nggak jelas kesana-kemari, ngelihatin papan vandalisme, ngebaca papan larangan dan hal-hal terkait Semeru di papan pos perizinan, tidur sejenak di bangku sambil ngelihatin penduduk yang lalu-lalang dengan motornya, ngelihatin teman sependakian dari Jember yang akhirnya balik ke kotanya dengan motor, ngelihatin truk yang selalu penuh bawa hasil panen. Sebuah kenikmatan tersendiri, ngelihatin doang apa yang ada di depan kita tanpa melakukan apa-apa (bengong mode: on).
Yang bikin saya heran, truk sayuran tadi itu bermuatan penuh. Kalau dijual di kota, kan lumayan itu. Tapi kenapa penduduk di sini kelihatannya nggak makmur-makmur banget? Yah, jawabannya langsung ketemu. Karena mereka jual panennya ke tengkulak yang notabene membeli dengan harga sangat murah. Ya gini ini nih, yang bikin kesenjangan sosial selalu ada dan negara nggak makmur-makmur. Nggak adil macam begini nih. Pft.
Hari sudah menjelang siang, lewat dhuhur. Rupanya, tiap tengah hari, kegiatan berkebun para penduduk selesai. Saya lihat, saat dhuhur, berduyun-duyun penduduk berjalan dari arah perkebunan ke rumah mereka. Baik yang sudah tua, dewasa, maupun anak-anak. Beberapa dari mereka memanggul kayu di punggung. Mungkin untuk kayu bakar.
Tapi jeep belum juga datang. Kelaparan namun malas masak, kami pun pergi ke warung di dekat situ.
Warungnya sederhana. Terbuat dari kayu dan dicat kuning. Samar-samar saya mencium bau kayu terbakar. Ternyata, di situ ada tungku untuk memasak dan bahan bakarnya dari kayu. Bukan maksud apa nih, tapi baru kali ini saya tahu masih ada yang memasak pakai kayu bakar.
Saya dan Nishock lalu memesan nasi goreng telur. Lalu menyusul Afi yang akhirnya ikut makan. Hebatnya hawa di gunung ya gini ini nih. Waktu itu kan kami pesan fanta dingin. Eh, kata ibunya, nggak pakai es pun fantanya udah dingin. Ckckck!
Kelar makan, kami kembali ke pos perizinan. Ternyata jeep belum datang juga! Sebel nungguin, kami (aku, Nishock, mbak Mela) akhirnya jalan-jalan ke Ranu Regulo, sebuah danau di dekat Ranu Pani yang nggak terlalu terkenal.
Jalan masuknya lewat jalan berpaving di depan pos perizinan. Jalannya jelas tapi sempit, cuma cukup buat motor. Dengan pemandangan hutan di sisi kiri dan Ranu Pani di sisi kanan. Nah, setelah ±200 meter berjalan, jalan akan bercabang dua: terus dan ke kiri. Untuk ke Ranu Regulo, kita ambil jalan yang terus. Setelah beberapa ratus meter, tadaaa! Sampailah kami di Ranu Regulo.

Ranu Regulo tidak seluas Ranu Pani. Tapi di danau ini tidak terdapat alga. Bersih, walau airnya nggak bening, tapi bersih. Di tepi danau terdapat pondok kecil dari bambu yang udah nggak terawat. Juga ada 2 papan vandalisme. Danau ini sepi banget. Waktu itu, pengunjungnya cuma kami. Tapi meskipun sepi, duduk di jembatan yang menjorok ke danau dengan teman-teman adalah kedamaian tersendiri.
Kami tidak berlama-lama di sini karena khawatir jeep sudah datang. Tapi ternyata, di tengah jalan kami bertemu dengan Nauval yang bilang bahwa jeep belum datang. Ya sudahlah.
Kami menunggu lagi di pos perizinan.
Pukul 15.00 WIB, jeep yang kami tunggu-tunggu pun tiba. Kami segera menaikkan carrier dan meloncat ke atas jeep terbuka itu.
Ternyata jeep terbuka berisiko juga. Waktu kami melewati jalan yang berdebu, otomatis debunya nempel semua di badan kami. Bahkan rambut mas Wisnu dan Nauval sampai kuning kena debu *ngakak*
Menjelang maghrib sampailah kami di Tumpang. Kami lalu menunggu bemo TA untuk mengangkut kami ke Arjosari. Sambil menunggu, kali ini kami beli jemblem karena saat itu kami yang belum pernah makan jemblem penasaran. FYI, jemblem adalah kue gorengan berbentuk bulat yang terbuat dari ketela yang dalamnya berisi cairan manis. Di dalam bemo, jemblem itu kami makan.
Nggak lama, sampailah kami di terminal Arjosari. Langsung cari bus dan duduk. Kami habiskan perjalanan ke Surabaya dengan tidur. Ketika sampai di terminal Bungurasih, kami naik colt ke sekolah, yang lalu dioper naik bemo. Pukul 20.00 WIB, sampailah kami di sekolah yang sepi, disambut para senior. Setelah masing-masing orang jemputannya sudah datang, kami pun pulang ke rumah masing-masing, dengan tetap membiarkan kenangan akan Semeru di ingatan.
Alhamdulillah...

“Mahameru itu bukan sekedar perjalanan sepasang kaki,
tapi juga perjalanan sebuah hati”
Reading Time:
Ekspedisi Semeru : Hari Ketiga
Oktober 04, 20110 Comments
HARI KETIGA: MINGGU, 19 JUNI 2011
Kami bangun setelah sunrise, 05.30 WIB, sehingga, yaa, agak kecewa juga. Padahal Ranu Kumbolo kan terkenal dengan sunrise-nya. Tapi setelah keluar dome, mikir juga. Sunrise kayak gimana, lha wong kabutnya aja tebal begini?
Kami baru bisa menikmati sunrise setelah matahari agak tinggi dan kabut mulai hilang, 06.30 WIB. Udara mulai menghangat dan terlihat sinar matahari menyembul dari balik bukit, menimbulkan siluet dan memantulkan sinar cerah di atas permukaan danau. Kalau kita lihat ke Tanjakan Cinta yang juga mulai terang, di langit masih terlihat bulan. Bulat, bekas purnama penuh, dengan warna putih yang jelas. Subhanallah kerennyaaa!!!


Puas foto-foto (dengan Support Team yang juga di situ), kami pun masak dan packing. Pukul 10.00 WIB semuanya kelar dan kami pun siap melanjutkan perjalanan.
Bersama para pendaki lain, kami pun berangkat. Jalur pertama, Tanjakan Cinta. Mitosnya sih, kalau kita terus mendaki sampai ke puncak bukit dan sama sekali tidak melihat ke belakang sambil memikirkan orang yang kita cintai, maka kita akan mendapatkan cinta sejati dengan orang tersebut. Mitos aja lho ya. Karena, percaya deh, bakalan sulit nggak membalikkan badan ke belakang, untuk sekedar melihat Ranu Kumbolo dari ketinggian.
Oh iya, Tanjakan Cinta ini ‘menipu’ saya. Kalau dari jauh, kelihatannya jalurnya nggak terlalu naik. Bahkan terkesan landai. Tapi begitu treking, hmph, baru kerasa naiknya. Alhasil, begitu sampai di puncak bukit, saya sudah ngos-ngosan
.
Setelah puas memandangi Ranu Kumbolo dari puncak bukit (tetap sambil ngos-ngosan), kami balik menengok ke depan. Oro-Oro Ombo, dengan padang alang-alangnya, membuat hamparan di depan kami terlihat seperti Afrika kecil.
Mengikuti rombongan, kami meniti jalan kecil di tepi bukit. Melipir bukit demi bukit hingga sampailah kami di ujung bukit. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan membelah padang. Tapi jalannya terlihat jelas kok, jadi nggak perlu nyari jalan sendiri.
Oro-Oro Ombo memang terlihat kering dan tidak hijau. Tapi pesonanya yang tersendiri tetap menyihir. Lihat kemana-mana, alang-alang. Lihat kemana-mana, rumput. Tanahnya berpasir. Kesannya mirip gurun, tapi masih ada tanamannya.
Sekitar tengah hari, kami sampai di ‘pintu masuk’ Cemoro Kandang. Jadi setelah padang alang-alang, kami langsung memasuki hutan. Berbeda dengan hutan yang kami jumpai di awal treking kemarin, hutan ini tidak basah. Mungkin karena sudah siang, embun sudah menguap. Jalannya juga kering dan tidak licin, meski ada beberapa pohon (besar) yang tumbang menghalangi jalan. Apa yah, hutan konifer ini mirip dengan hutan-hutan di luar negeri yang isinya cemara aja. Tapi nggak lembap, malah cenderung kering dan panas. Di sini jalurnya lumayan naik.
Di akhir hutan kami dan rombongan pendaki lain berhenti. Minum, duduk-duduk, cerita-cerita, bagi-bagi makanan. Pendeknya mengakrabkan diri sesama pendaki, lah. Heran ya, di hutan, orang nggak kenal aja bisa akrab. Tapi di kota, kenal aja kadang, boro-boro nyapa.
Setelah melewati hutan, jalan mulai agak melebar dan pepohonan mulai jarang. Jalannya juga mulai turun. Katanya sih, setelah ngelewati hutan, kita akan bertemu padang edelweis. Tapi kami cari-cari juga, nggak ketemu-ketemu edelweisnya. Sampai akhirnya sampailah kami di Kalimati.
Untuk mencapai camp Kalimati, kami kembali harus menyusuri padang rumput. Camp ini letaknya berseberangan dengan ‘pintu keluar’ hutan yang barusan kami lewati, di antara pepohonan hutan seberang jalan. Dari kejauhan terlihat pondok pendaki berdiri dikelilingi tenda-tenda dome. Jadi inget cerita-cerita prairie macam Little House In The Prairie-nya Laura Ingalls atau di beberapa tempat yang diceritakan Karl May di dalam karyanya,  Winnetou.
Pukul 13.00-an WIB kami sampai di Kalimati. Kami mendekati pondok bersama rombongan. Sampai di sana, tiba-tiba kami diminta sedang pura-pura treking kemudian kami difoto. Eh, ternyata yang memotret adalah Don Osman, fotografer ulung yang sudah menjelajah tempat-tempat menantang dunia. (Setelah saya sampai di rumah dan baca-baca di internet, ternyata Don Osman memang datang khusus untuk mengabadikan pernikahan pertama di puncak gunung itu).

Setelah itu, kami duduk-duduk di tempat yang datar. Nyantai dulu. Foto-foto dan lain-lain. Nah, baru di sinilah saya temui edelweis, bunga abadi. Bunga ini terkenal sebagai incaran para pendaki karena tidak bisa ditemui di sembarang tempat. Selain itu, warna putihnya dan periode mekarnya yang bertahan lama hingga berbulan-bulan cukup menarik. Tapi hati-hati, jangan dipetik atau malah dibawa pulang. Karena biasanya di Ranu Kumbolo akan diperiksa dan kalau ketahuan bakalan disuruh mengembalikannya di tempat memetiknya. Tapi meski nggak diperiksa, ya tetap jangan diambil, karena edelweis itu dilindungi. Hampir punah karena keseringan dipetik. Kasihan kan. Menyayangi alam sedikit deh!
Oh iya, di sini HT udah nggak bisa dipake. Saat itu, kami berusaha menghubungi ST di Ranu Kumbolo. Tapi rupanya frekuensinya nggak nyampe, jadi putuslah komunikasi kami.
Setelah itu kami membangun tenda di dekat rombongan Jember yang kami temui di Ranu Pani dan di dekat tenda rombongan alumni SMA Muhammadiyah Sidoarjo. Setelah mengatur barang dan lain-lain, kami bongkar muat makanan. Kami membawa buanyaaak sekali mie instan. Rencananya siang itu kami makan mie empal gentong atas rekomendasi Cugos.
Asyik banget kalau tendanya dekatan gitu dengan pintu yang sama-sama menghadap tengah. Jadi bisa lebih mudah interaksi satu sama lain. Jadilah selama siang itu, kami istirahat sambil ngobrol dengan rombongan lain. Malahan ditawari roti bakar dengan havermut cokelat yang uenak banget. Saling meledek dan bercanda antar rombongan. Seperti saat itu, ada salah seorang yang tidak bisa makan bila mendengar kata-kata jorok. Tapi teman-teman sesama pendaki malah mengerjainya dengan berkata-kata jorok saat dia makan. Pun saat ada sesuatu yang salah, kambing hitamnya pun dia. Hahaha, lucu banget pokoknya! J
Menjelang isya semua kelar. Makan, udah. Packing di backpack, udah. Waktunya tidur untuk menghemat energi.
-->

PUKUL 23.00 WIB
Kami bangun. Seperti biasa mbak Lisa yang bangun duluan lalu membangunkan yang lain. Di antara kami, mbak Lisa yang paling rajin bangun. Sedang yang lainnya kalau dibangunin, “Hah? Apa? Iya,” lalu lelap lagi.
Dengan tubuh masih terbalut jaket tebal, satu per satu kami keluar untuk mengecek kondisi. Jika kondisi buruk, kami tidak akan muncak hari ini. Nauval keluar. Lama, baru balik. Ternyata dia ngobrol dulu dengan pendaki lain. Lalu mbak Lisa, lalu saya.
Wah, pemandangan malam di Kalimati nggak kalah keren! Gelap, dengan langit biru gelap dan bintang-bintangnya. Siluet bukit-bukit dan pepohonan di kejauhan.  Bulan, entah masih purnama entah sudah fase gibbous, terang di atas langit. Cahaya di beberapa tenda. Kabut tebal di kejauhan, menutupi padang di depan kami. Rerumputan bergerak digoyang angin yang mendesau. Anginnya! Benar-benar berbunyi mendesau keras. Memori saya langsung melayang lagi pada karya Karl May, Winnetou. Wah, tinggal dikasih lolongan serigala, komplet, nih, pikir saya. Dan seketika itu juga saya langsung parno, gimana kalau ketemu serigala beneran? Mana lagi nggak bawa pisau lagi! *pikiran paranoid, pikiran paranoid*
Saya mulai berjalan-jalan. Ternyata embun sudah jatuh. Tanaman-tanaman sudah mulai basah. Jalan dan jalan lagi, sambil memerhatikan letak tenda, jangan sampai hilang dari pandangan.
Dinginnya menggigit, dari mulut sudah keluar asap kalau bicara (sebenarnya sudah keluar asap sejak sore tadi). Tapi entah karena suhunya lebih hangat dari Ranu Kumbolo atau tubuh yang sudah beradaptasi, kami bertiga sudah mulai bisa menikmati dingin ini.
Kami menunggu rombongan yang akan berangkat. Rencananya tepat tengah malam kami berangkat. Tapi kami masih menunggu rombongan yang sedari siang bersama kami. Maka, kami berangkat pukul 01.00 WIB.

Catatan berlanjut ke Ekspedisi Semeru: Hari Keempat & Kelima
Reading Time: