Jagung dan Kawan-kawannya - Hijaubiru

Jumat, 16 Desember 2022

Jagung dan Kawan-kawannya


Suatu sore.

"Jajan, yuk." Seseorang mengajak saya.

"Yuk. Mau apa? Asal jangan makanan berat, ya." Saya sudah berencana makan nasi capcay malam nanti.

"Hm... jagung manis yang dibumbuin bawang putih itu. Enak.”

“Jagung, kan, makanan berat?”

“Halah, makanan berat apaan, nggak usah ngikutin pendapat ala Barat, dibohongin lu.

“Lah orang Madura justru udah makan jagung buat makanan pokok sejak dulu. Kamu ke mana aja?”

 

Siapa yang sering merasa belum makan (berat) kalau nggak makan nasi? Sebagian besar orang Indonesia mungkin setuju dengan pernyataan ini, hehe. Atau mungkin orang Asia/Asia Tenggara? Seperti kawan bicara saya di atas tadi.

 

Dewasa ini, di sini, jagung, ubi, talas, sagu, dll sering dianggap ‘bukan makanan pokok’ atau tidak cukup mengenyangkan. 'Hanya' camilan teman duduk-duduk saja. Padahal, kandungan kalori mereka juga tinggi, lho. Nggak kalah dengan nasi. Simpelnya, makanan-makanan ini juga bisa ngasih energi yang tinggi untuk tubuh agar bisa normal beraktivitas. Hanya saja mungkin budaya kita sekarang lebih menitikberatkan makan nasi.

 

Sekarang? Berarti dulu enggak, dong?

Bukannya ‘ajaran’ makan pengganti nasi itu datang dari budaya Barat yang terbiasa makan roti dan pasta?

 

Enggak, kok. Kalau ditilik ke masa lalu, banyak banget masyarakat Indonesia yang makanan pokoknya bukan nasi. Variatif banget. Kalau selama ini kita cuma tahu jagung, sagu, atau umbi, sebenarnya ini bisa dijabarin lagi. Misalnya, umbi apa? Ketela pohon, ubi cilembu, talas, mbothe, ganyong, you name it. Itu, baru varian umbi-umbian. Belum lagi kalau ada varian sagu dsb.

 

Bahkan di sebagian daerah Indonesia—sayang saya lupa persisnya di mana, Sulawesi kalau nggak salah—pisang juga jadi makanan pokok. Ada yang memakan dengan moncocolnya dengan saus tomat atau sambal. Tak heran, sebab meski termasuk buah-buahan, pisang juga punya kandungan kalori yang nggak kalah tinggi. (Ini jadi salah satu jurus andalan saya kalau nggak sempat sarapan, hehe. Jus pisang+susu, tanpa gula. Kalau ada, blender sekalian beberapa lembar sayur hijau buat tambahan serat.)

 

Leluhur kita pun kreatif mengolah berbagai sumber karbo ini. Sebut saja gaplek (dari ketela pohon) atau nasi jagung. Itu baru dari Jawa. Padahal, kita tahu seberapa luas wilayah Indonesia. Secara logika, harusnya olahan pangannya juga lebih beragam.

 

Jadi, menurut saya salah bila ada yang bilang bahwa yang ngajarin untuk makan berat selain nasi itu orang Barat. Enggak. Nenek moyang kita udah melakukan itu lebih dulu.  

 

Cuma, tren ini sayangnya sempat hilang. Setelah beberapa tahun (atau dekade?), tren ini memang kembali ke sini lewat budaya Barat berupa beragam diet dengan konsumsi kentang, roti, pasta, non-gluten food, dsb, alih-alih nasi.

 

Kenapa bisa hilang?

Mungkin, ada benarnya jika ada yang bilang bahwa budaya ‘makanan berat itu harus nasi’ ini dimulai saat Revolusi Hijau di Indonesia di era Orde Baru. Di satu sisi, program ini bagus karena menggalakkan teknologi dan berbagai alat bantu yang cukup efektif untuk ngedongkrak produksi bahan makanan dalam negeri. Namun, salah satu sisi buruknya adalah penggalakan penanaman padi di mana-mana, termasuk di daerah-daerah yang masyarakatnya awalnya tidak/jarang makan nasi. Akibatnya, warga yang dulu mengonsumsi karbo non-nasi jadi turut makan nasi; meninggalkan karbo lokalnya. Hal itu berlanjut hingga keturunannya sampai kini.

 

Belum lagi ada anggapan di sebagian masyarakat bahwa beberapa pangan lokal itu identik dengan kemiskinan. Karena nggak mampu beli beras, maka yang dimakan adalah ubi dsb. Mungkin itu benar. Tapi, ya… karena demand beras sudah sangat tinggi, imbas Revolusi Hijau tadi, maka harga juga jadi tinggi. Padahal, secara gizi, sumber karbo alternatif tadi nggak kalah dengan beras.

 

Akibat kejadian ini, saya jadi paham mengapa beberapa tahun lalu Kementerian Pertanian mengampanyekan “Diversifikasi Pangan”. Ya, supaya sumber-sumber pangan lokal ini dikonsumsi lagi. Ya, gimana, ya, sebab kebutuhan beras Indonesia kini sudah "nggak bisa" dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Kalau bukan jumlahnya yang nggak cukup, ya harganya yang nggak cocok (sehingga akan sulit laku di pasaran).

 

Gimana dengan rasanya? Mungkin orang-orang menolak makan non-nasi karena alasan itu?

Mungkin ini soal biasa-nggak biasa, kali, ya. Saya aja misalnya, memang nggak biasa makan lauk dengan selain nasi. Namun, di daerah lain, makan lauk/sayur dengan ubi dsb itu biasa. Beberapa bulan lalu saat saya makan nasi jagung plus sayur. Eh, ternyata bisa-bisa aja; enak meski sensasinya berbeda. Dan meski bukan baru kemarin coba membiasakan diri konsumsi karbo non-nasi, saya toh masih pilih-pilih lauk yang sekiranya cocok dengan kentang dkk. Sebaliknya, ada juga lauk yang saya rasa justru nggak nikmat dimakan bersama nasi.

 

Balik lagi ke tadi: biasa-nggak biasa dan selera-bukan selera. Namun, rasa-rasanya yang kedua sangat tergantung pada yang pertama. 

1 komentar:

  1. Seingat saya, waktu SD dulu sudah diajarkan kalau makanan pokok orang Indonesia itu nasi, sagu, sama satu lagi lupa. Jadi, saya mikirnya orang luar Jawa sudah terbiasa makan makanan selain nasi. Baru dengar ini soal Revolusi Hijau, yang ternyata berperan dalam membuat nasi jadi makanan pokok nasional.

    BalasHapus