Memilih Lomba Cerpen - Hijaubiru

Jumat, 06 Januari 2023

Memilih Lomba Cerpen



Sama seperti novel, cerpen pun punya 'aliran' sendiri-sendiri. Entah apa istilah resminya. Bukan tema, sebab tema lebih seperti topik: cinta, perjuangan, lingkungan, dsb, bukan? Bukan pula genre karena genre berarti cerpen horor, cerpen romance, cerpen misteri, dll. Atau, 'aliran' ini lebih ke gaya bahasa dan isi/hal yang dibahas. Beberapa orang menggunakan istilah 'cerpen serius' dan 'cerpen santai' atau 'cerpen berat' dan 'cerpen ringan' untuk membedakan ini. Meski tentu serius/santai dan berat/ringan ini debatable.


Jadi, saya gunakan 'aliran' aja.


Mudahnya, ada cerpen yang bahasanya lebih baku dan isi ceritanya lebih 'dalem'. Contohnya cerpen-cerpen koran. Topik dalam tulisan ini beraneka ragam, bisa tentang cinta, politik, isu sosial, atau sesimpel kejadian sehari-hari yang jamak terjadi di sekitar kita. Cerpen ini bisa serius, tapi kadang juga bisa lucu atau lucu slash nyindir. 


Di sisi lain, ada cerpen yang bahasanya teramat bebas, seperti bahasa percakapan sehari-hari. Isi cerita lebih mengulik alur dan elemen surprise dan semacamnya. Hal yang diulik biasanya baru permukaan atau kalau 'dalam' pun tidak sedalam tipe pertama. Oleh karena itu, ada beberapa yang menyebutnya cerpen santai. Umumnya topik berkisar di cerpen cinta remaja, persahabatan, cerpen anak-anak, dsb. (Not to say cerpen cinta remaja dkk tadi nggak bisa dibikin tipe pertama. Bisa. Semua tergantung penulisnya). Bila menilik pangsa pasar, mungkin ini jatuhnya ke tulisan teenlit, metropop, dan semacamnya. 


Mana yang lebih baik di antara keduanya?

Pendapat orang beda-beda. Kalau menurut saya, keduanya sama-sama bagus. Tergantung pada keahlian si penulis menuangkan cerita. Cerita aliran pertama yang membosankan, nggak sesuai fakta, atau terlalu melodramatik; ada. Namun, yang bagus dan merangkul konflik sederhana tapi mengena; juga ada. Di sisi lain, ada juga cerpen teenlit atau metropop yang asyik banget dibaca, bikin deg-degan atau ikut nangis. Tapi di sisi lain, ada juga cerpen tipe ini yang luar biasa alay.


Gimana dengan lomba cerpen?

Seiring dengan makin maraknya lomba menulis, tentu penulis akan pilih-pilih lomba mana yang ingin ia ikuti. Nggak mungkin, kan, ngikutin semua lomba? Ada beberapa kriteria yang bisa dijadikan alasan pemilihan.


Alasan pertama tentu kredibel atau enggak. Kredibel artinya panitia bertanggung jawab. Apalagi kalau ada biaya pendaftaran. Jangan sampai setelah bayar dan kirim naskah, kemudian sama sekali tiada kabar. Atau lebih buruk, naskahnya diambil dan di-hak milik tapi penulis tidak diberi apa-apa. 


Masih ada poin pertimbangan lainnya, tapi di sini lebih soal 'aliran' tadi. Kenapa? Sebab dengan mengetahui 'aliran' yang 'dianut' penyelenggara, penulis bisa lebih melihat kans dirinya lebih berpeluang atau tidak, terlepas siapa pun saingannya. Mudahnya: lebih baik kirim naskah ke lomba yang 'sealiran' dengan tulisan kita. 


Kalau cerpen kita lebih ke arah teenlit, ya jangan dimasukin ke lomba cerpen yang 'nyastra banget'. Begitu pula kalau gaya tulisan kita ala cerpen koran, maka sebaiknya nggak diikutkan lomba cerpen remaja. Kalau dikirim, apa pasti nggak menang? Ya belum tentu. Cuma kita sedang mempertimbangkan peluang tadi. Bila tulisan kita bukan jenis tulisan yang mereka cari, tentu peluang menangnya jauh lebih kecil.


Gimana cara tahu 'alirannya' apa? Kalau lombanya sudah berlangsung bertahun-tahun, kita bisa lihat naskah-naskah yang menang tahun sebelumnya. Apalagi kalau dibukukan dan ada e-booknya. Kalau nggak ada, gimana? Lihat bahasa dan desain poster yang digunakan penyelenggara. Kalau dia pakai bahasa santai/sehari-hari, mungkin cerpen 'santai' bisa dicoba. Kalau bahasanya lebih kaku, mungkin memang nyari cerpen 'serius'.


Lomba cerpen dari kampus umumnya lebih ke tipe cerpen pertama. Apalagi kalau penyelenggaranya adalah Fakultas Bahasa dan Sastra atau Fakultas Ilmu Budaya. Kadang, ada himpunan dan organisasi semacamnya yang bikin lomba cerpen dan meloloskan cerpen tipe kedua. Namun, dalam situasi seperti itu, cerpen tipe pertama tetap dapat peluang yang lebih besar untuk menang. Kenapa? Karena biasanya yang dicari adalah yang tipe rada serius (biasanya karena disesuaikan dengan tema kegiatan/visi organisasi). 


Lomba cerpen dari komunitas? Maka lihat jenis komunitasnya. Apakah ia jenis komunitas yang nyastra banget, atau santai banget, atau menerima semua naskah? Sebab, ada juga komunitas besar yang beragam sekali tulisan anggotanya sehingga dalam lomba-lomba yang ia adakan, ada cerpen-cerpen dengan beragam gaya yang turut lolos.


Gimana dengan penerbit? Ini juga mirip dengan komunitas; tergantung penerbitnya. Bahkan, kadang, tergantung jenis event-nya. Penerbit besar nggak berarti selalu nyari cerpen ala koran. Gramedia atau Mizan, misalnya. Kadang mereka juga cari cerpen teenlit dan sejenisnya. Lebih lagi kalau penyelenggaranya adalah platform perpanjangan tangan mereka, misalnya Gramedia dengan GWP dan Mizan dengan Rakatanya. 


Dari lomba-lomba yang pernah diselenggarakan, kadang ada penyelenggara yang transparan sekali soal penilaian. Jadi dibahas tuh cerpen ini kurangnya di mana, poin plusnya di mana. Nggak semua cerpen dibahas, memang. Kalau peserta sedikit, bisa aja dibahas. Tapi kalau pesertanya ratusan, hanya tulisan yang masuk nominasi aja. Kadang, penyelenggara bakal ngadain kelas menulis gratis dan di situ kita bisa tanya soal naskah kita.


Dalam beberapa kesempatan, saya nemu lebih banyak peserta yang menulis teenfic dan semacamnya memasukkan naskah ke lomba cerpen ala koran daripada sebaliknya. Mungkin karena belum tahu background penyelenggara tadi. 


Jadi apa cerpen aliran kedua nggak bisa lolos penjurian di lomba cerpen tipe pertama, begitu juga sebaliknya?

Menurut saya, itu tergantung eksekusi, penulisan, dan penulisnya.  Selama bisa meramu tulisan sedemikian rupa, ya, bisa aja. Kisah remaja atau dewasa muda pun bisa diulik lebih dalam dan disajikan dalam tulisan yang lebih serius. Sebaliknya, cerpen ala koran juga bisa dibawa ke ranah lebih santai. Entah dengan membahas hal-hal yang lebih terbatas atau cara lainnya.


Apa eksekusi (dan mengubah style naskah ini) mudah? Sekali lagi: tergantung penulisnya. Kalau buat saya, sih, susah, hahahah. Makanya kalau pengin ikut lomba cerpen, saya lihat-lihat 'alirannya' dulu supaya nggak mengubah banyak hal, melainkan sedari awal menulis cerita dengan style emang-gaya-gue. 


Beberapa contoh nyata, buat saya, adalah karya-karya Asma Nadia dan Dewi "Dee" Lestari yang tulisannya 'lentur'. Keduanya bisa menulis santai dengan bahasan ringan dan gaya lo-gue, tapi di lain waktu—dengan topik yang sama—mereka bisa mengubahnya menjadi fiksi yang lebih serius. Ini contoh eksekusi yang berbeda dari orang yang sama. Apa hanya dua orang ini saja? Tentu enggak. Masih ada penulis-penulis lainnya.


Jadi, sebaiknya menulis yang 'aliran' mana?

Terserah kita, penulisnya. Dan, tergantung apa yang kita kejar. Untuk beberapa hal, tentu ada kompromi yang harus dilakukan. Bila tidak mau kompromi, ya, betul-betul kembali pada apa yang kita sukai: masukkan naskah ke lomba yang 'sealiran' dengan kita. Sebab, kalau kilas-balik dari pengalaman sendiri, kelihatan betul mana tulisan yang berasal dari hati dan mana yang cuma mengikuti struktur tapi minim empati (demi mengikuti 'aliran' yang dicari oleh juri). Tulisan siapa itu? Tulisan siapa lagi kalau bukan saya sendiri, wkwkwk.


Buat orang yang nggak tahu kamu, cerpen itu mungkin bagus. Tapi, saya merasa dongeng-dongeng kamu jauh lebih otentik, lebih original, dan lebih mencerminkan kamu yang sebenarnya. Dalam cerpen itu, saya tidak menemukan diri kamu.  

          Keenan pada Kugy, Perahu Kertas by Dee




* * * * *

Photo is courtesy of Karolina Grabowska via Pexels.com

2 komentar:

  1. Usia remaja, aku suka baca cerpen, novel teenlit, dlsb. Semakin tambah umur semakin suka buku pengembangan diri jadinya:'

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya gitu ya, makin dewasa makin beragam jenis buku yang dilahap 😁

      Hapus